Matematika
catat baik – baik M A T E M A T I K A !! Manusia macam apasih yang udah
menciptkan mata pelajaran dengan beraneka rumus dan angka itu. Dari jaman SD,
SMP, sampai SMA sekarang ini aku tetap benci pelajaran itu. Nilai matematikaku
di rapor tak akan melambung jauh – jauh dari yang namanya kkm. Aku bersyukur
banget deh kalo nilai matematikaku bisa lulus dari kkm.
Sangking
keselnya aku lupa ngenalin diri nih, hehehe. Kenalkan aku Frisca, aku sekarang
duduk di bangku SMA, tepatnya di kelas XI Sosial 1. Aku memiliki dua orang
teman dekat, mereka adalah Putri dan Fiara
Sewaktu
dulu kelas X kelasku menjadi tempat percobaan guru baru untuk mengajar.
Dasarnya saja aku sudah benci dengan pelajaran mat ditambah lagi dengan factor guru
baru yang tidak bisa mengajar, dan kurikulum yang membuat jam pelajaran
bertambah menjadi 4 jam pelajaran menambah deretan betapa menyebalkannya
pelajaran mat itu.
Namun
semua itu berubah ketika aku menginjak kelas XI. Awalnya di jadwal pelajaran tertulis
bahwa yang akan mengajar adalah “Mr.X”, dan tentu saja aku bisa menebak bahwa
yang akan mengejar kelasku adalah guru baru (lagi). Dalam bayanganku wujud guru
baru itu adalah seorang pria tua, cerewet dan galak pokoknya menyeramkan.
Tapiiiii, kenyataan yang ada dan bayanganku berbanding terbalik 180 derajat.
Wujud Mr.X itu ternyata seorang pria muda, putih, dan menurut teman – temanku Mr.X
itu good looking, hahahah.
“Frisca,
cepet ke kelas itu si Mr.X udah masuk ke kelas.” teriak Fiara.
“Iya,
iya.” dengan langkah gontai aku dan Putri pun berjalan menuju ke ruang kelas.
Sesampainya
di kelas, Mr.X sedang mengenalkan dirinya. Akhirnya kami tahu siapa nama Mr.X
itu, namanya adalah Pak Trisna. Tidak ada hal yang terlalu berkesan di hari
awal mengajarnya, ia mengajar selayaknya guru – guru pada umumnya. Aku pun
tetap saja masih menaruh matematika dalam daftar nomor 1 pelajaran yang paling
kubenci.
Hari
– hari selanjutnya, kami sekelas mengambil kesimpulan bahwa Pak Trisna
merupakan guru yang rajin mengajar. Hal ini karena, baru saja bel berbunyi tiba
– tiba dia sudah ada di depan kelas. Selain kelewat disiplin, Pak Trisna juga
rajin memberikan kami oleh – oleh setiap ia habis mengajar. Awalnya, kami
merasa sedikit kesal dengan sikapnya yang kelewat disiplin itu dan oleh – oleh beruntun
yang selalu ia berikan. Namun, lama kelamaan kami mulai terbiasa.
Ada
beberapa hal lucu yang terjadi di sekolah saat Pak Trisna mulai mengajar.
Ketika ia lewat, ada saja suara cewek yang sengaja memanggil, menyapanya, atau bertingkah
laku aneh hanya sekedar untuk mencuri perhatiannya. Antusiasme siswa ketika
menceritakan kepada temannya bahwa yang mengajar matematika di kelasnya adalah “pak
guru ganteng”.
Setelah
sebulan Pak Trisna mengajar, mulai terjadi sedikit perubahan dalam diriku. Aku
mulai SEDIKIT menyukai pelajaran matematika. Aku pun tak tahu apa yang
menyebabkan hal itu bisa terjadi. Aku rasa ini disebabkan karena cara mengajar
Pak Trisna yang santai namun pasti.
Oh
ya, bisa dibilang namaku termasuk salah satu nama yang most wanted banget di
kelas saat pelajaran matematika. Bila ada soal, namaku sering di panggil Pak Trisna
untuk maju. Aku sedikit bingung dengan sikap Pak Trisna, padahal aku kan bukan
termasuk dalam kalangan anak yang pintar.
Sampai
suatu hari, Friska dan Putri tiba – tiba mengajakku ke taman belakang sekolah.
