Jumat, 10 Juni 2016

AkunCINTAnsi

                Sudah menjadi cerita umum bahwa akuntansi merupakan pelajaran yang ribet –pelajaran hitung – hitungan yang luar biasa-. Sama halnya dengan cinta, cinta juga merupakan hal yang luar biasa. Bagaimanakah jadinya jika dua hal luar biasa itu disatukan?
                Pertanyaan - pertanyaan paling HITZZZ bulan ini “Mau kuliah dimana?” “Mau ngambil jurusan apa?” “Negeri atau swasta?” Semua pertanyaan itulah yang sedang berputar – putar di otakku. Aku Riska, cewek tomboy yang sedang menjalani tahun terakhir SMA dan sedang binngung mau kuliah dimana. Bukan hanya dimana tapi juga mau ngambil jurusan apa. Aku belum memiliki gambaran yang jelas mengenai jurusan apa yang ingin kupilih. Pelajaran yang aku sukai matematika tapi aku sama sekali tak berminat untuk menjadi guru. Jurusan matematika murni juga kurasa tak menjadi alternative yang baik.
                “Riskaaa…” Teriakan mama menyadarkan Riska dari lamunannya. “Iya.. Ma bentar.” Riska bergegas untuk membuka pintu kamarnya. “Kenapa Ma?” Tanya Riska “Ntar siang mama ada arisan jadi mama nggak masak. Papa juga nggak pulang makan karena ada meeting. Jadi kamu ikut mama arisan.” “Tapii ma tapii…” “Udah nggak usah pakai tapi tapian cepat mandi terus ganti baju.” ucap mama sambil berlalu menuruni tangga. Inilah salah satu hal yang akan menjadi malapetaka perubah moodnya hari ini. Sebenarnya tidak ada masalah bagi Riska untuk ikut mamanya pergi arisan namun pertanyaan – pertanyaan hitz itulah yang membuatnya malas untuk pergi. Tapi tak ada pilihan lain daripada mamanya marah besar lebih baik dia menguatkan iman dan pergi menemani mamanya.
                Kali ini giliran rumah Tante Paulina yang menjadi tempat arisan. Aku dan mama sampai di Rumah Tante Paulina sekitar jam 1 siang. “Eh Winda datang juga udah ditungguin dari tadi.” sapa Tante Paulina “Iya nih tadi nungguin Riska siap – siap jadi lama.” jawab mama “Aduh Riska udah besar ya sekarang tambah cantik.” Aku hanya tersenyum sambil menyalami Tante Paulina.
                Di dalam rumah Tante Paulina terdapat sekitar 15 ibu – ibu yang sedang asyik bersenda gurau. Tiba – tiba seorang ibu  datang menghampiri aku “Riska udah besar ya sekarang. Udah lulus SMA ya?” sontak aku terkejut dan ternyata itu adalah Tante Feni (Tante yang paling ceriwis) “Hehe... belum tante tahun ini baru lulus.” Feelingku sudah mulai nggak enak karena berawal dari pertanyaan ini biasanya akan berlanjut ke pertanyaan – pertanyaan hitz itu “Mau kuliah dimana?” tanya Tante Feni. Yak benar dugaanku pertanyaan hitz itu meluncur juga dari mulut Tante Feni “Belum tahu Tante.” Jawabku sambil nyengir kuda. “Kok belum tahu? Kan lagi bentar nih waktunya.” celotehnya lagi. Oh, Ya Tuhan tolong selamatkan aku dari Tante luar biasa ini doaku dalam hati.
                “Riska main di belakang aja ada anak tante di situ. Coba kenalan.” kata Tante Pauline. Ya Tuhan makasi banget telah menyelamatkanku ujarku dalam hati. “Iya Tante Paulina. Tante Feni aku ke belakang dulu ya.” Syukurlah aku berhasil terbebas dari tante ceriwis itu. Sebenarnya aku juga merasa asing untuk main bersama anak Tante Pauline karena aku sama sekali belum mengenalnya tapi daripada harus meladeni tante ceriwis itu mungkin ini pilihan yang lebih baik.
                Setelah sampai di bagian belakang rumah Tante Pauline aku melihat seorang cowok sedang duduk di dekat ayunan. Aku bingung harus menyapanya terlebih dahulu atau lebih baik diam saja. Akhirnya otakku lebih memilih untuk duduk di bangku taman sambil bermain gadget. Sekitar 15 menit suasana hening tiba – tiba terdengar suara berat khas cowok menyapaku “Hai, kamu siapa?” Aku lalu mengangkat kepala mencari sumber suara “Kenalin aku Riska anaknya Tante Winda.” jawabku sambil mengulurkan tangan “Oh, kamu anaknya tante Winda. Aku Fandy anaknya Tante Paulina. Salam kenal ya.” balasnya sambil membalas uluran tanganku. “Udah kuliah atau masih SMA?” tanyanya. Ya Tuhan mulai lagi runtukku dalam hati. “Masih SMA, tahun ini lulus.” jawabku dengan nada agak kesal. “Ya aku tahu kok apa yang kamu rasain. Aku juga pernah ngerasain kok di posisi yang ditanyain hal – hal yang kita masih belum tahu jawabannya itu.” Fandy menjawab seakan bisa membaca pikiranku. “Sorry Fan, aku nggak maksud gitu.” kataku merasa bersalah. Fandy hanya tersenyum kecil menanggapiku.
                Akhirnya acara arisan mama selesai dan kami pulang ke rumah sekitar jam 6 sore. Sampai rumah kami langsung mandi dan mempersiapkan makan malam. Pukul 19:30 papa pulang dan kami makan bersama. Selesai makan kami berkumpul untuk berbincang di ruang keluarga. “Ris, kamu udah nentuin mau ngambil jurusan apa?” tanya Papa. “Hmmmm...” aku bergumam tidak jelas. “Ris, ditanya kok nggak jawab?” kata Mama. Okeh aku harus segera menentukan pilihan supaya penyiksaanku nggak semakin lama tekadku dalam hati. “Pa, Ma, mungkin besok aku bisa kasih jawaban mau kuliah dimana dan ngambil jurusan apa. Ntar malam aku mau browsing dan menetapkan hati mau milih yaang mana.” jawabku dengan penuh percaya diri. “Okeh kalu gitu papa tunggu.”
                Malam harinya sekitar jam 9 aku masuk ke kamar dan mulai browsing deretan universitas yang paling diminati baik negeri maupun swasta, jurusan yang paling diminati, jurusan yang memiliki peluang kerja besar, dan segala hal yang berkaitan dengan perkuliahan. Akhirnya aku pun berhasil menentukan pilihan di jam 4 pagi. Mungkin ini yang namanya perjuangan seorang calon mahasiswa. Akibat dari begadang itu aku pun molor sampai jam 10 pagi. Mataku rasanya masih ingin terpejam tapi aku rasa ini sudah terlalu siang. Aku keluar dari kamar sambil mengucek mata dan berjalan menuju dapur. “Anak gadis kok bangunnya siang gini.” Kata mama “Hari Minggu juga Ma. Aku kan juga begadang demi merencanakan cita – cita masa depan yang cerah secerah sinar matahari pagi.” sahutku asal “Halah.... Emang udah ketemu mau ngambil apa dan dimana?” tanya mama “Udah ntar aku kasih tahu sekalian sama papa juga.”
                Selesai makan siang kami berkumpul lagii di ruang keluarga untuk membicarakan mengenai universitas. “Jadi gimana Ris?” tanya Papa “Aku bebas kan ngambil universitas negeri ataupun swasta?” tanyaku balik “Iya bebas asal alasan kamu milih jelas nggak masalah.” Aku pun memberitahukan kepada Papa dan Mama bahwa aku memilih untuk mengambil jurusan akuntansi di sebuah universitas swasta. Alasanku mengambil akuntansi karena merupakan lahanku juga sebagai anak sosial dan itu juga merupakan jurusan yang -sangat- membutuhkan matematika jadi minatku bisa tersalurkan. Untuk universitas aku lebih memilih swasta karena aku ingin mencoba mendaftar melalui jalur beasiswa siapa tahu diterima selain itu aku juga ingin mencoba berkuliah dengan berbahasa Inggris di kampus swasta ini. Papa dan mama mendukung keinginanku. Akhirnya aku sedikit terbebas dari penyiksaan ini.
                Keesokan harinya di sekolah aku bersama sahabatku Frisca mengurus segala sesuatu yang perlu untuk pengajuan beasiswa. Mulai dari legalisir rapot, surat rekomendasi, surat keterangan, dan lain sebagainya. “Serius Ris ngambil swasta?” tanya Frisca “Iya serius semoga aja dapat beasiswanya lumayan nggak membebani orang tua.” Jawabku “Nggak mau nyoba SNMPTN?” “Nggak aku udah niatnya di swasta jadi buat apa nyobain negeri. Misalnya kalau aku keterima terus aku tolak sama aja aku nutup kesempatan orang lain yang emang benar – benar punya keinginan untuk ambil negeri dan nutup kesempatan adik kelas juga tahun depan. Kita udah punya jalan masing – masing jangan serakah. Hahahahha.” jelasku panjang lebar “Cieeee... kakak kelas yang baik. Bijak banget kepalamu abis kepentok apa? Hahahah.” celoteh Frisca “Iya dong jadi kakak kelas itu pergi baik – baik jangan pergi ninggalin “bangke” buat adiknyaa.”
3 minggu kemudian  . . .
                “Non, ini ada kiriman.” Bi Ijah menghampiriki sambil membawa sebuah amplop putih  “Iya makasi Bi” Tertera nama si pengirim ternyata dari universitas tempatku mengajukan beasiswa. Setelah kubuka ternyata isinya Selamat, Anda diterima melalui jalur beasiswa. Reflek aku berteriak “YESSSS!!” Papa dan mama tergopoh – gopoh menghampiriku “Kamu kenapa nak?” tanya Mama “Aku keterima beasiswa Pa, Ma.” Kami bertiga saling berpelukan dalam haru.
6 bulan kemudian . . .
                Aku sudah berhasil melewati Ujian Nasional yang kini berbasi komputer begitu juga dengan ospek di perguruan tinggi. Kini saatnya untuk menghadapi hal yang sesungguhnya memulai perkuliahan. Sahabatku Friska diterima melalui jalur SNMPTN di salah satu universitas negeri ternama di Surabaya, sehingga kita harus pisah. Selama ospek aku mendapat beberapa teman baru. Kegiatan – kegiatan yang dilakukan secara berkelompok membuat kami lebih cepat mengenal satu sama lain. Sampai saat ini aku paling dekat dengan Gera.
                Hari pertama masuk kuliah berjalan lancar, Dosen kami memulai hari ini dengan perkenalan dan list materi yang akan kami bahas selama satu semester ini. Jam istirahat aku dan Gera pergi ke kantin untuk makan siang. “Cakep banget kakak itu Ris.” seru Gera. Aku sedang memasukkan mie ke dalam mulutku sehingga tidak langsung menoleh. “Yang mana?” tanyaku “Kamu kelamaan orangnya udah keburu lewat.” “Yah siapa suruh dia lewat pas aku lagi makan mie.” “Terserah apa katamu deh Ris.”
                Gera rutin nge-line atau whatsapp aku bukan ngomongin soal materi pelajaran tapi soal kakak ganteng yang ntah mana wajahnya aku nggak pernah tahu. Emoticon love dan lain sebagainya bertaburan setiap dia nge-chat aku. Geliiii kayak lesbong. Aku hanya berusaha menjadi penyimak yang baik buat teman baruku yang sedang kasmaran ini. Seperti siang ini
From : Gera
Ris spa ya nama kakakku itu? Pingin banget aku nyari instanya
Mau aku stalk :3:3

