Sudah menjadi
cerita umum bahwa akuntansi merupakan pelajaran yang ribet –pelajaran hitung –
hitungan yang luar biasa-. Sama halnya dengan cinta, cinta juga merupakan hal yang luar biasa.
Bagaimanakah jadinya jika dua hal luar biasa itu disatukan?
Pertanyaan -
pertanyaan paling HITZZZ bulan ini “Mau kuliah dimana?” “Mau ngambil jurusan
apa?” “Negeri atau swasta?” Semua pertanyaan itulah yang sedang berputar –
putar di otakku. Aku Riska, cewek tomboy yang sedang
menjalani tahun terakhir SMA dan
sedang binngung mau kuliah dimana. Bukan hanya dimana tapi juga mau ngambil
jurusan apa. Aku belum memiliki gambaran yang jelas mengenai jurusan apa yang ingin kupilih.
Pelajaran yang aku sukai matematika tapi aku sama sekali tak berminat untuk
menjadi guru. Jurusan matematika murni juga kurasa tak menjadi alternative yang
baik.
“Riskaaa…” Teriakan
mama menyadarkan Riska dari lamunannya. “Iya.. Ma bentar.” Riska bergegas untuk
membuka pintu kamarnya. “Kenapa Ma?” Tanya Riska “Ntar siang mama ada arisan jadi mama nggak masak.
Papa juga nggak pulang makan karena ada meeting. Jadi kamu ikut mama arisan.”
“Tapii ma tapii…” “Udah nggak usah pakai tapi tapian cepat mandi terus ganti
baju.” ucap mama sambil berlalu menuruni tangga. Inilah salah satu hal yang
akan menjadi malapetaka perubah moodnya hari ini. Sebenarnya tidak ada masalah
bagi Riska untuk ikut mamanya pergi arisan namun pertanyaan – pertanyaan hitz
itulah yang membuatnya malas untuk pergi. Tapi tak ada pilihan lain daripada
mamanya marah besar lebih baik dia menguatkan iman dan pergi menemani mamanya.
Kali ini giliran rumah Tante
Paulina yang menjadi tempat arisan. Aku dan mama sampai di Rumah Tante Paulina
sekitar jam 1 siang. “Eh Winda datang juga udah ditungguin dari tadi.” sapa
Tante Paulina “Iya nih tadi nungguin Riska siap – siap jadi lama.” jawab mama
“Aduh Riska udah besar ya sekarang tambah cantik.” Aku hanya tersenyum sambil
menyalami Tante Paulina.
Di dalam rumah Tante Paulina
terdapat sekitar 15 ibu – ibu yang sedang asyik bersenda gurau. Tiba – tiba
seorang ibu datang menghampiri aku
“Riska udah besar ya sekarang. Udah lulus SMA ya?” sontak aku terkejut dan
ternyata itu adalah Tante Feni (Tante yang paling ceriwis) “Hehe... belum tante
tahun ini baru lulus.” Feelingku sudah mulai nggak enak karena berawal dari
pertanyaan ini biasanya akan berlanjut ke pertanyaan – pertanyaan hitz itu “Mau
kuliah dimana?” tanya Tante Feni. Yak benar dugaanku pertanyaan hitz itu
meluncur juga dari mulut Tante Feni “Belum tahu Tante.” Jawabku sambil nyengir
kuda. “Kok belum tahu? Kan lagi bentar nih waktunya.” celotehnya lagi. Oh, Ya Tuhan tolong selamatkan aku dari
Tante luar biasa ini doaku dalam hati.
“Riska main di belakang aja ada
anak tante di situ. Coba kenalan.” kata Tante Pauline. Ya Tuhan makasi banget telah menyelamatkanku ujarku dalam hati.
“Iya Tante Paulina. Tante Feni aku ke belakang dulu ya.” Syukurlah aku berhasil
terbebas dari tante ceriwis itu. Sebenarnya aku juga merasa asing untuk main
bersama anak Tante Pauline karena aku sama sekali belum mengenalnya tapi
daripada harus meladeni tante ceriwis itu mungkin ini pilihan yang lebih baik.
Setelah sampai di bagian
belakang rumah Tante Pauline aku melihat seorang cowok sedang duduk di dekat
ayunan. Aku bingung harus menyapanya terlebih dahulu atau lebih baik diam saja.
Akhirnya otakku lebih memilih untuk duduk di bangku taman sambil bermain gadget.
Sekitar 15 menit suasana hening tiba – tiba terdengar suara berat khas cowok
menyapaku “Hai, kamu siapa?” Aku lalu mengangkat kepala mencari sumber suara “Kenalin
aku Riska anaknya Tante Winda.” jawabku sambil mengulurkan tangan “Oh, kamu
anaknya tante Winda. Aku Fandy anaknya Tante Paulina. Salam kenal ya.” balasnya
sambil membalas uluran tanganku. “Udah kuliah atau masih SMA?” tanyanya. Ya Tuhan mulai lagi runtukku dalam hati.
“Masih SMA, tahun ini lulus.” jawabku dengan nada agak kesal. “Ya aku tahu kok
apa yang kamu rasain. Aku juga pernah ngerasain kok di posisi yang ditanyain
hal – hal yang kita masih belum tahu jawabannya itu.” Fandy menjawab seakan bisa
membaca pikiranku. “Sorry Fan, aku nggak maksud gitu.” kataku merasa bersalah.
Fandy hanya tersenyum kecil menanggapiku.