Sepertinya ada hal penting yang ingin mereka bicarakan. “Ada apaan tumben
banget kalian ngajak aku ke sini?” tanyaku bingung “Cieeee Frisca… sering
banget di panggil sama Pak Trisna, jangan – jangan pak guru suka ya sama kamu?”
celoteh Fiara “Apaan sih lo Ra, aneh – aneh aja.” “Enak banget jadi kamu Ca,
bisa sering deket – deket sama Pak Trisna.” kata Putri “Yaelah Put Put, sadar
weee masak aku suka sama bapak – bapak gitu.” “Bapak – bapak dari mall, umurnya
Pak Trisna tu baru 21 tahun. Keren banget kan dia umur segitu udah bisa jadi
guru, gimana coba caranya? Oh ya terus katanya dia tuh juga dulu anak OSN loh.
Keren kan” kata Putri anusias. “Udah lo tanya aja sendiri sono sama dia.
Hahahaha” TEEETTT….. TEEETTTT…. “Udah yuk balik ke kelas udah bel nih, ntar
kita telat masuk kelas diomelin lagi sama Pak Trisna.” Kami pun kembali ke
kelas bersama – sama.
Kebetulan
hari ini adalah pelajaran matematika, sehingga aku bisa langsung bertanya
kepada Pak Trisna mengenai hal yang mengganjal di pikiranku. Saat jam pulang
sekolah, hanya tersisa aku dan Pak Trisna di kelas, anak – anak yang lain sudah
berhamburan ke luar kelas begitu bel berbunyi. Termasuk Fiara dan Putri, mereka
cepat – cepat keluar kelas karena ada kumpul klub fotografi.
Dengan
keberanian yang aku miliki, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Pak
Trisna, “Pak, kenapa bapak sering menyuruhku maju untuk mengerjakan soal – soal
padahal aku tidak termasuk dalam daftar anak yang pintar?” sambil tersenyum Pak
Trisna menjawab, “Bapak melakukan hal itu karena bapak ingin kamu menyenangi
pelajaran matematika. Selain itu bapak juga melihat kamu memiliki potensi dalam
bidang matematika.” Aku sempat kaget darimana Pak Trisna tahu aku tidak
menyukai pelajarannya, aku juga merasa sedikit tidak enak dengan Pak Trisna. “Mungkin
kamu bingung darimana bapak mengetahui kamu tidak menyukai matematika. Semua
itu terlihat dari tingkah lakumu selama pelajaran matematika yang agak ogah –
ogahan.” Lanjut Pak Trisna. “Hmmm, maaf Pak, saya tidak bermaksud untuk
menyakiti perasaan bapak, tapii.” “Sudahlah Frisca, tidak usah terlalu formal
panggil saja aku Kak Trisna, aku tidak memaksamu untuk menyukai pelajaran mat
ini, tapi cobalah untuk bersikap lebih baik pada saat pelajaranku.” “Baik Pak,
eh maksudku Kak.”
2
Minggu kemudian, aku melihat di internet, bahwa akan diadakan olimpiade
matematika oleh salah satu Universitas di Jakarta. Entah ilham darimana, aku
pun pergi menemui Pak Trisna di ruang guru sepulang sekolah. Tentunya tanpa
ditemani Vina dan Putri, karena aku belum begitu yakin dengan niatku ini. “Pak
permisi, saya mau berbicara dengan bapak.” “Ya sudah, kita berbicara di luar
saja.” Pak Trisna mengawali pembicaraan “Ada apa Friska?” “Gini Kak, eee… tadi
aku liat di internet lagi satu bulan bakal diadain olimpiade matematika. Aku
pingin coba ikut lomba itu.” Wajah Kak Trisna terlihat agak kaget mendengar
pernyataan Friska itu “Kamu serius Fris?” “Serius Kak. Kenapa? Mission
impossible ya Kak? hehehe” jawabku sekenanya. “Nggak juga sih Fris, toh kamu
punya potensi.” “Nah, kalau gitu kakak mau nggak jadi tutor aku? Pliss kak
pliss. Soalnya aku denger katanya kakak dulu juga anak OSN” “Gimana ya? Cieee
kamu stalker aku ya sampai tau aku anak OSN.” “Apaan sih Kak kepedean banget.” jawabku
sambil cemberut “Udah donk, nggak usah sebel gitu. Kalau masih sebel aku nggak
mau jadi tutor kamu deh, senyum donk.” “Serius kakak mau? Thanks a lot kak.”
Kak Trisna hanya menjawab dengan senyuman. Sambil menyerahkan ponselnya, Kak
Trisna memintaku untuk menuliskan nomer hp ku, agar mudah dihubungi.
Malam
harinya, sebuah nomer yang tak ku kenal mengirimiku sebuah pesan singkat,
From
: +6281805212***
Malam
Fris,
Kapan
nih mau mulai belajarnya?
Terus
tempatnya juga dimana?
