Selasa, 02 Januari 2018

Recycle Cinta


AUTHOR’S POV
            “….. Sudah tak bisa dipungkiri jumlah sampah yang ada di Indonesia ini. Mulai dari limbah rumah tangga, pabrik, maupun rumah sakit. Belum lagi sifat sebagian masyarakatnya yang acuh dan dengan mudahnya membuang sampah sembarangan. Isu mengenai sampah ini perlu ditangani secara serius oleh pemerintah sebelum terjadi masalah yang lebih rumit lagi. Akibat yang ditimbulkan dari membuang sampah sembarangan sudah dirasakan secara langsung oleh masyarakat yaitu lingkungan menjadi kotor sehingga muncul bibit penyakit dan satu lagi yang menjadi acara tahunan hampir di setiap daerah di Indonesia yaitu banjir. Walaupun demikian masyarakat masih belum sadar. Kalian para generasi muda mari bergabung dengan Greenty!! Thank the world by save it!”
            Seluruh siswa bertepuk tangan setelah perwakilan dari komunitas Greenty selesai memberikan pidatonya. Entah tak ada yang tahu maksud dari tepuk tangan itu, apakah mendukung program – program Greenty? Atau bahagia karena akhirnya presentasi itu selesai? Karena bila dilihat dari raut wajah hampir seluruh siswa memasang muka datar atau bahkan mengantuk. Ya seperti ini lah generasi muda sekarang, tak banyak yang peka dengan isu lingkungan mereka cenderung lebih peka terhadap pacar mereka saja.
            Namun, hal itu tak berlaku bagi cowo yang satu ini, ya namanya adalah Jovan. Di saat murid lain bosan mendengar presentasi yang disajikan Greenty cowok yang satu ini malah kebalikannya, Ia memberikan perhatian penuh pada tiap materi yang disajikan. Jovan memang memiliki rasa peka terhadap lingkungan yang sangat tinggi. Ia tak segan untuk memungut sampah yang berserakan walaupun sampah itu bukan miliknya. Ia pun tak segan menegur siapapun yang secara sengaja membuang sampah sembarangan. Jovan tentunya sangat tertarik untuk bergabung dengan komunitas tersebut.
            Setelah sesi sosialisasi tersebut, Jovan kemudian mencari – cari lagi informasi yang lebih mendalam mengenai komunitas Greenty tersebut. Yak!! Dia berhasil menemukan bahwa hari Minggu, 30 April 2017 akan diadakan pertemuan perdana bagi member – member baru yang akan bergabung dengan Greenty tempatnya di daerah car free day di kawasan Jl. Sudirman – Jl. MH Thamrin pukul 06.00 – selesai.
***
            Tepat pukul 05.00 Jovan sudah bersiap siap untuk mengendarai sepedanya ke daerah Thamrin. Setelah 30 menit meng-gowes sepedanya akhirnya Jovan pun sampai di kawasan Thamrin. Dari tempatnya sekarang dy melihat banner yang cukup besar bertulisan “GREENTY –Member Recruitment-“, Jovan pun lanjut menggowes sepedanya ke titik tersebut.