Akhirnya acara arisan mama
selesai dan kami pulang ke rumah sekitar jam 6 sore. Sampai rumah kami langsung
mandi dan mempersiapkan makan malam. Pukul 19:30 papa pulang dan kami makan
bersama. Selesai makan kami berkumpul untuk berbincang di ruang keluarga. “Ris,
kamu udah nentuin mau ngambil jurusan apa?” tanya Papa. “Hmmmm...” aku bergumam
tidak jelas. “Ris, ditanya kok nggak jawab?” kata Mama. Okeh aku harus segera menentukan pilihan supaya penyiksaanku nggak
semakin lama tekadku dalam hati. “Pa, Ma, mungkin besok aku bisa kasih
jawaban mau kuliah dimana dan ngambil jurusan apa. Ntar malam aku mau browsing
dan menetapkan hati mau milih yaang mana.” jawabku dengan penuh percaya diri.
“Okeh kalu gitu papa tunggu.”
Malam harinya sekitar jam 9 aku
masuk ke kamar dan mulai browsing deretan universitas yang paling diminati baik
negeri maupun swasta, jurusan yang paling diminati, jurusan yang memiliki
peluang kerja besar, dan segala hal yang berkaitan dengan perkuliahan. Akhirnya
aku pun berhasil menentukan pilihan di jam 4 pagi. Mungkin ini yang namanya
perjuangan seorang calon mahasiswa. Akibat dari begadang itu aku pun molor
sampai jam 10 pagi. Mataku rasanya masih ingin terpejam tapi aku rasa ini sudah
terlalu siang. Aku keluar dari kamar sambil mengucek mata dan berjalan menuju
dapur. “Anak gadis kok bangunnya siang gini.” Kata mama “Hari Minggu juga Ma.
Aku kan juga begadang demi merencanakan cita – cita masa depan yang cerah
secerah sinar matahari pagi.” sahutku asal “Halah.... Emang udah ketemu mau
ngambil apa dan dimana?” tanya mama “Udah ntar aku kasih tahu sekalian sama
papa juga.”
Selesai makan siang kami
berkumpul lagii di ruang keluarga untuk membicarakan mengenai universitas.
“Jadi gimana Ris?” tanya Papa “Aku bebas kan ngambil universitas negeri ataupun
swasta?” tanyaku balik “Iya bebas asal alasan kamu milih jelas nggak masalah.”
Aku pun memberitahukan kepada Papa dan Mama bahwa aku memilih untuk mengambil
jurusan akuntansi di sebuah universitas swasta. Alasanku mengambil akuntansi
karena merupakan lahanku juga sebagai anak sosial dan itu juga merupakan
jurusan yang -sangat- membutuhkan matematika jadi minatku bisa tersalurkan.
Untuk universitas aku lebih memilih swasta karena aku ingin mencoba mendaftar
melalui jalur beasiswa siapa tahu diterima selain itu aku juga ingin mencoba
berkuliah dengan berbahasa Inggris di kampus swasta ini. Papa dan mama
mendukung keinginanku. Akhirnya aku sedikit terbebas dari penyiksaan ini.
Keesokan harinya di sekolah aku
bersama sahabatku Frisca mengurus segala sesuatu yang perlu untuk pengajuan
beasiswa. Mulai dari legalisir rapot, surat rekomendasi, surat keterangan, dan
lain sebagainya. “Serius Ris ngambil swasta?” tanya Frisca “Iya serius semoga
aja dapat beasiswanya lumayan nggak membebani orang tua.” Jawabku “Nggak mau
nyoba SNMPTN?” “Nggak aku udah niatnya di swasta jadi buat apa nyobain negeri.
Misalnya kalau aku keterima terus aku tolak sama aja aku nutup kesempatan orang
lain yang emang benar – benar punya keinginan untuk ambil negeri dan nutup
kesempatan adik kelas juga tahun depan. Kita udah punya jalan masing – masing
jangan serakah. Hahahahha.” jelasku panjang lebar “Cieeee... kakak kelas yang
baik. Bijak banget kepalamu abis kepentok apa? Hahahah.” celoteh Frisca “Iya
dong jadi kakak kelas itu pergi baik – baik jangan pergi ninggalin “bangke”
buat adiknyaa.”
3 minggu kemudian
. . .
“Non, ini ada kiriman.” Bi Ijah
menghampiriki sambil membawa sebuah amplop putih “Iya makasi Bi” Tertera nama si pengirim
ternyata dari universitas tempatku mengajukan beasiswa. Setelah kubuka ternyata
isinya Selamat, Anda diterima melalui
jalur beasiswa. Reflek aku berteriak “YESSSS!!” Papa dan mama tergopoh –
gopoh menghampiriku “Kamu kenapa nak?” tanya Mama “Aku keterima beasiswa Pa,
Ma.” Kami bertiga saling berpelukan dalam haru.
6 bulan kemudian . . .
Aku sudah berhasil melewati
Ujian Nasional yang kini berbasi komputer begitu juga dengan ospek di perguruan
tinggi. Kini saatnya untuk menghadapi hal yang sesungguhnya memulai
perkuliahan. Sahabatku Friska diterima melalui jalur SNMPTN di salah satu
universitas negeri ternama di Surabaya, sehingga kita harus pisah. Selama ospek
aku mendapat beberapa teman baru. Kegiatan – kegiatan yang dilakukan secara
berkelompok membuat kami lebih cepat mengenal satu sama lain. Sampai saat ini
aku paling dekat dengan Gera.
