Ervina merupakan cewek yang paling tomboy diantara mereka berempat, hal - hal yang tidak dilakukan cewek pada umumnya ia lakukan. Mulai dari doyan manjat pagar, naik meja untuk mengganti baterai jam, sering nongkrong di luar kelas ketika jam pelajaran kosong di saat siswi lain jauh lebih memilih untuk diam di dalam kelas, dan hal - hal tak lazim lainnya. Satu lagi Ervina terkenal sebagai cewek yang sangat cuek dan judes. Namun hal itu hanya berlaku untuk orang - orang yang belum dikenalnya. Bagi orang yang sudah mengenalnya, dia adalah anak yang humoris, dan sering menjadi sumber keributan.
Chelsea sama dengan siswi pada umumnya, namun terkadang perubahan moodnya sangat ekstrim, dan ketika dia sedang badmood jangan coba - coba mengganggunya, atau habislah kau. Chelsea memiliki suara yang khas, suaranya masih seperti anak kecil dan mukanya juga baby face.
Rena, dari dulu sampai sekarang hampir tak terjadi perubahan signifikan pada tubuhnya. Tubuhnya bisa dikategorikan dalam kategori SK (Sangat Kurus). Bila Rena badmood langsung saja berikan dia coklat jenis apapun maka moodnya akan kembali ASAP. Cewek satu ini juga merupakan anak yang suka heboh - heboh sendiri.
Lena sebenarnya merupakan anak yang biasa saja, malah bisa dikategorikan awalnya dia anak yang lugu dan polos. Namun kata orang tak selamanya sifat orang tetap, bisa saja itu berubah. Seperti setelah 6 Bulan ini ia mulai menunjukkan pribadi aslinya yang agak centil. Dia pernah bercerita selama SMA ini sudah sekitar 10 lelaki yang mengajaknya kencan namun ia tolak dan hanya 1 yang pernah ia terima dan sempat menjadi pacarnya itupun hanya 1 atau 2 bulan dan dia putuskan karena merasa tidak cocok.
Saat jam pulang sekolah tiba - tiba saja Lena menghampiri Ervina dengan senyum yang bisa dibilang aneh. "Kamu kenapa Na senyum - senyum aneh gitu? Lagi sakit?" tanya Vina dengan tatapan bingung. "Nggak Vin... Gue cuman mau bilang kalau . . ." Belum sempat Lena menyampaikan kalimatnya, datang Chelsea dan Rena yang langsung ikut nimbrung. "HAYOOO!! bisnis apaan ini??" teriak Rena. "Pliiissss Ren nggak usah pakai teriak juga kalik bikin telinga budek tau." Semprot Chelsea. "Heheh.. iya sorry. Lagi ngomongin apaan sih Vin,Na?" "Nggak tau nih si Leona, dari tadi senyam senyum nggak jelas." "Ahh, gara - gara kalian berdua nih gue kepotong ngomongnya. Udah kita lanjutin sambil nongki di cafe aja." "SETUJU!!!"
Mereka berempat pun pergi ke cafe dengan mengendarai mobil Ervina. Sampai di sebuah cafe, mereka bergegas mencari tempat yang masih kosong di bagian outdoor karena dari tadi pagi mereka sudah bosan berada di dalam ruangan. Setelah memesan, Leona melanjutkan ceritanya. "Jadi gini guys, tadi si Emerald nyamperin gue, terus Rald bilang . . ." "Terus Rald bilang dia ngajakin gue kencan, gue bingung mau nerima apa nggak, menurut kalian gimana? gitu kan yang lo mau bilang." potong Vina dengan jutek. "Hahahah... Lo kayaknya udah hafal banget apa yang bakal dibilang sama Ona, Vin" sambung Chelsea. "Udah hafal gue hafal mati dah." "Iiihh.. Vina nggak seru deh. Gue bukan mau ngomong gitu, tapi si Rald itu bilang kalau dia mau minta tolong gue untuk bantu dia ngedeketin lo." Ervina yang sedang menyesap minumannya sampai tersedak mendengar kalimat yang diucapkan Leona. "APA???!!" Rena sontak langsung mengeluarkan suara dahsyatnya yang membuat seluruh pengunjung cafe menoleh kearahnya. Ia pun hanya bisa nyengir pasrah kemudian meminta maaf kepada para pengunjung.
"Cieeee Vina Cieeee..." goda ketiga sahabatnya. "Apaan sih kalian? nggak lucu tahu." "Gimana Vin? Mau nggak? Keren tu anak basket woii, cakep, putih, tinggi, pintar lagi." deskripsi Leona panjang lebar. "Bodok, mau anak basket, anak bola, anak kasti nggak peduli. Kalau elo suka lo aja sono yang ngembat. Ikhlas kok gue kasi buat elo." "Yaelah Vin, dia kan sukanya sama elo bukan gue. Oh, iy Vin sorry . . ." Belum sempat Leona menyelesaikan pembicaraannya pesanan pun tiba. "Udah Ona cukup sekarang kita makan dulu, gue udah laper." potong Chelsea. Mereka pun menyantap pesanan masing - masing dengan lahap.