            “Hi, selamat pagi.” Sapa seorang wanita pada Jovan. “Selamat pagi.” balas Jovan sambil membuka helmnya. Ketika kedua mata itu bertemu, air muka mereka tiba – tiba berubah menjadi kaget dan cewek yang tadi pun pergi meninggalkan Jovan. Ternyata cewek itu adalah Tsania, mantan kekasih Jovan. Jovan sebenarnya masih menyimpan rasa untuk Tsania Bahasa kerennya Jovan belum move on dari Tsania. Walaupun sebenarnya mereka sudah putus cukup lama sekitar 5 bulan.
***
JOVAN’S POV
            Hampir seperti petir di siang bolong kekagetan yang kurasakan. Cewek yang menyapaku tadi ternyata adalah mantah kekasihku. Hmmm….. bisa dibilang dia mantan terindah ya mungkin kata orang kalo indah ngapain dijadiin mantan tapi ya mau gimana lagi aku adalah korban diputus secara sepihak. Aku sampai saat ini pun masih belum ikhlas diputusin sama dia karena aku sudah terlajur merasa nyaman dengannya tapi mau bagaimana lagi kalian tahukan woman always right – cewek selalu benar bukan cewek selalu kanan ya wkwkwkwk
            Setelah 30 menit menunggu akhirnya acara pun dimulai. Ketua Greenty, Ferdinand Wijaya, memberikan sambutan singkat. Ia pun mengarahkan bagi kami member baru boleh langsung mendaftarkan diri pada sekretaris Greenty yaitu Tsania Delia. Well. It means aku akan berurusan dengan mantanku. Nggak masalah sih sebenarnya cuman kalau sering deket gini ntar tingkat kebaperan gue semakin meningkat untuk ngajak balikan. HAHAHAH.
            Aku menunggu antrian untuk mendaftarkan diri. Ternyata cukup banyak juga anak muda yang masih punya hati dan kepekaan terhadap lingkungannya. Aku cukup senang melihat fakta ini semoga mereka memang benar – benar dari dalam dirinya sendiri ingin merawat lingkungan dan bumi ini bukan hanya sekedar untuk hits dan pamer di media social.
            Tiba juga giliranku untuk mendaftar, ya aku yakin bila tidak dalam keadaan terpaksa seperti ini kupastikan Tsania sudah pergi meninggalkanku. Aku sangat mengapresiasi sikapnya yang sangat profesional. “Bisa minta KTP anda?” tanyanya. Aku langsung saja memberikan KTPku. Setelah selesai menginput data yang ada di KTPku dia pun menanyakan nomor hp dan id lineku. “Terima kasih telah mendaftar semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.” Tsania memberikan penekanan khusus pada kata bekerja sama. Ya sudah aku tak bisa berkata apa – apa lagi lebih baik terima saja.
***
            Malam harinya aku diinvite ke grup Greenty 2K17 oleh Tsania. Yak sebenarnya Tsania tidak perlu meminta id lineku karena tentunya kami sudah berteman satu sama lain. Dari pembicaraan malam ini di grup info yang kudapatkan adalah minggu depan kita akan memulai project pertama kita yaitu menanam pohon bakau di kawasan pantai untuk mencegah abrasi. Kegiatan ini akan dilaksanakan 2 minggu lagi. Yak ini berarti aku mendapatkan kesempatan lagi untuk bertemu dengan Tsania.
Jujur saja awalnya aku mengikuti kegiatan ini memang karena aku mencintai lingkungan. Namun karena ternyata ada yang kucintai juga di dalam organisasi ini jadi ya bahagia, sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. Semoga melalui kegiatan ini hubunganku dengan Tsania juga bisa menjadi lebih baik.
