Setiap siswa atau
mahasiswa memasuki suatu tingkatan yang baru dalam bidang pendidikan maka
mereka wajib melewati tahap yang
dinamakan orientasi. Dimana pada dasarnya orientasi dimaksudkan agar siswa
ataupun mahasiswa bisa mengenali dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
Namun dalam pelaksanaannya terjadi beberapa pelanggaran yang akibatnya bahkan
fatal hingga menghilangkan nyawa seseorang. Terkadang orientasi juga tidak menunjukkan
fungsinya yang mendidik dan mengarahkan siswa atau mahasiswa baru tapi lebih
menunjukkan kepada perploncoan dan kekuasaan senior.
Namun,
seiring banyaknya kejadian – kejadian yang tak diinginkan terjadi saat ospek
maka dikelurkanlah Permendikbud no. 18 tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru.
Diharapkan dengan adanya peraturan ini maka Ospek bisa dilaksanakan dengan baik
tanpa ada kejadian – kejadian yang tidak diinginkan.
Gera
baru saja selesai membaca artikel di majalah tentang peraturan menteri terbaru.
Perasaannya campur aduk antara senang karena dia tidak akan mengalami ospek
yang menyeramkan dan takut apabila ini hanya sekadar “harapan palsu”. Tahun
ini, Gera akan memulai aktivitasnya sebagai mahasiswa baru di salah satu
universitas swasta di Jakarta. Satu bulan lagi, tepatnya bulan Agustus, ia akan
memulai masa orientasinya selama satu minggu.
Berdasarkan
cerita senior – seniornya di SMA, ospek itu adalah saat – saat transisi dari
masa anak SMA menjadi anak Kuliah. Dimana kamu akan diajarkan tentang disiplin
waktu dan taat terhadap aturan. Tapiiii, terkadang senior suka menambahkan “hal
– hal unik” di dalam ospek. Seperti bangun pagi (sekali), Tugas yang (sangat)
banyak, Teriakan - teriakan (Maha Dahsyat), dan lainnya yang akan membuatmu
merasa sebagai salah satu anggota avengers ketika kamu selesai orientasi dan
menyadari apa yang sudah berhasil kamu lewati. Cerita – cerita itulah yang
membuat Gera sedikit khawatir menghadapi ospek.
*2 minggu kemudian*
Tinggal
dua minggu lagi dan bulan Juli akan berubah menjadi bulan Agustus yang berarti
Ospek semakin dekat. Gera mulai mengecek kembali list perlengkapan yang
dibutuhkan untuk ospek. Tiba – tiba handphone Finsa berdering, muncul nama
“Finsa” di layar handphonenya. Gera langsung saja menggeser tombol slide to answer. Belum sempat Gera
mengucapkan Halo, suara dari sebrang
sudah lebih dulu nyerocos “Geraaaaa…. Lo sibuk nggak hari ini? Temenin gue beli
keperluan ospek dong. Gue belum beli kemeja putih, sepatu hitam, dan masih
bannnnnyyyaaaakkk yang lain.” Gera tak menjawab “Halo Ger? Lo masih di situ kan?”
tanya Finsa “Udah selesai neng nyerocosnya?” sahut Gera “Hehehe.. sorry. Aku
over antusias Ger. Kan dua minggu lagi bakal ketemu kating – kating cakep jadi
aku harus punya persiapan. Gimana lo bisa kan nemenin gue?” tanya Finsa “Hmmm…
gimana ya?” jawab Gera sok mikir, mana mungkin dia menolak permintaan sahabat
kecilnya itu “Ayolah Ger. Gue yang jemput lo deh ntar. Terus gue teraktir es
krim. Mau ya?” bujuk Finsa. Apa??? ES KRIM?? Wah kalua sudah berurusan dengan
yang satu ini kata tidak akan lebih
sulit lagi untuk diucapkan oleh Gera “Yah karena gue kasian. Jadi gue temenin
deh Fin.” Kata Gera “Elah lo sok ngasianin gue bilang aja lo pingin makan es
krim gratis.” Sosor Finsa “Kebaca ya? Hehehehe” tawa Gera “Oke deh lo siap –
siap ntar jam 11 gue jemput. Bye.” “Bye”
Tepat
jam 11 mobil Finsa sudah terparkir manis di depan rumah Gera. Setelah pamit
kepada papa dan mamanya. Gera langsung masuk ke mobil Finsa. Kebetulan hari ini
jalanan lenggang sehingga dalam waktu kurang dari satu jam Gera dan Finsa sudah
tiba di salah satu pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Utara. Sesampainya di
sana Finsa langsung masuk ke butik – butik baju untuk melihat – lihat mana yang
cocok untuknya. Gera diposisikan sebagai orang yang perlu menjawab “cocok”
“nggak” “lmayan” ketika Finsa menunjukkan suatu barang layaknya acara di salah
satu stasiun televisi.
Gera
merasakan panggilan alam yang
mengharuskannya untuk segera ke toilet “Fin, aku ke toilet dulu ya. Entar
kabarin ja lo di mana ntar gue nyusul.” Gera bergegas berlari sebelum mendapat
persetujuan dari Finsa. Sambil berlari, Gera membuka tasnya mencari – cari
hpnya yang tiba – tiba berdering BUKKK!!! Gera mengahantam seseorang yang
berjalan di depannya. Keduanya terjatuh. “Sorry. Sorry. Aku lagi buru – buru.”
kata Gera kemudian berlari tanpa sempat melihat muka korbannya. “Hey, tunggu.
Ini….” Lelaki itu berusah berteriak namun dia kira sia – sia karena Gera sudah
berlari sangat jauh. Dalam genggaman lelaki itu terdapat gantungan kunci
bertuliskan “GERA FRIANA –part of Vister
University 2016/2017-“. Lelaki itu pun menyimpang gantungan kunci tersebut.
Kemudian melanjutkan perjalanannya.
***
Setelah menyelesaikan misi panggilan
alamnya, Gera mencuci tangannya kemudian memperbaiki ikatan rambutnya. Ia pun
membuka tasnya hendak mengambil sisir dan meyadari bahwa gantungan kuncinya
hilang. “Wah, gantungan kunci gue kok copot. Hilang dimana. Yah padahal itu kan
bagian dari identitas awal jadi mahasiswa dan itu harus dibawa di hari pertama
ospek sebagai salah satu atribut. Arghhh.” Gera pucat pasih dan panik. Ia
kembali menyusuri jalan yang ia lewati tadi dan berharap menemukan gantungan
itu tapi hasilnya nihil.
