Sabtu, 27 September 2014

Dia Mampu Merubahku



Matematika catat baik – baik M A T E M A T I K A !! Manusia macam apasih yang udah menciptkan mata pelajaran dengan beraneka rumus dan angka itu. Dari jaman SD, SMP, sampai SMA sekarang ini aku tetap benci pelajaran itu. Nilai matematikaku di rapor tak akan melambung jauh – jauh dari yang namanya kkm. Aku bersyukur banget deh kalo nilai matematikaku bisa lulus dari kkm.
Sangking keselnya aku lupa ngenalin diri nih, hehehe. Kenalkan aku Frisca, aku sekarang duduk di bangku SMA, tepatnya di kelas XI Sosial 1. Aku memiliki dua orang teman dekat, mereka adalah Putri dan Fiara
Sewaktu dulu kelas X kelasku menjadi tempat percobaan guru baru untuk mengajar. Dasarnya saja aku sudah benci dengan pelajaran mat ditambah lagi dengan factor guru baru yang tidak bisa mengajar, dan kurikulum yang membuat jam pelajaran bertambah menjadi 4 jam pelajaran menambah deretan betapa menyebalkannya pelajaran mat itu.
Namun semua itu berubah ketika aku menginjak kelas XI. Awalnya di jadwal pelajaran tertulis bahwa yang akan mengajar adalah “Mr.X”, dan tentu saja aku bisa menebak bahwa yang akan mengejar kelasku adalah guru baru (lagi). Dalam bayanganku wujud guru baru itu adalah seorang pria tua, cerewet dan galak pokoknya menyeramkan. Tapiiiii, kenyataan yang ada dan bayanganku berbanding terbalik 180 derajat. Wujud Mr.X itu ternyata seorang pria muda, putih, dan menurut teman – temanku Mr.X itu good looking, hahahah.
“Frisca, cepet ke kelas itu si Mr.X udah masuk ke kelas.” teriak Fiara.
“Iya, iya.” dengan langkah gontai aku dan Putri pun berjalan menuju ke ruang kelas.
Sesampainya di kelas, Mr.X sedang mengenalkan dirinya. Akhirnya kami tahu siapa nama Mr.X itu, namanya adalah Pak Trisna. Tidak ada hal yang terlalu berkesan di hari awal mengajarnya, ia mengajar selayaknya guru – guru pada umumnya. Aku pun tetap saja masih menaruh matematika dalam daftar nomor 1 pelajaran yang paling kubenci.
Hari – hari selanjutnya, kami sekelas mengambil kesimpulan bahwa Pak Trisna merupakan guru yang rajin mengajar. Hal ini karena, baru saja bel berbunyi tiba – tiba dia sudah ada di depan kelas. Selain kelewat disiplin, Pak Trisna juga rajin memberikan kami oleh – oleh setiap ia habis mengajar. Awalnya, kami merasa sedikit kesal dengan sikapnya yang kelewat disiplin itu dan oleh – oleh beruntun yang selalu ia berikan. Namun, lama kelamaan kami mulai terbiasa.
Ada beberapa hal lucu yang terjadi di sekolah saat Pak Trisna mulai mengajar. Ketika ia lewat, ada saja suara cewek yang sengaja memanggil, menyapanya, atau bertingkah laku aneh hanya sekedar untuk mencuri perhatiannya. Antusiasme siswa ketika menceritakan kepada temannya bahwa yang mengajar matematika di kelasnya adalah “pak guru ganteng”.
Setelah sebulan Pak Trisna mengajar, mulai terjadi sedikit perubahan dalam diriku. Aku mulai SEDIKIT menyukai pelajaran matematika. Aku pun tak tahu apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi. Aku rasa ini disebabkan karena cara mengajar Pak Trisna yang santai namun pasti.
Oh ya, bisa dibilang namaku termasuk salah satu nama yang most wanted banget di kelas saat pelajaran matematika. Bila ada soal, namaku sering di panggil Pak Trisna untuk maju. Aku sedikit bingung dengan sikap Pak Trisna, padahal aku kan bukan termasuk dalam kalangan anak yang pintar.