Hari pertama masuk kuliah
berjalan lancar, Dosen kami memulai hari ini dengan perkenalan dan list materi
yang akan kami bahas selama satu semester ini. Jam istirahat aku dan Gera pergi
ke kantin untuk makan siang. “Cakep banget kakak itu Ris.” seru Gera. Aku
sedang memasukkan mie ke dalam mulutku sehingga tidak langsung menoleh. “Yang
mana?” tanyaku “Kamu kelamaan orangnya udah keburu lewat.” “Yah siapa suruh dia
lewat pas aku lagi makan mie.” “Terserah apa katamu deh Ris.”
Gera rutin nge-line atau
whatsapp aku bukan ngomongin soal materi pelajaran tapi soal kakak ganteng yang
ntah mana wajahnya aku nggak pernah tahu. Emoticon love dan lain sebagainya
bertaburan setiap dia nge-chat aku. Geliiii kayak lesbong. Aku hanya berusaha
menjadi penyimak yang baik buat teman baruku yang sedang kasmaran ini. Seperti
siang ini
From :
Gera
Ris spa
ya nama kakakku itu? Pingin banget aku nyari instanya
Mau aku stalk :3:3
To : Gera
Ger wjudnya aja aku nggak tahu gimana mau tahu nmanya siapa
.-.
Dia kira aku udah sekolah
peramal apa bisa ngeramal siapa kakak ganteng yang dia taksir
From : Gera
Ya Tuhan kakak ganteng pingin ketemu lagi :*
Semoga Tuhan ngabulin doaku
To : Gera
Aminnn o:)
Sekarang adalah
bulan kedua aku menjalani perkuliahan. Sampai saat ini aku masih menikmati
tugas yang diberi dan segalanya kecuali bahasa yang digunakan. Kemampuan
linguistikku tidak terlalu baik, aku mencoba berkuliah di sini ya untuk
memperbaiki itu. Tidak seperti biasanya dosen kami telat datang hingga 10
menit. Tiba – tiba ada seorang cowok
putih tinggi dan tampan masuk ke kelas. “Sorry class, I’m late.” Mata semua
mahasiswi dijamin tidak ada yang berkedip melihat sosok yang berada di depan
kelas itu. “Today, Mr.Hartono cannot be with you because his wife was sick. So,
today I will replace him. First, I will introduce my self. I’m Fandy Christian.
I’m assistant of Mr.Hartono.”
Gera menoleh ke
belakang ke arah tempat dudukku “Ris itu dia yang aku bilang kakak ganteng.”
Aku mengangguk. Ntah mengapa aku rasa aku pernah bertemu cowok itu sebelumnya
tapi aku lupa siapa. Aku memperhatikan pelajaran seperti biasa sesekali aku
menoleh ke arah Gera dan bisa dipastikan dia tidak konsen dengan materi yang
disampaikan. Dia lebih sering menatap ke depan sambil senyum – senyum sendiri.
Setelah 1,5 jam yang terasa sangat cepat bagi para mahasiswi, Kak Fandy menutup
kelas “Okay class, I think it’s enough for today. Thank you.”
Semua mahasiswa
dan mahasiswi keluar meninggalkan kelas. Gera keluar lebih dahulu daripada aku
katanya mau ke toilet udah nggak tahan. “Hai, kamu.” Aku menoleh ke sekeliling
ruangan tapi sepertinya hanya tersisa aku di ruangan itu. “Saya??” ujar ku
sambil mengarahkan jari telunjukku ke dada “Iya kamu. Kamu bukannya anak Tante
Winda Revy? Benarkan?” Tiba – tiba aku teringat “Oh, kakak Kak Fandy ya?
Anaknya Tante Paulina.” “Iya. Cieee akhirnya udah nggak galau. Hahahahh.”
“Pantes kayak pernah lihat gitu rupanya. Iya nih kak syukur banget.” jawabku
sambil tersenyum “Yang semangat kuliahnya Ris.” “Iya pasti kak. Aku balik
dulu.” “Hati – hati.”
Tadi Gera udah
ngasih tahu kalau setelah dari toilet dia suruh aku nunggu di kantin tempat
kita makan biasa. Aku hanya membeli minuman kaleng sambil menunggu Gera yang
tidak kunjung datang. Setelah 15 menit akhirnya dia dateng juga. “Ya ampun Ger
lama amat kamu ngapain aja?” “Sorry ris, toilet rame banget jadi ngantri.
Gantinya aku traktir makan deh. Umpung aku lagi bahagia.” “Aduh tuan putri yang
sedang berbunga – bunga.” Gera kemudian mentraktir aku semangkuk bakso special
beserta es teh.
“Cakep kan kakak
itu?” tanya Gera selesai menyantap baksonya. Aku hanya mengangguk saja.
“Akhirnya aku bisa tahu juga namanya Fandy Christian.” Katanya sambil senyum –
senyum sendiri dan ntah menghayalkan apa. “Halo Ger, sadar ini di kampus bukan
di rumah. Jangan bikin malu deh.” “Biarinnnn. Orang lagi bahagia juga.” “Ya
udah gue nyerah terserah deh loe mau ngapain.”
Malam harinya, aku
sedang duduk di sofa sambil menonton tv tiba – tiba ada masuk pemberitahuan
dari instagram Fandy_C started following
you. Alu kaget kok bisa Kak Fandy tahu IG aku. Setelah itu masuk
pemberitahuan ada direct message,
langsung saja aku buka ternyata dari Kak Fandy.
“Hi, Ris. Minta id line boleh?”