Handphone Gera berbunyi tanda ada
pesan masuk. Ternyata dari Finsa “Ger, gue tunggu di Haagen dazs ya” Gera
membalas singkat pesan dari Finsa “Ok” Gera melangkah gontai menuju ke gerai es
krim ternama tersebut. “Lo kenapa tiba – tiba muram begitu?” tanya Finsa
“Gantungan kunci gue jatuh dan ntah hilang kemana.” Jawab Gera sedih “HAH??!!!”
tanpa sadar Finsa berteriak membuat orang – orang di sekelilingnya menoleh ke
arahnya. “Maaf. Maaf. Saya tadi kelepasan.” Ucap Finsa sambil menahan malu
“Kok bisa Ger? Coba lo ceritain gue”
bujuk Finsa. Gera menceritakan hal apa yang terjadi dari dia meninggalkan Finsa
hingga saat ini dia duduk di depan Finsa. “Wah kemungkinan gantungan lo udah
ketendang – tendang tuh sama yang lewat. Gimana ya?” Finsa menaruh telunjuknya
di tengah jidat menunjukkan dirinya sedang berpikir. “Udahlah Fin nggak papa
kok. Yah di sini gue belajar bertanggung jawab atas kesalahan gue.” Sahut Gera
“Semoga aja ada suatu keajaiban jadi tiba – tiba tu gantungan kunci bisa ketemu
yah Ger.” Ucap Finsa memberi semangat “Udahlah daripada sedih – sedih mending
lo traktir gue es krim.” Tagih Gera “Dasar lu situasi apapun tetap aja es krim.
Hahahah.”
***
Rapat baru saja akan dimulai tepat
ketika Rio membuka pintu ruang rapat “Sorry, gue telat.” “Akhirnya, yang
ditunggu pun tiba.” Kata Keny “Baiklah karena seluruh CO dari setiap divisi
sudah lengkap rapat akan kita mulai.” Lanjut Keny. Sekitar 2 jam seluruh
panitia ospek Vister University serius mengikuti rapat final untuk acara
orientasi yang akn dilaksanakan 2 minggu lagi. “Saya berharap semua divisi
dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan penuh dengan tanggung jawab.
Sekian rapat hari ini, terima kasih atas kesediaan kalian meluangkan waktu
untuk hadir. Selamat Sore.”
Dengan berakhirnya rapat seluruh
panitia pun keluar dari ruang rapat. Namun hal itu tidak berlaku untuk Rio.
Selesai rapat Rio langsung menghampiri Diva sang sekretaris dan meminta daftar
nama mahasiswa baru yang akan mengikuti orientasi 2 minggu ke depan. “Buat apa
yo?” tanya Diva “Ada data yang gue perluin. Lo tenang aja nggak bakal ada anak
yang gue santet kok. Hahahah” canda Rio “Yaelah. Awas aja kalua sampe ada anak
baru yang kenapa – napa. Gue laporin lo ke polisi.” Sahut Diva “Tenang.
Tenang.” Setelah beberapa saat mencari akhirnya Rio menenemukan nama yang
dicarinya Gera Friana langsung saja
Rio memotret bagian data itu dan mengembalikan berkasnya kepada Diva “Udah nih.
Makasi Va.” Ucap Rio sambil pergi meninggalkan ruang rapat.
Sesampainya di rumah, Rio
mengeluarkan gantungan kunci dari kantong celananya dan mencocokkan nama yang
tertera di gantungan kunci itu dengan data yang tadi telah dia foto. “Okeh
besok gue akan balikin gantungan kunci ini” Tiba – tiba muncul rasa
penasarannya untuk mengetahui siapa Gera Friana. Rio pun mencoba menelusuri
Instagram Gera, kebetulan akunnya tidak dikunci sehingga Rio bisa melihat – lihat
foto – foto Gera.
Keesokan harinya Rio mengunjungi alamat
yang dia dapat dari daftar mahasiswa baru kemarin. Setalh memencet bel dan
menunggu beberapa saat seorang wanita paruh baya keluar dan membukakan pintu.
“Siang Den, mau cari siapa ya?” “Ini benar rumahnya Gera, mbok?” “Iya Den
bener. Tapi, non Geranya lagi pergi Den.” “Oh iya nggak papa mbok. Saya titip
ini ya buat Gera. Makasi.” Ucap Rio kemudian berjalan menuju mobilnya “Baik
Den.”
***
Kemarin di depan Finsa Gera berhasil
memasang tampang tabahnya menghadapi masalah gantungan kunci yang hilang, tapi
itu hanya sementara, setelah sampai di rumah Gera kembali memikirkan masalah
gantungan kunci. Ia takut terjadi hal – hal luar biasa ketika orientasi akibat
kelalaiannya ini. Semalaman Gera mencoba untuk tertidur namun pikirannya tetap
menolak untuk berdamai dan malah terkesan semakin menghantuinya.
Untuk meredakan tingkat stressnya
Gera memutuskan untuk pergi refreshing sejenak ke taman komplek rumahnya.
“Bodoh!!! Bodoh!!! Bodoh!!! Kenapa gue bisa menghilangkan salah satu atribut
berharga yang dibutuhkan untuk orientasi. Bisa jdi santapan empuk senior gue
kalo begini.” Matahari semakin tinggi dan cuaca mulai terasa panas. Gera
kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah dengan pikiran yang sedikit lebih
tenang (masih kacau).
Sesampainya di rumah, Gera membuka
kulkas dan mengambil sekotak jus dingin kemudian menuangkannnya ke gelas. Gera
berharap jus dingin itu mampu mendinginkan otaknya yang sedang panas. Mbok
Darmi menghampiri Gera yang sedang duduk di ruang makan. “Non, ini ada
titipan?” ujar Mbok Darmi sambil mengasurkan sebuah gantungan kunci “Makasi
Mbok.” Ujar Gera sambil mengambil gantungan kunci tersebut. Ketika Gera melihat
nama di gantungan kunci itu, ia langsung merasakan kebahagiaan yang tak
ternilai. “Waaaaa, ini yang namanya keajaiban!! Mbok, siapa yang titipin ini?”
tanya Gera antusias “Nggak tahu Non, tadi dia cuman bilang titipin ini buat Non
Gera.” Jawab Mbok Darmi “Orangnya kayak gimana Mbok?” tanya Gera penasaran “Waduh
Mbok lupa Non.” Jawab Mbok Darmi. Maklum saja Mbok Darmi memang mempunyai
penyakit piku yang sangat akut hingga kejadian 5 menit yang lalu saja bisa
hilang dari memori otaknya “Hmmm.. Ya udah deh, makasi ya Mbok.” Mbok Darmi
kemudian kembali ke belakang melanjutkan pekerjaannya.
Gera tidak bisa menyembunyikan rasa
bahagianya karena berhasil mendapatkan kembali atribut ospeknya. Gera langsung
mendial nomor Finsa. Gera langsung nyerocos begitu telfon diangkat.
“FINSAAAA!!!!
Gue seneng banget. Ternyata keajaiban itu ada!!”
“Buset
deh lo nelfon orang langsung teriak – teriak. Ada apaan??”
“Someone
luar biasa mengantarkan gantungan kunci gue kembali ke tangan gue.”
“Serius
Ger. Wah pantes lo senang bukan main. Siapa orangnya?”
“Nah
itu dia masalahnya, Mbokku yang pikun akut tidak ingat sama sekali ciri -
cirinya.”
“Wah
parah Mbokmu Ger, syukur aja dia masih ingat buat nyampein tu gantungan ke elo.
Hahahah. Lo harus berterima kasih banyak banyak sama tu orang Ger. Tapi, btw
dia tahu darimana ya alamat rumah lo?”