To : Gera
Ger wjudnya aja aku nggak tahu gimana mau tahu nmanya siapa
.-.

Dia kira aku udah sekolah peramal apa bisa ngeramal siapa kakak ganteng yang dia taksir

From : Gera
Ya Tuhan kakak ganteng pingin ketemu lagi :*
Semoga Tuhan ngabulin doaku

To : Gera
Aminnn o:)
                Sekarang adalah bulan kedua aku menjalani perkuliahan. Sampai saat ini aku masih menikmati tugas yang diberi dan segalanya kecuali bahasa yang digunakan. Kemampuan linguistikku tidak terlalu baik, aku mencoba berkuliah di sini ya untuk memperbaiki itu. Tidak seperti biasanya dosen kami telat datang hingga 10 menit. Tiba – tiba ada seorang  cowok putih tinggi dan tampan masuk ke kelas. “Sorry class, I’m late.” Mata semua mahasiswi dijamin tidak ada yang berkedip melihat sosok yang berada di depan kelas itu. “Today, Mr.Hartono cannot be with you because his wife was sick. So, today I will replace him. First, I will introduce my self. I’m Fandy Christian. I’m assistant of Mr.Hartono.”

                Gera menoleh ke belakang ke arah tempat dudukku “Ris itu dia yang aku bilang kakak ganteng.” Aku mengangguk. Ntah mengapa aku rasa aku pernah bertemu cowok itu sebelumnya tapi aku lupa siapa. Aku memperhatikan pelajaran seperti biasa sesekali aku menoleh ke arah Gera dan bisa dipastikan dia tidak konsen dengan materi yang disampaikan. Dia lebih sering menatap ke depan sambil senyum – senyum sendiri. Setelah 1,5 jam yang terasa sangat cepat bagi para mahasiswi, Kak Fandy menutup kelas “Okay class, I think it’s enough for today. Thank you.”

                Semua mahasiswa dan mahasiswi keluar meninggalkan kelas. Gera keluar lebih dahulu daripada aku katanya mau ke toilet udah nggak tahan. “Hai, kamu.” Aku menoleh ke sekeliling ruangan tapi sepertinya hanya tersisa aku di ruangan itu. “Saya??” ujar ku sambil mengarahkan jari telunjukku ke dada “Iya kamu. Kamu bukannya anak Tante Winda Revy? Benarkan?” Tiba – tiba aku teringat “Oh, kakak Kak Fandy ya? Anaknya Tante Paulina.” “Iya. Cieee akhirnya udah nggak galau. Hahahahh.” “Pantes kayak pernah lihat gitu rupanya. Iya nih kak syukur banget.” jawabku sambil tersenyum “Yang semangat kuliahnya Ris.” “Iya pasti kak. Aku balik dulu.” “Hati – hati.”

                Tadi Gera udah ngasih tahu kalau setelah dari toilet dia suruh aku nunggu di kantin tempat kita makan biasa. Aku hanya membeli minuman kaleng sambil menunggu Gera yang tidak kunjung datang. Setelah 15 menit akhirnya dia dateng juga. “Ya ampun Ger lama amat kamu ngapain aja?” “Sorry ris, toilet rame banget jadi ngantri. Gantinya aku traktir makan deh. Umpung aku lagi bahagia.” “Aduh tuan putri yang sedang berbunga – bunga.” Gera kemudian mentraktir aku semangkuk bakso special beserta es teh.

                “Cakep kan kakak itu?” tanya Gera selesai menyantap baksonya. Aku hanya mengangguk saja. “Akhirnya aku bisa tahu juga namanya Fandy Christian.” Katanya sambil senyum – senyum sendiri dan ntah menghayalkan apa. “Halo Ger, sadar ini di kampus bukan di rumah. Jangan bikin malu deh.” “Biarinnnn. Orang lagi bahagia juga.” “Ya udah gue nyerah terserah deh loe mau ngapain.”

                Malam harinya, aku sedang duduk di sofa sambil menonton tv tiba – tiba ada masuk pemberitahuan dari instagram Fandy_C started following you. Alu kaget kok bisa Kak Fandy tahu IG aku. Setelah itu masuk pemberitahuan ada direct message, langsung saja aku buka ternyata dari Kak Fandy.

“Hi, Ris. Minta id line boleh?”
“Iya Kak. Ini Riska_ :D”
“Okeh makasi”
“(y)”

                Setelah itu masuk notif bertubi – tubi dari line, sebelum melihat saja aku sudah bisa memastikan itu dari Gera dan benar saja tebakkanku tak meleset.
“Bahagia... <3<3<3
  Ganteng banget
  Udah aku stalk Ignya
  Melting Ris
  *sticker*”
“Baguslah akhirnya doamu dikabulin sama Tuhan. Gih dirajinin doanya =))”
“Pasti bakal rajin doa biar makin sering ketemu kakak ganteng.
  Besok Pak Hartono nggak usah masuk aja lagi biar digantiin sama Kakak Fandy.”
“Yaelah dirajinin sih doa tapi doa yang baik jangan yang buruk.”
“Itu doa baik biar aku bisa pdkt gitu sama Kak Fandy.”
“Iya deh Ger asal kamu bahagia. Tapi jangan terlalu bahagia ntar gila. Hahahah”
“Iya sayang :*:*”
“:/”

                Benar saja hari ini Pak Hartono tidak masuk lagi. Kalau menurut penjelasan dari Kak Fandy kayaknya Pak Hartono akan kembali 1 minggu lagi. Reflek mahasiswi pada senyam – senyum sendiri semua apalagi Gera. Bisa dibilang mahasiswinya jahat, berbahagia di atas penderitaan dosennya.

                Seminggu selama menggantikan Pak Hartono Kak Fandy sering nge-line aku yang ditanyakan sekitar materi yang dia ajarkan apakah aku mengerti atau tidak. Kemudian dia meminta pendapatku apakah cara mengajarnya bisa diterima atau tidak. Menurutku yang ditanyakan masih seputar hal normal antara dosen dan mahasiswanya.