Setelah selesai makan tiba - tiba hp Vina berbunyi yang menandakan ada sebuah pesan masuk. Vina malas untuk membuka sms itu sehingga ia tidak mengambil handphonenya dari dalam tas. Pembicaraan mengenai Rald tadi membuat mood Vina menjadi rusak. Sehingga tanpa basa - basi ia langsung mengajak sahabat - sahabatnya pulang. Di depan sahabatnya Vina tetap menunjukkan muka bahagia serta celotehan - celotehan lucunya. Ia beralasan ingin cepat pulang karena akan mengantar mamanya belanja bulanan.
Sesampainya di rumah, Vina langsung membersihkan diri kemudian mengistirahatkan badan di kasur empuknya. Ia pun teringat dengan sms yang tadi masuk dan belum sempat dibaca, siapa tau itu dari teman sekelasnya atau mungkin mamanya. Segera Vina mengabil handphone dari dalam ranselnya. Ia pun membuka sms yang ternyata berasal dari nomor yang tidak dikenal
From : +6281223737***
Hi Vin...
Lgi ngapain?
Ini apaan lagi coba, pliss dah emang elu mak gue harus tau gue lagi ngapa-ngapain, gerutu Vina. Vina yang dasarnya memang super cuek berniat mengabaikan sms itu. Ia juga sempat terpikir siapa tau itu sms dari Rald yang menambah kemalasannya untuk membalas sms tersebut. Tapi ia tidak ingin kepedean. Akhirnya dengan sangat berat hati ia pun membalas sms itu.
To : +6281223737***
Ini siapa?
Dpt nmer gue drmna?
Baru saja 1 menit setelah sms itu terkirim sudah ada balasannya lagi
From : +6281223737***
Aku Rald, Vin :)
Aku tdi mnta nmer kmu di Leona
"Oh God... Bener banget ternyata ini Rald. Dan dia bilang kalau dia dapet nomer gue dari Leona. Kambing kampret banget tu anak." Setelah tahu bahwa itu adalah Rald ia tidak lagi membalas sms itu. Dengan semangat 45 Vina lalu beralih ke BBM dan mencari contact Leona.
To : Leona :3
Weee apaan maksud lo seenak jidat main ngasi nomer gue ke Rald????
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
Vina mengatur handphonenya menjadi "mute" karena males mendengar bunyi notifications dari group wa kelasnya yang sedang ribut entah membicarakan apa.
5 Menit...
10 Menit...
15 Menit...
Handphone Vina bergetar. Dengan sigap Vina mengambil handphonenya karena ia mengira tu balasan dari Leona. Namun pupus harapannya ketika melihat pesan masuk itu berasal dari Rald.
From : +6281223737***
Vin? Kok nggak dibales?
Udah tdur y?
Good Night and Nice Dream ya :D
Ervina yang jarang mendapat sms jenis seperti itu tentu saja merasa kaget dan geli. Ia pun kembali mengabaikan sms Rald dan memilih untuk mematikan handphonenya dan tidur. Ia hanya berharap ia tidak bertemu Rald besok di sekolah. Syukurnya mereka tidak berada di kelas yang sama.
Keesokan paginya tanpa babibu lagi Vina langsung mencari biang keladi yang menyebabkan Rald bisa mengetahui nomer handphonenya. "ONA!! Cantik!! lo ngapain ngasi nomer handphone gue ke Rald? dan kenapa tadi malem lo nggak bales bbm gue?" "Eh.. Vin, kemarin ken gue berusaha jelasin ke elo tapi pesanan kita keburu dateng terus Chelsea langsung ngajakin makan jadi gue lupa. Terus soal bbm, kmrin gue capek banget handphone lowbat dan nggak sempet gue charge." "Ya udah, kalo gitu sekarang jelasin ke gue." "Jadi kemarin pas istirahat ke dua gue ketemu sama Rald di kantin. Terus dia nanya gue temen lo apa bukan ya gue jawab iya. Terus dia minta nomer handphone lo, awalnya gue nggak mau ngasi tapi dia mohon - mohon gue nggak tega jadinya gue kasi aja." jelas Ona. "Yaelah Ona baru juga cowok mohon - mohon gitu udah nggak tega" Chelsea dan Rena masuk ke kelas bersamaan dengan bel masuk berbunyi.
Jam pelajaran ke-3 kebetulan kosong karena Bu Winny sedang ada acara keluarga. Langsung saja anak - anak pada ngacir ke kantin. Rena mengajak kami ke kantin karena kalau pas istirahat nanti kantin pasti akan sangat ramai, jadi umpung jam kosong mending kita manfaatin. Vina awalnya tidak ingin ikut karena ia malasbila nanti di kantin ia bertemu Rald. Tapi karena paksaan sahabat - sahabatnya, ia terpaksa ikut ke kantin.
Dan benar saja, orang yang malas ditemui oleh Vina malah muncul batang hidungnya di kantin. Karena sudah terlanjur samapai di kantin tidak mungkin Vina kembali ke kelas. Ia pun tetap melanjutkan berbelanja dan pura - pura tidak tahu bahwa ada Rald di kantin. Vina memaksa sahabat - sahabatnya untuk makan di kelas, namun apa daya Leona dan Chelsea terlanjur membeli bakso yang tentunya tidak mungkin dibawa ke kelas. Dengan terpaksa Ervina ikut juga makan di kantin, ia sengaja mengajak sahabat - sahabatnya untuk duduk di tempat yang agak pojok agar jauh dari pandangan Rald. Namun, hal itu ternyata tak berguna, tetap saja Rald melihat dimana posisi Vina duduk. Dan lebih menyebalkannya lagi, Rald sengaja berdiri dan menghampiri meja tempat Ervina dan sahabat - sahabatnya duduk. Ervina tentunya kesal setengah mati ketika melihat Rald berjalan menuju ke tempat duduk mereka.