DEGG….
Saking senangnya Gera dari tadi tak sempat memikirkan bagaimana cara orang itu
bisa mengetahui alamat rumahnya
“Iya
juga ya Fin gimana cara dia bisa tahu rumah gue. Tapi terserahlah yang penting
gantungannya balik. Wkwkwkw.”
“Dasar
lu mah. Inget aja kalau lo berkesempatan ketemu sama orangnya bilang terima
kasih.”
“Siap
Bos. Oke deh thank you udah mau dengerin kabar bahagia gue. Bye.”
“Bye.”
Setelah menceritakan kabar bahagia
itu kepada Finsa, Gera iseng memposting foto gantungan kunci itu dan mengupload
ke Instagram dengan caption
Ternyata di dunia ini ada
yang namanya keajaiban XD… Anyway thank you buat yang udah jadi malaikat
penyelamat gue. Kalau lo cewek gue bakal jadiin lo teman gue, dan kalau lo
cowok gue bakal jadiin lo pacar gue –Udah kayak sayembara negeri dongeng-
Hahahahahahah
Entah
apa yang ada di dalam pikiran Gera hingga membuat caption nggak jelas seperti
itu.
***
Siang itu, Rio sedang duduk – duduk
di taman sambil ditemani segelas orange juice. Ia mengecek explore instagramnya
dan penasaran dengan foto gantungan kunci yang rupanya mirip dengan gantungan
kunci Vister University. Ternyata benar saja postingan itu dipost oleh Gera.
Rio tertawa kecil setelah membaca caption yang ditulis Gera. Ia merasa tidak
sabar untuk melihat secara langsung cewek itu.
***
Pada akhirnya bulan Juli pergi dan
digantikan oleh bulan Agustus. Senin, 1 Agustus 2016, seluruh mahasiswa baru
Vister University berkumpul di lapangan untuk mengikuti upacara pembukaan masa
orientasi. Gera datang bersama dengan Finsa dan langsung menuju ke barisan.
Upacara berjalan sebagai mana mestinya, pidato singkat dari rector, pelepasan
balon, dan lain sebagainya. Semua masih baik – baik saja hingga waktu dan
tempat diambil alih oleh Panitia Orientasi.
Perasaan Gera mulai tidak enak. Ia
takut ini adalah awal dari “hal-hal luar biasa”. “Selamat Pagi semua!!!” sapa
Mita, MC untuk sesi kali ini “PAGI!!!” balas seluruh mahasiswa baru “Baiklah
untuk sesi kali ini akan ada perkenalan dari divisi – divisi yang akan membantu
agar orientasi ini bisa berjalan dengan lancer hingga akhir.”
Semua divisi memperkenalkan diri
dengan ceria dan bahagia. Tapi tak berlaku bagi divisi yang terakhir yaitu
Divisi Kedisiplinan. Sekitar 12 orang masuk ke lapangan dan seseorang yang
sepertinya menjadi CO divisi itu mulai berbicara dengan ekspresi datar namun
syarat ketegasan “Saya Rio Marlando. Kami disini bukan untuk memplonco kalian.
Tapi kami disini untuk menegakkan disiplin kalian. Setiap pelanggaran yang
kalian lakukan aka nada sanksi yang didapat. Terima Kasih.” Bisa dipastikan
semua mata mahasiswi tak berkedip melihat seseorang yang berdiri di mimbar saat
ini. Badan atletis, tinggi, berkulit putih, keren, pokoknya nggak akan cukup
kata – kata untuk menggambarkan betapa wownya Kak Rio.
Hari pertama orientasi pun berakhir.
Hari ini hanya diisi dengan perkenalan, pembagian kelompok, dan tugas – tugas
untuk hari selanjutnya. Gera cukup lega karena hari in masih masuk kategori
normal dan mampu ia hadapi.
Dalam perjalanan pulang Finsa
langsung antusias membahas kating – kating ganteng yang dia berhasil ditangkap
matanya hari ini. “Ger coba lo lihat ya ampun mat ague seger banget ngeliat
pemandangan kayak gitu. Apalagi Kak Rio bagian divisi kedisiplinan. Sumpah
meltingggg… Tapi Kak Dion, pendamping kelompokku juga nggak kalah cakep. Belum
lagi Kak Ilham bagian dokumentasi. Waaaaaa…. Semangat gue orientasi kalo gini.
Nggak sia – sia perjuangan gue nyari baju – baju keren buat nunjang
penampilan.”
“Huffff… Perjuangan lo yang hamper
membuat “nyawa” gue melayang. Ya syukur aja sih hari pertama bisa dilalui
dengan selamat. Hari selanjutnya? Semua masih rahasia.” Jawab Gera “Lo dendam
sama gue ya?” tanya Finsa “Ya nggak lah orang itu salah gue. Becanda kali.”
Jawab Gera tak enak hati. “Eh, by the way lo kecantol sama kakak yang mana?”
tanya Finsa mengalihkan topik pembicaraan “Nggak ada.” Jawab Gera datar “Hello Gera syantik!! Serius nggak ada satu
pun?” tanya Finsa heboh “Iya serius gue mah biasa aja. Baru hari pertama juga
gimana mau tiba – tiba kecantol sama kating.” Tak berapa lama mobil berhenti di
depan rumah Gera dan Finsa langsung pamit pulang.
***
Walaupun hanya bertemu sekali atau
tepatnya tidak sengaja bertemu karena tabrakan di mall waktu itu, Rio merasa
penasaran terhadap cewek yang bernama Gera itu. Hari pertama orientasi sudah
selesai dan dia belum berhasil menemukan cewek itu. Entah kenapa perasaannya
merasa penasaran terhadap cewek tersebut. Besok
gue harus bisa nemuin dia batin Rio.
***
Sesampainya di kamar Gera membuka
buku catatannya dan melihat list apa saja yang harus dibawanya besok.
-
Berkumpul di lapangan jam 05:00 (TEPAT WAKTU)
-
Berpakaian kemeja putih dengan celana kain hitam
-
Sepatu formal warna hitam
-
Untuk perempuan rambut diikat satu
-
Membawa buku catatan dan alat tulis
-
Membawa atribut Vister University (gantungan kunci,
almamater, pin)
“Ah,
besok udah nggak bisa bangun siang, jam 5 harus udah di kampus berarti gue
harus bangun jam 3 siap – siap 30 menit. Berangkat ke kampus butuh waktu 1 jam.
BOOM!!!” keluh Gera. Satu persatu peralatan dimasukkannya ke dalam tas
ranselnya. Gera mengecek kembali takut bila ada sesuatu yang tertinggal.
Selesai mempersiapkan keperluan besok. Gera mandi kemudian membaringkan
badannya di atas kasurnya yang empuk.
***
Pukul 04:00 panitia sudah berada di
sekolah dan melakukan briefing pagi. Yap, panitia adalah orang yang datang
paling awal dan pulang paling akhir. Selesai briefing seluruh panitia kembali
ke tempat divisinya masing – masing. Divisi
kedisiplinan sudah bersiap di depan pintu gerbang untuk mengawasi para
mahasiswa baru. Rio sebagai ketua memutuskan bahwa untuk hari pertama ini dia
yang akan berada di gerbang bersama dengan Tiara dan Gandi. Sebenarnya ada
alasan kuat dibalik ini, Rio ingin menemukan gadis itu.