***
            Jam masih menunjukkan pukul 05.30 namun aku sudah bersiap. Sebenarnya waktu berkumpul masih cukup lama sekitar satu setengah jam lagi namun kalian tahu seperti apa kondisi kota Jakarta sehingga kita harus berangkat lebih awallllll dari seharusnya. Aku pun bergegas menuju garasi untuk mengendarai motorku. Aku lebih suka mengendarai motor karena waktu yang dibutuhkan jauh lebih sedikit daripada berkendara menggunakan mobil.
            Jarak dari rumahku menuju ke tempat berkumpul tidaklah terlalu jauh hanya sekitar 5 km. Kebetulan jalan yang aku lewati menuju ke tempat berkumpul melewati rumah Tsania. Sejujurnya sempat terbesit keinginan untuk mengajaknya untuk berangkat bersama namun pertimbangan bahwa kemungkinan ditolak lebih besar membuatku mengurungkan niatku. Ya sebut saja aku adalah cowok pengecut tapi daripada aku menghancurkan moodnya dan acara menjadi berantakan lebih baik seperti ini saja.
            Tapi tanpa sengaja aku melihat Tsania sedang berdiri di pinggir jalan dengan wajah kebingungan sambil memegang hp. Aku pun menepi dan membuka penutup helmku. “Ada yang bisa dibantu Tsan?” tanyaku. Dia mengangkat wajahnya namun begitu melihat wajahku, wajahnya langsung berubah. “Nggak ada.” Jawabnya “Serius? Udah professional aja ni sekarang demi acara nggak usah bawa – bawa masalah pribadi kita.” Wahh aku tak menyangka aku bisa berbicara sok bijak begitu. Sikap Tsania pun melunak “Hmmm okay Van. Jadi gue nggak ada teman nebeng ke tempat ngumpul dari tadi nyari gojek sama grab juga nggak dapet – dapet sedangkan sebagai panitia gue nggak enak kalau datang telat.” Jelasnya panjang lebar. “Oh jadi gitu. Mau bareng nggak sama gue?” tawarku –udah siap ditolak kok gue- “Boleh nih Van?” tanyanya memastikan. Aku pun langsung mengangguk mempersilahkan. Tsania kemudian naik ke boncenganku.
            Aku sempat merasa flashback ketika kita masih pacaran dulu. Hampir setiap hari aku akan pergi ke rumahnya untuk menjemput dan mengajaknya jalan – jalan. Hmmm. . . aku kangen kembali ke masa – masa itu. Tiba – tiba sebuah motor menyalipku dan langsung berbelok ke kanan. Aku terkejut dan langsung mengerem mendadak. Tsania yang awalnya tidak memegang pinggangku langsung reflek memelukku erat.  
***
TSANIA’s POV
            Reflek tanganku langsung memeluk Jovan karena takut terjatuh. Sialan umpatku dalam hati. Seketika Jovan berucap “Maaf. Kamu nggak papa kan?” tanyanya lembut kepadaku. “Iya nggak papa kok.” Setelah mendengar jawabanku Jovan pun kembali melajukan sepeda motornya. Tak lama kemudian kami sampai di tempat acara. Syukurlah tadi Jovan menemukanku di pinggir jalan sehingga aku tidak telat hadir di acara ini. Jujur ketika tadi tanpa sengaja memeluknya aku merasakan desiran itu hadir lagi di dalam hatiku.