Sampai suatu hari, Friska dan Putri tiba – tiba mengajakku ke taman belakang sekolah. Sepertinya ada hal penting yang ingin mereka bicarakan. “Ada apaan tumben banget kalian ngajak aku ke sini?” tanyaku bingung “Cieeee Frisca… sering banget di panggil sama Pak Trisna, jangan – jangan pak guru suka ya sama kamu?” celoteh Fiara “Apaan sih lo Ra, aneh – aneh aja.” “Enak banget jadi kamu Ca, bisa sering deket – deket sama Pak Trisna.” kata Putri “Yaelah Put Put, sadar weee masak aku suka sama bapak – bapak gitu.” “Bapak – bapak dari mall, umurnya Pak Trisna tu baru 21 tahun. Keren banget kan dia umur segitu udah bisa jadi guru, gimana coba caranya? Oh ya terus katanya dia tuh juga dulu anak OSN loh. Keren kan” kata Putri anusias. “Udah lo tanya aja sendiri sono sama dia. Hahahaha” TEEETTT….. TEEETTTT…. “Udah yuk balik ke kelas udah bel nih, ntar kita telat masuk kelas diomelin lagi sama Pak Trisna.” Kami pun kembali ke kelas bersama – sama.
Kebetulan hari ini adalah pelajaran matematika, sehingga aku bisa langsung bertanya kepada Pak Trisna mengenai hal yang mengganjal di pikiranku. Saat jam pulang sekolah, hanya tersisa aku dan Pak Trisna di kelas, anak – anak yang lain sudah berhamburan ke luar kelas begitu bel berbunyi. Termasuk Fiara dan Putri, mereka cepat – cepat keluar kelas karena ada kumpul klub fotografi.
Dengan keberanian yang aku miliki, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Pak Trisna, “Pak, kenapa bapak sering menyuruhku maju untuk mengerjakan soal – soal padahal aku tidak termasuk dalam daftar anak yang pintar?” sambil tersenyum Pak Trisna menjawab, “Bapak melakukan hal itu karena bapak ingin kamu menyenangi pelajaran matematika. Selain itu bapak juga melihat kamu memiliki potensi dalam bidang matematika.” Aku sempat kaget darimana Pak Trisna tahu aku tidak menyukai pelajarannya, aku juga merasa sedikit tidak enak dengan Pak Trisna. “Mungkin kamu bingung darimana bapak mengetahui kamu tidak menyukai matematika. Semua itu terlihat dari tingkah lakumu selama pelajaran matematika yang agak ogah – ogahan.” Lanjut Pak Trisna. “Hmmm, maaf Pak, saya tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan bapak, tapii.” “Sudahlah Frisca, tidak usah terlalu formal panggil saja aku Kak Trisna, aku tidak memaksamu untuk menyukai pelajaran mat ini, tapi cobalah untuk bersikap lebih baik pada saat pelajaranku.” “Baik Pak, eh maksudku Kak.”
2 Minggu kemudian, aku melihat di internet, bahwa akan diadakan olimpiade matematika oleh salah satu Universitas di Jakarta. Entah ilham darimana, aku pun pergi menemui Pak Trisna di ruang guru sepulang sekolah. Tentunya tanpa ditemani Vina dan Putri, karena aku belum begitu yakin dengan niatku ini. “Pak permisi, saya mau berbicara dengan bapak.” “Ya sudah, kita berbicara di luar saja.” Pak Trisna mengawali pembicaraan “Ada apa Friska?” “Gini Kak, eee… tadi aku liat di internet lagi satu bulan bakal diadain olimpiade matematika. Aku pingin coba ikut lomba itu.” Wajah Kak Trisna terlihat agak kaget mendengar pernyataan Friska itu “Kamu serius Fris?” “Serius Kak. Kenapa? Mission impossible ya Kak? hehehe” jawabku sekenanya. “Nggak juga sih Fris, toh kamu punya potensi.” “Nah, kalau gitu kakak mau nggak jadi tutor aku? Pliss kak pliss. Soalnya aku denger katanya kakak dulu juga anak OSN” “Gimana ya? Cieee kamu stalker aku ya sampai tau aku anak OSN.” “Apaan sih Kak kepedean banget.” jawabku sambil cemberut “Udah donk, nggak usah sebel gitu. Kalau masih sebel aku nggak mau jadi tutor kamu deh, senyum donk.” “Serius kakak mau? Thanks a lot kak.” Kak Trisna hanya menjawab dengan senyuman. Sambil menyerahkan ponselnya, Kak Trisna memintaku untuk menuliskan nomer hp ku, agar mudah dihubungi.
Malam harinya, sebuah nomer yang tak ku kenal mengirimiku sebuah pesan singkat,
From : +6281805212***
Malam Fris,
Kapan nih mau mulai belajarnya?
Terus tempatnya juga dimana?
Kak Trisna
Oh, ternyata pesan singkat itu dari Kak Trisna. Aku pun segera membalas pesan tersebut
To : +6281805212***
Malam juga, Kak
Terserah kakak aja, kapan kakak bisanya
Tempatnya di rumahku aja kak biar nggak di tahu sama yang lain.