Pukul 04:47 seorang perempuan muncul
melewati gerbang dan Rio merasa familiar dengan wajah itu. Sepertinya itulah
perempuan yang ia cari. Mahasiswi itu berlalu melewati gerbang menuju lapangan
sambil setengah berlari.
***
Syukur saja hari ini, Tuhan masih
menolong Gera. Tadi pagi dia sudah bersiap – siap berangkat pukul 3:30. Sampai
sekitar 10 km dari rumahnya dia baru ingat kalua lupa mengikat rambut dan tidak
membawa ikat rambut satu pun. Ia pun buru – buru mampir ke sebuah mini market
untuk membeli ikat rambut. Syukurlah dia berhasil sampai di kampus tepat waktu
atau ia akan menjadi santapan divisi kkedisiplinan.
Tepat pukul 05:00 pintu gerbang
ditutup oleh divisi kedisplinan. Dari jauh Nampak beberapa mahasiswa berlari
agar bisa masuk ke kampus namun semua sia – sia karena tidak ada permakluman
sedikit pun untuk yang melanggar aturan ospek. 15 menit kemudian mahasiswa yang
datang terlambat diberikan kesempatan masuk namu harus berdiri di depan
menghadap ke teman – teman yang lain.
“LIHAT TEMAN KALIAN!! INI YANG
NAMANYA MAHASISWA? YANG DATANG SAJA TIDAK BISA TEPAT WAKTU!! BEGINI MODEL
KALIAN MAU KULIAH? MANA DISIPLIN KALIAN? BUANG SIFAT SMA KALIAN INI UNIVERSITAS
BUKAN SMA LAGI!! BERPIKIR YANG DEWASA JANGAN KAYAK ANAK KECIL!!!” teriak Kak
Tiara. Wajar saja kakak divisi kedisiplinan memarahi mereka karena kesalahan
mereka yaitu datang terlambat. Mereka pun mendapatkan hukuman untuk push up sebanyak 25 kali sit up sebanyak 25 kali dan lari
keliling lapangan 10 kali.
“JANGAN ADA YANG DATANG TERLAMBAT
LAGI BESOK!! MENGERTI??” teriak Kak Tiara “MENGERTI KAK” jawab seluruh
mahasiswa baru. Kakak divisi kedisplinan yang lain sibuk menghitung dan
mengawasi mereka yang menjalani hukuman dari kesalahan yang mereka lakukan.
“Sekarang dalam hitungan 10 kalian harus sudah sampai di grup spot kalian. 1…
2…. 3….” Perintah Kak Gandi. Semua mahasiswa langsung saja berlari sekencangnya
agar bisa sampai di grup spot atau mereka akan mendapatkan hukuman bila
terlambat.
Gera adalah bagian dari kelompok 21
dengan kakak pendampingnya Kak Tian dari angkatan 2014 dan Kak Sofia dari
angkatan 2015. “Okeh adik – adik kemarin kita sudah kenalan. Jadi hari ini kita
akan bahas yel – yel untuk kelompok kita. Kira – kira ada yang punya ide?” kata
Kak Tian “Keluarin aja apa ide kalian nanti kita diskusiin lagi nggak usah malu
– malu.” Tambah Kak Sofia. Semua angota kelompok berpikir kira – kira seperti
apa yel – yel yang harus dibuat. Tiba – tiba, ada yang menyikut Gera ternyata
itu Vio. Gera kaget tapi syukurnya bisa mengendalikan diri sehingga tidak
berteriak “Kenapa Vi?” tanya Gera “Lihat tu Kak Rio cakep banget.” Kata Vio
sambil senyam senyum “Jadi lo nyikut gue cuman buat bilang itu aja? Mending lo
bantu mikirin yel – yel deh Vi.” Jawab Gera “Iya gue bantuin abis gue puas cuci
mata ya.” Sahut Vio. Satu persatu ide muncul dan disusun agar bisa menjadi yel
– yel untuk kelompok 21.
Setelah sesi yel – yel, mahasiswa di
arahkan untuk naik ke aula di lantai dua. Kakak – kakak divisi keamanan sudah
berteriak – teriak agar semua mahasiswa lari lebih cepat ke aula. “LARI DEK!!”
“BURUANN!!!” “LARI!! JANGAN JALAN KAYAK SIPUT!” “LAMA SEKALI KALIAN! LARI!! INI
BUKAN FASHION SHOW!!” segala macam teriakan dielukan oleh kakak divisi
kedisplinan.
Gera berlari mengikuti barisan yang
telah dibuat kelompoknya. Namun tiba – tiba ia kehilangan keseimbangan dan
terjatuh. “Awww..” teriak Gera. Kak Sofia langsung menghampiri Gera dan
mengisyaratkan Kak Tian agar tetanp menemani grup ke aula. “Apanya yang luka
Ger?” tanya Kak sofia “Awww.. Shhh.. Kayaknya lututku Kak. Sama kakiku agak
terkilir.” Jawab Gera. “Kamu masih bisa jalan atau gimana?” tanya Kak Sofia
panik “Bisa kok Kak tapi tolong bantuin ya.” Pinta Gera. Gera mencoba berdiri
namun sepertinya kakinya tak kuat menompang berat badannya. Dari kejauhan
Nampak seorang kakak berlari mendekat. Teryata itu adalah Kak Rio. “Kenapa
Fia?” tanya Rio “Ini kak, Gera tadi kesandung terus jatuh mau aku bawa ke medis
tapi kayaknya dia nggak bisa berdiri.” Jelas Sofia. Saat itulah Rio baru menyadari
cewek yang terjatuh itu adalah cewek yang akhir – akhir ini sering bermain –
main di pikiran dan hatinya. Sontak saja timbul rasa khawatir di benak Rio
walaupun dia hanyalah kakak tingkat gadis itu.
“Aku gendong nggak papa ya?” tawar
Rio. Entah bermacam – macam perasaan timbul di benak Gera mendengar tawaran Kak
Rio. Gera hanya mengangguk pelan. Kak Rio pun menggendong Gera seorang diri
seperti adegan – adegan di ftv. Kak Sofia mengikuti di belakang sambil membawa
ransel Gera. Beratus – ratus pasang mata terperangah melihat adegan kakak
komisi kedisplinan kece menggendong mahasiswa baru. Ada yang berharap bisa
bertukar posisi dengan cewek itu dan yang lainnya menyatakan kekaguman terhadap
kakak itu. Beda halnya dengan Gera, ia merasa malu sekali harus digendong
seperti itu melewati tengah lapangan. Namun, di sisi lain dia juga tidak mampu
untuk berjalan di atas kakinya sendiri.
Sesampai di ruang medis, Rio lalu
membaringkan Gera di atas ranjang. “Makasi banyak Kak.” Ucap Gera sebelum Rio
meninggalkan ruangan itu “Iya. Sama – sama Dek.” Balas Rio. “Makasi banyak ya
Kak.” Kata Sofia “Iya Dek. Dijagain ya tuh adiknya.” Pesan Rio “Siap Kak.”