“Iya Kak. Ini Riska_ :D”
“Okeh makasi”
“(y)”
Setelah itu masuk
notif bertubi – tubi dari line, sebelum melihat saja aku sudah bisa memastikan
itu dari Gera dan benar saja tebakkanku tak meleset.
“Bahagia... <3<3<3
Ganteng banget
Udah aku stalk Ignya
Melting Ris
*sticker*”
“Baguslah akhirnya doamu dikabulin sama Tuhan. Gih dirajinin doanya
=))”
“Pasti bakal rajin doa biar makin sering ketemu kakak ganteng.
Besok Pak Hartono nggak usah
masuk aja lagi biar digantiin sama Kakak Fandy.”
“Yaelah dirajinin sih doa tapi doa yang baik jangan yang buruk.”
“Itu doa baik biar aku bisa pdkt gitu sama Kak Fandy.”
“Iya deh Ger asal kamu bahagia. Tapi jangan terlalu bahagia ntar gila.
Hahahah”
“Iya sayang :*:*”
“:/”
Benar saja hari
ini Pak Hartono tidak masuk lagi. Kalau menurut penjelasan dari Kak Fandy
kayaknya Pak Hartono akan kembali 1 minggu lagi. Reflek mahasiswi pada senyam –
senyum sendiri semua apalagi Gera. Bisa dibilang mahasiswinya jahat, berbahagia
di atas penderitaan dosennya.
Seminggu selama
menggantikan Pak Hartono Kak Fandy sering nge-line aku yang ditanyakan sekitar
materi yang dia ajarkan apakah aku mengerti atau tidak. Kemudian dia meminta
pendapatku apakah cara mengajarnya bisa diterima atau tidak. Menurutku yang
ditanyakan masih seputar hal normal antara dosen dan mahasiswanya.
Hari ini adalah
hari terakhir Kak Fandy mengajar di kelasku karena esok Pak Hartono sudah bisa
kembali mengajar. “Yups. I’m sorry class if I made many mistakes while teaching
you. Today is the last day we meet in the class because tomorrow Mr.Hartono
will teach you again. Thank you and Good afternoon.” “Good Afternoon.”
2 minggu kemudian . . .
Awalnya aku
mengira Kak Fandy hanya nge-chat aku selama dia menjadi dosen pengganti
ternyata tidak sampai sekarang masih tetap berlanjut. Sekedar bertanya lagi
ngapain atau membicarakan tentang bulu tangkis. Kebetulan kita sama – sama suka
nonton pertandingan bulu tangkis. Sebagai anak tunggal tentu saja aku sangat
senang mendapat perhatian seperti itu. Aku sudah menganggap Kak Fandy seperti
kakak kandungku sendiri. Kini setiap hari hpku akan selalu muncul pemberitahuan
dari Gera dan Kak Fandy. Tentang hubungannya kemarin Gera bilang dia sudah
berhasil mendapat id line Kak Fandy jadi sekarang dia lagi berusaha untuk pdkt
dulu. Modusnya sih nanyain soal pr akuntansi.
Bulan ini giliran
rumah mama yang menjadi tempat arisan. Dari pagi aku sudah membantu mama di
dapur untuk mempersiapkan hidangan untuk arisan. Setelah semua beres aku naik
ke kamar untuk menyelesaikan tugas akuntansiku.
Baru sekitar 20
menit aku di kamar terdengar teriakan mama memanggilku. “Riska!! Sini turun!!”
“Iya Ma bentar.” Aku lalu menuruni anak tangga dan melihat Kak Fandy sedang
berdiri di sebelah mama “Ini Ris anaknya Tante Paulina. Temenin gih mama mau
balik ke ruang tamu.” Aku mengangguk mengiyakan “Hi, Ris. Lagi sibuk ya?” “Hi,
Kak. Nggak juga cuman lagi ada tugas aja.” “Mau aku bantuin??” “Hmmm... boleh
nih? Nggak ngerepotin?” “Nggaklah, daripada aku nganggur. Bawa sini dah
tugasnya.” “Oke, tunggu ya kak.”
Aku kembali
membawa lembaran tugas yang masih kosong. Mungkin benar alasan awalku memilih
akuntansi karena membutuhkan matematika namun ternyata walaupun kamu menguasai
matematika belum tentu menguasai akuntansi. Mereka berbeda. Aku lalu mengambil
tempat duduk di sebelah Kak Fandy. “Yang mana nih yang nggak bisa?” “Kayaknya
jelasin dari awal deh kak.” jawabku sambil tersenyum pasrah. Biar deh aku
keliatan begok yang penting aku ngerti.
“Jadi yang paling
awal aktiva harus sama jumlahnyaa dengan passiva. Sama kayak dalam suatu
hubungan antara cowok dan cewek itu harus seimbang.” “Okeh paham. Heheheh”
“Terus yang termasuk aktiva (harta) itu ada
kas,piutang,peralatan,perlengkapan,inventaris. Sedangkan yang termasuk paassiva
adalah modal (ekuisitas) dan utang. Kalau mau belajar sesuatu itu harus sepenuh
hati supaya cepat ngertinya” Aku mengangguk, ntah bagaimana aku memang benar –
benar mengerti ketika dijelaskan Kak Fandy. Kak Fandy lanjut menjelaskan bila
aktiva bertambah itu didebit dan bila berkurang dikredit kebalikan dengan
passiva yang bila bertambah dikredit dan bila berkurang di debit.