Hanya butuh menunggu sekitar 5 menit Kak Trisna sudah membalas pesanku lagi
From : +6281805212***
Okeh deh, Fris
Kita mulai belajarnya besok aja ya
Pas pulang sekolah
Kamu pulangnya bareng aku aja, sekalian ke rumahmu
To : +6281805212***
Siap Kak
            Keesokan harinya, aku menceritakan rencanaku kepada Fiara dan Putri. Respon mereka awalnya cukup terkejut, namun mereka tetap mendukungku. “Ca, kamu kesambet apaan bisa mau ikut olimpiade matematika?” tanya Putri “Iya Ca, shock banget aku denger keinginan kamu yang ini. Frisca sang HATERS MATHEMATIC malah pingin ikut olimpiade matematika” Lanjut Fiara “Jangankan kalian, aku aja masih rada bingung kok bisa aku pingin ikut olimpiade mat.” “Eh, ngomong – ngomong siapa yang jadi tutor kamu?” tanya Putri. Tanpa ragu Frisca menjawab “Kak Trisna, eh maksudku Pak Trisna.” “Waaaa Ca, enak banget. Kalau gitu aku juga mau donk ikut olimpiade mat.” Kata Putri asal. “Hati – hati Ca, ntar kamu cinlok lagi sama Pak Trisna. Hahaha” “Apaan sih Ra, ini kan cuman hubungan antara guru dan murid nggak lebih.” “Iya aku kan cuman ingetin Ca.”
            Pukul 15:17 akhirnya aku dan Kak Trisna sampai di rumahku, setelah mengendarai sepeda motor selama kurang lebih 30 menit. Lalu, Mbok Asih membukakan gerbang ketika mendengar bunyi bel sepeda motor di depan rumah. Aku pun mempersilahkan Kak Trisna masuk ke ruang tamu, sementara aku mengganti baju dan meminta tolong Mbok Asih membuatkan Kak Trisna minum.
            Setelah selesai mengganti baju, aku pun bergegas ke ruang tamu. Ku lihat Kak Trisna sedang sibuk membolak – balik buku. “Kak?” Kak Trisna pun mengangkat mukanya dan berkata “Rumahmu kok sepi banget Fris? Papa Mamamu mana?” “Papa Mama tinggal di Surabaya, jadi aku tinggal sendiri di Jakarta.” Kak Trisna manggut – manggut tanda mengerti. “Ya udah, kita mulai belajarnya ya.” Kak Trisna mengajariku soal – soal yang mudah dulu untuk pertemuan pertama ini. Sekitar Pukul 18:00 Kak Trisna pamit.
            Rutinitas bimbingan olimpiade sudah berjalan sekitar kurang lebih 3 minggu, yang berarti 1 minggu lagi menuju ke medan perang yang sesungguhnya. Hubunganku dengan Kak Trisna pun semakin akrab. Hampir setiap malam ia mengirimiku pesan sekedar bertanya, “Lagi ngapain?” “Udah makan belum, Dek?”. Aku juga merasa nyaman dengan perlakuan Kak Trisna. Kini aku semakin mengenal Kak Trisna, ternyata Kak Trisna itu orangnya perhatian dan jail banget.
            Hari pelaksanaan olimpiade pun tiba, aku berdoa semoga aku dilancarkan ketika mengerjakan soal – soal itu. Beberapa saat sebelum lomba dimulai, ada 3 pesan di inbox ku.
From : Fiara
Bebiii cemungudh eapass :*
God Bless
From : Putri
Semangat Cak, kamu pasti bisa
Jangan sia – siain pengorbanan aku,
Yang udah relain Kak Trisna buat kamu :3
Aku hanya tertawa dan membalas pesan dari Fiara dan Putri. Pesan terakhir ternyata dikirim oleh Kak Trisna
From : Kak Trisna
Good Luck Fris :D
Kamu pasti bisa ngerjain soal – soal itu
Pesan dari Kak Trisna itu benar – benar menyuntikkan semangat bagiku. Aku pun membalas pesannya. Setelah itu para peserta dipersilahkan masuk ke ruangan masing – masing.