Balas Sofia. Setelah itu, Rio segera pergi ke aula untuk melanjutkan tugasnya.
***
“Lo kemana aja Yo baru sampe sini?”
tanya Gandi “Sorry, tadi gue bantu anterin maba yang jatuh ke medis. Dia nggak
bisa jalan terus tinggal kakak pendamping yang perempuan aja jadi gue bantuin
gendong ke ruang medis.” Jelas Rio “Widiiihhhh… menang banyak nih Yo.” Goda
Gandy “Apaan sih lo gue mah bantuin orang ikhlas nggak pamrih kayak lo bantuin
cewek minta imbalan id line. Hahahaha.” Balas Rio “Sialan lo.” Sahut Gandi malu
– malu.
Divisi Kedisplinan berkeliling untuk
mengawasi tingkah laku mahasiswa baru. Kalau – kalau sampai ada yang ketiduran
atau asik ngobrol sendiri siap – siap aja namanya dicatat oleh divisi
kedisplinan dan tentunya akan mendapat “perlakuan khusus”.
***
Kebetulan hari ini Finsa yang nggak
bawa mobil jadi dia nebeng sama Gera. Berhubung kaki Gera cedera jadi kursi
kemudi diambil alih Finsa. “Ger lo beruntung banget bisa dapat kesempatan
digendong sama Kak Rio sumpah adegan itu sweet banget. Tadi mahasiswi yang lain
pasti pada masang muka mupeng termasuk gue.” Kata Finsa “Kalau bisa gue nggak
mau kalik dapet cedera terus digendong gitu. Malu banget tau.” Keluh Gera “Idih
ngapain malu orang itu kesempatan emas yang jarang – jarang bisa didapetin.”
Jelas Finsa “Btw, lo bawa aja mobil gue pulang terus besok pagi jemput gue lagi
ya.” Pinta Gera “Okeh, Non Gera. Besok aku jemput jam 3:30 on time.”
***
Tak bisa dipungkuri ada rasa bahagia
yang menyusup ke dalam hati Rio hari ini. Dia bukan hanya bisa menemukan cewek
yang bernama Gera namun juga bisa berinteraksi secara langsung walaupun dalam
kondisi yang tidak baik. Rio bimbang ingin menanyakan kabar Gera melalui LINE
namun ia takut Gera akan menyangka ia sebagai orang yang SKSD (Sok Kenal Sok
Dekat) tak bisa dipungkiri Rio memang mengkhawatirkan kondisi Gera. Tetapi
statusnya sebagai ketua divisi kedisplinan setidaknya harus tetap dijaga
kewibawaannya hingga masa ospek berakhir. Dengan alasan itu Rio pun membatalkan
niatnya untuk menanyakan kondisi Gera. Rio hanya bisa berdoa semoga Gera baik –
baik saja.
***
Seperti biasa pagi hari menjadi sesi
untuk komisi kedisplinan. Semua anak – anak yang melanggar peraturan ditindak,
mulai dari yang terlambat, tidur saat seminar, ataupun tidak membawa atribut
lengkap. Sesi hari ketiga ini bisa dibilang cukup ringan karena hanya akan diisi
oleh perkenalan club – club yang ada di Vister University.
Masih seperti kemarin kondisi kaki
Gera masih belum pulih sehingga untuk berjalan masih perlu digandeng oleh Kak
Fiona. Hanya perasaan Gera, atau memang Kak Rio Nampak memperhatikan Gera dari
kejauhan. Tak mau merasa kepedean Gera segera menghapus pikirannya yang sudah
melambung jauh kea lam imajinasi.
Syukurlah
dia masih bisa mengikuti orientasi walaupun dalam kondisi seperti itu batin
Rio dalam hati tanpa Rio sadari ia pun kelepasan tersenyum. Saat acara
perkenalan club pun Rio mengusahakan sebisa mungkin agar posisinya mengawasi
area dekat dengan Gera
***
“Ger, Kak Rio itu cakepnya nggak
nahan banget ya?” kata Vio tiba – tiba. Gera sontak kaget, ya memang tak bisa
dipungkiri Kak Rio itu di atas rata – rata tapi nggak harus sampe segininya
kali ya tiap hari memuja – muja Kak Rio. “Hehehe.. Lo kesambet banget sih sama
dy Vi?” jawab Gera seadanya “Gue iri ah sama lo kemaren digendong gitu sama Kak
Rio.” Ujar Vio sambil memonyongkan bibirnya “Elah, sini tukeran posisi sama
gue. Gue mah ogah cedera kayak gini.” Serocoh Gera. Ketika acara sudah dimulai
Gera dan Vio berhenti berbicara karena salah – salah nama mereka akan masuk
dalam “list neraka”`
***
“Ger koleksi kakak cakep gue udah
nambah tapi fisik gue mulai lelah karena ospek ini.” Curhat Finsa dalam
perjalanan pulang “Udah sbar aja Fin besok udah hari ke empat main game gitu
terus tinggal gala dinner. Pas gala dinner sampe puas dah tu lo cuci mata.”
Kata Gera memberi semangat. “Iya bener iya. Demi gala dinner gue bersemangat
untuk ngikutin ospek ini. Hahaahah. Kira – kira sekacau apa wujud kita besok
gara – gara game?” tanya Finsa “Nggak tahu juga sih Fin, Tapi kayaknya besok
bakal jadi sesi paling seru selama orientasi.” Jawab Gera “Emang besok lo ikut
Ger main game? Kaki lo udah mau bersahabat?” tanya Finsa “Udah koku dah nggak
terlalu sakit. Gue nggak mau lewatin sesi yang paling seru ini.”
***
Pagi itu pukul 4:45, kondisi
lapangan sudah ramai mungkin mahasiswa baru sudah mulai sadar dan merubah sikap
mereka atau mulai sadar bahwa hukumannya melahkan. Hahahah. Sesi divisi
kedisplinan pagi ini dipimpin oleh Kak Yogi. “SIAPA YANG MERASA TIDAK ENAK
BADAN ANGKAT TANGAN??” Beberapa orang mengangkat tangannya “KARENA KEGIATAN
HARI INI MEMBUTUHKAN FISIK YANG KUAT BAGI YANG MERASA TIDAK KUAT BISA ANGKAT
TANGAN!! YANG BENAR _ BENAR TIDAK ENAK BADAN BUKAN YANG PURA - PURA!!! Rio
berjalan menelusuri barisan – barisan dan akhirnya berhenti di samping Gera
“Kamu yakin bisa ngikutin kegiatan hari ini?” tanya Rio “Bisa Kak.” Jawab Gera
yakin “Jangan paksain diri kalau merasa nggak bisa lebih baik istirahat.” Pesan
Rio sambil berjalan menelusuri barisan – barisan yang lain.
Vio kemudian berbisik dari belakang
“Ger, kayaknya Kak Rio care banget dah sama kamu.” “Nggak Vi emang orangnya
baik gitu kok sama yang lain juga.” Jelas Gera asbun “Hmmmm…” gumam Vio tidak
jelas.