“Nah habis itu
pendapatan harus lebih besar daripada beban agar mendapat laba. Sama seperti
kalo pacaran kamu harus lebih banyak memberikan kasih dan sayang daripada
omelan supaya jadi makin sayang.” “Hahahah... Dari tadi perumpamaannya pake
cinta – cintaan terus. Lagi jatuh cinta ya Kak?” cerocosku “Iya nih lagi jatuh
cinta sama seorang wanita tapi kayaknya dia nggak punya perasaan yang sama
kayak aku.” “Tragis amat Kak. Emang kakak udah nyatain perasaan ke dia” tanyaku
penasaran “Belum berani Ris. Takutnya terlalu cepat dan malah ditolak sama
dia.” “Yang sabar ya Kak kalau jodoh nggak bakal kemana kok.”
Tugasku selesai
bersamaan dengan bubarnya arisan mama. Aku mengucapkan terima kasih atas
bantuan Kak Fandy. Setelah itu aku membantu mama beres – beres di rumah. Malam
harinya aku chat lagi dengan Gera dia curhat dia nanya Kak Fandy udah ada yang
punya atau belum terus Kak Fandy bilang dia lagi suka sama seseorang. Langsung
gugur dah semangat Gera ngejar Kak Fandy. Aku juga cerita tadi Kak Fandy ke
rumah sekalian nganter mamanya arisan dan dia juga cerita kalau lagi suka sama
seseorang tapi dia nggak kasih tahu siapa . Hasil akhir Gera minta aku bantuin
nyari siapa cewek yang disukain sama Kak Randy
Seperti biasa aku
datang ke kelas lalu duduk di kursi baris ke dua dari belakang. Tapi ada hal
aneh hari ini Gera nggak masuk kuliah. Tumben banget dia nggak masuk kuliah
padahal hari ini kan dia ada misi yang harus dijalankan. Aku nge-line dia ingin
mencari tahu kabarnya
“Ger kenapa nggak masuk? Kan kita mau ngejalanin misi? =))”
1 jam. . . 2 jam . . . 3 jam . .
. Tumben banget Gera betah nggak megang hp sampai 3 jam. Iseng aku ngecek
instagram. Gera ada ngupload foto sekitar 2 jam yang lalu, berarti seharusnya
dia megang hp. Tapi kenapa chatku nggak dibalas.
Sampai malam
harinnya tetap saja tidak ada balasan dari Gera. Aku bingung tumben sekali Gera
tidak membalas chat biasanya dia paling heboh. Mungkin dia sedang ingin sendiri
setelah menerima kenyataan Kak Fandy menyukai orang lain pikirku.
Keesokan harinya,
aku datang ke kelas dan ternyata Gera sudah duduk di bangkunya. Aku datang dan
langsung memeluknya “Ger, kamu kemana aja kangen!” “Apaan sih?!” teriaknya
kesal dan pergi keluar dari kelas. Aku masih berdiri mematung tidak tahu apa yang
sedang terjadi dan apa yang harus kulakukan. Selama pelajaran aku tidak
konsentrasi mendengarkan penjelasan dosen, aku berpikir keras apa kesalahan
yang aku buat sampai Gera marah sama aku. Nihil. Aku tak ingat sama sekali apa
kesalahanku.
Sudah seminggu aku
seperti mayat hidup, malas makan dan susah tidur. Walau aku baru kenal Gera
tetapi aku sangat merasa kehilangan dengsan sikapnya yang menjauh dari aku. Apa
sebenarnya salahku? Kak Fandy masih tetap nge-chat aku tapi aku juga balasnya
sekedar saja karena moodku benar – benar hilang seminggu ini. Gera memang
cerewet tapi nggak ada dia sepi banget.
“Ris, ko balesnya singkat – singkat gitu?
Lagi ada masalah?”
“Nggak kok Kak J”
“Lgi bad mood?”
“Nggak”
“Ya udah kamu istirahat deh.
Have a nice dream.”
“Have a nice dream too Kak.”
Aku sengaja tidak ingin menceritakan masalah ini kepada Kak Fandy.
Walaupun aku tahu dia orang baik – baik dan anak dari teman mama tapi aku baru
mengenal beberapa bulan. Jadi aku tidak yakin harus menceritakan masalahku ini
kepadanya.
Malam minggu
pertama tanpa Gera. Yak biasanya aku dan Gera selalu ngabisin waktu malam
minggu bareng – bareng. Kebetulan kami sama – sama tidak ada yang memiliki jadi
indahnya berdua aja jalanin malam minggu. Ponselku berdering, tertera nama si
penelpon “Kak Fandy”. Aku enggan untuk menggeser tombol hijau tapi kasihan juga
kalo nggak diangkat. Akhirnya kuputuskan untuk menjawab telfonnya
“Halo, Ris?”
“Halo, iya Kak?”
“Malam ini ada janji nggak?”
“Hmmm.. Nggak ada Kak”
“Jalan yuk??”
“Errrr.....”
“Ayo dong Ris, sekali aja. Mau ya?”
Sebenarnya aku malas banget
harus pergi tapi aku nggak enak juga harus nolak
“Ris? Ris?”
“Iya kak?”
“Mau ya?”
“Iya Kak”
“Oke aku jemput ntar jam 7. See you.”
Jam 7 malam, Kak
Fandy sudah berada di depan rumah dengan mobil hitamnya. Setelah berpamitan
dengan Papa dan Mama kami pun berangkat. “Muka kamu kok nggak semangat banget?
Nggak suka ya pergi sama aku?” tanya Kak Fandy “Eh, nggak kok Kak.” jawabku.