                Hari ini adalah hari terakhir Kak Fandy mengajar di kelasku karena esok Pak Hartono sudah bisa kembali mengajar. “Yups. I’m sorry class if I made many mistakes while teaching you. Today is the last day we meet in the class because tomorrow Mr.Hartono will teach you again. Thank you and Good afternoon.” “Good Afternoon.”

2 minggu kemudian . . .

                Awalnya aku mengira Kak Fandy hanya nge-chat aku selama dia menjadi dosen pengganti ternyata tidak sampai sekarang masih tetap berlanjut. Sekedar bertanya lagi ngapain atau membicarakan tentang bulu tangkis. Kebetulan kita sama – sama suka nonton pertandingan bulu tangkis. Sebagai anak tunggal tentu saja aku sangat senang mendapat perhatian seperti itu. Aku sudah menganggap Kak Fandy seperti kakak kandungku sendiri. Kini setiap hari hpku akan selalu muncul pemberitahuan dari Gera dan Kak Fandy. Tentang hubungannya kemarin Gera bilang dia sudah berhasil mendapat id line Kak Fandy jadi sekarang dia lagi berusaha untuk pdkt dulu. Modusnya sih nanyain soal pr akuntansi.

                Bulan ini giliran rumah mama yang menjadi tempat arisan. Dari pagi aku sudah membantu mama di dapur untuk mempersiapkan hidangan untuk arisan. Setelah semua beres aku naik ke kamar untuk menyelesaikan tugas akuntansiku.

                Baru sekitar 20 menit aku di kamar terdengar teriakan mama memanggilku. “Riska!! Sini turun!!” “Iya Ma bentar.” Aku lalu menuruni anak tangga dan melihat Kak Fandy sedang berdiri di sebelah mama “Ini Ris anaknya Tante Paulina. Temenin gih mama mau balik ke ruang tamu.” Aku mengangguk mengiyakan “Hi, Ris. Lagi sibuk ya?” “Hi, Kak. Nggak juga cuman lagi ada tugas aja.” “Mau aku bantuin??” “Hmmm... boleh nih? Nggak ngerepotin?” “Nggaklah, daripada aku nganggur. Bawa sini dah tugasnya.” “Oke, tunggu ya kak.”

                Aku kembali membawa lembaran tugas yang masih kosong. Mungkin benar alasan awalku memilih akuntansi karena membutuhkan matematika namun ternyata walaupun kamu menguasai matematika belum tentu menguasai akuntansi. Mereka berbeda. Aku lalu mengambil tempat duduk di sebelah Kak Fandy. “Yang mana nih yang nggak bisa?” “Kayaknya jelasin dari awal deh kak.” jawabku sambil tersenyum pasrah. Biar deh aku keliatan begok yang penting aku ngerti.

                “Jadi yang paling awal aktiva harus sama jumlahnyaa dengan passiva. Sama kayak dalam suatu hubungan antara cowok dan cewek itu harus seimbang.” “Okeh paham. Heheheh” “Terus yang termasuk aktiva (harta) itu ada kas,piutang,peralatan,perlengkapan,inventaris. Sedangkan yang termasuk paassiva adalah modal (ekuisitas) dan utang. Kalau mau belajar sesuatu itu harus sepenuh hati supaya cepat ngertinya” Aku mengangguk, ntah bagaimana aku memang benar – benar mengerti ketika dijelaskan Kak Fandy. Kak Fandy lanjut menjelaskan bila aktiva bertambah itu didebit dan bila berkurang dikredit kebalikan dengan passiva yang bila bertambah dikredit dan bila berkurang di debit.

                “Nah habis itu pendapatan harus lebih besar daripada beban agar mendapat laba. Sama seperti kalo pacaran kamu harus lebih banyak memberikan kasih dan sayang daripada omelan supaya jadi makin sayang.” “Hahahah... Dari tadi perumpamaannya pake cinta – cintaan terus. Lagi jatuh cinta ya Kak?” cerocosku “Iya nih lagi jatuh cinta sama seorang wanita tapi kayaknya dia nggak punya perasaan yang sama kayak aku.” “Tragis amat Kak. Emang kakak udah nyatain perasaan ke dia” tanyaku penasaran “Belum berani Ris. Takutnya terlalu cepat dan malah ditolak sama dia.” “Yang sabar ya Kak kalau jodoh nggak bakal kemana kok.”

                Tugasku selesai bersamaan dengan bubarnya arisan mama. Aku mengucapkan terima kasih atas bantuan Kak Fandy. Setelah itu aku membantu mama beres – beres di rumah. Malam harinya aku chat lagi dengan Gera dia curhat dia nanya Kak Fandy udah ada yang punya atau belum terus Kak Fandy bilang dia lagi suka sama seseorang. Langsung gugur dah semangat Gera ngejar Kak Fandy. Aku juga cerita tadi Kak Fandy ke rumah sekalian nganter mamanya arisan dan dia juga cerita kalau lagi suka sama seseorang tapi dia nggak kasih tahu siapa . Hasil akhir Gera minta aku bantuin nyari siapa cewek yang disukain sama Kak Randy

                Seperti biasa aku datang ke kelas lalu duduk di kursi baris ke dua dari belakang. Tapi ada hal aneh hari ini Gera nggak masuk kuliah. Tumben banget dia nggak masuk kuliah padahal hari ini kan dia ada misi yang harus dijalankan. Aku nge-line dia ingin mencari tahu kabarnya
“Ger kenapa nggak masuk? Kan kita mau ngejalanin misi? =))”
1 jam. . . 2 jam . . .  3 jam . . . Tumben banget Gera betah nggak megang hp sampai 3 jam. Iseng aku ngecek instagram. Gera ada ngupload foto sekitar 2 jam yang lalu, berarti seharusnya dia megang hp. Tapi kenapa chatku nggak dibalas.

                Sampai malam harinnya tetap saja tidak ada balasan dari Gera. Aku bingung tumben sekali Gera tidak membalas chat biasanya dia paling heboh. Mungkin dia sedang ingin sendiri setelah menerima kenyataan Kak Fandy menyukai orang lain pikirku.

                Keesokan harinya, aku datang ke kelas dan ternyata Gera sudah duduk di bangkunya. Aku datang dan langsung memeluknya “Ger, kamu kemana aja kangen!” “Apaan sih?!” teriaknya kesal dan pergi keluar dari kelas. Aku masih berdiri mematung tidak tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang harus kulakukan. Selama pelajaran aku tidak konsentrasi mendengarkan penjelasan dosen, aku berpikir keras apa kesalahan yang aku buat sampai Gera marah sama aku. Nihil. Aku tak ingat sama sekali apa kesalahanku.

                Sudah seminggu aku seperti mayat hidup, malas makan dan susah tidur. Walau aku baru kenal Gera tetapi aku sangat merasa kehilangan dengsan sikapnya yang menjauh dari aku. Apa sebenarnya salahku? Kak Fandy masih tetap nge-chat aku tapi aku juga balasnya sekedar saja karena moodku benar – benar hilang seminggu ini. Gera memang cerewet tapi nggak ada dia sepi banget.
“Ris, ko balesnya singkat – singkat gitu?
  Lagi ada masalah?”
“Nggak kok Kak J
“Lgi bad mood?”
“Nggak”
“Ya udah kamu istirahat deh.
  Have a nice dream.”
“Have a nice dream too Kak.”

Aku sengaja tidak ingin menceritakan masalah ini kepada Kak Fandy. Walaupun aku tahu dia orang baik – baik dan anak dari teman mama tapi aku baru mengenal beberapa bulan. Jadi aku tidak yakin harus menceritakan masalahku ini kepadanya.

                Malam minggu pertama tanpa Gera. Yak biasanya aku dan Gera selalu ngabisin waktu malam minggu bareng – bareng. Kebetulan kami sama – sama tidak ada yang memiliki jadi indahnya berdua aja jalanin malam minggu. Ponselku berdering, tertera nama si penelpon “Kak Fandy”. Aku enggan untuk menggeser tombol hijau tapi kasihan juga kalo nggak diangkat. Akhirnya kuputuskan untuk menjawab telfonnya

“Halo, Ris?”
“Halo, iya Kak?”
“Malam ini ada janji nggak?”
“Hmmm.. Nggak ada Kak”
“Jalan yuk??”
“Errrr.....”
“Ayo dong Ris, sekali aja. Mau ya?”

Sebenarnya aku malas banget harus pergi tapi aku nggak enak juga harus nolak

“Ris? Ris?”
“Iya kak?”
“Mau ya?”
“Iya Kak”
“Oke aku jemput ntar jam 7. See you.”

                Jam 7 malam, Kak Fandy sudah berada di depan rumah dengan mobil hitamnya. Setelah berpamitan dengan Papa dan Mama kami pun berangkat. “Muka kamu kok nggak semangat banget? Nggak suka ya pergi sama aku?” tanya Kak Fandy “Eh, nggak kok Kak.” jawabku. Selama perjalanan kami berdua sibuk dengan pikiran masing – masing tidak banyak pembicaraan terjadi sseperti dalam chat.