"Hi Vin! Kok nggak makan?" tanya Rald "Nggak laper" jawab Vina ketus. "Heheheh.. sorry ya Rald sahabat gue yang satu ini lagi not in a good mood." sahut Leona "Nggak papa,Na. Ya udah gue balik ke teman - teman gue lagi ya. Bye. Bye Vin." Vina hanya melihat Rald sekilas dan kembali membuang muka.
"Vin, jutek amat. Seremm banget lo barusan." komentar Leona "Peduli. Kalo udah kelar makannya balik ke kelas yuk." "Ayo deh Vin gue temenin lo ke kelas dulu sebelum kalian berdua berdebat panjang di sini. Chel lo ntar bareng Ona ya" kata Rena "Okay." sahut Chelsea sambil mengacungkan jempolnya.
Biasanya mereka berempat selalu pulang bareng. Tapi tumben hari itu Leona ijin tidak ikut pulang bareng karena ada urusan penting. Ketiga temannya yang lain berniat untuk mengantarnya, tapi dia bilang sudah dijemput supirnya. Jadi, mereka langsung pulang dan meninggalkan Leona di kelas.
Setelah merasa situasi sudah aman Leona berjalan ke tempat parkir dan masuk ke sebuah mobil jaguar merah. "Udah aman, sekarang kita bisa pergi." "Syukur dah, gue kira lo nggak baca bbm gue tadi." "Tenang aja, handphone gue on 24 jam kok. Sekarang kita mau ngomong dimana?" "Di cafe ujung jalan situ aja ya?" "Gue ikut aja Rald."
Setelah memesan Chickhen Teriyaki dan Ice Lemon Tea. Rald menyampaikan apa tujuannya dia mengajak Leona ketemuan. "Ampun dah Le. Ervina jadi cewek gitu aman ya? Seumur - umur tumben kali ketemu cewek kayak gitu." "Hehehe.. Sabar Rald Vina kalo belum kenal sama orang emang gitu." "Terus harus pakai cara gimana buat deketin dia? Sumpah dongkol gue." "Salut daha buat lo Rald, udah dicuekin gitu masih juga tetep ngejer." "Emang sih Vina itu cuek tapi gara - gara cueknya itu juga yang buat penasaran." "Dasar cowok emang seleranya aneh - aneh."
Sudah sekitar 3 bulan ini Leona hampir selalu ada urusan penting setiap pulang sekolah, tingkah lakunya juga berubah menjadi lebih tertutup. Hal ini tentu membuat sahabat - sahabatnya penasaran. Mereka pun mulai menyelediki dan benar saja mereka menemukan Leona dan Rald sedang asyik berbincang di sebuah cafe. "Hadeehhh, iya kali mak comblang kecantol sama pelanggannya. hahahah" celoteh Rena "Benerkan prediksi gue dari awal. hahaha." sahut Vina dengan sombong "Lo nggak cemburu Vin?" tanaya Chelsea "Iya kali cemburu. Ngapaiiinn woii. Gue kan nggak pernah suka sama Rald." "Iye deh Vin iye." "Udah yuk kita balik aja ngapain liatin orang pacaran, mending kita gangguin aja besok." usul Chelsea "Cabsss."
Chelsea, Rena, dan Ervina sengaja datang lebih awal dari biasanya. 5 menit kemudian Leona datang dan nampak kaget melihat ketiga sahabatnya sudah ada di kelas. "Eee... Kalian kok tumben udah ada di sekolah?" tanya Leona bingung. "Kita kan mau minta PJ mak comblang yang jadian sama pasiennya. HAHAHA." celetuk Ervina. "Yeee, apaan sih. Nggak ada yang jadian, itu dia cuman minta bantuin biar bisa deket sama lo." "Udah Ona nggak usah putar puter fakta."
Setelah acara olok - olokan itu tiba - tiba Leona menarik diri dari sahabat - sahabatnya. Dia lebih memilih untuk menyendiri dan lebih sering keluar kelas. Ternyata ia pergi ke kelas tetangga untuk mengunjungi pacar barunya si Rald. Hampir setiap hari Leona membawakan Rald bekal kemudian mereka saling menyuapi, makan bareng dan hal lainnya. Kejadian ini tentu membuat kesal ketiga sahabatnya.
"Ini kali yang orang bilang kalau udah punya pacar sahabat tinggallah kenangan." ceplos Vina "Setuju Vin. Nyebein banget sih, kita main dilupain gitu aja." sambung Rena "Masa sih Rald yang ngelarang dia deket - deket sama kita lagi? tanya Chelsea "Nggak tau, bisa aja, cuman kita kan nggak boleh judge orang sembarangan. Udah yuk kita sisa bertiga juga tetap bisa senang - senang. Heheheh."