            Seminggu kemudian, ditemani Kak Trisna aku menghadiri acara pengumuman lomba itu. Ketika mc membacakan juara – juara olimpiade, hatiku berdegup kencang. “Juara ketiga atas nama Julian Harvian.” Nyali ku sudah ciut, aku sangat pesimis karena jika juara 3 saja aku tak dapat mana mungkin aku bisa mendapatkan juara 2 apalagi 1, aku kan hanya pemula. “Selanjutnya, juara ke 2 Hervina Melani.” Aku sudah tak sanggup lagi menunggu siapa yang menjadi juara 1 yang pastinya itu bukan aku, tapi Kak Trisna tetap menguatkan ku dengan menggenggam tanganku. “Dan inilah yang paling ditunggu – tunggu. Juara 1 olimpiade matematika Universitas Merdeka adalah….. Frisca Geraldine” Aku hanya terkejut dan tidak bisa berbuat apa – apa. Aku tak menyangka aku bisa mendapatkan juara 1. Air mataku pun jatuh karena terharu. Setelah menerima hadiah, aku pun pulang bersama Kak Trisna. Tapi, sebelum pulang Kak Trisna mengajakku ke sebuah kedai ice cream. Katanya ia akan mentraktirku karena aku berhasil menjadi juara 1 dalam ajang olimpiade ini.
            “Fris, kamu mau pesan apa?” “Apa aja deh kak terserah kakak. Kan kakak yang teraktir. Hehehe” “Ya udah, kita pesen waffle toppingnya ice cream cookies and cream ya” “Apa aja aku ikut kak” Kemudian Kak Trisna mengangkat tangannya memanggil pelayan. Setelah pelayan itu berlalu dari meja kami, Kak Trisna pun membuka pembicaraan “Congratulation Fris. Kamu hebat banget, baru ikut sekali langsung bisa jadi juara.” Kata Kak Trisna menyatakan kekagumannya “Kakak bisa aja, semua ini kan juga karena bimbingan dari kakak. Kalau nggak ada kakak, aku nggak mungkin bisa jadi juara.” Kataku merendah. “Kak aku juga mau ngucapin terima kasih karena kakak aku bisa berubah jadi manusia yang lebih baik.” “Kamu bisa aja Fris.” Tak berapa lama kemudian, pesanan kami pun datang. Waffle dengan topping cookies and cream itu sangat menggugah selera. Setelah habis menyatapnya, aku kira kita akan langsung pulang.
            Namun ternyata Kak Trisna menyuruhkun untuk duduk dulu sebentar, katanya ada yang ia ingin katakana. “Fris, belakangan ini hubungan kita makin dekat ya?” “Eeee.. iya kak.” Aku merasa sedikit gugup dengan pertanyaan Kak Trisna itu. “Kakak kira cuman kakak yang ngerasa kayak gitu. Fris, kakak ngerasa ada banyak kecocokkan diantara kita. Jadi kakak pingin hubungan kita bisa lebih serius lagi. Fris, do you want to be my girlfriend?” Kak Trisna mengatakan semua kalimatnya dengan tegas dan berwibawa. Aku bingung harus menjawab apa, lalu kuputuskan untuk “Kak, aku ngerasa ini bisa jadi masalah kalau di sekolah ada guru dan murid yang berpacaran, dan aku nggak mau ngerusak hubungan kita yang udah baik ini. Jadi menurutku lebih baik kita berteman aja kak. Maaf Kak.” Karena Kak Trisna sudah dewasa, dia pun bisa menerima jawaban Frisca itu. Setelah itu Kak Trisna mengantar Frisca pulang.
            Sesampai di rumah Frisca segera menghubungi kedua sahabatnya, Frisca mengundang kedua sahabatnya ke rumah. Tak berapa lama, Fiara dan Putri sudah tiba di rumah Frisca. Frisca pun menceritakan semua kejadian hari ini, dari dirinya menjadi juara 1 olimpiade sampai ia ditembak oleh Pak Trisna. “Ya ampun, Frisca kenapa kamu tolak.” Kata Fiara “Udah Ra, Frisca itu baik dia itu nolak Pak Trisna karena tau aku suka sama Kak Trisna.” Ucap Putri bahagia. “Ada – ada aja kamu Put. Terus hubungan kamu sama Pak Trisna gimana Ca?” “Ya nggak tau Ra, semoga tetep baik – baik aja sih.” “Amin Ca.”
            Senin Pagi, Frisca dipanggil maju ketengah lapangan karena prestasinya dalam olimpiade matematika. Setelah selesai upacara, Pak Trisna pun menemui Frisca dan mengatakan “Fris, Kakak harap kejadian kemarin nggak merubah hubungan pertemanan kita yang udah terjalin ya.” “Iya kak, nggak akan berubah kok.” kataku meyakinkan Kak Trisna.  

Jumat, 26 September 2014

Tiara



Tiara adalah seorang anak tunggal. Ia anak yang cerdas, namun kepintarannya itu tidak diimbangi dengan kelakuannya. Ia selalu merasa bahwa dirinyalah yang paling cerdas dan benar. Semua keinginannya harus dituruti ia merasa bak seorang putri kerajaan. Kelakuannya ini adalah akibat dari ibunya yang selalu mebelanya dikala dia salah, dan memanjakannya terlalu berlebihan. Ayahnya, Bimo adalah CEO dari sebuah perusahaan tekstil ternama dan ibunya, Rina adalah seorang wanita socialita.