Flashback

Sudah beberapa hari ini Jovan sulit sekali untuk dihubungi. Aku sangat kesal. Sudah susah dihubungi tidak memberikan kabar sama sekali pula. Kalau memang dia sibuk yang kabarin kek gitu jangan tiba - tiba ngilang kayak gini. Sampai suatu siang aku pergi ke sebuah Mall untuk berbelanja untuk menghilangkan stress kegalauan “kehilangan” Jovan. Saat aku akan melangkahkan kakiku masuk ke sebuah butik tiba – tiba aku melihat Jovan berada di situ tapi tunggu dia bersama seorang wanita. Sialan. Aku pun langsung melabraknya 

“Jadi lo gini berhari – hari nggak ada kabar ternyata lagi jalan sama cewe lain. Oke kalo ini mau lo mulai sekarang kita putus.” Tanpa menggubris perkataannya aku pun berlari meninggalkannya.

Flashback Off
***

JOVAN’s POV
            Acara berjalan cukup lancar. Ada beberapa miss namun semuanya berhasil ditangani. Semenjak kejadian tadi pagi aku merasa hubunganku dengan Tsania sedikit melunak setidaknya dia sudah sudi untuk melemparkan senyum selama acara ketika kami tidak sengaja berpapasan. Aku sebenarnya berniat untuk menjelaskan “hal” yang membuat kami putus. Karena jujur saja apa yang dilihat oleh Tsania 5 bulan yang lalu tidaklah sama dengan yang sebenarnya terjadi. Tapi aku mengurungkan niatku karena aku takut ini terlalu terburu – buru.
***
            “Vann… Jovan.” Tiba – tiba aku mendengar ada seseorang yang memanggil namaku. Aku pun langsung menoleh dan terkejut ketika mengetahui sumber dari suara tersebut. Tsania. “Eh Tsan.. Kenapa? Ada yang bisa gue bantu.” Tanyaku agak grogi “Hmmm…. Lo ada acara nggak habis ini?” tanyanya “Nggak ad. Gue lagi free. Kenapa?” tanyaku lagi “Kalau gitu sebagai ucapan terima kasih atas pertolongan lo tadi pagi gue mau traktir lo makan. Gimana? Mau?” tawarnya. Oh Tuhan keajaiban kah? Hubungan kami yang 5 bulan ini sudah beku bagai es balok gini sudah mulai mencair. Terima kasih pemotor ugal – ugalan lo menjadi penerang hubungan gue yang sudah gelap gulita. “Lo nggak mau ya?” tanya Tsania menyadarkanku dari lamunanku “Eh sorry Tsan tadi ngelamun. Heheheh. Mau kok. Lo udah beres?” tanyaku “Belom bentar lagi. Tungguin ya.” Jawabnya sambil berlalu kembali membantu panitia yang lain berberes.
***
            30 menit kemudian kami sudah sampai di sebuah café. Kami memilih tempat di outdoor karena kebetulan kami berdua sama – sama menyukai alam. Café ini tidak terlalu luas, namun cukup banyak tanaman yang menghiasi bagian outdoor café ini. Ditambah sebuah air mancur di tengah – tengah yang semakin mempercantik café ini. Setelah selesai memesan makanan dan minuman aku pun mulai buka suara. “Tsan, please dengerin penjelasan aku ya.” Kataku. “Please jangan merusak suasana yang lagi bagus ini Van.” Balasnya sambil tersenyum. “Hmmm oke Tsan aku akan tunggu sampai kamu siap buat dengerin penjelasan dariku.” Balasku. Tak lama kemudian makanan dan minuman yang kami pesan pun datang. Kami sibuk menyantap makanan masing – masing. Setelah selesai menyantap makanan aku pun mengantar Tsania pulang.

TSANIA’S POV

            “Thank you Van. Hati – hati di jalan.” ucapku padanya setelah sampai di depan pintu gerbang rumahku. “Sama – sama Tsan. Selamat istirahat.” Aku melambaikan tangan seraya Jovan melajukan motornya meninggalkan rumahku. Acara hari ini cukup menguras energiku belum lagi besok aku harus bersekolah. Aku memutuskan untuk langsung beristirahat setelah selesai membersihkan diri.
            Sudah sekitar satu jam aku berbaring di atas ranjangku namun kantuk tak kunjung menyapa. Kepalaku seperti dipenuhi kembali tentang kenangan aku bersama Jovan. Jujur di dalam hatiku aku masih sayang dengan Jovan namun emosi dan gengsiku membuat aku tidak memperdulikan perasaanku. Karena tak kunjung bisa tertidur, aku pun iseng mengupload snapgram dengan latar belakang hitam dan sebuah kalimat “andai aku bisa mengendalikan emosiku”. Tak berapa lama ada notif dari Instagram. Ternyata itu adalah DM dari Jovan

Jovannino_: Belum tidur Tsan?
Tsania21: Nggak bisa tidur nih gue
Jovannino_: Istirahat besok sekolah wehh
Jujur aku sangat merindukan midnight chat dan perhatian seperti ini.
Tsania21: Iya ya gue tidur. Lu juga tidur sono.
Jovannino_: Night. Bye.
Tsania21: Bye.
Setelah membalas chat terakhir dari Jovan aku pun terlelap.