Baru sekitar 6 Bulan jadian, berhembus kabar kalau Rald dan Leona udah putus. Kabar ini menggemparkan seluruh sekolah. Bagaimana tidak, sepasang kekasih yang paling romantis dan suka mempertontonkannya di depan umum tiba - tiba putus tanpa sebab yang jelas. Setelah kabar itu muncul, awalnya ketiga sahabatnya prihatin melihat kondisi Leona yang tiap hari ke sekolah dengan mata sembab. Tapi mengingat tingkah lakunya yang menyia - nyiakan mereka. Akhirnya mereka malas untuk mengurusnya.
2 Minggu setelah kabar putus itu kembali muncul kabar yang tidak kalah heboh, yaitu Rald berencana akan menembak anak kelasnya yang bernama Diana. Ervina, Chelsea, dan Rena sangat kaget mendengar berita itu. Apa maksud Rald seenaknya mencampakkan ceweknya, kemudian berkoar akan menembak cewek lain. Mereka bertiga benar - benar pada posisi yang sangat membenci Rald dan tingkah laku bajingannya itu. Namun berita itu tinggalah berita.
Entah kesialan darimana yang mebuat Rald dan Ervina bergabung dalam sebuah kelompok belajar untuk mengajari teman - teman mereka yang masih belum atau kurang mengerti tentang matematika. Awalnya Ervina tidak tahu mengenai hal itu namun pada malam sebelumnya Rald mengirimnya sms.
From : +6281223737***
Vin, kta jdi satu klmpok bljar untk pel matematika.
Aku mhon kta bsa kerjasama yg baik.
Aku juga mau minta maaf untk bbrpa blan blkangan ini
kalo udah buat kamu ngerasa nggak nyaman.
Vin sbagai prmntaan maaf bsok plang skolah gue
mau teraktir lo makan? Pliss Vin mau ya
Ervina masih malas untuk membalas sms itu tetapi, karena ia rasa tak ada enaknya mempunyai musuh. Ia pun membalas sms dari Rald itu.
To : +6281223737***
Iy. Makasi infonya
Okeh
From : +6281223737***
Besok tnggu di kelas lo gue jemput
Ervina menceritakan seputar sms dari Rald beserta isinya kepada Chelsea dan Rena. Mereka pun memberondong Vina dengan sejuta pertanyaan dan "ciaaa cieee". Tepat ketika bel pulang berbunyi, Rald sudah menunggu Ervina di depan kelas. "Ehm... ada yang CLBK!!" teriak Rena. Ervina sontak membekap mulut Rena "Apaan coba lo." "Udah kelar Vin? Sekarang kita jalan yuk" ajak Rald. "Okeh." Ervina pun pergi sambil melambaikan tangan kepada dua sahabatnya. Ternyata ada satu orang yang sejak tadi memperhatikan peristiwa itu dengan penuh sesal, dialah Leona.
Rald ternyata mengajak Ervina ke sebuah taman yang sangat indah. Sesampai di sana Rald membukakan pintu dan mempersilahkan Ervina turun. "Sebenarnya kita mau ngomongin apaan sih Rald?" "Banyak Vin turun aja dulu." Setelah membeli batagor mereka duduk di salah satu bangku di taman itu.
"Vin, gue boleh nggak jadi temen lo?" Ervina sedikit terkejut mendengar pertanyaan Rald namu ia pun menjawab "Boleh lah. Why not?" "Kalo lebih?" "Maksud lo?" "Udahlah nggak jadi gu udah tahu jawabannya pasti nggak. Hahahah" "Sok tau." "Emangnya lo mau jadiii.... cewek gue?" "Errr.. Mau kok Rald." "Seriuss??" Rald tidak mampu menahan kekagetannya "In your dream aja tapi. Hehheh." "Yaelah -_-" "Sorry Rald sorry becanda." "Iya iya nggak papa kok. Oh iya, Vin lo tau nggak kenapa gue putus sama Leona?" "Ha? nggak taulah Rald? Emang penting juga buat gue?" "Iya deh mbak nggak penting. Nggak usah judes gitu juga kalik." "Heheheh. Sorry Rald." "Biar nggak penting tapi gue pingin cerita sama temen baru gue ini, jadi waktu hari itu kita lagi ketemuan di cafe tiba-tiba aja dia nanya ke gue "Rald, lo masih suka sama Ervina?" gue bingung mau jawab apa, ya tapi daripada gue bohong ya gue lebih milih jujur "Masih." abis itu dia marah, nangis dan ninggalin gue." Ervina sangat terkejut mendengar cerita Rald "Gila aneh lo. Luar binasa. Terus lo nggak ngejer dia?" "Nggaklah, males banget. Dia cewenya over protektif, alergi gue." "Hahahaha. Rald Rald tumben banget gue nemu cowo yang polos banget ngejawab pertanyaan kayak gitu." "Abisan gue kan emang belum bisa berenti suka sam cewek itu mau gimana lagi." "Udah ah Rald. Hahahah. Balik aja yuk udah sore." "Okeh."
Hari itu merupakan hari yang unik bagi Ervina dimana ia bisa berdamai dengan cowok yang dibencinya. Kini pemikirannya pun berubah ternyata bukan Rald yang mengubah Leona tapi Leona yang mengubah dirinya sendiri.