Pukul 07:00 acara dimulai. Setiap
kelompok telah dibagikan secarik krtas yang berisi kode untuk menuju k epos –
pos game yang ada. Untuk sesi ini setiap kelompok tidak didampingi oleh kakak
pendampingnya dan ketua kelompok yang harus bertanggung jawab dengan keadaan
timnya.
Kelompok 21 langsung berkumpul
membentuk lingkaran untuk memecahkan kode tersebut. Kode pertama berhasil
dipecahkan yaitu kolam pancuran di depan gedung S. Semua anggota pun berlari
menuju ke tempat tersebut. Di pos itu mereka diberikan beberapa sedotan untuk
disusun menjadi Menara setinggi – tingginya dalam waktu 3 menit. Untungnya ada
Dika, sanggota grup yang sering melakukan percobaan – percobaan “aneh”. Ia
memberi instruksi dan yang lain tinggal menjalankan. Yay berhasil di pos ini
kelompok 21 mendapatkan poin penuh. Mereka pun berlanjut ke pos selanjutnya. Total
ada 12 pos yang harus mereka kunjungi untuk sesi hari ini.
Selama mereka berjalan dari satu pos
ke pos lain Gera merasa seperti ada yang mengawasi namun ketika ia melihat ke
sekeliling hanya ada orang – orang yang berlalu lalang yang tidak ia kenali.
Gera membuang jauh – jauh rasa curiganya itu dan memilih untuk focus berlari
dengan kelompoknya ke pos 11.
Karena terlalu difirsir tiba – tiba
kaki Gera lemas dan ia terjatuh. BUKKKK!!! Sontak kakak – kakak yang ada di pos
itu menghampirinya “Kenapa Dek?” tanya seorang kakak berkacamata “Nggak tahu
Kak. Kakiku tiba – tiba lemas.” Jawab Gera “RIO!!! Tolong dong bantuin nih bawa
ke medis!” teriak kakak itu. Mendengar nama Rio disebut Gera langsung panic ia
tidak mau adegan kemarin terulang dan ia menjadi tontonan massa “Nggak papa ko
Kak aku masih bisa ikut sesi ini cuman istirahat bentar aja.” Jawab Gera
gelagapan “Kenapa Ric?” tanya Rio “Adek ini barusan jatuh terus aku suruh ke
medis tapi dia nggak mau.” Jelas Eric “Eh kamu lagi. Yakin masih kuat ikut sesi
seelanjutnya?” tanya Rio “Iya Kak. Tanggung lagi satu pos aja.” Jawab Gera “Dia
masih mau ikut tu Ric. Kalau gitu aku balik ngawasin yang lain ya.” Kata Rio.
Seperti itulah Rio ketika di depan Gera berlagak dingin dan bersikap biasa saja
tapi jujur di dalam hatinya ia khawatir.
Setelah sesi game hari itu, seluruh
mahasiswa baru dikumpulkan di lapangan untuk upacara penutupan. Di sini lah
sesi panitia meluapkan segala kekesalannya kepada tindak tanduk mahasiswa baru.
Klimaks. Panitia juga meminta maaf atas kekurangan atau kesalahan yang
dilakukan oleh panitia. Selesai acara itu semua berhamburan sibuk mencari kakak
– kakak untuk diajak berfoto. Tak ketinggalan Vio, “Ger temenin aku minta foto
ke Kak Rio dong.” Gera tak enak bila harus menolak sehingga dia pergi menemani
Vio. Saat menemukan Kak Rio bisa dilihat betapa banyak antrian yang mau berfoto
bersamanya. Gera juga menemukan ada Finsa di dalam antrian tersebut. “BUSET!!
Antiannya.” Ujar Gera “Namanya perjuang Ger demi kakak kece. Temenin gue ya?”
pinta Vio. Gera nggak punya pilihan lain.
5 menit… 10 menit… 15 menit… dan
akhirnya tiba juga giliran Vio “Nih Ger, yang bagus ya fotonya.” Kata Vio. Gera
hanya mengangguk sambil tersenyum “Minta foto ya Kak.” Ujar Vio pada Rio. Rio
membalasnya dengan senyuman. Perhatiannya teralih pada perempuan yang bertugas
sebagai fotographer “1.. 2… 3…. 1…2…3… Udah.” Kata Gera “Makasi banyak Kak.”
Kata Vio pada Rio. “Sama – sama Dek” balas Rio.
Akhirnya setelah rapat evaluasi,
panitia bisa kembali ke rumah pukul 1 pagi. Sudah tidak perlu ditanyakan apakah
mereka lelah atau tidak jawaban sudah mutlak SANGAT LELAH. Walaupun fisiknya
sangat lelah tetapi sampai di rumah Rio tidak lantas tertidur. Ia dibuat
semakin penasaran oleh sikap Gera. Bukan kepedean namun faktanya di saat hamper
seluruh mahasiswi baru berlomba – lomba untuk meminta foto dengannya. Gera
malah bersikap biasa saja dan hanya memposisikan diri sebagai fotographer.
Menurut Rio, itu salah satu kejadian lucu selama orientasi. Karena sekarang
masa orientasi sudah selesai jabatannya sebagai ketua divisi kesdisplinan sudah
tanggal yang berarti dia bisa kembali menjadi dirinya sendiri. Rio membuka foto
di ponselnya kemudian membuka line dan meng-invite line id Gera. Tak cuman
sampai di situ Rio pun memberanikan diri memulai obrolan dengan Gera.“Hi :D Gimana kondisi kakinya udah enakan?”
Rio sudah tahu pasti bahwa chat itu tidak mungkin dibalas langsung. Manusia apa
yang belum tidur jam segini kecuali mahasiswa kejar deadline dan panitia ospek
Vister University. Rio pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum
pergi tidur
***
Tadi sewaktu perjalanan pulang Gera
sudah berencana akan langsung tidur sampai besok pagi tapi apa mau di kata
otaknya berkehendak lain. Benar sih tadi sepulang dari kampus ia langsung
tertidur namun ntah apa yang terjadi ia tiba – tiba terbangun di pagi hari jam
1 dan tak bisa tidur lagi. Gera pun memutuskan untuk mengecek hpnya daripada ia
melamun tidak jelas. Benar saja ketika dia mengecek LINE ada pesan dari Rio
Marlando .“Hi :D Gimana kondisi kakinya
udah enakan?” DEG!! Sejuta perasaan berkelebat di hati Gera. Dia bingung
mengapa Kak Rio bisa tiba – tiba menghubunginya. “Hehehe.. Udah baikan kok Kak.” Balas Gera.
***
Awalnya Rio memutuskan akan langsung
tidur namun ia iseng mengecek Hpnya terlebih dahulu dan keisengannya berbuah
hasil dia mendapat balasan dari Gera.
“Kok
belum tidur Ger? Nggak capek orientasi?”
“Tadi
udah tidur tapi nggak tahu kenapa tiba – tiba kebangun Kak.”
“Oh
gitu. Besok datang kan Gala Dinner?”