                Kami sampai di sebuah tempat makan. Malam ini, Kak Fandy mengajak aku makan malam di salah satu restaurant yang terkenal dengan steaknya. Kak Fandy memesan Tenderloin Steak dan aku memesaan Chicken Cordon Blue. Pesanan datang dan kami menyantapnya sampai habis. Setelah selesai makan kami mengobrol. Suasana sudah mencair jauh lebih baik daripada saat dalam perjalanan tadi.

                “Ris, masih ingat nggak waktu aku cerita soal cewek yang aku suka?” “Iya kak inget. Gimana? Gimana? Udah nembak?” tanyaku antusias “Belum, kakak belum berani. Tapi mungkin secepatnya, kakak akan ngomong ke dia.” “Jangan kelamaan Kak ntar si dia keburu direbut orang. Heheh.” candaku “Ya udah, kalau gitu sekarang.” “Maksudnya? Kakak sekarang mau pergi nyamperin dia?” Kak Fandy perlahan memegang kedua tangan ku “Ris, sebenarnya cewek yang aku suka itu udah dari tadi bareng sama aku. Sekarang cewek itu lagi duduk di depan aku. Jadi selama ini cewek yang aku suka itu kamu Riska.” Riska merasa bagai tersambar petir di siang bolong mendengar pernyataan Kak Fandy. Pikiran dan perasaannya kacau. Sekarang ia tahu kenapa Gera menjauh dari dia itu semua karena ini. Riska langsung menghempaskan tang Kak Fandy dan berlari keluar restaurant. “Ris kamu kenapa. Ris tunggu!!” teriak Kak Fandy sambil mengejarku.

                Sampai di rumah aku langsung masuk ke kamar dan menangis sejadi – jadinya. Pantas saja Gera tidak mau menemuiku dan membalas chatku. Bagaimana ia sanggup melihat temannya sendiri yang ternyata disukai oleh gebetannya. Tapi aku sama sekali tidak tahu kalau Kak Fandy menyimpan perasaan kepadaku. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai kakakku tidak lebih. Berkali – kali Kak Fandy mencoba menelpon, nge – line dan whatsapp aku tapi tak kuhiraukan. Karena lelah menangis akhirnya aku tertidur.

                Aku memutuskan untuk tidak pergi ke kampus hari ini, perasaanku kacau dan aku juga tidak siap untuk melihat Gera ataupun Kak Fandy. Ditambah mataku yang sembab. Kebetulan tadi pagi Papa dan Mama berangkat ke Surabaya karena ada acara pernikahan anak teman papa dan acara reuni. Sehingga aku tidak perlu panjang lebar menjekaskan penyebab mata sembabku. Mama kemarin sempat bilang mereka akan pergi selama 1 minggu.

                Setelah sarapan aku berpesan kepada Bi Ijah bila ada yang datang ingin menemuiku bilang saja aku sedang tidak di rumah. Aku pun naik ke atas dan mengecek ponselku. 17 missed call 33 notifikasi dari line dan whatsaap. Hmmmm... aku putuskan untuk mematikan ponselku. Benar saja jam 3 sore bunyi klakson mobil, aku mengintip dari jendela. Terlihat mobil Kak Fandy. Langsung kututup gorden dan kembali membaca novel.

                Aku turun menuju meja makan untuk santap malam. Bi Ijah kemudian bercerita “Tadi Mas Fandy dateng Non. Dia nanyain non, mukanya khawatir banget.” “Terus bibi bilang apa?” tanyaku menyelidik “Bilang kalau non nggak ada di rumah sesuai pesan Non.” “Bagus. Bi Ijah emang paling pintar.” Kataku sambil memberikan dua jempol. Selesai makan aku membuka kulkas dan kebetulan menemukan cokelat. Kalau lagi stress kayaknya enak banget makan cokelat. Aku lalu kembali lagi ke kamar.

                Bosan juga seharian nggak megang hp. Aku coba menyalakan hp. Langsung saja masuk 7 missed call dari Kak Fandy dan 41 notifikasi baru dari line dan whatsaap. Aku membuka pesan di line 31 message dari Kak Fandy 40 message dari group dan 3 message dari Gera. Aku penasaran ingin mengetahui message dari Gera

“Ris? Kenapa nggak masuk?
  Kamu marah ya sama aku?
  Ris??”
“Sorry, aku baru nyalain hp Ger.
  Nggak.. Seharusnya kamu yang marah sama aku.
  Maaf ya Ger.”
“Udah nggak udah dibahas lagi Ris :D
  Besok kuliah kan?”
“Iyaapss :D”
“Oke see you tomorrow beb :*”
“:*:*”

Tak bisa dipungkiri aku bahagia Gera sudah tidak marah lagi denganku. Iseng aku membuka chat dari Kak Fandy

“|
  |
  |
  Ris kamu kenapa?
  Ris kamu baik – baik aja?
  Salahku apa tiba – tiba kamu pergi gitu aja
  Ris?
  Ris??
  Ya udah kamu istirahat ya
  -----
  Ris kamu kok nggak masuk kuliah?
  Kamu kemana? Aku dari rumahmu tapi bibi bilang kamu pergi?
  Ris please jangan gini dong
  Ya udah Ris mungkin kamu butuh waktu sendiri
  Kabarin aku ya kalau kamu udah mau nemuin aku
  Night”

Aku hanya nge-read chat dari Kak Fandy dan aku putuskan untuk istirahat karena besok aku akan kuliah.

                “Hi Geraaaa!!” sapaku ketika sudah masuk ke dalam kelas “Hi Risayang.” Balasnya sambil memelukku. “Kangen banget sama nona ceriwis.” “Iya deh Ris gue diem sekarang.” “Jangan Ger gue jauh lebih ikhlas jadi pendengar yang baik daripada didiemin sam elo.” Gera membalas dengan tertawa. Hari ini adalah pelajaran Pak Hartono tapi beliau tak kunjung datang. Feelingku tiba – tiba tidak enak dan benar saja Kak Fandy kembali yang muncul. Moodku berubah drastis, aku bertekad untuk menjaga jarak sejauh mungkin darinya. Aku tidak mau Gera marah lagi denganku karena masalah ini.Begitu kelas selesai aku bergegas keluar dari kelas. “Aku duluan ya Ger ke toilet ntr ketemu di kantin.” “RISKAA!!” Aku mendengar teriakan Kak Fandy tapi sengaja ku hiraukan dan pergi keluar dari kelas.

                Aku dan Gera menyantap roti bakar di kantin “Ris kamu nggak dengar tadi dipanggil Kak Fandy?” uhuk... aku tersedak tak menyangka Gera akan membahas tentang itu “Hmm.. Ada ya? Aku nggak dengar. Buru – buru soalnya tadi.” jawabku berbohong. Selintas aku menangkap sosok Kak Fandy berjalan menuju kantin “Ger kita udah nggak ada kelas lagi kan?” “Iya, kenapa emangnya?” “Jalan yuk.” “Tumben? Biasa ken kamu mager.” “Udah deh buruan yuk. Gue traktir es krim.” Ajakku sambil menarik tangannya. “Ris tunggu!” Kak Fandy memanggilku lagi tapi aku acuhkan kembali “Ris ada yang manggil tuh.” “Nggak ada Ger perasaan kamu aja kalik.” Sepertinya Gera sempat menoleh dan melihat Kak Fandy berdiri beberapa meter di belakang kami.

                Sampai di kedai es krim aku lalu memesan 1 waffle dengan satu scoop es krim sama dengan pesanan Gera. “Kamu kenapa Ris?” tanya Gera “Kenapa? Emang aku kenapa?” jawabku pura-pura bingung “Itu, Kak Fandy kamu lagi ngejauhin dia?” “Udah deh Ger nggak usah bahas dia.” “Sayangnya, hari ini aku maunya bahas soal dia Ris. Aku mau cerita.” “Okay terserah.” jawabku pasrah.

                “Malam itu aku chat bareng kamu sama Kak Fandy. Awalnya Kak Randy nggak mau kasih tahu siapa orang yang dia suka tapi akhirnya dia mau kasih tau dia bilang Kalau pacar sih nggak ada tapi sekarang kakak lagi suka sama seseorang, namanya Riska anak akuntansi juga seangkatan sama kamu. Setelah baca balasannya itu aku terpukul banget dan langsung nangis. Aku kesal kok Kak Fandy malah sukanya sama kamu. Tapi setelah seminggu ini aku introspeksi diri aku sadar itu sama sekali bukan salah kamu. Bukan kamu yang ngatur supaya Kak Fandy suka sama kamu tapi emang udah takdir Tuhan. Aku juga sadar hari – hari jadi sepi kalau nggak bareng kamu. Maaf aku sempat marah sama kamu.” “Nggak masalah Ger yang penting sekarang kita udah baikan.” jawabku sambil memeluk Gera lagi “Terus kamu kenapa ngejauhin Kak Fandy?” selidik Gera “Karena aku jauh lebih butuh sahabat daripada pacar.” “Well... well.. hak kamu deh Ris.”