Selama perjalanan kami berdua sibuk dengan pikiran masing – masing tidak
banyak pembicaraan terjadi sseperti dalam chat.
Kami sampai di
sebuah tempat makan. Malam ini, Kak Fandy mengajak aku makan malam di salah
satu restaurant yang terkenal dengan steaknya. Kak Fandy memesan Tenderloin Steak dan aku memesaan Chicken Cordon Blue. Pesanan datang dan
kami menyantapnya sampai habis. Setelah selesai makan kami mengobrol. Suasana
sudah mencair jauh lebih baik daripada saat dalam perjalanan tadi.
“Ris, masih ingat
nggak waktu aku cerita soal cewek yang aku suka?” “Iya kak inget. Gimana?
Gimana? Udah nembak?” tanyaku antusias “Belum, kakak belum berani. Tapi mungkin
secepatnya, kakak akan ngomong ke dia.” “Jangan kelamaan Kak ntar si dia keburu
direbut orang. Heheh.” candaku “Ya udah, kalau gitu sekarang.” “Maksudnya? Kakak
sekarang mau pergi nyamperin dia?” Kak Fandy perlahan memegang kedua tangan ku
“Ris, sebenarnya cewek yang aku suka itu udah dari tadi bareng sama aku.
Sekarang cewek itu lagi duduk di depan aku. Jadi selama ini cewek yang aku suka
itu kamu Riska.” Riska merasa bagai tersambar petir di siang bolong mendengar
pernyataan Kak Fandy. Pikiran dan perasaannya kacau. Sekarang ia tahu kenapa
Gera menjauh dari dia itu semua karena ini. Riska langsung menghempaskan tang
Kak Fandy dan berlari keluar restaurant. “Ris kamu kenapa. Ris tunggu!!” teriak
Kak Fandy sambil mengejarku.
Sampai di rumah
aku langsung masuk ke kamar dan menangis sejadi – jadinya. Pantas saja Gera
tidak mau menemuiku dan membalas chatku. Bagaimana ia sanggup melihat temannya
sendiri yang ternyata disukai oleh gebetannya. Tapi aku sama sekali tidak tahu
kalau Kak Fandy menyimpan perasaan kepadaku. Selama ini aku hanya menganggapnya
sebagai kakakku tidak lebih. Berkali – kali Kak Fandy mencoba menelpon, nge –
line dan whatsapp aku tapi tak kuhiraukan. Karena lelah menangis akhirnya aku
tertidur.
Aku memutuskan
untuk tidak pergi ke kampus hari ini, perasaanku kacau dan aku juga tidak siap
untuk melihat Gera ataupun Kak Fandy. Ditambah mataku yang sembab. Kebetulan
tadi pagi Papa dan Mama berangkat ke Surabaya karena ada acara pernikahan anak
teman papa dan acara reuni. Sehingga aku tidak perlu panjang lebar menjekaskan
penyebab mata sembabku. Mama kemarin sempat bilang mereka akan pergi selama 1
minggu.
Setelah sarapan
aku berpesan kepada Bi Ijah bila ada yang datang ingin menemuiku bilang saja
aku sedang tidak di rumah. Aku pun naik ke atas dan mengecek ponselku. 17
missed call 33 notifikasi dari line dan whatsaap. Hmmmm... aku putuskan untuk
mematikan ponselku. Benar saja jam 3 sore bunyi klakson mobil, aku mengintip
dari jendela. Terlihat mobil Kak Fandy. Langsung kututup gorden dan kembali
membaca novel.
Aku turun menuju
meja makan untuk santap malam. Bi Ijah kemudian bercerita “Tadi Mas Fandy
dateng Non. Dia nanyain non, mukanya khawatir banget.” “Terus bibi bilang apa?”
tanyaku menyelidik “Bilang kalau non nggak ada di rumah sesuai pesan Non.”
“Bagus. Bi Ijah emang paling pintar.” Kataku sambil memberikan dua jempol.
Selesai makan aku membuka kulkas dan kebetulan menemukan cokelat. Kalau lagi
stress kayaknya enak banget makan cokelat. Aku lalu kembali lagi ke kamar.
Bosan juga
seharian nggak megang hp. Aku coba menyalakan hp. Langsung saja masuk 7 missed
call dari Kak Fandy dan 41 notifikasi baru dari line dan whatsaap. Aku membuka
pesan di line 31 message dari Kak Fandy 40 message dari group dan 3 message dari
Gera. Aku penasaran ingin mengetahui message dari Gera
“Ris? Kenapa nggak masuk?
Kamu marah ya sama aku?
Ris??”
“Sorry, aku baru nyalain hp Ger.
Nggak.. Seharusnya kamu yang
marah sama aku.
Maaf ya Ger.”
“Udah nggak udah dibahas lagi Ris :D
Besok kuliah kan?”
“Iyaapss :D”
“Oke see you tomorrow beb :*”
“:*:*”
Tak bisa dipungkiri aku bahagia Gera sudah tidak marah lagi denganku.
Iseng aku membuka chat dari Kak Fandy
“|
|
|
Ris kamu kenapa?
Ris kamu baik – baik aja?
Salahku apa tiba – tiba kamu
pergi gitu aja
Ris?
Ris??
Ya udah kamu istirahat ya
-----
Ris kamu kok nggak masuk
kuliah?
Kamu kemana? Aku dari rumahmu
tapi bibi bilang kamu pergi?
Ris please jangan gini dong
Ya udah Ris mungkin kamu butuh
waktu sendiri
Kabarin aku ya kalau kamu udah
mau nemuin aku
Night”
Aku hanya nge-read chat dari Kak Fandy dan aku putuskan untuk istirahat
karena besok aku akan kuliah.