“Iya
datang kok Kak. Kakak kenapa juga belum tidur?”
Rio
tentunya bahagisa karena akhirnya chat ini lebih hidup ada dialog dua arah
bukan hanya dia yang diposisikan sebagai reporter untuk bertanya.
“Panitia
baru bubar jam 1 Dek, jadi kakak baru selesai beres – beres.”
1
menit . . . 10 menit . . . . . 30
menit . . . . .
Tak
kunjung ada jawaban dan Rio pun memutuskan untuk beristirahat.
Sekitar jam 10 Rio bangun dari tidur
nyenyaknya. Ia langsung mengecek hp namun nihil apa yang dicarinya tidak ada.
Ada sedikit rasa kecewa namun dia berusaha berpikir positif bahwa Gera belum
bangun.
***
Sinar matahari memasuki sela – sela
ventilasi kamar Gera. Sepertinya hari sudah sangat siang. Gera melihat ke arah
jam dinding benar saja jam sudah menunjukkan pukul 11:30. Seperti remaja
kebanyakan hal pertama yang dilakukan setelah bangun tidur adalah mengecek HP.
Sudah tidak berlaku lagu Bangun tidur k
uterus mandi tidak lupa menggosok gigi . . . . Gera terkejut ketika
menyadari ternyata chat yang semalam dengan Kak Rio itu bukan mimpi tapi nyata.
Buru – buru dia membalas chat Kak Rio“Maaf
kak semalam ketiduran. Heheheh… Capek banget pasti ya kak jadi panitia?”
***
Drrttttt…
Drrrtttt…
Hp
Rio bergetar tanda ada notifikasi yang masuk. Setelah menghabiskan makan
siangnya Rio segera mengecek hpnya. Dari siapa message yang masuk ke hpnya.
Syukurnya sesuai dengan harapan, Rio mendapat balasan dari Gera. Gue kira gue bakal dikacangin batin Rio.
“Ya
gitu jadi panitia capek tapi seru kok. Trust me hahahaha. Hayo baru bngun ya?”
“Iya
sih seru emang jadi panitia Kak. Hehehe… Nggak kok Kak, cuman hpnya aja gitu
yang baru bangun XD”
Sepertinya
Gera sudah mulai merasa nyaman berbalas pesan dengan Rio.
“Ah
nggak percaya Dek kalau anak jaman sekarang bangun nggak langsung turn on hp
wkwkwkwk…”
“Iya
deh Kak iya ngaku. Aku baru menatap indahnya dunia wkwkwkk.”
“Hmmmm…
Ngaku juga kan.”
“Hehehehe….
Iya Kak.”
Rio
belum mau berhenti chat dengan Gera namun dia bingung topik apa yang harus
dibahas lagi. Akhirnya dengan berat hati dia harus mengakhiri chat itu
“Oke
deh Dek. See you tonight yah.”
“Okay
kak :D”
***
Finsa datang sekitar jam 4 sore ke
rumah Gera untuk memulai persiapan mereka menghadiri Gala Dinner. Gera yang
dasarnya jarang berdandan tentunya sangat malas melakukan hal ini tapi dia juga
tidak mau terlihat saltum di acara tersebut. Beda halnya dengan Finsa, dia
terlihat sangat antusias untuk acara mala mini. Energinya untuk mengikuti acara
malam ini berkali – kali lipat banyaknya dibanding sesi – sesi sebelumnya.
Dua jam kemudian mereka sudah siap
dengan style masing – masing. Finsa dengan stylenya yang cewek banget gaun
panjang berwarna gold, high heels (7 cm) dan riasan wajah yang tak kalah
menawan. Gera dengan stylenya yang simple gaun selutut berwarna putih dan
wedges serta sapuhan make up tipis. Sekarang mereka sudah siap untuk berangkat
ke Gala Dinner. Pak Jono juga sudah siap mengantar kedua putri itu menghadiri
acara Gala Dinner
***
“Gue deg – degan Ger.” Celoteh
Finsa. “Yaelah lu kayak mau resepsi kawinan aja pake acara deg – degan.” Sahut
Gera “Yaelah lu mah.” Tak berapa lama mobil mereka pun sampai di pelantaran
parker sebuah hotel berbintang. Finsa bersama dengan Gera masuk ke dalam hotel
kemudian naik lift menuju lantai 3. Ketika pintu lift terbuka nampak panjang
sekali antrian yang mengisi buku tamu. Dekorasi dengan warna gold and silver
menambah kesan mewah acara Gala Dinner tersebut. Tiba giliran Finsa dan Gera
mengisi buku tamu. Setelah selesai mengisi buku tamu mereka berfoto di photo
booth. Saat berjalan masuk ke ballroom kebetulan mereka berpapasan dengan Kak
Dion “Hi! Kamu Finsa kan?” sapa Kak Dion “Eh, Kak Dion, Hy! Iya aku Finsa Kak!”
jawab Finsa “Waw, kamu cantik banget malam ini.” puji Kak Dion “Makasi Kak.
Kakak juga ganteng malam ini.” Balas Finsa malu – malu. Obrolan mereka
berlanjut dan Gera hanya berdiri diam seperti kambing congek. Gera pun
memutuskan untuk masuk terlebih dahulu daripada kelihatan seperti babu atau
obat nyamuk di situ. Tak lupa Gera mengirim line kepada Finsa memberi tahu ia
masuk ke dalam duluan.
Sebenarnya tidak ada perubahan yang
mencolok berada di luar ataupun dalam tetap saja ia berdiri sendirian. Tapi tak
berapa lama Gera merasa ada seseorang yang berdiri di dekatnya ketika ia
mengangkat kepalanya benar saja ada Kak Rio berdiri tepat di depan. “Aduh kakak
bikin kaget aja.” Ujar Gera “Kamu cantik banget Ger.” Puji Rio “Biasa aja kali
Kak. Heheh” balas Gera “Aku mau ngobrol sebentar sama kamu bisa?” tanya Rio
DEG!! Jantung Gera seakan berhenti
berdetak. Kira – kira hal apa yang mau dibicarakan oleh Kak Rio. “Gimana Ger,
bisa?” tanya Rio lagi “Iya, Kak” jawab Gera ragu. “Ya udah kita ngomongnya di
luar aja ya di sini terlalu bising.” Ajak Rio. Mereka berdua pun meninggalkan
ballroom dan berjalan ke arah balkon.
“Mau
ngomongin apa Kak?” tanya Gera
“Aku
mau menagih sesuatu Ger?”
“Nagih
apa Kak?” tanya Gera bingung
“HEY
KALIAN!! Ngapain disana berdua sini masuk ikutin acara. Acara udah mau mulai.”
Teriak Heru
“IYA!
IYA!” sahut Rio
“Ya
udah nanti aja dilanjutin obrolannya mending kita masuk daripada ntar ada yang
mikir macam – macam. Hehehe.” Ajak Rio
Acara diawali dengan sambutan dari
rector kemudian hiburan – hiburan dari angkatan 2016, 2015, 2014, maupun alumni
sambil menikmati makan malam. Jujur Gera tidak begitu menikmati acara karena
masih penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Rio. Pada akhirnya
sampailah mereka di akhir acara.