                Ya Tuhan tugas apa ini kenapa susah banget akuntansi dagang ada retur dan segala macam. Hufffttt... Bosan aku ngeliat tugas akhirnya aku nge-line Gera.

“Ger bisa ngerjain yang akuntansi dagang?”
“Belum Ris.”
“Susah banget. Soal macam apa ini?”
“Serius susah? Susahan mana sama kisah cintamu?”
“Mulai deh Ger _-_”
“Tanya aja sama Kak Fandy dia pasti bisa bantuin.”
“Males mending nggak usah gue buat aja. Toh besok dibahas.”
“Hahahahaha...”

                Tumben pagi ini Gera nelfon aku dan minta ketemuan di taman belakang kampus. Aku tanya mau ngapain dia bilang datang aja nanti juga tahu. Aku pun berjalan ke taman belakang dan duduk di kursi taman sambil menunggu Gera. Seseorang datang dan duduk di sebelahku ketika aku menoleh ternyata itu Kak Fandy. Aku sudah siap untuk pergi namun tangan ku ditahan olehnya
“Mau sampai kapan kamu menghindar dari aku Ris?” Aku diam saja “Ris, aku capek kayak gini terus. Salah aku apa?” Aku tak dapat menahan air mataku yang mengalir “Jawab Ris jawab” “Nggak ada kakak nggak ada salah apa – apa.” jawabku sambil terisak “Kalau aku nggak ada salah kenapa kamu jauhin aku tiba – tiba?” “Aku nggak mau Gera berpikir kalau aku yang ngerebut kakak dari dia.” Kak Fandy kemudian memegang wajahku “Liat aku Ris. Perasaan itu nggak bisa diatur. Aku nggak pernah ngatur mau suka sama siapa. Tapi rasa itu datang sendiri. Dari awal aku ngeliat kamu datang ke rumah aku udah ngerasa ada sesuatu yang berbeda. Aku sayang sama kamu Ris.” ucap Kak Fandy sambil menghapus air mataku “Iya Kak. Aku juga sayang sama kakak sebagai kakak.” “Kenapa Ris?” “Aku nggak mau nyakitin Gera lagi. Jadi lebih baik kita jadi teman aja Kak.” Jelasku

                Ntah darimana tiba – tiba saja Gera muncul “Nggak kok Ris. Kamu nggak bakal nyakitin aku.” “Gera??” “Aku bahagia kok kalau sahabatku bahagia.” “Aku rasa lebih baik kita bertiga sahabatan. Aku sayang sama Kak Fandy sebagai kakakku.” “Jangan bohongin perasaan kamu Ris.” Gera kemudian pergi meninggalkan aku dan Kak Fandy.

“Ris mungkin sekarang perasaan kamu ke aku cuman sebatas sayang seorang adik ke kakaknya. Tapi aku yakin perasaan itu bisa berubah. Kalaupun butuh waktu lama aku akan tunggu kamu Ris.” Setelah berkata seperti itu Kak Fandy pergi meninggalkan aku. Kini tinggal aku sendiri duduk di kursi taman. Perasaanku berkecamuk dan otakku tak bisa berpikir jernih. Aku berusaha mengontrol emosiku dan berjalan menuju kelas.

Kelas usai sekitar jam 6 sore, Gera mengantarku pulang hari ini karena Pak Prio sedang sakit. “Gimana Ris? Terima?” tanya Gera “Terima? Terima apaan?” tanyaku balik “Itu Kak Fandy.” Katanya sambil cengengesan “Nggak Ger. Kan tadi aku udah bilang nggak mau nyakitin perasaan kamu.” “Aku nggak papa Ris. Perasaan sayang Kak Fandy ke kamu itu tulus masak kamu nolak dia? Kalau kamu nolak dia itu baru kamu nyakitin perasaan aku.” “Kok gitu Ger?” “Iyalah. Kamu nolak Kak Fandy berarti kamu nyakitin perasaan orang yang aku sayang dan itu berarti nyakitin aku juga.” “Ya ampun Ger kamu nempatin aku di tempat yang serba salah.” Kataku sambil memonyongkan bibir “Udah Ris terima aja. Aku ikhlas kok. Suer.” Katanya sambil mengancungkan 2 jarinya

“Tapi kan aku nggak ditembak sama dia terus aku nerima apa?” tanyaku pura – pura bodoh “Astaga Ris, aku cekek kamu ntar. Tadi pagi itu apaan? Bukan sesi nembak?” tanya Gera gregetan “Hmmmm... itu sesi moment of truth.Heheh” “Ya udah Riska cantik ntar aku bilangin deh sama Pangeran Fandy biar dia nembak kamu ulang.” Kata Gera serius “Jangan Ger jangan aku cuman becanda.” “Aku juga becanda Ris. Hahaha.” “Sialan kamu.”

                “Oh ya Ris, malam minggu besok aku nggak bisa pergi bareng kamu. Tadi Kak Dion line bilang besok ada kumpul panitia acara ultah universitas kita.” “Yah... Nasib banget jomblo di rumah sendiri.” Runtukku “Makaknya cari pacar neng.” goda Gera “Soon ya Ger kita double date. Hahahaha” candaku. Sampai di rumah Gera langsung pamit karena akan mengantar mamanya belanja.

                Sabtu ini kebetulan kampus libur jadi aku bangun siang hari ini. Papa mama baru pulang besok jadi aku benar – benar sendiri di rumah. Soal Kak Fandy sampai hari ini dia tidak menghubungi aku lagi. Ntah kenapa aku merasa ada yang hilang ketika dia tidak menghubungiku. Ini kalik yang namanya pas ada ditolak pas nggak ada nyariin. Hahahahaha...

                Malam harinya aku berdiam di kamar saja membaca lanjutan novel beberapa waktu lalu. Tiba – tiba terdengar suara gitar dari arah bawah. Aku menoleh melalui jendela tidak terlihat apa – apa.  Karena penasaran aku pun turun dan membuka pintu depan. Ternyata di depan rumah sudah ada Kak Fandy yang bermain gitar membawakan lagu Tulus – Teman Hidup. Aku sangat kaget dan hanya bisa berdiri mematung di pintu. Setelah selesai ia menghampiriku sambil membawa seikat bunga dan cokelat.

“This is the point... Udah nggak perlu aku ulangin lagi. Aku rasa sudah cukup pernyataan yang aku buat kemarin. Jadi Ris maukah kamu jadi teman hidupku?” ucap Kak Fandy lantang. Aku melihat kesungguhan dalam raut mukanya “Maaf Kak, mungkin aku nggak bisa menjadi yang sempurna tapi aku akan mencoba jadi yang terbaik buat Kakak.” Kami pun berpelukan. Akhirnya semua kisah yang ribet juga akan indah pada waktunya.

Seperti inilah cinta dan akuntansi, keduanya memang sama awalnya ribet. Tetapi, ketika kamu sudah berhasil mengerti tentangnya dia akan membuatmu bahagia.

Rabu, 08 Juni 2016

Cakep Mah Kalah Sama Nyaman

       Horeeeee!!! Hari ini tentunya adalah hari yang paling ditunggu oleh anak kuliahan di seluruh Indonesia. Yaps!! Hari ini adalah hari pertama liburan semester. Akhirnya semester yang berat telah berhasil dilewati. Liburan kali ini tentunya sangat spesial bagi Revy, karena liburan kali ini ia diberi hadiah oleh orang tuanya untuk berlibur ke Eropa. Hadiah ini diperoleh Revy karena ia berhasil mendapatkan nilai IPK yang fantastis.


     Tiga hari sebelum keberangkatannya Revy telah mengemas seluruh barang yang dia butuhkan untuk berlibur selama dua minggu di Eropa. Hari yang ditunggu pun tiba, Revy diantar keluarganya berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta pada Senin malam. Di bandara, Revy bertemu dengan beberapa teman turnya. Hanya beberapa, karena masih ada yang belum datang. Sekitar pukul 19:00, Tour guide mempersilahkan rombongan yang sudah selesai mengurus bagasi untuk masuk ke ruang tunggu. Sebelumnya, tour guide itu memperkenalkan diri namanya Gladys usianya sekitar 25 tahun.


     Perjalanan menuju Eropa akan ditempuh dalam waktu 14 jam dengan perjalanan selama 12 jam dari Indonesia menuju Istanbul dan 2 jam lagi dari Istanbul menuju Brussel. Ketika boarding, Revy menyerahkan boarding pass kepada petugas bandara. Karena waktu sudah malam, Revy memutuskan untuk tidur. Namun, dipertengahan malam ia terbangun karena tidur di pesawat rasanya tentu kurang nyaman.