Kak
Trisna
Oh,
ternyata pesan singkat itu dari Kak Trisna. Aku pun segera membalas pesan
tersebut
To
: +6281805212***
Malam
juga, Kak
Terserah
kakak aja, kapan kakak bisanya
Tempatnya
di rumahku aja kak biar nggak di tahu sama yang lain.
Hanya
butuh menunggu sekitar 5 menit Kak Trisna sudah membalas pesanku lagi
From
: +6281805212***
Okeh
deh, Fris
Kita
mulai belajarnya besok aja ya
Pas
pulang sekolah
Kamu
pulangnya bareng aku aja, sekalian ke rumahmu
To
: +6281805212***
Siap
Kak
Keesokan harinya, aku menceritakan
rencanaku kepada Fiara dan Putri. Respon mereka awalnya cukup terkejut, namun
mereka tetap mendukungku. “Ca, kamu kesambet apaan bisa mau ikut olimpiade
matematika?” tanya Putri “Iya Ca, shock banget aku denger keinginan kamu yang
ini. Frisca sang HATERS MATHEMATIC malah pingin ikut olimpiade matematika” Lanjut
Fiara “Jangankan kalian, aku aja masih rada bingung kok bisa aku pingin ikut
olimpiade mat.” “Eh, ngomong – ngomong siapa yang jadi tutor kamu?” tanya
Putri. Tanpa ragu Frisca menjawab “Kak Trisna, eh maksudku Pak Trisna.” “Waaaa
Ca, enak banget. Kalau gitu aku juga mau donk ikut olimpiade mat.” Kata Putri
asal. “Hati – hati Ca, ntar kamu cinlok lagi sama Pak Trisna. Hahaha” “Apaan
sih Ra, ini kan cuman hubungan antara guru dan murid nggak lebih.” “Iya aku kan
cuman ingetin Ca.”
Pukul 15:17 akhirnya aku dan Kak
Trisna sampai di rumahku, setelah mengendarai sepeda motor selama kurang lebih
30 menit. Lalu, Mbok Asih membukakan gerbang ketika mendengar bunyi bel sepeda
motor di depan rumah. Aku pun mempersilahkan Kak Trisna masuk ke ruang tamu,
sementara aku mengganti baju dan meminta tolong Mbok Asih membuatkan Kak Trisna
minum.
Setelah selesai mengganti baju, aku
pun bergegas ke ruang tamu. Ku lihat Kak Trisna sedang sibuk membolak – balik buku.
“Kak?” Kak Trisna pun mengangkat mukanya dan berkata “Rumahmu kok sepi banget
Fris? Papa Mamamu mana?” “Papa Mama tinggal di Surabaya, jadi aku tinggal
sendiri di Jakarta.” Kak Trisna manggut – manggut tanda mengerti. “Ya udah,
kita mulai belajarnya ya.” Kak Trisna mengajariku soal – soal yang mudah dulu
untuk pertemuan pertama ini. Sekitar Pukul 18:00 Kak Trisna pamit.
Rutinitas bimbingan olimpiade sudah
berjalan sekitar kurang lebih 3 minggu, yang berarti 1 minggu lagi menuju ke
medan perang yang sesungguhnya. Hubunganku dengan Kak Trisna pun semakin akrab.
Hampir setiap malam ia mengirimiku pesan sekedar bertanya, “Lagi ngapain?” “Udah
makan belum, Dek?”. Aku juga merasa nyaman dengan perlakuan Kak Trisna. Kini
aku semakin mengenal Kak Trisna, ternyata Kak Trisna itu orangnya perhatian dan
jail banget.
Hari pelaksanaan olimpiade pun tiba,
aku berdoa semoga aku dilancarkan ketika mengerjakan soal – soal itu. Beberapa
saat sebelum lomba dimulai, ada 3 pesan di inbox ku.
From
: Fiara
Bebiii
cemungudh eapass :*
God
Bless
From
: Putri
Semangat
Cak, kamu pasti bisa
Jangan
sia – siain pengorbanan aku,
Yang
udah relain Kak Trisna buat kamu :3
Aku
hanya tertawa dan membalas pesan dari Fiara dan Putri. Pesan terakhir ternyata
dikirim oleh Kak Trisna
From
: Kak Trisna
Good
Luck Fris :D
Kamu
pasti bisa ngerjain soal – soal itu
Pesan
dari Kak Trisna itu benar – benar menyuntikkan semangat bagiku. Aku pun membalas
pesannya. Setelah itu para peserta dipersilahkan masuk ke ruangan masing –
masing.