                 Satu bulan lagi Tiara genap berusia 17 tahun. Ia ingin ulang tahun ke-17nya dirayakan secara besar-besaran. "Ayah, Bunda, Tiara mau sweet seventeen Tiara dirayain di Hotel bintang lima terserah yang mana aja, terus makanannya itu harus masakan western jangan masakan Indonesia ntar jdi kmpungan, terus ...." Tiara terus saja nyerecos mengenai pesta impiannya itu. Ayah pun menasehati Tiara "Nak, apakah itu tidak berlebihan? Jangan membuang - buang uang untuk hal - hal yang kurang bermanfaat." Tiara pun langsung manyun mendengar nasehat ayahnya itu "Dasar ayah katrok, ketinggalan jaman banget. Nggak tau trend anak muda sekarang." "Sudahlah Yah, toh Tiara anak kita satu-satunya tak apalah ia merayakan ulang tahun ke 17nya secara besar-besaran, toh hanya sekali seumur hidup." Bunda pun membela Tiara. Ayah hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan istri dan anaknya itu.
Senin Pagi itu, Tiara pergi ke sekolah di antar supir dengan menggunakan jaguar hitamnya. Ia langsung berlari ke dalam sekolah dan menceritakan kabar gembira tersebut kepada dua sahabatnya Vina dan Fitri. Kedua sahabatnya pun ikut senang mendengar kabar tersebut. Mereka pun terus berbincang mengenai apa saja yang akan dipersiapkan untuk acara tersebut. Tiba - tiba datang Pak Rendi, Dion, bersama seorang cewek yang sepertinya murid baru di kelas itu. Dion adalah ketua kelas XI IPA 3 dan merupakan salah satu cowok popular di SMA Tunas Bangsa. Suasana kelas yang tadinya gaduh pun menjadi sunyi, semua obrolan terhenti dan mata mereka semua tertuju ke depan. Pak Rendi pun segera menjelaskan bahwa cewek tersebut ternyata bernama Rani dan merupakan murid pindahan dari daerah Madiun. Tiara merasa agak terganggu dengan penampilan cewek tersebut namun ia memilih untuk tidak mempedulikannya. Kegiatan belajar mengajar pun kembali berlanjut seperti biasa.
  Saat jam istirahat, tiba - tiba Dion menghampiri Tiara. Awalnya Tiara berpikir ada hal penting yang akan dibicarakan oleh Dion, sehingga ia berhenti melangkah dan menunggu Dion untuk berbicara. Namun ternyata apa yang dipikirkan Tiara jauh meleset, karena Dion menghampirinya hanya untuk berkata "Ciee yang lagi satu bulan sweet seventeen". Tiara pun memandang Dion dengan tatapan aneh dan melanjutkan perjalanannya ke kantin bersama Vina dan Fitri. "Tuh cowok aneh banget ya, tiba-tiba nyamperin cuman ngomong gitu, nggak jelas banget." kata Tiara. "Mau PDKT kalik dia Ra. Hahahah." Tiara hanya menatap Vina dan Fitri dengan acuh. "Nggak peduli gue."
Undangan ulang tahun Tiara pun sudah disebar sejak H-14 atau sekitar 2 minggu sebelum acara. Semua warga SMA Tunas Bangsa diundang untuk hadir di pestanya itu, termasuk Rani si murid baru itu.
Namun setelah 3 minggu Rani bersekolah di SMA Tunas Bangsa, Tiara mulai merasa kelakuan Rani mulai agak mengganggunya. Rani yang cukup  handal dalam bidang akademik, dianggap sebagai ancaman bagi Tiara. Suatu hari saat pelajaran Kimia, Pak Rendi memilih Rani untuk bergabung dengan kelompok Tiara. Tiara pun tersenyum sinis ia lalu berpikir, inilah saatnya aku menjatuhkannya. "Sorry Pak, aku nggak level kelompokan sma anak cupu kayak gitu, euhhh banget." "Tiara, jaga omongan kamu atau keluar kamu dari kelas ini" Pak Rendi pun kehilangan kesabaran. "Ra, sadar donk lo kalau lagi ngomong." "Lo juga belain si cupu itu. Sana aj lo temenan sama dia, gue mah ogah. Nggak butuh gue punya temen yang kampungan gitu. Jijik tau." Tiara berkata sambil keluar meninggalkan kelas. Ia merasa hal yang dilakukannya tadi adalah benar, hanya teman – teman dan gurunya lah yang aneh sehingga membela Rani. Vina dan Fitri yang biasanya bisa mentolerir kelakuan Tiara, kini juga benar – benar tidak habis pikir dengan kelakuan teman mereka itu.