     Badannya terasa pegal sehingga ia sedikit melakukan peregangan. Tanpa sengaja, ketika dia menoleh ke belakang, ia menemukan seorang cowok cakep yang sedang tertidur. Hatinya tentu senang bisa melihat pemandangan indah yang tak terduga itu. Dengan lampu pesawat yang remang - remang sepintas wajahnya terlihat seperti orang Asia (Indonesia). Sebelum tertangkap basah sedang memperhatikan cowok itu, Revy memutuskan untuk kembali tidur lagi.


     Perjalanan 12 jam itu pun usai, tepat sekitar pukul 2 pagi waktu Instanbul Revy mendarat di Bandara Internasional Ataturk. Setelah turun dari pesawat kami masih harus menunggu sekitar 4 jam untuk penerbangan selanjutnya menuju Brussel. Tak sempat terpikirkan mengenai cowok yang tadi Revy lihat di pesawat, mungkin karena Revy masih jet lag. Rombongan pun kembali terbang menuju Brussel sekitar pukul 6.


      Yayyy... Akhirnya setelah perjalanan panjang selama 14 jam Revy pun menginjakkan kaki di Eropa. Setelah melewati imigrasi, tour guide menuntun rombongan untuk masuk ke dalam bus. Revy memilih duduk di kursi bagian tengah. Betapa terkejutnya Revy ketika seorang cowok naik ke dalam bus dan ternyata cowok itu adalah cowok yang Revy lihat di pesawat. Waaaaa.... Revy sangat senang karena ternyata cowok itu satu rombongan dengan dia.


        Pemandangan di Eropa sungguh indah namun, suhunya kurang bersahabat karena sedang musim panas. Di Brussels, rombongan mengunjungi Manekkin Pis. Revy berpisah dari rombongan untuk membeli Belgian Waffles. Tanpa sengaja topping waffle meleleh dan kamera yang dibawa terkena lelehannya. Revy terkejut dan langsung membersihkan kameranya dengan tisu basah. Tak berapa lama tour guide mengarahkan kami untuk kembali ke bus.


        Saat di bus, Revy menyalakan kameranya dan yang terjadi layar lcd kamera tersebut gelap dan terlihat apa - apa. Revy terus mencoba namun tak ada perubahan. Dalam keadaan panik tiba - tiba seorang lelaki mendekat dan duduk di sampingnya. "Haii, itu kameranya kenapa?" tanya cowok tersebut.  "Eeeeh, nggak tahu nih layarnya tiba - tiba blank gitu." jawab Revy. "Boleh aku liat? siapa tahu aku bisa bantu." Revy pun memberikan kameranya kepada cowok tersebut. "Oh iya, nama kamu siapa?" tanya cowok tersebut. "Namaku Revy, kalau kamu?" "Aku Raymond. Salam kenal". Kami terus mengobrol selama perjalanan menuju Paris.


        Kemudian Raymond memberi penjelasan tentang kamera Revy. "Vy, tadi kamu ada ngelakuin sesuatu nggak sama kameramu?" tanya Raymond. "Tadi sih aku ada ngebersihin pake tisu basah" jawab Revy sambil nyengir. "Yaelah pantesan aja. Tisu bsah itu ada kandungan alkoholnya jadi kayaknya ada yang masuk ke lcd kameranya jadi gini. Kayaknya harus kamu benerin nih waktu pulang ke Indo baru bisa." jelas Raymond. "Hmmm... oke deh Ray, thank you."


        Selama perjalanan menuju Paris, Revy hanya bisa menatap cowok itu dari kejauhan. Sampai saat ini iya masih belum sempat berkenalan dengan cowok itu. Masih menjadi misteri siapa nama dan identitas cowok itu.


        Rombongan sampai di Paris sekitar pukul 8 malam dan langsung check in ke sebuah hotel. Semua duduk di lobby menunggu tour guide memberikan kunci kamar. "Kosong??" tanya Raymond "Eh iya, duduk aja Ray." Belum sempat mereka berbincang tour guide sudah mulai membagikan kunci kamar.


        Raymond hendak berjalan ke kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar ada peserta tour yang mengeluh "Mba, aku nggak mau kamar di lantai itu aku mau kamar lantai 2!" ternyata itu adalah suara Vista (seorang mahasiswi yang rempong banget). "Nggak bisa Vis udah dibagi kamarnya." "Ihh mba ini kan kamarnya Revy lantai 2 aku tukar sama dy." Vista langsung menukar kunci kamarnya dengan kunci kamar Revy dan pergi meninggalkan tempat itu.


        Setelah itu Revy melihat nomor di kunci kamarnya 721 matanya membelalak "Lantai 7? hmmm. . ." "Vy sorry ya jadi kamu yang harus di lantai 7" kata Mba Gladys merasa bersalah. "Nggak papa kok mba sama aja." "Ya udah mba ke kamar duluan ya." Sebenarnya tidak ada maslah bagi Revy kamar di lantai 7 atau 10 sekalipun tapiiiiii kali ini lain urusannya karena LIFT HOTEL SEDANG DALAM PERBAIKAN. Setelah Mba Gladys kembali ke kamar Raymond datang menghampiri Revy, "Vy, tukar aja sama aku biar aku yang di lantai 7!" "Nggak usah Ray sama aja kok." "Sama aja gimana kamu cewek masa harus naik bawa koper sampai lantai 7 kalau aku cowok nggak masalah." tanpa menunggu jawaban Revy, Raymond langsung menukar kunci kamar mereka dan mengajak Revy untuk menaikki tangga.


       "Rev udah sampai." "Oh iya, makasi Ray." Revy berjalan menuju kamarnya sambil menggeret kopernya. "Istirahat yang cukup Rev. Have a nice dream!" Raymond menyelesaikan kalimatnya sambil menaikki tangga menuju lantai selanjutnya. Revy yang semula mengantuk tiba - tiba terkejut dengan ucapan Raymond. Ia tidak yakin apa yang dengan apa yang didengarnya. Mungkin itu hanya halusinasiku saja gumam Revy di dalam hati.


       Tepat pukul 7 pagi bel kamar Revy berbunyi, Revy bergegas membuka pintu setelah selesai mengenakan sepatunya. Ternyata orang yang pagi - pagi sudah nangkring di depan pintu kamar Revy adaalah Raymond. "Pagi Rev!" "Eh.. Pagi Ray." "Breakfast bareng yuk." "Okeh bentar aku mau ambil tas dulu." Mereka kemudian berjalan bersama menuju restaurant. Sesampainya di sana mereka berpisah untuk mencari makanan apa yang cocok untuk mereka nikmati pagi ini.


       Setelah berkeliling akhirnya Revy memutuskan untuk makan semangkuk sereal saja. Revy kemudian berjalan menuju tempat cereal. Setelah mengisi mangkuk serealnya Revy mengantri untuk mengambil susu, tiba - tiba pria yang beradanya berbalik dan menyenggolnya hingga susu dari mangkuk sereal pria tumpah ke tangan Revy "Oh miss I'm sorry" Revy sempat terbelalak karena pria yang menyenggolnya itu ternyata pria misterius yang ikut dalam grup tournya. "Iya nggak papa." "Oh, kamu orang Indonesia. Maaf ya nggak sengaja." Pria itu kemudian berlalu pergi. Perasaan Revy bercampur aduk antara senang bisa berkomunikasi langsung dengan pria itu atau merasa kesal karena pria itu tidak menyadari kehadirannya dalam grup tour itu.


       Ketika Revy sedang mencari tempat yang kosong untuk duduk, dari kejauhan Raymond melambaikan tangan seakan memberikan isyarat bahwa tempat duduk di sebelahnya kosong. Revy berjalan menuju tempat Raymond. "Lama banget Rev cuman ngambil sereal aja." "Iya tadi sempet ada insiden kecil." "Ya udah buruan makan lagi 15 menit kita udah harus ngumpul di lobby.


       Semua anggota tour mulai naik ke bis. Revy sangat antusias dengan jadwal perjalan hari ini karena rombongan akan mengunjungi landmark kota Paris, Menara Eiffel. Tapi ada hal yang menganjal karena kamera kesayangannya rusak. Sebelum menuju Menara Eiffel, rombongan mengunjungi Montparnasse. Dari atas Montparnasse kita bisa melihat keindahan Kota Paris. Akhirnya, rombongan sampai di Menara Eiffel, rombongan mulai turun satu persatu dari bis. "YAY!! Menara Eiffel!!!" teriak Raymond "Seneng amat Ray." "Iyalah Rev, ini impian gue dari kecil ngambil foto Menara Eiffel secara langsung. Oh ya Rev, kamera kamu kan rusak aku juga butuh model buat di foto jadiiii...." "Jadi apaan??" "Jadi, mau kan kamu jadi model foto aku itung - itung simbiosis mutualisme." "Hahahahahahah... bisa aja. Emang kalau aku yang jadi modelnya bukan ngerusak keindahan foto yang kamu ambil?" "Nggak dong, malah mempercantik" kata Raymond sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Revy salah tingkah.