Seminggu kemudian, ditemani Kak
Trisna aku menghadiri acara pengumuman lomba itu. Ketika mc membacakan juara –
juara olimpiade, hatiku berdegup kencang. “Juara ketiga atas nama Julian
Harvian.” Nyali ku sudah ciut, aku sangat pesimis karena jika juara 3 saja aku
tak dapat mana mungkin aku bisa mendapatkan juara 2 apalagi 1, aku kan hanya
pemula. “Selanjutnya, juara ke 2 Hervina Melani.” Aku sudah tak sanggup lagi
menunggu siapa yang menjadi juara 1 yang pastinya itu bukan aku, tapi Kak
Trisna tetap menguatkan ku dengan menggenggam tanganku. “Dan inilah yang paling
ditunggu – tunggu. Juara 1 olimpiade matematika Universitas Merdeka adalah…..
Frisca Geraldine” Aku hanya terkejut dan tidak bisa berbuat apa – apa. Aku tak
menyangka aku bisa mendapatkan juara 1. Air mataku pun jatuh karena terharu.
Setelah menerima hadiah, aku pun pulang bersama Kak Trisna. Tapi, sebelum
pulang Kak Trisna mengajakku ke sebuah kedai ice cream. Katanya ia akan
mentraktirku karena aku berhasil menjadi juara 1 dalam ajang olimpiade ini.
“Fris, kamu mau pesan apa?” “Apa aja
deh kak terserah kakak. Kan kakak yang teraktir. Hehehe” “Ya udah, kita pesen
waffle toppingnya ice cream cookies and cream ya” “Apa aja aku ikut kak” Kemudian
Kak Trisna mengangkat tangannya memanggil pelayan. Setelah pelayan itu berlalu
dari meja kami, Kak Trisna pun membuka pembicaraan “Congratulation Fris. Kamu
hebat banget, baru ikut sekali langsung bisa jadi juara.” Kata Kak Trisna
menyatakan kekagumannya “Kakak bisa aja, semua ini kan juga karena bimbingan
dari kakak. Kalau nggak ada kakak, aku nggak mungkin bisa jadi juara.” Kataku merendah.
“Kak aku juga mau ngucapin terima kasih karena kakak aku bisa berubah jadi
manusia yang lebih baik.” “Kamu bisa aja Fris.” Tak berapa lama kemudian,
pesanan kami pun datang. Waffle dengan topping cookies and cream itu sangat
menggugah selera. Setelah habis menyatapnya, aku kira kita akan langsung
pulang.
Namun ternyata Kak Trisna
menyuruhkun untuk duduk dulu sebentar, katanya ada yang ia ingin katakana. “Fris,
belakangan ini hubungan kita makin dekat ya?” “Eeee.. iya kak.” Aku merasa
sedikit gugup dengan pertanyaan Kak Trisna itu. “Kakak kira cuman kakak yang
ngerasa kayak gitu. Fris, kakak ngerasa ada banyak kecocokkan diantara kita.
Jadi kakak pingin hubungan kita bisa lebih serius lagi. Fris, do you want to be
my girlfriend?” Kak Trisna mengatakan semua kalimatnya dengan tegas dan
berwibawa. Aku bingung harus menjawab apa, lalu kuputuskan untuk “Kak, aku
ngerasa ini bisa jadi masalah kalau di sekolah ada guru dan murid yang
berpacaran, dan aku nggak mau ngerusak hubungan kita yang udah baik ini. Jadi
menurutku lebih baik kita berteman aja kak. Maaf Kak.” Karena Kak Trisna sudah
dewasa, dia pun bisa menerima jawaban Frisca itu. Setelah itu Kak Trisna
mengantar Frisca pulang.
Sesampai di rumah Frisca segera
menghubungi kedua sahabatnya, Frisca mengundang kedua sahabatnya ke rumah. Tak
berapa lama, Fiara dan Putri sudah tiba di rumah Frisca. Frisca pun menceritakan
semua kejadian hari ini, dari dirinya menjadi juara 1 olimpiade sampai ia
ditembak oleh Pak Trisna. “Ya ampun, Frisca kenapa kamu tolak.” Kata Fiara “Udah
Ra, Frisca itu baik dia itu nolak Pak Trisna karena tau aku suka sama Kak
Trisna.” Ucap Putri bahagia. “Ada – ada aja kamu Put. Terus hubungan kamu sama
Pak Trisna gimana Ca?” “Ya nggak tau Ra, semoga tetep baik – baik aja sih.” “Amin
Ca.”
Senin Pagi, Frisca dipanggil maju
ketengah lapangan karena prestasinya dalam olimpiade matematika. Setelah
selesai upacara, Pak Trisna pun menemui Frisca dan mengatakan “Fris, Kakak
harap kejadian kemarin nggak merubah hubungan pertemanan kita yang udah
terjalin ya.” “Iya kak, nggak akan berubah kok.” kataku meyakinkan Kak Trisna.