                 Keesokan harinya, Tiara datang ke sekolah dengan gaya bossynya. Semua mata melihatnya dengan pandangan kesal, sebal, dan semacamnya. Ternyata kabar mengenai kelakuan Tiara kemarin telah tersebar ke seluruh sekolah. Namun, Tiara cuek saja karena dia menganggap hal yang kemarin terjadi itu bukanlah sebuah masalah, itu hanyalah angin lalu. Sesampainya di kelas, ia langsung membaur dengan Vina dan Fitri yang kebetulan sudah datang. Tapi, tanpa disangka - sangka ketika Tiara datang, Vina dan Fitri malah pergi dari kelas. Tiara sempat kaget dengan sikap temannya itu, tapi ia tidak terlalu peduli. Ia pun duduk di bangkunya sambil memainkan ponselnya.
Sebuah tangan menepuk bahunya, Tiara pikir itu adalah Vina atau Fitri. Jadi dengan senyum yang sangat bersemangat ia menoleh, namun raut wajahnya pun berubah karena itu bukanlah Vina maupun Fitri melainkan Dion. Tiara pun berkata dengan sinisnya, "Apaan lo?" "Galak amat sih non. Tumben banget sendirian? Boleh gue temenin?" Tiara tetap saja fokus pada ponselnya, ia tidak menghiraukan perkataan Dion. "Dijawab donk ra, kok gue dikacangin sih?" Bel pun berbunyi dan Dion kembali ke tempat duduknya tanpa menunggu jawaban dari Tiara.
Sampai di rumah, Tiara masuk ke kamarnya lalu memikirkan kejadian hari ini. Ia merasa bahwa teman-temannya itulah yang aneh mengapa marah padanya padahal ia tak memiliki salah. Bunda mengetuk pintu membuat Tiara kaget dan berpura - pura sedang membereskan kamar. "Aduh anak Bunda rajin banget sih." "Iya,Bunda." "Kamu kenapa nak kok mukanya sedih gitu? Ada masalah?" "Nggak ad kok Bun." "Ya udah kalo gitu, bunda keluar dulu ya." Tiara hanya menjawab dengan senyuman. Tiara memilih tidak menceritakan mengenai kelakuan aneh teman-temannya. Beberapa saat kemudian terlintas dipikirannya, jangan - jangan kelakuan teman-temannya itu hanyalah cara untuk mengerjainya karena dia akan berulang tahun. Tiara pun memilih untuk tidak memikirkannya lebih lanjut, dan ia memilih untuk tidur.
Sabtu, 27 Mei 2017 tepat pukul 00:00 Ayah dan Bunda masuk ke kamar Tiara dengan membawakan sebuah tiramisu dan sebuah kotak kecil sebagai hadiah ulang tahun,  sambil menyanyikan lagu Happy Birthday. Tiara pun merasa sangat senang atas surprise yang diberikan itu. Ia pun mengucapkan terima kasih dan memeluk serta mencium ayah bundanya secara bergantian. “Nak, ini hadiah dari ayah dan bunda untuk kamu. Semoga kamu suka.” Ayah berkata sambil memberikan kotak kecil itu pada Tiara. Tiara membuka kotak itu dan bersorak senang. Ternyata isi kotak itu adalah sebuah kalung dengan bandul huruf “T” serta sebuah kunci mobil. “Ya ampun, Ayah Bunda Tiara senang banget sama kadonya. Makasi banyak Ayah Bunda.” “Sama-sama Nak, sekarang kamu istirahat lagi ya. Besok kan mau siap – siap untuk acara ulang tahunmu.” Kata Bunda. Tiara pun segera kembali ke tidurnya setelah ayah dan bunda keluar dari kamarnya.
Pagi harinya, Tiara bangun dan langsung mengecek ponselnya, namun tak ada satu pun sms, bbm, maupun mention yang masuk. Ia pikir bahwa teman – temannya memang benar sedang mengerjainya atau mungkin belum bangun, karena hari sabtu adalah hari libur bagi murid – murid SMA Tunas Bangsa. Tiara pun segera mandi dan sarapan, karena dia harus segera ke salon untuk membuat dirinya terlihat sangat cantik nanti malam. Tiara pergi ke salon diantar oleh supir dan mamanya. Di perjalanan, Tiara kembali mengecek ponselnya, ada beberapa pesan yang masuk tapi semua itu hanya dari keluarganya saja tak ada satu pun pesan dari teman – teman sekolahnya. Namun ada sebuah nomer yang tidak dikenal Tiar,  mengiriminya sebuah sms.