“Hi Geraaaa!!”
sapaku ketika sudah masuk ke dalam kelas “Hi Risayang.” Balasnya sambil
memelukku. “Kangen banget sama nona ceriwis.” “Iya deh Ris gue diem sekarang.”
“Jangan Ger gue jauh lebih ikhlas jadi pendengar yang baik daripada didiemin
sam elo.” Gera membalas dengan tertawa. Hari ini adalah pelajaran Pak Hartono
tapi beliau tak kunjung datang. Feelingku tiba – tiba tidak enak dan benar saja
Kak Fandy kembali yang muncul. Moodku berubah drastis, aku bertekad untuk
menjaga jarak sejauh mungkin darinya. Aku tidak mau Gera marah lagi denganku
karena masalah ini.Begitu kelas selesai aku bergegas keluar dari kelas. “Aku
duluan ya Ger ke toilet ntr ketemu di kantin.” “RISKAA!!” Aku mendengar
teriakan Kak Fandy tapi sengaja ku hiraukan dan pergi keluar dari kelas.
Aku dan Gera
menyantap roti bakar di kantin “Ris kamu nggak dengar tadi dipanggil Kak
Fandy?” uhuk... aku tersedak tak menyangka Gera akan membahas tentang itu
“Hmm.. Ada ya? Aku nggak dengar. Buru – buru soalnya tadi.” jawabku berbohong.
Selintas aku menangkap sosok Kak Fandy berjalan menuju kantin “Ger kita udah
nggak ada kelas lagi kan?” “Iya, kenapa emangnya?” “Jalan yuk.” “Tumben? Biasa
ken kamu mager.” “Udah deh buruan yuk. Gue traktir es krim.” Ajakku sambil
menarik tangannya. “Ris tunggu!” Kak Fandy memanggilku lagi tapi aku acuhkan
kembali “Ris ada yang manggil tuh.” “Nggak ada Ger perasaan kamu aja kalik.”
Sepertinya Gera sempat menoleh dan melihat Kak Fandy berdiri beberapa meter di
belakang kami.
Sampai di kedai es
krim aku lalu memesan 1 waffle dengan satu scoop es krim sama dengan pesanan
Gera. “Kamu kenapa Ris?” tanya Gera “Kenapa? Emang aku kenapa?” jawabku
pura-pura bingung “Itu, Kak Fandy kamu lagi ngejauhin dia?” “Udah deh Ger nggak
usah bahas dia.” “Sayangnya, hari ini aku maunya bahas soal dia Ris. Aku mau
cerita.” “Okay terserah.” jawabku pasrah.
“Malam itu aku
chat bareng kamu sama Kak Fandy. Awalnya Kak Randy nggak mau kasih tahu siapa
orang yang dia suka tapi akhirnya dia mau kasih tau dia bilang Kalau pacar sih nggak ada tapi sekarang
kakak lagi suka sama seseorang, namanya Riska anak akuntansi juga seangkatan
sama kamu. Setelah baca balasannya itu aku terpukul banget dan langsung
nangis. Aku kesal kok Kak Fandy malah sukanya sama kamu. Tapi setelah seminggu
ini aku introspeksi diri aku sadar itu sama sekali bukan salah kamu. Bukan kamu
yang ngatur supaya Kak Fandy suka sama kamu tapi emang udah takdir Tuhan. Aku
juga sadar hari – hari jadi sepi kalau nggak bareng kamu. Maaf aku sempat marah
sama kamu.” “Nggak masalah Ger yang penting sekarang kita udah baikan.” jawabku
sambil memeluk Gera lagi “Terus kamu kenapa ngejauhin Kak Fandy?” selidik Gera
“Karena aku jauh lebih butuh sahabat daripada pacar.” “Well... well.. hak kamu
deh Ris.”
Ya Tuhan tugas apa
ini kenapa susah banget akuntansi dagang ada retur dan segala macam.
Hufffttt... Bosan aku ngeliat tugas akhirnya aku nge-line Gera.
“Ger bisa ngerjain yang akuntansi dagang?”
“Belum Ris.”
“Susah banget. Soal macam apa ini?”
“Serius susah? Susahan mana sama kisah cintamu?”
“Mulai deh Ger _-_”
“Tanya aja sama Kak Fandy dia pasti bisa bantuin.”
“Males mending nggak usah gue buat aja. Toh besok dibahas.”
“Hahahahaha...”
Tumben pagi ini
Gera nelfon aku dan minta ketemuan di taman belakang kampus. Aku tanya mau
ngapain dia bilang datang aja nanti juga tahu. Aku pun berjalan ke taman
belakang dan duduk di kursi taman sambil menunggu Gera. Seseorang datang dan
duduk di sebelahku ketika aku menoleh ternyata itu Kak Fandy. Aku sudah siap
untuk pergi namun tangan ku ditahan olehnya
“Mau sampai kapan kamu menghindar dari aku Ris?” Aku diam saja “Ris,
aku capek kayak gini terus. Salah aku apa?” Aku tak dapat menahan air mataku
yang mengalir “Jawab Ris jawab” “Nggak ada kakak nggak ada salah apa – apa.”
jawabku sambil terisak “Kalau aku nggak ada salah kenapa kamu jauhin aku tiba –
tiba?” “Aku nggak mau Gera berpikir kalau aku yang ngerebut kakak dari dia.”