       Gladys mengumumkan bahwa siang ini akan diberi waktu bebas di mall Lafayette hingga sore hari. Kalangan ibu - ibu dan sosialita tentunya sangat menyukai bagian ini. Revy bukanlah seperti tipe remaja putri pada umumnya. Ia tidak tergila - gila untuk shopping. "Nggak langsung pergi melalang buana ngabisin duit Rev?" "Mau beli apaan di sini? Duit aku cukup buat label harganya aja.. Hahahahah.” “Kesian amat yah nasib kita sama. Hahahahah... Kita cari – cari souvenir di toko dekat mall ini aja yuk, tadi kata Gladys di sana murah – murah.” “Boleh deh Ray”        

       Mereka berdua pun membeli beberapa souvenir (gantungan kunci, glass ball dan lainnya). “Minum es krim kayaknya enak nih panas baangettt.” “Coba kita cari di dalam mall aja Rey.” Setelah mencari ke sana ke mari akhirnya mereka menemukan kedai es krim “Hufff... akhirnya ketemu juga kedai es krimnya” “Mau pesen es krim apa Rev?” “Aku cookies and cream aja 1 scoop.” “Excuse me, Sir. I want to order two cups. One scoop cookies and cream in one cup and two scoops cookies and cream in the other cup.”         

       Raymond dan Revy berjalan mengelilingi mall sambil menikmati es krim mereka. “Oh ya, berapa Ray harga es krimnya.” Kata Revy smbil mengangsurkan uang 10 euro. “Gratis Rev, yah hitung – hitung ucapan terima kasih kamu jadi  teman yang buat liburan aku jadi seru.” “Harusnya aku yang berterima kasih Ray karena kamu banyak bantuin aku selama liburan ini.” “Eh udah mau jam 5 nih kita harus balik ke meeting point.”


         Sesampainya di meeting point mereka tidak menemukan ada satu orang pun yang sudah berkumpul. “Kayaknya kalian berdua adalah orang paling on time selama perjalanan ini.” ujar Gladys yang tiba – tiba sudah berada di belakang kami. “Hahahahah... bisa aja kak.” sahut Raymond. “Masih sibuk tante – tantenya pada ngabisin euro kak.” “Iya banget kalau udah jam belanja gini pasti ngumpulnya ngaret.” ujar Gladys agak kesal.          

         Sambil menunggu yang lain Gladys daan Revy mengobrol santai, sementara Raymond melihat hasil jepretan di kameranya. “Oh ya sorry nih kalo lancang ya Vy. Kalian berdua pacaraan ya?” Revy terkejut mendengar pertanyaan Gladys “Nggak kok ka cuman teman. Kita juga baru kenal karena sama – sama ikut tour ini.” Jawab Revy sambil nyengir. “Wow, kalian baru kenal tapi dekat banget makanya aku kira kalian pacaran.” kemudian obrolan mengalir ke topik – topik yang lain.          

        Setelah ngaret selma 30 menit, akhirnya semua sudah berkumpul di meeting point. Dahsyat.... belanjaan ibu – ibu itu banyaknya luar biasa ada yang menenteng tas bertulis Louis Vuitton, Channel, Prada dan lain sebagainya. Satu per satu naik ke bis dengan menenteng belanjaan masing – masing.            

            “Liat Ray berapa banyak uang yang dihabisin tu ckckck.” Bisikku pada Reo. “Yah namanya socialita emang gitu kalau nggak ntar ketinggalan jaman. Semoga istriku besok bukan yang shoppaholic Ya Tuhan.” Revy reflek tertawa mendengar doa yang diucapkan Raymond “Awas ntar malah kebalik doanya. Hahahahahh” “Amit – amit dah Rev.” Yak sejak kejadian kamera itu sekarang Raymond resmi jadi teman duduk Revy selama di bis. Setiap hari ada saja cerita dan lelucon yang diceritakan Raymond kepada Revy. Namun, tetap saja kadang mata Revy masih melirik ke seseorang yang duduk dua baris di depannya, ialah cowok misterius itu.            

           Berakhir sudah perjalanan tour ini di kota teromantis, Paris. Hari ini dari pagi hingga sore akan dihabiskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Italia. “Bakal bosen nih seharian di bis.” Runtuk Revy “Yah mau gimana lagi namanya perjalanan darat dari satu negara ke negara lain ya pasti makan waku lama.” “Iya aja deh kakak bijak” Tiba – tiba tanpa disangka cowok misterius itu menghampiri kami “Hi, boleh gabung?” Revy terkejut dan bingung harus merespon apa. Lain halnya dengan Raymond ia langsung mempersilahkan cowok misterius itu untuk duduk. “Nggak ganggu kalian berdua kan? Aku bosan dari kemaarin di depan nggak ada teman ngobrol.” “Iya nggak masalah kok.” “Kenalin aku Randy.” ucapnya sambil mengulurkan tangan. “Aku Revy.” “Jodoh gitu ceritanya nama kita bertiga semua huruf depannya R. Hahahahha. Aku Raymond.”


            Akhirnya Revy mengetahui juga nama cowok misterius yang tampan itu. “Kayaknya sebelum ini aku pernah ketemu kamu tapi kapan ya?” sejenak Randy berpikir “Oh iya, kamu bukannya yang aku senggol waktu ngambil sarapan dua hari yang lalu?” “Eee, iya Ran.” “Asal mana ndy?” tanya Raymond “Aku dari Jakarta. kamu?” “Oh, berarti sama kayak Revy. Aku dari Surabaya.” Obrolan, canda dan tawa terus  berlanjut hingga Gladys berbicara di microphone “Bersiap – siap sebentar lagi kita akan sampai di toilet stop (a.k.a rest area) hari ini kita akan makan siang di sini setelah itu baru melanjutkan perjalanan menuju Italia.” “Nggak terasa udah 4 jam di bis, ngobrol sama kalian seru banget sampai nggak inget waktu.” seru Randy “Ya udah gabung aja sama kita lagi nanti biar nggak garing di depan sendiri.” tawar Raymond. Semua peserta tour dipersilahkan untuk turun dari bis.            

           “Aku ke toilet dulu Rev.” ujar Raymond “Okeh Ray.” Revy berdiri bersama Randy sambil menunggu Raymond. Semua sibuk dengan pikirannya masing – masing. Tak ada yang memulai pembicaraan. Randy kenapa lo nggak coba ngajak ngomong gue gitu kan umpung berdua. Pingin kalik chit-chat singkat sama lo tapi gengsi gue mulai duluan. Bingung topik apa yang harus gue bahas juga runtuk Revy dalam hati. Akhirnya suasana pun kembali mencair ketika Raymond keluar dari toilet “Mau makan apa siang ini?” “Terserah Ray apa aja.” jawab Revy “Kalo kamu Ran?” “Hmmm.. aku kayaknya pingin makan burger aja.” “Ya udah kalau gitu kita makan burger aja yah” Mereka bertiga pun berjalan menuju restaurant yang menyediakan burger.            

            Revy memesan chicken burger dan mocha float, Raymond dan Randy memesan beef burger dan Chocolate milkshake. Setelah 20 menit pesanan mereka datang. Mereka menikmati santapan masing – masing dalam diam. Tanpa sengaja pisau Revy terjatuh dan pisau itu terjatuh dekat dengan kaki Randy. Reflek Randy lalu menunduk untuk mengambil pisau itu bersamaan dengan itu Revy juga menunduk untuk mengambil pisau tersebut. Tatapan mereka bertemu sesaat kemudian mereka berbalik lagi ke atas meja untuk melanjutkan makan siang. Tak bisa dipungkiri, kejadian tersebut membuat hati Revy berdesir bahagia. “Thank you Ran.” “You’re welcome Rev.” balas Randy sambil tersenyum manis. Sebelum mukanya lebih memerah lagi Revy ijin untuk keluar dari restaurant dengan alasan kekenyangan dan butuh jalan – jalan.
        

           Revy berjalan menjauh dari restaurant itu kemudian Revy menemukan sebuah bangku taman ia pun mengeluarkan uneg – uneg yang sudah memenuhi hatinya “Aaaaaaa.. seneng banget dibantuin sama Randy. Ternyata cowok itu baik juga. Tatapan matanya itu...... Aaaaaa pokoknya dia emang cakep secakep cakepnya” setelah berhasil mengontrol kegembiraannya Revy kembali ke tempat meeting point.


     Waktu makan siang sudah selesai semua anggota tour dipersilahkan untuk naik ke bis. Masih ada beberapa orang yang pergi ke toilet (termasuk Randy) sehingga bis belum berangkat. Di sela – sela waktu menunggu Raymond bertanya pada Revy “Kamu kenapa?” “Nggak papa kok. Udah ya aku mau istirahat.” “Lagi nggak enak badan Rev?” Revy hanya tersenyum kecil lalu berusaha untuk tidur. Revy masih belum berani melihat Randy sejak kejadian tadi, dia takut menjadi salah tingkah apabila bertatapan dengan Randy jadi dia lebih memilih untuk tidur atau pura – pura tertidur.            