From : +6287865123xxx

Happy sweet seventeen birthday, Ra.
Makin cantik, makin disayang sama ortu.
Semua doa terbaik untukmu, Ra :D
Love :3

Tiara merasa sedikit aneh dengan sms tersebut sehingga ia memilih untuk tidak membalas sms itu. Tetapi, Sepanjang hari di salon Tiara tetap saja memikirkan siapa kira – kira pengirim pesan misterius itu. Lama ia berpikir, tak ada satu pun nama terlintas di otaknya.
            Waktu yang ditunggu – tunggu pun tiba, tepat pukul 19:00 Tiara sampai di hotel tempat pesta ulang tahunnya diadakan. Tiara terlihat sangat cantik dalam balutan gaun berwarna hijau tosca dengan heels setinggi 7 cm yang berwarna senada dengan gaunnya. “Baiklah hadirin sekalian, mari kita sambut putri kita Tiara Ardelia Wijaya.” Tiara pun memasuki ballroom bersama kedua orang tuanya diiringi tepuk tangan riuh para tamu undangan. Semua mata tamu undangan tertuju pada Tiara yang tampil begitu cantik malam itu.
            Setelah acara tiup lilin dan potong kue, para hadirin dipersilahkan untuk naik ke panggung memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Tiara. Banyak rekan bisnis ayah dan teman – teman ibu Tiara yang memuji penampilan Tiara malam itu. Tiara hanya menjawab dengan memberikan senyuman termanisnya. Sudah banyak tamu undangan yang silih berganti menyalaminya, tapi Tiara tidak menjumpai satupun teman – temannya dalam barisan itu. Tiara memutuskan untuk terus menunggu. Sampai akhirnya ada seorang temannya datang, Tiara tidak begitu mengenali wajah itu dari jauh, tapi ia harap bahwa itu adalah salah satu dari temannya. Ketika wajah itu mendekat, memang benar itu adalah salah satu dari teman Tiara, namun Tiara tidak merasa begitu senang, karena yang datang adalah Dion. Dion naik ke panggung dan memberikan ucapan selamat kepada Tiara.
Sampai acara berakhir tak ada lagi teman Tiara yang datang. Tiara tak dapat lagi menahan kesedihan di hatinya. Tiara berlari keluar ballroom dan pergi ke taman. Diam – diam Dion mengikuti Tiara. Di taman, air mata Tiara pun tumpah. Dion menghampiri Tiara, sebenarnya ia sempat terkejut karena tak pernah disangkanya cewek seangkuh Tiara bisa juga menangis seperti itu. “Ngapain lo ke sini? Kenapa lo masih mau temenan sama gue sedangkan anak – anak yang lain nggak? Sebenarnya gue salah apa?” Tiara terus bertanya sambil menangis sesegukan. Dion lalu meraih tangan Tiara pelan dan menghapus air mata Tiara “Ra, kamu harus sadar kalau kelakuan kamu yang suka menghina orang dan bersikap angkuh itu nggak baik. Kamu harus rubah sikap kamu supaya anak – anak yang lain mau berteman sama kamu lagi.” “Terus kamu, kamu kenapa masih mau berteman sama aku?” Tiara pun melontarkan pertanyaan yang mengganjal di pikirannya itu. “Eeeee.. itu karena aku… aku pingin ngebantu kamu berubah jadi orang yang lebih baik lagi.” Jawab Dion sambil menunjukkan senyum yang dibuat – buatnya. “Aku saranin besok kamu minta maaf sama anak – anak sekelas.” “Emang mereka mau maafin aku?” “Nggak ada salahnya mencoba, Ra.” nasehat Dion. “Oke, mkasi banyak ya, Yon buat saranmu. Masuk yuk dingin nih di luar.” Mereka pun kembali masuk ke ballroom.
Dengan penuh semangat, Tiara bangun pagi – pagi sekali dan langsung pergi ke sekolah. Ayah dan bundanya kaget melihat kelakuan putri mereka yang biasanya bangun kesiangan, kini sudah siap untuk berangkat ke sekolah. “Nak, kamu kenapa kok pagi – pagi sekali sudah mau ke sekolah?” tanya bunda khawatir. “Nggak papa kok, Bun lagi ada tugas soalnya. Ayah Bunda, Tiara pamit dulu ya.” Tiara pun mencium tangan ayah dan bundanya bergantian. Hari ini Tiara ke sekolah dengan mengendarai mobil barunya.