Keesokan paginya di sekolah Chelsea dan Rena sudah tidak sabar ingin menanyakan apa yang dilakukan Ervina dan Rald kemarin. "Vin lo diajak kemana aja?" "Lo ditembak sama Rald?" "Lo udah jadian?" dan pertanyaan - pertanyaan lainnya. "Udah ya bebeb - bebeb Rald nggak nembak gue dan dia sama gue nggak jadian kita cuman temenan. Udah Sekian." "Serius?? Cuma Temenan?" "Tujuhrius. Ciee penonton kecewa. HAHAHAHHA."
Chelsea sama dengan siswi pada umumnya, namun terkadang perubahan moodnya sangat ekstrim, dan ketika dia sedang badmood jangan coba - coba mengganggunya, atau habislah kau. Chelsea memiliki suara yang khas, suaranya masih seperti anak kecil dan mukanya juga baby face.
Rena, dari dulu sampai sekarang hampir tak terjadi perubahan signifikan pada tubuhnya. Tubuhnya bisa dikategorikan dalam kategori SK (Sangat Kurus). Bila Rena badmood langsung saja berikan dia coklat jenis apapun maka moodnya akan kembali ASAP. Cewek satu ini juga merupakan anak yang suka heboh - heboh sendiri.
Lena sebenarnya merupakan anak yang biasa saja, malah bisa dikategorikan awalnya dia anak yang lugu dan polos. Namun kata orang tak selamanya sifat orang tetap, bisa saja itu berubah. Seperti setelah 6 Bulan ini ia mulai menunjukkan pribadi aslinya yang agak centil. Dia pernah bercerita selama SMA ini sudah sekitar 10 lelaki yang mengajaknya kencan namun ia tolak dan hanya 1 yang pernah ia terima dan sempat menjadi pacarnya itupun hanya 1 atau 2 bulan dan dia putuskan karena merasa tidak cocok.
Saat jam pulang sekolah tiba - tiba saja Lena menghampiri Ervina dengan senyum yang bisa dibilang aneh. "Kamu kenapa Na senyum - senyum aneh gitu? Lagi sakit?" tanya Vina dengan tatapan bingung. "Nggak Vin... Gue cuman mau bilang kalau . . ." Belum sempat Lena menyampaikan kalimatnya, datang Chelsea dan Rena yang langsung ikut nimbrung. "HAYOOO!! bisnis apaan ini??" teriak Rena. "Pliiissss Ren nggak usah pakai teriak juga kalik bikin telinga budek tau." Semprot Chelsea. "Heheh.. iya sorry. Lagi ngomongin apaan sih Vin,Na?" "Nggak tau nih si Leona, dari tadi senyam senyum nggak jelas." "Ahh, gara - gara kalian berdua nih gue kepotong ngomongnya. Udah kita lanjutin sambil nongki di cafe aja." "SETUJU!!!"
Mereka berempat pun pergi ke cafe dengan mengendarai mobil Ervina. Sampai di sebuah cafe, mereka bergegas mencari tempat yang masih kosong di bagian outdoor karena dari tadi pagi mereka sudah bosan berada di dalam ruangan. Setelah memesan, Leona melanjutkan ceritanya. "Jadi gini guys, tadi si Emerald nyamperin gue, terus Rald bilang . . ." "Terus Rald bilang dia ngajakin gue kencan, gue bingung mau nerima apa nggak, menurut kalian gimana? gitu kan yang lo mau bilang." potong Vina dengan jutek. "Hahahah... Lo kayaknya udah hafal banget apa yang bakal dibilang sama Ona, Vin" sambung Chelsea. "Udah hafal gue hafal mati dah." "Iiihh.. Vina nggak seru deh. Gue bukan mau ngomong gitu, tapi si Rald itu bilang kalau dia mau minta tolong gue untuk bantu dia ngedeketin lo." Ervina yang sedang menyesap minumannya sampai tersedak mendengar kalimat yang diucapkan Leona. "APA???!!" Rena sontak langsung mengeluarkan suara dahsyatnya yang membuat seluruh pengunjung cafe menoleh kearahnya. Ia pun hanya bisa nyengir pasrah kemudian meminta maaf kepada para pengunjung.
"Cieeee Vina Cieeee..." goda ketiga sahabatnya. "Apaan sih kalian? nggak lucu tahu." "Gimana Vin? Mau nggak? Keren tu anak basket woii, cakep, putih, tinggi, pintar lagi." deskripsi Leona panjang lebar. "Bodok, mau anak basket, anak bola, anak kasti nggak peduli. Kalau elo suka lo aja sono yang ngembat. Ikhlas kok gue kasi buat elo." "Yaelah Vin, dia kan sukanya sama elo bukan gue. Oh, iy Vin sorry . . ." Belum sempat Leona menyelesaikan pembicaraannya pesanan pun tiba. "Udah Ona cukup sekarang kita makan dulu, gue udah laper." potong Chelsea. Mereka pun menyantap pesanan masing - masing dengan lahap.
Setelah selesai makan tiba - tiba hp Vina berbunyi yang menandakan ada sebuah pesan masuk. Vina malas untuk membuka sms itu sehingga ia tidak mengambil handphonenya dari dalam tas. Pembicaraan mengenai Rald tadi membuat mood Vina menjadi rusak. Sehingga tanpa basa - basi ia langsung mengajak sahabat - sahabatnya pulang. Di depan sahabatnya Vina tetap menunjukkan muka bahagia serta celotehan - celotehan lucunya. Ia beralasan ingin cepat pulang karena akan mengantar mamanya belanja bulanan.