Kak Fandy kemudian memegang wajahku “Liat aku Ris. Perasaan itu nggak bisa
diatur. Aku nggak pernah ngatur mau suka sama siapa. Tapi rasa itu datang
sendiri. Dari awal aku ngeliat kamu datang ke rumah aku udah ngerasa ada
sesuatu yang berbeda. Aku sayang sama kamu Ris.” ucap Kak Fandy sambil
menghapus air mataku “Iya Kak. Aku juga sayang sama kakak sebagai kakak.”
“Kenapa Ris?” “Aku nggak mau nyakitin Gera lagi. Jadi lebih baik kita jadi
teman aja Kak.” Jelasku
Ntah darimana tiba
– tiba saja Gera muncul “Nggak kok Ris. Kamu nggak bakal nyakitin aku.”
“Gera??” “Aku bahagia kok kalau sahabatku bahagia.” “Aku rasa lebih baik kita
bertiga sahabatan. Aku sayang sama Kak Fandy sebagai kakakku.” “Jangan bohongin
perasaan kamu Ris.” Gera kemudian pergi meninggalkan aku dan Kak Fandy.
“Ris mungkin sekarang perasaan kamu ke aku
cuman sebatas sayang seorang adik ke kakaknya. Tapi aku yakin perasaan itu bisa
berubah. Kalaupun butuh waktu lama aku akan tunggu kamu Ris.” Setelah berkata
seperti itu Kak Fandy pergi meninggalkan aku. Kini tinggal aku sendiri duduk di
kursi taman. Perasaanku berkecamuk dan otakku tak bisa berpikir jernih. Aku
berusaha mengontrol emosiku dan berjalan menuju kelas.
Kelas usai sekitar jam 6 sore, Gera
mengantarku pulang hari ini karena Pak Prio sedang sakit. “Gimana Ris? Terima?”
tanya Gera “Terima? Terima apaan?” tanyaku balik “Itu Kak Fandy.” Katanya
sambil cengengesan “Nggak Ger. Kan tadi aku udah bilang nggak mau nyakitin
perasaan kamu.” “Aku nggak papa Ris. Perasaan sayang Kak Fandy ke kamu itu
tulus masak kamu nolak dia? Kalau kamu nolak dia itu baru kamu nyakitin
perasaan aku.” “Kok gitu Ger?” “Iyalah. Kamu nolak Kak Fandy berarti kamu
nyakitin perasaan orang yang aku sayang dan itu berarti nyakitin aku juga.” “Ya
ampun Ger kamu nempatin aku di tempat yang serba salah.” Kataku sambil
memonyongkan bibir “Udah Ris terima aja. Aku ikhlas kok. Suer.” Katanya sambil
mengancungkan 2 jarinya
“Tapi kan aku nggak ditembak sama dia terus
aku nerima apa?” tanyaku pura – pura bodoh “Astaga Ris, aku cekek kamu ntar.
Tadi pagi itu apaan? Bukan sesi nembak?” tanya Gera gregetan “Hmmmm... itu sesi
moment of truth.Heheh” “Ya udah
Riska cantik ntar aku bilangin deh sama Pangeran Fandy biar dia nembak kamu
ulang.” Kata Gera serius “Jangan Ger jangan aku cuman becanda.” “Aku juga
becanda Ris. Hahaha.” “Sialan kamu.”
“Oh ya Ris, malam
minggu besok aku nggak bisa pergi bareng kamu. Tadi Kak Dion line bilang besok
ada kumpul panitia acara ultah universitas kita.” “Yah... Nasib banget jomblo
di rumah sendiri.” Runtukku “Makaknya cari pacar neng.” goda Gera “Soon ya Ger
kita double date. Hahahaha” candaku. Sampai di rumah Gera langsung pamit karena
akan mengantar mamanya belanja.
Sabtu ini
kebetulan kampus libur jadi aku bangun siang hari ini. Papa mama baru pulang
besok jadi aku benar – benar sendiri di rumah. Soal Kak Fandy sampai hari ini
dia tidak menghubungi aku lagi. Ntah kenapa aku merasa ada yang hilang ketika
dia tidak menghubungiku. Ini kalik yang namanya pas ada ditolak pas nggak ada
nyariin. Hahahahaha...
Malam harinya aku
berdiam di kamar saja membaca lanjutan novel beberapa waktu lalu. Tiba – tiba
terdengar suara gitar dari arah bawah. Aku menoleh melalui jendela tidak terlihat
apa – apa. Karena penasaran aku pun
turun dan membuka pintu depan. Ternyata di depan rumah sudah ada Kak Fandy yang
bermain gitar membawakan lagu Tulus – Teman Hidup. Aku sangat kaget dan hanya
bisa berdiri mematung di pintu. Setelah selesai ia menghampiriku sambil membawa
seikat bunga dan cokelat.
“This is the point... Udah nggak perlu aku
ulangin lagi. Aku rasa sudah cukup pernyataan yang aku buat kemarin. Jadi Ris
maukah kamu jadi teman hidupku?” ucap Kak Fandy lantang. Aku melihat
kesungguhan dalam raut mukanya “Maaf Kak, mungkin aku nggak bisa menjadi yang
sempurna tapi aku akan mencoba jadi yang terbaik buat Kakak.” Kami pun
berpelukan. Akhirnya semua kisah yang ribet juga akan indah pada waktunya.
Seperti inilah cinta dan akuntansi, keduanya
memang sama awalnya ribet. Tetapi, ketika kamu sudah berhasil mengerti
tentangnya dia akan membuatmu bahagia.