        “Kenapa tuh cewek lo? Sakit?” tanya Randy “Cewek? Cewek siapa? Dia temen gue. Kayaknya sih lagi nggak enak badan gitu.” Jawab Raymond “Kasian ya pas liburan malah sakit gitu. Oh kalian bukan pacaran yah??” “Bukanlah. Ketemu juga baru di tour ini.” Sayup – sayup percakapan antara Raymond dan Randy didengar oleh Revy. Hatinya berdesir kembali ketika Randy menunjukkan perhatian padanya.            

          Setelah cukup lama tertidur, Revy terbangun. Ia mengerjap – ngerjapkan matanya karena sinar matahari yang sangat menyilaukan “Hi, sleeping beauty? Udah cukup tidurnya?” Revy mengangguk sambil menggerakkan tubuhnya yang pegal ke kanan dan ke kiri. Revy tak melihat ada seorang pun di bis itu selain mereka berdua. “Loh Ray yang lain pada kemana?” “Ini lagi di toilet stop.” “Terus kamu? Ngapain di sini nggak turun?” “Males aja cuman 15 menit” Ya aku jagain kamu lah Vy bisik Raymond dalam hati. “Oh gitu.. masih lama ya sampai Italia?” “Kayaknya nggak sih Vy, soalnya tadi kata Gladys ini toilet stop terakhir.” “Baguslah. Aku sudah bosan berada di dalam bis terus. Hehehe


            Tak lama kemudian peserta tour yang lain naik kembali ke bis. 2 jam lagi rombongan akan sampai di Italia. Mereka akan diajak untuk santap malam makanan khas Italia terlebih dahulu sebelum menuju ke hotel untuk beristirahat. Entah kenapa malam ini kebetulan banget pembagian mejanya Revy Raymond dan Randy menjadi satu meja. Sial! Kenapa harus bareng sama dia lagi runtuk Revy.

       Sambil menunggu hidangan datang semua peserta saling mengobrol kecuali Revy dan Randy. Mereka berdua lebih memilih diam dan asyik dengan gadget masing – masing. Selesai makan malam, rombongan diantar ke hotel untuk beristirahat.

           Hari ini cuaca di Italia sangat panas hampir 38 derajat celcius. Maklum saja sekarang Eropa sedang memasuki musim panas. Tujuan pertama hari ini adalah Basilica St. Peter di Vatikan. Antrian untuk masuk ke dalam Gereja ini sangat panjang dan mengular karena bertepatan dengan musim liburan. Antrian panjang di bawah terik sinar matahari membuat semua wisatawan mulai berkeringat dan kepanasan. Untung saja Revy membawa paying lipat di tasnya. Revy mengeluarkan paying lipat dari tasnya. Yah setidaknya kepalanya tidak terpapar panas matahari secara langsung.            

        Tiba – tiba ada seorang lelaki yang menghampiri Revy, ternyata itu adalah Randy. “Rev, nebeng dong panas.” Kata Randy sambil cengengesan. Revy terkejut dan hanya mengangguk saja. “Sini biar aku aja yang megang payungnya.” Campur aduk perasaan Revy ketika Randy si cowok tampan itu berdiri tepat di sampingnya sambil memayunginya. “Oh ya, ngomong – ngomong Raymond mana?” tanya Randy “Nggak tahu, tadi turun dari bis dia bilang mau ke toilet terus nyuruh aku jalan sama rombongan aja dulu.” jawab Revy “Biasanya kalian kayaknya selalu bareng nggak pernah pisah.” “Emang kita diiket pake tali apa sampai nggak pernah pisah.” Jawab Revy sambil memukul bahu Randy “Aduh… biasa aja kali neng, jangan galak – galak.” Tepat 3 baris di belakang mereka, Raymond berdiri melihat keceriaan yang ditampilkan dua temannya itu. Entah kenapa ada rasa berbeda yang dirasakan hatinya… sakit.            

          Setelah berhasil masuk ke dalam gereja, Gladys meminta kami berkumpul dulu untuk memberitahu jam berapa dan dimana meeting point. Kami diberikan waktu selama 1,5 jam untuk berkeliling ataupun berdoa di dalam gereja tersebut. Basilica St. Peter merupakan Gereja yang paling penting bagi Umat Katolik karena di sini merupakan tempat tinggal Paus. Raymond dan Randy bergegas untuk pergi berdoa sedangkan Revy berjalan – jalan sendiri mengelilingi Gereja tersebut.Tepat pukul 11 semua sudah berkumpul di meeting point. Setelah ini mereka akan menuju ke tempat makan siang dan waktu bebas lagi untuk belanja.

          Hari kedua di Italia, rombongan mengunjungi landmark negara Italia Menara Pisa di Roma. Raymond dan Revy silih berganti berpose dan menjepret foto – foto dengan pose – pose lucu. Sebelum kembali ke bis Revy menyempatkan membeli gantungan kunci dan pernak – pernik lainnya. “Capek juga ternyata liburan.” celetuk Revy “Ya kamu mau ngapa-ngapain tetep aja capek Vy. Tidur juga kalo terus – terusan bakal capek.” “Hehehe.. Ia Ray. Nggak terasa besok udah balik ke Indonesia lagi. Kangen banget sama masakan Indonesia.” “Iya Vy.” jauh di dalam hatinya banyak rasa yang berkecamuk di hati Raymond. Rasanya ia tidak ingin liburan ini segera berakhir karena dengan berakhirnya liburan sama dengan berakhir waktunya untuk bersama Revy.            

           TERAKHIR. Yak hari ini adalah hari terakhir rombongan tour di Eropa. Di hari terakhir ini mereka akan diajak untuk mengunjungi kota Venice. Sesampainya di kota Venice, semua rombongan mencoba untuk naik gondola. 1 gondola diisi oleh 6 orang. Gladys menyarankan untuk makan siang kami mencoba Seafood Spaghetti atau Black Spaghetti yang paling terkenal di kota Venice ini.            

            Rombongan tour menyempatkan untuk saling berfoto sebagai kenang – kenangan dalam perjalanan ini. Moment ini tentunya sangat mengharukan karena setelah ini kami akan berpisah dan kembali ke aktivitas semula. Selesai berfoto kami diantar menuju ke bandara Venice. Kami akan terbang menuju Indonesia dengan penerbangan pukul 20:00. Di dalam pesawat tempat dudukku dengan Randy dan Raymond terpisah karena pesawat penuh dan tadi kami agak telat sampai di bandara.            

           Waktu 2 jam kami tempuh menuju Bandara Istanbul, Turki untuk transit menuju ke Bandara Soekarno Hatta. Pukul 7 malam kami mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Setelah mengambil bagasi dan koper semua saling mengucapkan salam perpisahan. “Thank you Vy. You make my holiday much better than I think.” “Bisa aja. Anyway, Thank you juga udah banyak bantuin selama liburan.” “Foto – fotonya ntar aku kasih waktu aku ke Jakarta yah.” “Emang ada rencana dalam waktu dekat mau ke Jakarta, Ray?” “Ada lagi 2 minggu sepupuku nikah.” “Kalau gitu ini flash aku copy-in ya.” “Okeh Vy. Kamu pulang bareng siapa?” “Ntar dijemput supir.” Nah itu dia supir aku “Duluan ya Ray.” “Nice to meet you Vy. Hati – hati.” “Nice to meet you too Ray.” Mobil yang ditumpangi Revy melaju kencang meninggalkan Bandara Soekarno Hatta.            

           Raymond menginap di hotel dekat Bandara. Pesawat yang dia tumpangi menuju Surabaya akan berangkat besok pukul 12:30. Entah apa rasa yang ada di hatinya kini.            

           Walau sudah tak bertemu lagi mereka masih sering kontak – kontakan melalui media social. Soal perasaan sebenarnya Raymond sempat menyampaikannya secara langsung saat mengembalikan flashdisk Revy. Namun, Revy menolak karena menurutnya mereka “berbeda” hal yang sudah pasti berbeda sebaiknya tidak usah dipaksakan untuk disatukan daripada akhirnya saling menyakiti. Walau tak bias menjadi pasangan setidaknya mereka bisa menjadi sahabat yang baik.            

           Don’t judge a book by it’s cover – Mungkin kata orang itu cuman sekedar kata bijak karena pada awalnya seseorang akan menilai melalui fisik seperti Revy tetapi setelah menyadari, akhirnya dia tahu bahwa rasa nyaman jauh lebih penting daripada tampang saja.

Recycle Cinta

AUTHOR’S POV             “….. Sudah tak bisa dipungkiri jumlah sampah yang ada di Indonesia ini. Mulai dari limbah rumah tangga, pabrik...