Sesampainya di rumah, Vina langsung membersihkan diri kemudian mengistirahatkan badan di kasur empuknya. Ia pun teringat dengan sms yang tadi masuk dan belum sempat dibaca, siapa tau itu dari teman sekelasnya atau mungkin mamanya. Segera Vina mengabil handphone dari dalam ranselnya. Ia pun membuka sms yang ternyata berasal dari nomor yang tidak dikenal
From : +6281223737***
Hi Vin...
Lgi ngapain?
Ini apaan lagi coba, pliss dah emang elu mak gue harus tau gue lagi ngapa-ngapain, gerutu Vina. Vina yang dasarnya memang super cuek berniat mengabaikan sms itu. Ia juga sempat terpikir siapa tau itu sms dari Rald yang menambah kemalasannya untuk membalas sms tersebut. Tapi ia tidak ingin kepedean. Akhirnya dengan sangat berat hati ia pun membalas sms itu.
To : +6281223737***
Ini siapa?
Dpt nmer gue drmna?
Baru saja 1 menit setelah sms itu terkirim sudah ada balasannya lagi
From : +6281223737***
Aku Rald, Vin :)
Aku tdi mnta nmer kmu di Leona
"Oh God... Bener banget ternyata ini Rald. Dan dia bilang kalau dia dapet nomer gue dari Leona. Kambing kampret banget tu anak." Setelah tahu bahwa itu adalah Rald ia tidak lagi membalas sms itu. Dengan semangat 45 Vina lalu beralih ke BBM dan mencari contact Leona.
To : Leona :3
Weee apaan maksud lo seenak jidat main ngasi nomer gue ke Rald????
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
Vina mengatur handphonenya menjadi "mute" karena males mendengar bunyi notifications dari group wa kelasnya yang sedang ribut entah membicarakan apa.
5 Menit...
10 Menit...
15 Menit...
Handphone Vina bergetar. Dengan sigap Vina mengambil handphonenya karena ia mengira tu balasan dari Leona. Namun pupus harapannya ketika melihat pesan masuk itu berasal dari Rald.
From : +6281223737***
Vin? Kok nggak dibales?
Udah tdur y?
Good Night and Nice Dream ya :D
Ervina yang jarang mendapat sms jenis seperti itu tentu saja merasa kaget dan geli. Ia pun kembali mengabaikan sms Rald dan memilih untuk mematikan handphonenya dan tidur. Ia hanya berharap ia tidak bertemu Rald besok di sekolah. Syukurnya mereka tidak berada di kelas yang sama.
Keesokan paginya tanpa babibu lagi Vina langsung mencari biang keladi yang menyebabkan Rald bisa mengetahui nomer handphonenya. "ONA!! Cantik!! lo ngapain ngasi nomer handphone gue ke Rald? dan kenapa tadi malem lo nggak bales bbm gue?" "Eh.. Vin, kemarin ken gue berusaha jelasin ke elo tapi pesanan kita keburu dateng terus Chelsea langsung ngajakin makan jadi gue lupa. Terus soal bbm, kmrin gue capek banget handphone lowbat dan nggak sempet gue charge." "Ya udah, kalo gitu sekarang jelasin ke gue." "Jadi kemarin pas istirahat ke dua gue ketemu sama Rald di kantin. Terus dia nanya gue temen lo apa bukan ya gue jawab iya. Terus dia minta nomer handphone lo, awalnya gue nggak mau ngasi tapi dia mohon - mohon gue nggak tega jadinya gue kasi aja." jelas Ona. "Yaelah Ona baru juga cowok mohon - mohon gitu udah nggak tega" Chelsea dan Rena masuk ke kelas bersamaan dengan bel masuk berbunyi.
Jam pelajaran ke-3 kebetulan kosong karena Bu Winny sedang ada acara keluarga. Langsung saja anak - anak pada ngacir ke kantin. Rena mengajak kami ke kantin karena kalau pas istirahat nanti kantin pasti akan sangat ramai, jadi umpung jam kosong mending kita manfaatin. Vina awalnya tidak ingin ikut karena ia malasbila nanti di kantin ia bertemu Rald. Tapi karena paksaan sahabat - sahabatnya, ia terpaksa ikut ke kantin.
Dan benar saja, orang yang malas ditemui oleh Vina malah muncul batang hidungnya di kantin. Karena sudah terlanjur samapai di kantin tidak mungkin Vina kembali ke kelas. Ia pun tetap melanjutkan berbelanja dan pura - pura tidak tahu bahwa ada Rald di kantin. Vina memaksa sahabat - sahabatnya untuk makan di kelas, namun apa daya Leona dan Chelsea terlanjur membeli bakso yang tentunya tidak mungkin dibawa ke kelas. Dengan terpaksa Ervina ikut juga makan di kantin, ia sengaja mengajak sahabat - sahabatnya untuk duduk di tempat yang agak pojok agar jauh dari pandangan Rald. Namun, hal itu ternyata tak berguna, tetap saja Rald melihat dimana posisi Vina duduk. Dan lebih menyebalkannya lagi, Rald sengaja berdiri dan menghampiri meja tempat Ervina dan sahabat - sahabatnya duduk. Ervina tentunya kesal setengah mati ketika melihat Rald berjalan menuju ke tempat duduk mereka.