1 bulan kemudian
Semenjak pertemuan kami di komunitas greenty tepatnya semenjak kejadian premotor ugal – ugalan itu hubunganku dengan Jovan jadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Siang ini aku akhirnya memutuskan bahwa aku siap untuk mendengarkan penjelasan yang sudah sangat lama Jovan ingin katakana padaku. Tadi pagi aku sudah men-DMnya bahwa hari ini aku pulang sekolah jam 2 siang dan mengajaknya untuk ketemuan di sebuah café di dekat sekolahku.
***
JOVAN’s POV
Seperti mendapat durian runtuh ya kalian boleh saja mengatakan aku lebay atau apa pun tapi ini memang sangat mengagetkan. Tiba – tiba saja pagi ini Tsania men-DMku dan mengajakku untuk ketemuan di sebuah café dekat sekolahnya. Doakanlah semoga ini titik terang dari kesabaranku menunggu selama ini.
Tepat saat bel pulang berbunyi aku langsung bergegas membereskan alat tulisku dan berlari menuju parkiran motor. Aku tentunya tidak mau membuat Tsania menunggu. Aku melajukan motorku dengan kecepatan sedang karena aku tentunya masih mau bertemu Tsania dalam keadaan bernafas.
Jarak antara sekolahku dengan sekolanya memang tidak begitu jauh. Sekitar 15 menit berkendara, aku pun sudah sampai di sekolahnya. Jam tanganku menujukkan pukul 2.05 yang berarti Tsania sudah bubaran. Aku pun langsung bergegas menuju ke café yang dimaksud Tsania. Ketika masuk ke dalam café, mataku sudah menangkap wajah seseorang yang sangat familiar sedang duduk di pojok ruangan. Aku pun melangkah menuju ke tempat duduk yang sudah dipilih oleh Tsania.
“Hi Tsan, sorry telat ya.” ucapku “Eh Van. Iya gpp. Duduk. Duduk.” balasnya ramah.
Aku pun langsung mengambil tempat duduk di hadapan Tsania setelah dipersilahkan. Suasana sempat canggung karena baik Tsania maupun aku sama sama diam. Saat aku akan mulai untuk berbicara secara bersamaan Tsania juga mulai berbicara. “Eh, ya udah kamu duluan aja ngomong Van.” Kata Tsania “No. Ladies first Tsan.” Balasku “Okeh. Jadi maksud aku ngajak kamu ketemuan hari iniiiii….. Hmmmm……… Jadi aku udah siap buat dengerin semua penjelasan kamu.” Aku shock tapi secepat mungkin aku berusaha menetralkan sikapku.
“Okay. Sekarang giliran aku yang ngomong ya Tsan.” Kataku. Aku meraih kedua tangan Tsania, tidak ada penolakan dari Tsania. “Tsan jadi sebenernya waktu kamu lihat aku sama cewek di mall itu, aku lagi nemenin sepupu gue yang lagi liburan ke Jakarta. Terus pas kamu lihat kita di toko baju itu sebenarnya aku lagi minta tolong dia buat nyobain baju yang mau aku beliin untuk hadiah kamu. Nah kenapa aku nggak hubungin kamu berhari – hari itu sebenarnya sengaja supaya kamu kesel. Tapi aku nggak nyangka kalau bakal jadi kayak gini sampai kita harus putus Tsan.”
Lega. Satu kata yang benar – benar ngejelasin perasaan aku sekarang. Sebenarnya aku belum sepenuhnya lega karena belum mendengar jawaban dari Tsania.  “Van, maafin aku yang terlalu kebawa emosi dan kayak bocah main ngambek terus ngilang gitu. Maaf banget aku nggak ngasi kamu kesempatan sama sekali buat ngejelasin. Dan jujur aku juga ngerasa kehilangan sebenarnya setelah mutusin kamu.”
“Tsan yuk kita reduce semua kesalahan yang pernah kita lakuin selama hubungan kita, kita reuse segala hal – hal baik dalam hubungan kita untuk mempererat hubungan kita, dan recycle cinta kita. Jadi, kamu mau nggak balikan sama aku?” Detak jantungku sudah tak beraturan karena aku takut banget Tsania nggak mau balikan lagi sama aku?” Tanyaku “Kalimatmu lucu banget Van, Udah disiapin berapa lama? Hehehehe.” Balas Tsania sambal tertawa kecil. Aku hanya menggaruk tengkukku yang sebenarnya tidak gatal sambil membalas tawanya. Kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Tsania membuatku benar – benar bahagia “Ya Van aku mau kita balikan. Aku juga masih sayang sama kamu.” Matahari pada siang ini pun menjadi saksi betapa gembiranya aku karena bisa balikan lagi dengan Tsania.


Selalu beri kesempatan bagi pasanganmu untuk menjelaskan. Karena apa yang tampak belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Cinta sejati akan selalu menemukan jalan untuk direcycle lagi dan lagi.

Recycle Cinta

AUTHOR’S POV             “….. Sudah tak bisa dipungkiri jumlah sampah yang ada di Indonesia ini. Mulai dari limbah rumah tangga, pabrik...