Sekolah masih sangat sepi tentunya, hanya ada beberapa murid di sekolah dan para petugas kebersihan. Tiara berjalan kea rah ruang guru, kebetulan ada Pak Rendi di sana. “Permisi pak.” Pak Rendi hanya menganggukkan kepala memberi isyarat Tiara untuk masuk. “Pak maksud kedatangan saya ke sini, saya ingin meminta maaf kepada bapak atas kelakuan saya kemarin.” Pak Rendi menatap Tiara dan berkata “Syukurlah Tiara, kalau kamu sudah menyadari bahwa tindakanmu salah. Tak seharusnya kamu bertingkah angkuh dan menghina orang lain.” “Iya Pak, saya benar – benar minta maaf. Pak?” “Iya ada yang bisa bapak bantu?” “Pak saya mau meminta tolong agar murid – murid nanti di kumpulkan di lapangan, karena saya ingin meminta maaf kepada mereka semua khususnya kepada Rani.” pinta Tiara. “Baiklah nak, akan bapak bantu.” “Terima kasih Pak.” Tiara pun salim kepada Pak Rendi dan meninggalkan ruang guru.
Tepat pukul 07:15 bel berbunyi, da nada pengumuman bahwa seluruh murid diharap berkumpul di lapangan. Berbagai ekspresi muncul, ada yang males – malesan ada yang penasaran ada apaan dan lain – lain. Vina dan Fitri termasuk dalam kelompok yang ogah – ogahan banget ngumpul ke lapangan, factor kelas yang ada di lantai tiga lah yang menjadi alasan mereka malas untuk ke lapangan. Setelah, semua murid berkumpul, Tiara naik ke mimbar dan berkata “Selamat pagi, yang terhormat kepala sekolah, bapak/ibu guru, serta teman – teman semua. Saya berdiri di sini untuk menyampaikan permintaan maaf saya kepada seluruh warga sekolah, khususnya Rani atas perilaku saya beberapa hari yang lalu. Saya benar – benar merasa menyesal dan saya berjanji akan mencoba untuk merubah tingkah laku saya agar tidak menyinggung perasaan orang lain.” Tanpa disadari sebulir air mata Tiara jatuh. Permohonan maaf Tiara tersebut disambut riuh warga sekolah, semuanya berteouk tangan. Mereka menghargai usaha Tiara untuk meminta maaf itu. Vina dan Fitri pun berlari ke tengah lapangan dan memeluk Tiara. “Vina Fitri aku minta maaf ya sama kalian.” “Udah deh Ra yang penting sekarang kamu udah sadar.” Suasana pun berubah menjadi haru.
Sepulang sekolah Tiara mengajak Dion untuk bertemu di taman sekolah. “Yon thanks a lot ya buat saran lo, sekarang teman – temanku udah mau  berteman sama aku lagi.” “Sama – sama Ra, aku juga seneng liatnya kalau kamu udah balik ceria lagi.” kata Dion. “Ra sebenernya ada yang pingin aku omongin.” “Apaan Yon?  Ngomong aja.” “Ra, sebenernya aku… aku..” Tiara merasa apa yang akan dikatakan Dion adalah hal yang sangat penting, mungkin saja berhubungan dengan perasaan tapi ia tidak terlalu yakin mengenai hal itu. “Ra, sebenernya aku suka sama kamu dari awal kelas XI tapi aku belum berani deketin kamu. Sekarang aku udah cukup berani buat deketin kamu walaupun sikapmu ke aku agak sinis tapi aku tetep coba untuk bertahan. Jadi, Ra mau nggak kamu jadiii pacar aku?” Dion berhasil mengucapkan semua kalimatnya dengan jelas, walaupun sebenarnya badannya sudah panas dingin. Tiara agak sedikit kaget dengan pernyataan cinta Dion, namun ia berhasil mengontrol dirinya. “Maaf Yon, aku…” Perasaan Dion serasa diaduk – aduk menunggu jawaban Tiara, dengan segenap kekuatan yang dimilikinya Dion berkata “Nggak papa kok Ra kalau emang kamu belum bisa nerima aku.” “Maaf Yon, aku nggak bisa nerima kamu besok atau lusa. Aku bakal nerima kamu sekarang juga.” “Jadi kamu mau jadi pacar aku Ra” Dion tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Reflek Dion memeluk Tiara. “Eh, jangan pegang – pegang belum muhrim. Hahaha” Mereka pun  tertawa bersama. Hari itu menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidup Dion dan Tiara.

Recycle Cinta

AUTHOR’S POV             “….. Sudah tak bisa dipungkiri jumlah sampah yang ada di Indonesia ini. Mulai dari limbah rumah tangga, pabrik...