"Hi Vin! Kok nggak makan?" tanya Rald "Nggak laper" jawab Vina ketus. "Heheheh.. sorry ya Rald sahabat gue yang satu ini lagi not in a good mood." sahut Leona "Nggak papa,Na. Ya udah gue balik ke teman - teman gue lagi ya. Bye. Bye Vin." Vina hanya melihat Rald sekilas dan kembali membuang muka.
"Vin, jutek amat. Seremm banget lo barusan." komentar Leona "Peduli. Kalo udah kelar makannya balik ke kelas yuk." "Ayo deh Vin gue temenin lo ke kelas dulu sebelum kalian berdua berdebat panjang di sini. Chel lo ntar bareng Ona ya" kata Rena "Okay." sahut Chelsea sambil mengacungkan jempolnya.
Biasanya mereka berempat selalu pulang bareng. Tapi tumben hari itu Leona ijin tidak ikut pulang bareng karena ada urusan penting. Ketiga temannya yang lain berniat untuk mengantarnya, tapi dia bilang sudah dijemput supirnya. Jadi, mereka langsung pulang dan meninggalkan Leona di kelas.
Setelah merasa situasi sudah aman Leona berjalan ke tempat parkir dan masuk ke sebuah mobil jaguar merah. "Udah aman, sekarang kita bisa pergi." "Syukur dah, gue kira lo nggak baca bbm gue tadi." "Tenang aja, handphone gue on 24 jam kok. Sekarang kita mau ngomong dimana?" "Di cafe ujung jalan situ aja ya?" "Gue ikut aja Rald."
Setelah memesan Chickhen Teriyaki dan Ice Lemon Tea. Rald menyampaikan apa tujuannya dia mengajak Leona ketemuan. "Ampun dah Le. Ervina jadi cewek gitu aman ya? Seumur - umur tumben kali ketemu cewek kayak gitu." "Hehehe.. Sabar Rald Vina kalo belum kenal sama orang emang gitu." "Terus harus pakai cara gimana buat deketin dia? Sumpah dongkol gue." "Salut daha buat lo Rald, udah dicuekin gitu masih juga tetep ngejer." "Emang sih Vina itu cuek tapi gara - gara cueknya itu juga yang buat penasaran." "Dasar cowok emang seleranya aneh - aneh."
Sudah sekitar 3 bulan ini Leona hampir selalu ada urusan penting setiap pulang sekolah, tingkah lakunya juga berubah menjadi lebih tertutup. Hal ini tentu membuat sahabat - sahabatnya penasaran. Mereka pun mulai menyelediki dan benar saja mereka menemukan Leona dan Rald sedang asyik berbincang di sebuah cafe. "Hadeehhh, iya kali mak comblang kecantol sama pelanggannya. hahahah" celoteh Rena "Benerkan prediksi gue dari awal. hahaha." sahut Vina dengan sombong "Lo nggak cemburu Vin?" tanaya Chelsea "Iya kali cemburu. Ngapaiiinn woii. Gue kan nggak pernah suka sama Rald." "Iye deh Vin iye." "Udah yuk kita balik aja ngapain liatin orang pacaran, mending kita gangguin aja besok." usul Chelsea "Cabsss."
Chelsea, Rena, dan Ervina sengaja datang lebih awal dari biasanya. 5 menit kemudian Leona datang dan nampak kaget melihat ketiga sahabatnya sudah ada di kelas. "Eee... Kalian kok tumben udah ada di sekolah?" tanya Leona bingung. "Kita kan mau minta PJ mak comblang yang jadian sama pasiennya. HAHAHA." celetuk Ervina. "Yeee, apaan sih. Nggak ada yang jadian, itu dia cuman minta bantuin biar bisa deket sama lo." "Udah Ona nggak usah putar puter fakta."
Setelah acara olok - olokan itu tiba - tiba Leona menarik diri dari sahabat - sahabatnya. Dia lebih memilih untuk menyendiri dan lebih sering keluar kelas. Ternyata ia pergi ke kelas tetangga untuk mengunjungi pacar barunya si Rald. Hampir setiap hari Leona membawakan Rald bekal kemudian mereka saling menyuapi, makan bareng dan hal lainnya. Kejadian ini tentu membuat kesal ketiga sahabatnya.
"Ini kali yang orang bilang kalau udah punya pacar sahabat tinggallah kenangan." ceplos Vina "Setuju Vin. Nyebein banget sih, kita main dilupain gitu aja." sambung Rena "Masa sih Rald yang ngelarang dia deket - deket sama kita lagi? tanya Chelsea "Nggak tau, bisa aja, cuman kita kan nggak boleh judge orang sembarangan. Udah yuk kita sisa bertiga juga tetap bisa senang - senang. Heheheh."
Baru sekitar 6 Bulan jadian, berhembus kabar kalau Rald dan Leona udah putus. Kabar ini menggemparkan seluruh sekolah. Bagaimana tidak, sepasang kekasih yang paling romantis dan suka mempertontonkannya di depan umum tiba - tiba putus tanpa sebab yang jelas. Setelah kabar itu muncul, awalnya ketiga sahabatnya prihatin melihat kondisi Leona yang tiap hari ke sekolah dengan mata sembab. Tapi mengingat tingkah lakunya yang menyia - nyiakan mereka. Akhirnya mereka malas untuk mengurusnya.