“Ya sampailah kita di puncak acara
yang ditunggu – tunggu. Kami akan mengumumkan KING and QUEEN Vister University
Orientation 2016!!” ujar Pandu “Yak benar sekali Pandu di sini kita sudah
mempunyai nama KING and QUEEN 2016.” Kata Devina “Tanpa mengulur waktu lagi
KING Vister Universty Orientation 2016 adalahhh DIMAS GALANG RAHARJA. Tepuk
tangannya semua.” Kata Pandu “Seorang king tentunya nggak lengkap yan Ndu kalua
nggak ada queennya jadi QUEEN Vister University Orientation 2016 adalah QUINSA
DELECIA. Tepuk tangan yang meriah guys.” “Kepada ketua panitia orientasi kami
persilahkan untuk memberikan hadiah kepada KING dan QUEEN kita.”
“Selanjutnya
ada apa lagi nih Dev?” tanya Pandu
“Hmmm,
ternyata untuk tahun ini kita ada satu nominasi lagi yaitu THE MOST FAVOURITE
COMMITTEE!! Kira – kira siapa ya?”
“Kayaknya
mahasiswi semua pada satu suara ni neriakin satu nama.” Kata Pandu
Kak Rio… KAK RIO… KAK RIO!!!
“Langsung
aja ya NDU 1 2 3 THE MOST FAVOURITE
COMMITTEE jatuh kepadaaaaaaaa RIO MARLANDO.”
YAAYAYYY………UUUUUU…..KAK
RIOOO……..WE LOVE YOUUUU……WAAAAWWW……….YEEEE.
Suara teriakan saling sahut
menyahut kala nam RIO MARLANDO disebutkan sebagain THE MOST FAVOURITE COMMITTEE
“Kepada
Kak Rio dipersilahkan naik ke atas panggung.” Kata Pandu
“Gimana
ni Kak perasaannya bisa jadi the most favourite committee 2 tahun berturut –
turut?” tanya Devina
“Pertama
– tama akum au ngucapin terima kasih untuk yang udah milih aku. Aku juga nggak
tahu kenapa bisa kepilih jadi most favourite committee. Yah intinya perasaannya
pasti senang lah ya bisa dapat penghargaan seperti ini.” Kata Rio
“Baiklah.
Kak ada yang nitip pertanyaan nih Kak Rio
masih available apa nggak?” tanya Pandu
“Kalau
masalah itu privacy ya adek – adek.” Jawab Rio
YAHHHHH……
Atmosfer kekecewaan langsung muncul di dalam ballroom itu
“Kak
kasian nih adik – adiknya kecewa gitu. Hahahaha. Kode – kode dikit lah kak.”
Goda Pandu
“In
Progress” Jawab Rio
“Udah
ya adik adik dapat kan jawabannya in progress berarti kalian harus mencari
target yang lain. Hahahahaha.” Kata Pandu
Acara pun selesai sekitar pukul 12
malam, semua mahasiswa sudah berjalan menuju pelataran parker. Namun tidak
dengan Gera. Ia masih menunggu penjelasan dari Rio. Finsa sudah cabut duluan
diantar pulang sama Kak
“Kamu
kok belum pulang?” tanya Rio
“Aku
butuh penjelasan yang jelas tentang yyang tadi mau kakak omongin.”
“Oh
soal itu. Jadi kakak mau nagih janji kamu?”
“Seingatku
aku nggak pernah janji apa – apa sama kakak. Aku baru juga kenal sama kakak 5
hari.”
“Ya
mungkin kamu baru kenal aku 5 hari tapi aku udah kenal kamu sejak 2 minggu
sebelum ospek.”
“HA??
Kok bisa Kak.” Tiba – tiba Gera merasa mengetahui sesuatu yang janggal
“Waittt….
Waittt….. jangan bilang orang yang aku tabrak waktu itu kakak?” tanya Gera
“Yap
tebakanmu jitu sekali. Dan?”
“Dan
apa lagi.”
“Dan
yang ngembaliin gantungan kunci itu ke rumah kamu adalah aku.”
Gera
sontak terkejut
“Ya
ampun jadi selama iniiii orang yang aku cari itu kakak? Makasi banget ya kak
kalua kakak nggak balikin gantungan ini ke aku bisa habis aku dari hari pertama
ospek.”
“Iya
sama-sama.So?”
“So
apaan lagi kak?”
“Coba
kamu buka postingan kamu di insta tentang gantungan kunci dan baca captionnya.”
Gera
membuka hpnya dan membaca caption absurd yang dia buat itu
“Ternyata di dunia ini ada yang namanya
keajaiban XD… Anyway thank you buat yang udah jadi malaikat penyelamat gue.
Kalau lo cewek gue bakal jadiin lo teman gue, dan kalau lo cowok gue bakal
jadiin lo pacar gue –Udah kayak sayembara negeri dongeng- Hahahahahahah”
Gera hanya bisa tertawa renyah selesai membaca caption anehnya itu. Ia jadi
salah tingkah.
“Gimana??”
tanya Rio
“Gimana
ya Kak? Aku jadi bingung sendiri. Efek kelebihan hormon endorphin jadi nggak
mikir langsung nulis caption aja.” Sahut Gera asal
“CIEEE
YANG IN PROGRESS!!!” beberapa panitia yang berjalan keluar gedung meneriaki Rio
“Gini
aja ya Ger, aku mau jujur terlepas dari apapun aku emang punya perasaan buat
kamu. Ntah kenapa aku juga nggak tahu padahal waktu perkenalan sangat singkat
dan accidentally. Mungkin kamu merasa aneh saaat orientasi, merasa ada yang
ngkutin atau bahkan merasa kebetulan sekali aku selalu ada ketika kamu susah.
Sebenarnya, itu semua bukan kebetulan tapi itu planning aku supaya aku bisa
jagain kamu. Aku tahu untuk perempuan mungkin waktu 5 hari terlalu singkat buat
mereka memberikan rasa sayang untuk orang lain mungkin mereka butuh waktu yang
lebih lama. Dan aku siap nunggu sampai kapan kamu merasa cocok. Nggak perlu
kamu jawab sekarang. Satu hal yang kamu harus janji sama aku apapun yang
terjadi kita akan tetap jadi teman.” Rio berhasil menumpahkan seluruh
perasaannya
“Kak,
aku adalah orang yang nggak mudah untuk percaya sama orang lain apalagi dalam
waktu yang sesingkat ini. Aku juga nggak tahu kenapa aku ngerasa nyaman ketika
chat sama kakak. Biasanya aku pasti akan menghindari orang tersebut. Tapi aku
juga belum yakin dengan perasaanku. Jadi, daripada nantinya kita saling
menyakiti lebih baik kita saling mengenal lebih jauh dulu ya Kak.” Balas Gera
“Okeh
aku setuju sama kamu. Udah malam ni aku antar pulang ya?” tawar Rio
“Boleh
Kak. Terima kasih untuk segalanya yang udah kakak lakuin untuk aku.” Ucap Gera
sambil tersenyum.