2 Minggu setelah kabar putus itu kembali muncul kabar yang tidak kalah heboh, yaitu Rald berencana akan menembak anak kelasnya yang bernama Diana. Ervina, Chelsea, dan Rena sangat kaget mendengar berita itu. Apa maksud Rald seenaknya mencampakkan ceweknya, kemudian berkoar akan menembak cewek lain. Mereka bertiga benar - benar pada posisi yang sangat membenci Rald dan tingkah laku bajingannya itu. Namun berita itu tinggalah berita.
Entah kesialan darimana yang mebuat Rald dan Ervina bergabung dalam sebuah kelompok belajar untuk mengajari teman - teman mereka yang masih belum atau kurang mengerti tentang matematika. Awalnya Ervina tidak tahu mengenai hal itu namun pada malam sebelumnya Rald mengirimnya sms.
From : +6281223737***
Vin, kta jdi satu klmpok bljar untk pel matematika.
Aku mhon kta bsa kerjasama yg baik.
Aku juga mau minta maaf untk bbrpa blan blkangan ini
kalo udah buat kamu ngerasa nggak nyaman.
Vin sbagai prmntaan maaf bsok plang skolah gue
mau teraktir lo makan? Pliss Vin mau ya
Ervina masih malas untuk membalas sms itu tetapi, karena ia rasa tak ada enaknya mempunyai musuh. Ia pun membalas sms dari Rald itu.
To : +6281223737***
Iy. Makasi infonya
Okeh
From : +6281223737***
Besok tnggu di kelas lo gue jemput
Ervina menceritakan seputar sms dari Rald beserta isinya kepada Chelsea dan Rena. Mereka pun memberondong Vina dengan sejuta pertanyaan dan "ciaaa cieee". Tepat ketika bel pulang berbunyi, Rald sudah menunggu Ervina di depan kelas. "Ehm... ada yang CLBK!!" teriak Rena. Ervina sontak membekap mulut Rena "Apaan coba lo." "Udah kelar Vin? Sekarang kita jalan yuk" ajak Rald. "Okeh." Ervina pun pergi sambil melambaikan tangan kepada dua sahabatnya. Ternyata ada satu orang yang sejak tadi memperhatikan peristiwa itu dengan penuh sesal, dialah Leona.
Rald ternyata mengajak Ervina ke sebuah taman yang sangat indah. Sesampai di sana Rald membukakan pintu dan mempersilahkan Ervina turun. "Sebenarnya kita mau ngomongin apaan sih Rald?" "Banyak Vin turun aja dulu." Setelah membeli batagor mereka duduk di salah satu bangku di taman itu.
"Vin, gue boleh nggak jadi temen lo?" Ervina sedikit terkejut mendengar pertanyaan Rald namu ia pun menjawab "Boleh lah. Why not?" "Kalo lebih?" "Maksud lo?" "Udahlah nggak jadi gu udah tahu jawabannya pasti nggak. Hahahah" "Sok tau." "Emangnya lo mau jadiii.... cewek gue?" "Errr.. Mau kok Rald." "Seriuss??" Rald tidak mampu menahan kekagetannya "In your dream aja tapi. Hehheh." "Yaelah -_-" "Sorry Rald sorry becanda." "Iya iya nggak papa kok. Oh iya, Vin lo tau nggak kenapa gue putus sama Leona?" "Ha? nggak taulah Rald? Emang penting juga buat gue?" "Iya deh mbak nggak penting. Nggak usah judes gitu juga kalik." "Heheheh. Sorry Rald." "Biar nggak penting tapi gue pingin cerita sama temen baru gue ini, jadi waktu hari itu kita lagi ketemuan di cafe tiba-tiba aja dia nanya ke gue "Rald, lo masih suka sama Ervina?" gue bingung mau jawab apa, ya tapi daripada gue bohong ya gue lebih milih jujur "Masih." abis itu dia marah, nangis dan ninggalin gue." Ervina sangat terkejut mendengar cerita Rald "Gila aneh lo. Luar binasa. Terus lo nggak ngejer dia?" "Nggaklah, males banget. Dia cewenya over protektif, alergi gue." "Hahahaha. Rald Rald tumben banget gue nemu cowo yang polos banget ngejawab pertanyaan kayak gitu." "Abisan gue kan emang belum bisa berenti suka sam cewek itu mau gimana lagi." "Udah ah Rald. Hahahah. Balik aja yuk udah sore." "Okeh."
Hari itu merupakan hari yang unik bagi Ervina dimana ia bisa berdamai dengan cowok yang dibencinya. Kini pemikirannya pun berubah ternyata bukan Rald yang mengubah Leona tapi Leona yang mengubah dirinya sendiri.
Keesokan paginya di sekolah Chelsea dan Rena sudah tidak sabar ingin menanyakan apa yang dilakukan Ervina dan Rald kemarin. "Vin lo diajak kemana aja?" "Lo ditembak sama Rald?" "Lo udah jadian?" dan pertanyaan - pertanyaan lainnya. "Udah ya bebeb - bebeb Rald nggak nembak gue dan dia sama gue nggak jadian kita cuman temenan. Udah Sekian." "Serius?? Cuma Temenan?" "Tujuhrius. Ciee penonton kecewa. HAHAHAHHA."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar