Selasa, 04 Oktober 2016

Ospekating (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus serta Kakak Tingkat)

            Setiap siswa atau mahasiswa memasuki suatu tingkatan yang baru dalam bidang pendidikan maka mereka wajib melewati tahap yang dinamakan orientasi. Dimana pada dasarnya orientasi dimaksudkan agar siswa ataupun mahasiswa bisa mengenali dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Namun dalam pelaksanaannya terjadi beberapa pelanggaran yang akibatnya bahkan fatal hingga menghilangkan nyawa seseorang. Terkadang orientasi juga tidak menunjukkan fungsinya yang mendidik dan mengarahkan siswa atau mahasiswa baru tapi lebih menunjukkan kepada perploncoan dan kekuasaan senior.
            Namun, seiring banyaknya kejadian – kejadian yang tak diinginkan terjadi saat ospek maka dikelurkanlah Permendikbud no. 18 tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru. Diharapkan dengan adanya peraturan ini maka Ospek bisa dilaksanakan dengan baik tanpa ada kejadian – kejadian yang tidak diinginkan.

            Gera baru saja selesai membaca artikel di majalah tentang peraturan menteri terbaru. Perasaannya campur aduk antara senang karena dia tidak akan mengalami ospek yang menyeramkan dan takut apabila ini hanya sekadar “harapan palsu”. Tahun ini, Gera akan memulai aktivitasnya sebagai mahasiswa baru di salah satu universitas swasta di Jakarta. Satu bulan lagi, tepatnya bulan Agustus, ia akan memulai masa orientasinya selama satu minggu.
            Berdasarkan cerita senior – seniornya di SMA, ospek itu adalah saat – saat transisi dari masa anak SMA menjadi anak Kuliah. Dimana kamu akan diajarkan tentang disiplin waktu dan taat terhadap aturan. Tapiiii, terkadang senior suka menambahkan “hal – hal unik” di dalam ospek. Seperti bangun pagi (sekali), Tugas yang (sangat) banyak, Teriakan - teriakan (Maha Dahsyat), dan lainnya yang akan membuatmu merasa sebagai salah satu anggota avengers ketika kamu selesai orientasi dan menyadari apa yang sudah berhasil kamu lewati. Cerita – cerita itulah yang membuat Gera sedikit khawatir menghadapi ospek.
*2 minggu kemudian*
            Tinggal dua minggu lagi dan bulan Juli akan berubah menjadi bulan Agustus yang berarti Ospek semakin dekat. Gera mulai mengecek kembali list perlengkapan yang dibutuhkan untuk ospek. Tiba – tiba handphone Finsa berdering, muncul nama “Finsa” di layar handphonenya. Gera langsung saja menggeser tombol slide to answer. Belum sempat Gera mengucapkan Halo, suara dari sebrang sudah lebih dulu nyerocos “Geraaaaa…. Lo sibuk nggak hari ini? Temenin gue beli keperluan ospek dong. Gue belum beli kemeja putih, sepatu hitam, dan masih bannnnnyyyaaaakkk yang lain.” Gera tak menjawab “Halo Ger? Lo masih di situ kan?” tanya Finsa “Udah selesai neng nyerocosnya?” sahut Gera “Hehehe.. sorry. Aku over antusias Ger. Kan dua minggu lagi bakal ketemu kating – kating cakep jadi aku harus punya persiapan. Gimana lo bisa kan nemenin gue?” tanya Finsa “Hmmm… gimana ya?” jawab Gera sok mikir, mana mungkin dia menolak permintaan sahabat kecilnya itu “Ayolah Ger. Gue yang jemput lo deh ntar. Terus gue teraktir es krim. Mau ya?” bujuk Finsa. Apa??? ES KRIM?? Wah kalua sudah berurusan dengan yang satu ini kata tidak akan lebih sulit lagi untuk diucapkan oleh Gera “Yah karena gue kasian. Jadi gue temenin deh Fin.” Kata Gera “Elah lo sok ngasianin gue bilang aja lo pingin makan es krim gratis.” Sosor Finsa “Kebaca ya? Hehehehe” tawa Gera “Oke deh lo siap – siap ntar jam 11 gue jemput. Bye.” “Bye”
            Tepat jam 11 mobil Finsa sudah terparkir manis di depan rumah Gera. Setelah pamit kepada papa dan mamanya. Gera langsung masuk ke mobil Finsa. Kebetulan hari ini jalanan lenggang sehingga dalam waktu kurang dari satu jam Gera dan Finsa sudah tiba di salah satu pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Utara. Sesampainya di sana Finsa langsung masuk ke butik – butik baju untuk melihat – lihat mana yang cocok untuknya. Gera diposisikan sebagai orang yang perlu menjawab “cocok” “nggak” “lmayan” ketika Finsa menunjukkan suatu barang layaknya acara di salah satu stasiun televisi.
            Gera merasakan panggilan alam yang mengharuskannya untuk segera ke toilet “Fin, aku ke toilet dulu ya. Entar kabarin ja lo di mana ntar gue nyusul.” Gera bergegas berlari sebelum mendapat persetujuan dari Finsa. Sambil berlari, Gera membuka tasnya mencari – cari hpnya yang tiba – tiba berdering BUKKK!!! Gera mengahantam seseorang yang berjalan di depannya. Keduanya terjatuh. “Sorry. Sorry. Aku lagi buru – buru.” kata Gera kemudian berlari tanpa sempat melihat muka korbannya. “Hey, tunggu. Ini….” Lelaki itu berusah berteriak namun dia kira sia – sia karena Gera sudah berlari sangat jauh. Dalam genggaman lelaki itu terdapat gantungan kunci bertuliskan “GERA FRIANA –part of Vister University 2016/2017-“. Lelaki itu pun menyimpang gantungan kunci tersebut. Kemudian melanjutkan perjalanannya.
***
            Setelah menyelesaikan misi panggilan alamnya, Gera mencuci tangannya kemudian memperbaiki ikatan rambutnya. Ia pun membuka tasnya hendak mengambil sisir dan meyadari bahwa gantungan kuncinya hilang. “Wah, gantungan kunci gue kok copot. Hilang dimana. Yah padahal itu kan bagian dari identitas awal jadi mahasiswa dan itu harus dibawa di hari pertama ospek sebagai salah satu atribut. Arghhh.” Gera pucat pasih dan panik. Ia kembali menyusuri jalan yang ia lewati tadi dan berharap menemukan gantungan itu tapi hasilnya nihil.
            Handphone Gera berbunyi tanda ada pesan masuk. Ternyata dari Finsa “Ger, gue tunggu di Haagen dazs ya” Gera membalas singkat pesan dari Finsa “Ok” Gera melangkah gontai menuju ke gerai es krim ternama tersebut. “Lo kenapa tiba – tiba muram begitu?” tanya Finsa “Gantungan kunci gue jatuh dan ntah hilang kemana.” Jawab Gera sedih “HAH??!!!” tanpa sadar Finsa berteriak membuat orang – orang di sekelilingnya menoleh ke arahnya. “Maaf. Maaf. Saya tadi kelepasan.” Ucap Finsa sambil menahan malu
            “Kok bisa Ger? Coba lo ceritain gue” bujuk Finsa. Gera menceritakan hal apa yang terjadi dari dia meninggalkan Finsa hingga saat ini dia duduk di depan Finsa. “Wah kemungkinan gantungan lo udah ketendang – tendang tuh sama yang lewat. Gimana ya?” Finsa menaruh telunjuknya di tengah jidat menunjukkan dirinya sedang berpikir. “Udahlah Fin nggak papa kok. Yah di sini gue belajar bertanggung jawab atas kesalahan gue.” Sahut Gera “Semoga aja ada suatu keajaiban jadi tiba – tiba tu gantungan kunci bisa ketemu yah Ger.” Ucap Finsa memberi semangat “Udahlah daripada sedih – sedih mending lo traktir gue es krim.” Tagih Gera “Dasar lu situasi apapun tetap aja es krim. Hahahah.”
                                                                        ***
            Rapat baru saja akan dimulai tepat ketika Rio membuka pintu ruang rapat “Sorry, gue telat.” “Akhirnya, yang ditunggu pun tiba.” Kata Keny “Baiklah karena seluruh CO dari setiap divisi sudah lengkap rapat akan kita mulai.” Lanjut Keny. Sekitar 2 jam seluruh panitia ospek Vister University serius mengikuti rapat final untuk acara orientasi yang akn dilaksanakan 2 minggu lagi. “Saya berharap semua divisi dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan penuh dengan tanggung jawab. Sekian rapat hari ini, terima kasih atas kesediaan kalian meluangkan waktu untuk hadir. Selamat Sore.”
            Dengan berakhirnya rapat seluruh panitia pun keluar dari ruang rapat. Namun hal itu tidak berlaku untuk Rio. Selesai rapat Rio langsung menghampiri Diva sang sekretaris dan meminta daftar nama mahasiswa baru yang akan mengikuti orientasi 2 minggu ke depan. “Buat apa yo?” tanya Diva “Ada data yang gue perluin. Lo tenang aja nggak bakal ada anak yang gue santet kok. Hahahah” canda Rio “Yaelah. Awas aja kalua sampe ada anak baru yang kenapa – napa. Gue laporin lo ke polisi.” Sahut Diva “Tenang. Tenang.” Setelah beberapa saat mencari akhirnya Rio menenemukan nama yang dicarinya Gera Friana langsung saja Rio memotret bagian data itu dan mengembalikan berkasnya kepada Diva “Udah nih. Makasi Va.” Ucap Rio sambil pergi meninggalkan ruang rapat.
            Sesampainya di rumah, Rio mengeluarkan gantungan kunci dari kantong celananya dan mencocokkan nama yang tertera di gantungan kunci itu dengan data yang tadi telah dia foto. “Okeh besok gue akan balikin gantungan kunci ini” Tiba – tiba muncul rasa penasarannya untuk mengetahui siapa Gera Friana. Rio pun mencoba menelusuri Instagram Gera, kebetulan akunnya tidak dikunci sehingga Rio bisa melihat – lihat foto – foto Gera.
            Keesokan harinya Rio mengunjungi alamat yang dia dapat dari daftar mahasiswa baru kemarin. Setalh memencet bel dan menunggu beberapa saat seorang wanita paruh baya keluar dan membukakan pintu. “Siang Den, mau cari siapa ya?” “Ini benar rumahnya Gera, mbok?” “Iya Den bener. Tapi, non Geranya lagi pergi Den.” “Oh iya nggak papa mbok. Saya titip ini ya buat Gera. Makasi.” Ucap Rio kemudian berjalan menuju mobilnya “Baik Den.”
***
            Kemarin di depan Finsa Gera berhasil memasang tampang tabahnya menghadapi masalah gantungan kunci yang hilang, tapi itu hanya sementara, setelah sampai di rumah Gera kembali memikirkan masalah gantungan kunci. Ia takut terjadi hal – hal luar biasa ketika orientasi akibat kelalaiannya ini. Semalaman Gera mencoba untuk tertidur namun pikirannya tetap menolak untuk berdamai dan malah terkesan semakin menghantuinya.
            Untuk meredakan tingkat stressnya Gera memutuskan untuk pergi refreshing sejenak ke taman komplek rumahnya. “Bodoh!!! Bodoh!!! Bodoh!!! Kenapa gue bisa menghilangkan salah satu atribut berharga yang dibutuhkan untuk orientasi. Bisa jdi santapan empuk senior gue kalo begini.” Matahari semakin tinggi dan cuaca mulai terasa panas. Gera kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah dengan pikiran yang sedikit lebih tenang (masih kacau).
            Sesampainya di rumah, Gera membuka kulkas dan mengambil sekotak jus dingin kemudian menuangkannnya ke gelas. Gera berharap jus dingin itu mampu mendinginkan otaknya yang sedang panas. Mbok Darmi menghampiri Gera yang sedang duduk di ruang makan. “Non, ini ada titipan?” ujar Mbok Darmi sambil mengasurkan sebuah gantungan kunci “Makasi Mbok.” Ujar Gera sambil mengambil gantungan kunci tersebut. Ketika Gera melihat nama di gantungan kunci itu, ia langsung merasakan kebahagiaan yang tak ternilai. “Waaaaa, ini yang namanya keajaiban!! Mbok, siapa yang titipin ini?” tanya Gera antusias “Nggak tahu Non, tadi dia cuman bilang titipin ini buat Non Gera.” Jawab Mbok Darmi “Orangnya kayak gimana Mbok?” tanya Gera penasaran “Waduh Mbok lupa Non.” Jawab Mbok Darmi. Maklum saja Mbok Darmi memang mempunyai penyakit piku yang sangat akut hingga kejadian 5 menit yang lalu saja bisa hilang dari memori otaknya “Hmmm.. Ya udah deh, makasi ya Mbok.” Mbok Darmi kemudian kembali ke belakang melanjutkan pekerjaannya.
            Gera tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena berhasil mendapatkan kembali atribut ospeknya. Gera langsung mendial nomor Finsa. Gera langsung nyerocos begitu telfon diangkat.
“FINSAAAA!!!! Gue seneng banget. Ternyata keajaiban itu ada!!”
“Buset deh lo nelfon orang langsung teriak – teriak. Ada apaan??”
“Someone luar biasa mengantarkan gantungan kunci gue kembali ke tangan gue.”
“Serius Ger. Wah pantes lo senang bukan main. Siapa orangnya?”
“Nah itu dia masalahnya, Mbokku yang pikun akut tidak ingat sama sekali ciri - cirinya.”
“Wah parah Mbokmu Ger, syukur aja dia masih ingat buat nyampein tu gantungan ke elo. Hahahah. Lo harus berterima kasih banyak banyak sama tu orang Ger. Tapi, btw dia tahu darimana ya alamat rumah lo?”
DEGG…. Saking senangnya Gera dari tadi tak sempat memikirkan bagaimana cara orang itu bisa mengetahui alamat rumahnya
“Iya juga ya Fin gimana cara dia bisa tahu rumah gue. Tapi terserahlah yang penting gantungannya balik. Wkwkwkw.”
“Dasar lu mah. Inget aja kalau lo berkesempatan ketemu sama orangnya bilang terima kasih.”
“Siap Bos. Oke deh thank you udah mau dengerin kabar bahagia gue. Bye.”
“Bye.”
            Setelah menceritakan kabar bahagia itu kepada Finsa, Gera iseng memposting foto gantungan kunci itu dan mengupload ke Instagram dengan caption
Ternyata di dunia ini ada yang namanya keajaiban XD… Anyway thank you buat yang udah jadi malaikat penyelamat gue. Kalau lo cewek gue bakal jadiin lo teman gue, dan kalau lo cowok gue bakal jadiin lo pacar gue –Udah kayak sayembara negeri dongeng- Hahahahahahah
Entah apa yang ada di dalam pikiran Gera hingga membuat caption nggak jelas seperti itu.
                                                                        ***
            Siang itu, Rio sedang duduk – duduk di taman sambil ditemani segelas orange juice. Ia mengecek explore instagramnya dan penasaran dengan foto gantungan kunci yang rupanya mirip dengan gantungan kunci Vister University. Ternyata benar saja postingan itu dipost oleh Gera. Rio tertawa kecil setelah membaca caption yang ditulis Gera. Ia merasa tidak sabar untuk melihat secara langsung cewek itu.
                                                                        ***
            Pada akhirnya bulan Juli pergi dan digantikan oleh bulan Agustus. Senin, 1 Agustus 2016, seluruh mahasiswa baru Vister University berkumpul di lapangan untuk mengikuti upacara pembukaan masa orientasi. Gera datang bersama dengan Finsa dan langsung menuju ke barisan. Upacara berjalan sebagai mana mestinya, pidato singkat dari rector, pelepasan balon, dan lain sebagainya. Semua masih baik – baik saja hingga waktu dan tempat diambil alih oleh Panitia Orientasi.
            Perasaan Gera mulai tidak enak. Ia takut ini adalah awal dari “hal-hal luar biasa”. “Selamat Pagi semua!!!” sapa Mita, MC untuk sesi kali ini “PAGI!!!” balas seluruh mahasiswa baru “Baiklah untuk sesi kali ini akan ada perkenalan dari divisi – divisi yang akan membantu agar orientasi ini bisa berjalan dengan lancer hingga akhir.”
            Semua divisi memperkenalkan diri dengan ceria dan bahagia. Tapi tak berlaku bagi divisi yang terakhir yaitu Divisi Kedisiplinan. Sekitar 12 orang masuk ke lapangan dan seseorang yang sepertinya menjadi CO divisi itu mulai berbicara dengan ekspresi datar namun syarat ketegasan “Saya Rio Marlando. Kami disini bukan untuk memplonco kalian. Tapi kami disini untuk menegakkan disiplin kalian. Setiap pelanggaran yang kalian lakukan aka nada sanksi yang didapat. Terima Kasih.” Bisa dipastikan semua mata mahasiswi tak berkedip melihat seseorang yang berdiri di mimbar saat ini. Badan atletis, tinggi, berkulit putih, keren, pokoknya nggak akan cukup kata – kata untuk menggambarkan betapa wownya Kak Rio.
            Hari pertama orientasi pun berakhir. Hari ini hanya diisi dengan perkenalan, pembagian kelompok, dan tugas – tugas untuk hari selanjutnya. Gera cukup lega karena hari in masih masuk kategori normal dan mampu ia hadapi.
            Dalam perjalanan pulang Finsa langsung antusias membahas kating – kating ganteng yang dia berhasil ditangkap matanya hari ini. “Ger coba lo lihat ya ampun mat ague seger banget ngeliat pemandangan kayak gitu. Apalagi Kak Rio bagian divisi kedisiplinan. Sumpah meltingggg… Tapi Kak Dion, pendamping kelompokku juga nggak kalah cakep. Belum lagi Kak Ilham bagian dokumentasi. Waaaaaa…. Semangat gue orientasi kalo gini. Nggak sia – sia perjuangan gue nyari baju – baju keren buat nunjang penampilan.”
            “Huffff… Perjuangan lo yang hamper membuat “nyawa” gue melayang. Ya syukur aja sih hari pertama bisa dilalui dengan selamat. Hari selanjutnya? Semua masih rahasia.” Jawab Gera “Lo dendam sama gue ya?” tanya Finsa “Ya nggak lah orang itu salah gue. Becanda kali.” Jawab Gera tak enak hati. “Eh, by the way lo kecantol sama kakak yang mana?” tanya Finsa mengalihkan topik pembicaraan “Nggak ada.” Jawab Gera datar  “Hello Gera syantik!! Serius nggak ada satu pun?” tanya Finsa heboh “Iya serius gue mah biasa aja. Baru hari pertama juga gimana mau tiba – tiba kecantol sama kating.” Tak berapa lama mobil berhenti di depan rumah Gera dan Finsa langsung pamit pulang.
***
            Walaupun hanya bertemu sekali atau tepatnya tidak sengaja bertemu karena tabrakan di mall waktu itu, Rio merasa penasaran terhadap cewek yang bernama Gera itu. Hari pertama orientasi sudah selesai dan dia belum berhasil menemukan cewek itu. Entah kenapa perasaannya merasa penasaran terhadap cewek tersebut. Besok gue harus bisa nemuin dia batin Rio.
***
            Sesampainya di kamar Gera membuka buku catatannya dan melihat list apa saja yang harus dibawanya besok.
-          Berkumpul di lapangan jam 05:00 (TEPAT WAKTU)
-          Berpakaian kemeja putih dengan celana kain hitam
-          Sepatu formal warna hitam
-          Untuk perempuan rambut diikat satu
-          Membawa buku catatan dan alat tulis
-          Membawa atribut Vister University (gantungan kunci, almamater, pin)
“Ah, besok udah nggak bisa bangun siang, jam 5 harus udah di kampus berarti gue harus bangun jam 3 siap – siap 30 menit. Berangkat ke kampus butuh waktu 1 jam. BOOM!!!” keluh Gera. Satu persatu peralatan dimasukkannya ke dalam tas ranselnya. Gera mengecek kembali takut bila ada sesuatu yang tertinggal. Selesai mempersiapkan keperluan besok. Gera mandi kemudian membaringkan badannya di atas kasurnya yang empuk.
***
            Pukul 04:00 panitia sudah berada di sekolah dan melakukan briefing pagi. Yap, panitia adalah orang yang datang paling awal dan pulang paling akhir. Selesai briefing seluruh panitia kembali ke tempat  divisinya masing – masing. Divisi kedisiplinan sudah bersiap di depan pintu gerbang untuk mengawasi para mahasiswa baru. Rio sebagai ketua memutuskan bahwa untuk hari pertama ini dia yang akan berada di gerbang bersama dengan Tiara dan Gandi. Sebenarnya ada alasan kuat dibalik ini, Rio ingin menemukan gadis itu.
            Pukul 04:47 seorang perempuan muncul melewati gerbang dan Rio merasa familiar dengan wajah itu. Sepertinya itulah perempuan yang ia cari. Mahasiswi itu berlalu melewati gerbang menuju lapangan sambil setengah berlari.
                                                                        ***
            Syukur saja hari ini, Tuhan masih menolong Gera. Tadi pagi dia sudah bersiap – siap berangkat pukul 3:30. Sampai sekitar 10 km dari rumahnya dia baru ingat kalua lupa mengikat rambut dan tidak membawa ikat rambut satu pun. Ia pun buru – buru mampir ke sebuah mini market untuk membeli ikat rambut. Syukurlah dia berhasil sampai di kampus tepat waktu atau ia akan menjadi santapan divisi kkedisiplinan.
            Tepat pukul 05:00 pintu gerbang ditutup oleh divisi kedisplinan. Dari jauh Nampak beberapa mahasiswa berlari agar bisa masuk ke kampus namun semua sia – sia karena tidak ada permakluman sedikit pun untuk yang melanggar aturan ospek. 15 menit kemudian mahasiswa yang datang terlambat diberikan kesempatan masuk namu harus berdiri di depan menghadap ke teman – teman yang lain.
            “LIHAT TEMAN KALIAN!! INI YANG NAMANYA MAHASISWA? YANG DATANG SAJA TIDAK BISA TEPAT WAKTU!! BEGINI MODEL KALIAN MAU KULIAH? MANA DISIPLIN KALIAN? BUANG SIFAT SMA KALIAN INI UNIVERSITAS BUKAN SMA LAGI!! BERPIKIR YANG DEWASA JANGAN KAYAK ANAK KECIL!!!” teriak Kak Tiara. Wajar saja kakak divisi kedisiplinan memarahi mereka karena kesalahan mereka yaitu datang terlambat. Mereka pun mendapatkan hukuman untuk push up sebanyak 25 kali sit up sebanyak 25 kali dan lari keliling lapangan 10 kali.
            “JANGAN ADA YANG DATANG TERLAMBAT LAGI BESOK!! MENGERTI??” teriak Kak Tiara “MENGERTI KAK” jawab seluruh mahasiswa baru. Kakak divisi kedisplinan yang lain sibuk menghitung dan mengawasi mereka yang menjalani hukuman dari kesalahan yang mereka lakukan. “Sekarang dalam hitungan 10 kalian harus sudah sampai di grup spot kalian. 1… 2…. 3….” Perintah Kak Gandi. Semua mahasiswa langsung saja berlari sekencangnya agar bisa sampai di grup spot atau mereka akan mendapatkan hukuman bila terlambat.
            Gera adalah bagian dari kelompok 21 dengan kakak pendampingnya Kak Tian dari angkatan 2014 dan Kak Sofia dari angkatan 2015. “Okeh adik – adik kemarin kita sudah kenalan. Jadi hari ini kita akan bahas yel – yel untuk kelompok kita. Kira – kira ada yang punya ide?” kata Kak Tian “Keluarin aja apa ide kalian nanti kita diskusiin lagi nggak usah malu – malu.” Tambah Kak Sofia. Semua angota kelompok berpikir kira – kira seperti apa yel – yel yang harus dibuat. Tiba – tiba, ada yang menyikut Gera ternyata itu Vio. Gera kaget tapi syukurnya bisa mengendalikan diri sehingga tidak berteriak “Kenapa Vi?” tanya Gera “Lihat tu Kak Rio cakep banget.” Kata Vio sambil senyam senyum “Jadi lo nyikut gue cuman buat bilang itu aja? Mending lo bantu mikirin yel – yel deh Vi.” Jawab Gera “Iya gue bantuin abis gue puas cuci mata ya.” Sahut Vio. Satu persatu ide muncul dan disusun agar bisa menjadi yel – yel untuk kelompok 21.
            Setelah sesi yel – yel, mahasiswa di arahkan untuk naik ke aula di lantai dua. Kakak – kakak divisi keamanan sudah berteriak – teriak agar semua mahasiswa lari lebih cepat ke aula. “LARI DEK!!” “BURUANN!!!” “LARI!! JANGAN JALAN KAYAK SIPUT!” “LAMA SEKALI KALIAN! LARI!! INI BUKAN FASHION SHOW!!” segala macam teriakan dielukan oleh kakak divisi kedisplinan.
            Gera berlari mengikuti barisan yang telah dibuat kelompoknya. Namun tiba – tiba ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. “Awww..” teriak Gera. Kak Sofia langsung menghampiri Gera dan mengisyaratkan Kak Tian agar tetanp menemani grup ke aula. “Apanya yang luka Ger?” tanya Kak sofia “Awww.. Shhh.. Kayaknya lututku Kak. Sama kakiku agak terkilir.” Jawab Gera. “Kamu masih bisa jalan atau gimana?” tanya Kak Sofia panik “Bisa kok Kak tapi tolong bantuin ya.” Pinta Gera. Gera mencoba berdiri namun sepertinya kakinya tak kuat menompang berat badannya. Dari kejauhan Nampak seorang kakak berlari mendekat. Teryata itu adalah Kak Rio. “Kenapa Fia?” tanya Rio “Ini kak, Gera tadi kesandung terus jatuh mau aku bawa ke medis tapi kayaknya dia nggak bisa berdiri.” Jelas Sofia. Saat itulah Rio baru menyadari cewek yang terjatuh itu adalah cewek yang akhir – akhir ini sering bermain – main di pikiran dan hatinya. Sontak saja timbul rasa khawatir di benak Rio walaupun dia hanyalah kakak tingkat gadis itu.
            “Aku gendong nggak papa ya?” tawar Rio. Entah bermacam – macam perasaan timbul di benak Gera mendengar tawaran Kak Rio. Gera hanya mengangguk pelan. Kak Rio pun menggendong Gera seorang diri seperti adegan – adegan di ftv. Kak Sofia mengikuti di belakang sambil membawa ransel Gera. Beratus – ratus pasang mata terperangah melihat adegan kakak komisi kedisplinan kece menggendong mahasiswa baru. Ada yang berharap bisa bertukar posisi dengan cewek itu dan yang lainnya menyatakan kekaguman terhadap kakak itu. Beda halnya dengan Gera, ia merasa malu sekali harus digendong seperti itu melewati tengah lapangan. Namun, di sisi lain dia juga tidak mampu untuk berjalan di atas kakinya sendiri.
            Sesampai di ruang medis, Rio lalu membaringkan Gera di atas ranjang. “Makasi banyak Kak.” Ucap Gera sebelum Rio meninggalkan ruangan itu “Iya. Sama – sama Dek.” Balas Rio. “Makasi banyak ya Kak.” Kata Sofia “Iya Dek. Dijagain ya tuh adiknya.” Pesan Rio “Siap Kak.” Balas Sofia. Setelah itu, Rio segera pergi ke aula untuk melanjutkan tugasnya.
***
            “Lo kemana aja Yo baru sampe sini?” tanya Gandi “Sorry, tadi gue bantu anterin maba yang jatuh ke medis. Dia nggak bisa jalan terus tinggal kakak pendamping yang perempuan aja jadi gue bantuin gendong ke ruang medis.” Jelas Rio “Widiiihhhh… menang banyak nih Yo.” Goda Gandy “Apaan sih lo gue mah bantuin orang ikhlas nggak pamrih kayak lo bantuin cewek minta imbalan id line. Hahahaha.” Balas Rio “Sialan lo.” Sahut Gandi malu – malu.
            Divisi Kedisplinan berkeliling untuk mengawasi tingkah laku mahasiswa baru. Kalau – kalau sampai ada yang ketiduran atau asik ngobrol sendiri siap – siap aja namanya dicatat oleh divisi kedisplinan dan tentunya akan mendapat “perlakuan khusus”.
***
            Kebetulan hari ini Finsa yang nggak bawa mobil jadi dia nebeng sama Gera. Berhubung kaki Gera cedera jadi kursi kemudi diambil alih Finsa. “Ger lo beruntung banget bisa dapat kesempatan digendong sama Kak Rio sumpah adegan itu sweet banget. Tadi mahasiswi yang lain pasti pada masang muka mupeng termasuk gue.” Kata Finsa “Kalau bisa gue nggak mau kalik dapet cedera terus digendong gitu. Malu banget tau.” Keluh Gera “Idih ngapain malu orang itu kesempatan emas yang jarang – jarang bisa didapetin.” Jelas Finsa “Btw, lo bawa aja mobil gue pulang terus besok pagi jemput gue lagi ya.” Pinta Gera “Okeh, Non Gera. Besok aku jemput jam 3:30 on time.”
***
            Tak bisa dipungkuri ada rasa bahagia yang menyusup ke dalam hati Rio hari ini. Dia bukan hanya bisa menemukan cewek yang bernama Gera namun juga bisa berinteraksi secara langsung walaupun dalam kondisi yang tidak baik. Rio bimbang ingin menanyakan kabar Gera melalui LINE namun ia takut Gera akan menyangka ia sebagai orang yang SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) tak bisa dipungkiri Rio memang mengkhawatirkan kondisi Gera. Tetapi statusnya sebagai ketua divisi kedisplinan setidaknya harus tetap dijaga kewibawaannya hingga masa ospek berakhir. Dengan alasan itu Rio pun membatalkan niatnya untuk menanyakan kondisi Gera. Rio hanya bisa berdoa semoga Gera baik – baik saja.
***
            Seperti biasa pagi hari menjadi sesi untuk komisi kedisplinan. Semua anak – anak yang melanggar peraturan ditindak, mulai dari yang terlambat, tidur saat seminar, ataupun tidak membawa atribut lengkap. Sesi hari ketiga ini bisa dibilang cukup ringan karena hanya akan diisi oleh perkenalan club – club yang ada di Vister University.
            Masih seperti kemarin kondisi kaki Gera masih belum pulih sehingga untuk berjalan masih perlu digandeng oleh Kak Fiona. Hanya perasaan Gera, atau memang Kak Rio Nampak memperhatikan Gera dari kejauhan. Tak mau merasa kepedean Gera segera menghapus pikirannya yang sudah melambung jauh kea lam imajinasi.
            Syukurlah dia masih bisa mengikuti orientasi walaupun dalam kondisi seperti itu batin Rio dalam hati tanpa Rio sadari ia pun kelepasan tersenyum. Saat acara perkenalan club pun Rio mengusahakan sebisa mungkin agar posisinya mengawasi area dekat dengan Gera
***
            “Ger, Kak Rio itu cakepnya nggak nahan banget ya?” kata Vio tiba – tiba. Gera sontak kaget, ya memang tak bisa dipungkiri Kak Rio itu di atas rata – rata tapi nggak harus sampe segininya kali ya tiap hari memuja – muja Kak Rio. “Hehehe.. Lo kesambet banget sih sama dy Vi?” jawab Gera seadanya “Gue iri ah sama lo kemaren digendong gitu sama Kak Rio.” Ujar Vio sambil memonyongkan bibirnya “Elah, sini tukeran posisi sama gue. Gue mah ogah cedera kayak gini.” Serocoh Gera. Ketika acara sudah dimulai Gera dan Vio berhenti berbicara karena salah – salah nama mereka akan masuk dalam “list neraka”`
***
            “Ger koleksi kakak cakep gue udah nambah tapi fisik gue mulai lelah karena ospek ini.” Curhat Finsa dalam perjalanan pulang “Udah sbar aja Fin besok udah hari ke empat main game gitu terus tinggal gala dinner. Pas gala dinner sampe puas dah tu lo cuci mata.” Kata Gera memberi semangat. “Iya bener iya. Demi gala dinner gue bersemangat untuk ngikutin ospek ini. Hahaahah. Kira – kira sekacau apa wujud kita besok gara – gara game?” tanya Finsa “Nggak tahu juga sih Fin, Tapi kayaknya besok bakal jadi sesi paling seru selama orientasi.” Jawab Gera “Emang besok lo ikut Ger main game? Kaki lo udah mau bersahabat?” tanya Finsa “Udah koku dah nggak terlalu sakit. Gue nggak mau lewatin sesi yang paling seru ini.”
***
            Pagi itu pukul 4:45, kondisi lapangan sudah ramai mungkin mahasiswa baru sudah mulai sadar dan merubah sikap mereka atau mulai sadar bahwa hukumannya melahkan. Hahahah. Sesi divisi kedisplinan pagi ini dipimpin oleh Kak Yogi. “SIAPA YANG MERASA TIDAK ENAK BADAN ANGKAT TANGAN??” Beberapa orang mengangkat tangannya “KARENA KEGIATAN HARI INI MEMBUTUHKAN FISIK YANG KUAT BAGI YANG MERASA TIDAK KUAT BISA ANGKAT TANGAN!! YANG BENAR _ BENAR TIDAK ENAK BADAN BUKAN YANG PURA - PURA!!! Rio berjalan menelusuri barisan – barisan dan akhirnya berhenti di samping Gera “Kamu yakin bisa ngikutin kegiatan hari ini?” tanya Rio “Bisa Kak.” Jawab Gera yakin “Jangan paksain diri kalau merasa nggak bisa lebih baik istirahat.” Pesan Rio sambil berjalan menelusuri barisan – barisan yang lain.
            Vio kemudian berbisik dari belakang “Ger, kayaknya Kak Rio care banget dah sama kamu.” “Nggak Vi emang orangnya baik gitu kok sama yang lain juga.” Jelas Gera asbun “Hmmmm…” gumam Vio tidak jelas.
            Pukul 07:00 acara dimulai. Setiap kelompok telah dibagikan secarik krtas yang berisi kode untuk menuju k epos – pos game yang ada. Untuk sesi ini setiap kelompok tidak didampingi oleh kakak pendampingnya dan ketua kelompok yang harus bertanggung jawab dengan keadaan timnya.
            Kelompok 21 langsung berkumpul membentuk lingkaran untuk memecahkan kode tersebut. Kode pertama berhasil dipecahkan yaitu kolam pancuran di depan gedung S. Semua anggota pun berlari menuju ke tempat tersebut. Di pos itu mereka diberikan beberapa sedotan untuk disusun menjadi Menara setinggi – tingginya dalam waktu 3 menit. Untungnya ada Dika, sanggota grup yang sering melakukan percobaan – percobaan “aneh”. Ia memberi instruksi dan yang lain tinggal menjalankan. Yay berhasil di pos ini kelompok 21 mendapatkan poin penuh. Mereka pun berlanjut ke pos selanjutnya. Total ada 12 pos yang harus mereka kunjungi untuk sesi hari ini.
            Selama mereka berjalan dari satu pos ke pos lain Gera merasa seperti ada yang mengawasi namun ketika ia melihat ke sekeliling hanya ada orang – orang yang berlalu lalang yang tidak ia kenali. Gera membuang jauh – jauh rasa curiganya itu dan memilih untuk focus berlari dengan kelompoknya ke pos 11.
            Karena terlalu difirsir tiba – tiba kaki Gera lemas dan ia terjatuh. BUKKKK!!! Sontak kakak – kakak yang ada di pos itu menghampirinya “Kenapa Dek?” tanya seorang kakak berkacamata “Nggak tahu Kak. Kakiku tiba – tiba lemas.” Jawab Gera “RIO!!! Tolong dong bantuin nih bawa ke medis!” teriak kakak itu. Mendengar nama Rio disebut Gera langsung panic ia tidak mau adegan kemarin terulang dan ia menjadi tontonan massa “Nggak papa ko Kak aku masih bisa ikut sesi ini cuman istirahat bentar aja.” Jawab Gera gelagapan “Kenapa Ric?” tanya Rio “Adek ini barusan jatuh terus aku suruh ke medis tapi dia nggak mau.” Jelas Eric “Eh kamu lagi. Yakin masih kuat ikut sesi seelanjutnya?” tanya Rio “Iya Kak. Tanggung lagi satu pos aja.” Jawab Gera “Dia masih mau ikut tu Ric. Kalau gitu aku balik ngawasin yang lain ya.” Kata Rio. Seperti itulah Rio ketika di depan Gera berlagak dingin dan bersikap biasa saja tapi jujur di dalam hatinya ia khawatir.
            Setelah sesi game hari itu, seluruh mahasiswa baru dikumpulkan di lapangan untuk upacara penutupan. Di sini lah sesi panitia meluapkan segala kekesalannya kepada tindak tanduk mahasiswa baru. Klimaks. Panitia juga meminta maaf atas kekurangan atau kesalahan yang dilakukan oleh panitia. Selesai acara itu semua berhamburan sibuk mencari kakak – kakak untuk diajak berfoto. Tak ketinggalan Vio, “Ger temenin aku minta foto ke Kak Rio dong.” Gera tak enak bila harus menolak sehingga dia pergi menemani Vio. Saat menemukan Kak Rio bisa dilihat betapa banyak antrian yang mau berfoto bersamanya. Gera juga menemukan ada Finsa di dalam antrian tersebut. “BUSET!! Antiannya.” Ujar Gera “Namanya perjuang Ger demi kakak kece. Temenin gue ya?” pinta Vio. Gera nggak punya pilihan lain.
            5 menit… 10 menit… 15 menit… dan akhirnya tiba juga giliran Vio “Nih Ger, yang bagus ya fotonya.” Kata Vio. Gera hanya mengangguk sambil tersenyum “Minta foto ya Kak.” Ujar Vio pada Rio. Rio membalasnya dengan senyuman. Perhatiannya teralih pada perempuan yang bertugas sebagai fotographer “1.. 2… 3…. 1…2…3… Udah.” Kata Gera “Makasi banyak Kak.” Kata Vio pada Rio. “Sama – sama Dek” balas Rio.
            Akhirnya setelah rapat evaluasi, panitia bisa kembali ke rumah pukul 1 pagi. Sudah tidak perlu ditanyakan apakah mereka lelah atau tidak jawaban sudah mutlak SANGAT LELAH. Walaupun fisiknya sangat lelah tetapi sampai di rumah Rio tidak lantas tertidur. Ia dibuat semakin penasaran oleh sikap Gera. Bukan kepedean namun faktanya di saat hamper seluruh mahasiswi baru berlomba – lomba untuk meminta foto dengannya. Gera malah bersikap biasa saja dan hanya memposisikan diri sebagai fotographer. Menurut Rio, itu salah satu kejadian lucu selama orientasi. Karena sekarang masa orientasi sudah selesai jabatannya sebagai ketua divisi kesdisplinan sudah tanggal yang berarti dia bisa kembali menjadi dirinya sendiri. Rio membuka foto di ponselnya kemudian membuka line dan meng-invite line id Gera. Tak cuman sampai di situ Rio pun memberanikan diri memulai obrolan dengan Gera.“Hi :D Gimana kondisi kakinya udah enakan?” Rio sudah tahu pasti bahwa chat itu tidak mungkin dibalas langsung. Manusia apa yang belum tidur jam segini kecuali mahasiswa kejar deadline dan panitia ospek Vister University. Rio pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pergi tidur
***
            Tadi sewaktu perjalanan pulang Gera sudah berencana akan langsung tidur sampai besok pagi tapi apa mau di kata otaknya berkehendak lain. Benar sih tadi sepulang dari kampus ia langsung tertidur namun ntah apa yang terjadi ia tiba – tiba terbangun di pagi hari jam 1 dan tak bisa tidur lagi. Gera pun memutuskan untuk mengecek hpnya daripada ia melamun tidak jelas. Benar saja ketika dia mengecek LINE ada pesan dari Rio Marlando .“Hi :D Gimana kondisi kakinya udah enakan?” DEG!! Sejuta perasaan berkelebat di hati Gera. Dia bingung mengapa Kak Rio bisa tiba – tiba menghubunginya. “Hehehe.. Udah baikan kok Kak.” Balas Gera.
***
            Awalnya Rio memutuskan akan langsung tidur namun ia iseng mengecek Hpnya terlebih dahulu dan keisengannya berbuah hasil dia mendapat balasan dari Gera.
“Kok belum tidur Ger? Nggak capek orientasi?”
“Tadi udah tidur tapi nggak tahu kenapa tiba – tiba kebangun Kak.”
“Oh gitu. Besok datang kan Gala Dinner?”
“Iya datang kok Kak. Kakak kenapa juga belum tidur?”
Rio tentunya bahagisa karena akhirnya chat ini lebih hidup ada dialog dua arah bukan hanya dia yang diposisikan sebagai reporter untuk bertanya.
“Panitia baru bubar jam 1 Dek, jadi kakak baru selesai beres – beres.”
1 menit . . .  10 menit . . . . . 30 menit  . . . . .
Tak kunjung ada jawaban dan Rio pun memutuskan untuk beristirahat.
            Sekitar jam 10 Rio bangun dari tidur nyenyaknya. Ia langsung mengecek hp namun nihil apa yang dicarinya tidak ada. Ada sedikit rasa kecewa namun dia berusaha berpikir positif bahwa Gera belum bangun.
***
            Sinar matahari memasuki sela – sela ventilasi kamar Gera. Sepertinya hari sudah sangat siang. Gera melihat ke arah jam dinding benar saja jam sudah menunjukkan pukul 11:30. Seperti remaja kebanyakan hal pertama yang dilakukan setelah bangun tidur adalah mengecek HP. Sudah tidak berlaku lagu Bangun tidur k uterus mandi tidak lupa menggosok gigi . . . . Gera terkejut ketika menyadari ternyata chat yang semalam dengan Kak Rio itu bukan mimpi tapi nyata. Buru – buru dia membalas chat Kak Rio“Maaf kak semalam ketiduran. Heheheh… Capek banget pasti ya kak jadi panitia?”
***
Drrttttt… Drrrtttt…
Hp Rio bergetar tanda ada notifikasi yang masuk. Setelah menghabiskan makan siangnya Rio segera mengecek hpnya. Dari siapa message yang masuk ke hpnya. Syukurnya sesuai dengan harapan, Rio mendapat balasan dari Gera. Gue kira gue bakal dikacangin batin Rio.
“Ya gitu jadi panitia capek tapi seru kok. Trust me hahahaha. Hayo baru bngun ya?”
“Iya sih seru emang jadi panitia Kak. Hehehe… Nggak kok Kak, cuman hpnya aja gitu yang baru bangun XD”
Sepertinya Gera sudah mulai merasa nyaman berbalas pesan dengan Rio.
“Ah nggak percaya Dek kalau anak jaman sekarang bangun nggak langsung turn on hp wkwkwkwk…”
“Iya deh Kak iya ngaku. Aku baru menatap indahnya dunia wkwkwkk.”
“Hmmmm… Ngaku juga kan.”
“Hehehehe…. Iya Kak.”
Rio belum mau berhenti chat dengan Gera namun dia bingung topik apa yang harus dibahas lagi. Akhirnya dengan berat hati dia harus mengakhiri chat itu
“Oke deh Dek. See you tonight yah.”
“Okay kak :D”
***
            Finsa datang sekitar jam 4 sore ke rumah Gera untuk memulai persiapan mereka menghadiri Gala Dinner. Gera yang dasarnya jarang berdandan tentunya sangat malas melakukan hal ini tapi dia juga tidak mau terlihat saltum di acara tersebut. Beda halnya dengan Finsa, dia terlihat sangat antusias untuk acara mala mini. Energinya untuk mengikuti acara malam ini berkali – kali lipat banyaknya dibanding sesi – sesi sebelumnya.
            Dua jam kemudian mereka sudah siap dengan style masing – masing. Finsa dengan stylenya yang cewek banget gaun panjang berwarna gold, high heels (7 cm) dan riasan wajah yang tak kalah menawan. Gera dengan stylenya yang simple gaun selutut berwarna putih dan wedges serta sapuhan make up tipis. Sekarang mereka sudah siap untuk berangkat ke Gala Dinner. Pak Jono juga sudah siap mengantar kedua putri itu menghadiri acara Gala Dinner
***
            “Gue deg – degan Ger.” Celoteh Finsa. “Yaelah lu kayak mau resepsi kawinan aja pake acara deg – degan.” Sahut Gera “Yaelah lu mah.” Tak berapa lama mobil mereka pun sampai di pelantaran parker sebuah hotel berbintang. Finsa bersama dengan Gera masuk ke dalam hotel kemudian naik lift menuju lantai 3. Ketika pintu lift terbuka nampak panjang sekali antrian yang mengisi buku tamu. Dekorasi dengan warna gold and silver menambah kesan mewah acara Gala Dinner tersebut. Tiba giliran Finsa dan Gera mengisi buku tamu. Setelah selesai mengisi buku tamu mereka berfoto di photo booth. Saat berjalan masuk ke ballroom kebetulan mereka berpapasan dengan Kak Dion “Hi! Kamu Finsa kan?” sapa Kak Dion “Eh, Kak Dion, Hy! Iya aku Finsa Kak!” jawab Finsa “Waw, kamu cantik banget malam ini.” puji Kak Dion “Makasi Kak. Kakak juga ganteng malam ini.” Balas Finsa malu – malu. Obrolan mereka berlanjut dan Gera hanya berdiri diam seperti kambing congek. Gera pun memutuskan untuk masuk terlebih dahulu daripada kelihatan seperti babu atau obat nyamuk di situ. Tak lupa Gera mengirim line kepada Finsa memberi tahu ia masuk ke dalam duluan.
            Sebenarnya tidak ada perubahan yang mencolok berada di luar ataupun dalam tetap saja ia berdiri sendirian. Tapi tak berapa lama Gera merasa ada seseorang yang berdiri di dekatnya ketika ia mengangkat kepalanya benar saja ada Kak Rio berdiri tepat di depan. “Aduh kakak bikin kaget aja.” Ujar Gera “Kamu cantik banget Ger.” Puji Rio “Biasa aja kali Kak. Heheh” balas Gera “Aku mau ngobrol sebentar sama kamu bisa?” tanya Rio
            DEG!! Jantung Gera seakan berhenti berdetak. Kira – kira hal apa yang mau dibicarakan oleh Kak Rio. “Gimana Ger, bisa?” tanya Rio lagi “Iya, Kak” jawab Gera ragu. “Ya udah kita ngomongnya di luar aja ya di sini terlalu bising.” Ajak Rio. Mereka berdua pun meninggalkan ballroom dan  berjalan ke arah balkon.
“Mau ngomongin apa Kak?” tanya Gera
“Aku mau menagih sesuatu Ger?”
“Nagih apa Kak?” tanya Gera bingung
“HEY KALIAN!! Ngapain disana berdua sini masuk ikutin acara. Acara udah mau mulai.” Teriak Heru
“IYA! IYA!” sahut Rio
“Ya udah nanti aja dilanjutin obrolannya mending kita masuk daripada ntar ada yang mikir macam – macam. Hehehe.” Ajak Rio
            Acara diawali dengan sambutan dari rector kemudian hiburan – hiburan dari angkatan 2016, 2015, 2014, maupun alumni sambil menikmati makan malam. Jujur Gera tidak begitu menikmati acara karena masih penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Rio. Pada akhirnya sampailah mereka di akhir acara.
            “Ya sampailah kita di puncak acara yang ditunggu – tunggu. Kami akan mengumumkan KING and QUEEN Vister University Orientation 2016!!” ujar Pandu “Yak benar sekali Pandu di sini kita sudah mempunyai nama KING and QUEEN 2016.” Kata Devina “Tanpa mengulur waktu lagi KING Vister Universty Orientation 2016 adalahhh DIMAS GALANG RAHARJA. Tepuk tangannya semua.” Kata Pandu “Seorang king tentunya nggak lengkap yan Ndu kalua nggak ada queennya jadi QUEEN Vister University Orientation 2016 adalah QUINSA DELECIA. Tepuk tangan yang meriah guys.” “Kepada ketua panitia orientasi kami persilahkan untuk memberikan hadiah kepada KING dan QUEEN kita.”
“Selanjutnya ada apa lagi nih Dev?” tanya Pandu
“Hmmm, ternyata untuk tahun ini kita ada satu nominasi lagi yaitu THE MOST FAVOURITE COMMITTEE!! Kira – kira siapa ya?”
“Kayaknya mahasiswi semua pada satu suara ni neriakin satu nama.” Kata Pandu
Kak Rio… KAK RIO… KAK RIO!!!
“Langsung aja ya NDU  1 2 3 THE MOST FAVOURITE COMMITTEE jatuh kepadaaaaaaaa RIO MARLANDO.”
YAAYAYYY………UUUUUU…..KAK RIOOO……..WE LOVE YOUUUU……WAAAAWWW……….YEEEE. 
Suara teriakan saling sahut menyahut kala nam RIO MARLANDO disebutkan sebagain THE MOST FAVOURITE COMMITTEE
“Kepada Kak Rio dipersilahkan naik ke atas panggung.” Kata Pandu
“Gimana ni Kak perasaannya bisa jadi the most favourite committee 2 tahun berturut – turut?” tanya Devina
“Pertama – tama akum au ngucapin terima kasih untuk yang udah milih aku. Aku juga nggak tahu kenapa bisa kepilih jadi most favourite committee. Yah intinya perasaannya pasti senang lah ya bisa dapat penghargaan seperti ini.” Kata Rio
“Baiklah. Kak ada yang nitip pertanyaan nih Kak Rio masih available apa nggak?” tanya Pandu
“Kalau masalah itu privacy ya adek – adek.” Jawab Rio
YAHHHHH…… Atmosfer kekecewaan langsung muncul di dalam ballroom itu
“Kak kasian nih adik – adiknya kecewa gitu. Hahahaha. Kode – kode dikit lah kak.” Goda Pandu
“In Progress” Jawab Rio
“Udah ya adik adik dapat kan jawabannya in progress berarti kalian harus mencari target yang lain. Hahahahaha.” Kata Pandu
            Acara pun selesai sekitar pukul 12 malam, semua mahasiswa sudah berjalan menuju pelataran parker. Namun tidak dengan Gera. Ia masih menunggu penjelasan dari Rio. Finsa sudah cabut duluan diantar pulang sama Kak
“Kamu kok belum pulang?” tanya Rio
“Aku butuh penjelasan yang jelas tentang yyang tadi mau kakak omongin.”
“Oh soal itu. Jadi kakak mau nagih janji kamu?”
“Seingatku aku nggak pernah janji apa – apa sama kakak. Aku baru juga kenal sama kakak 5 hari.”
“Ya mungkin kamu baru kenal aku 5 hari tapi aku udah kenal kamu sejak 2 minggu sebelum ospek.”
“HA?? Kok bisa Kak.” Tiba – tiba Gera merasa mengetahui sesuatu yang janggal
“Waittt…. Waittt….. jangan bilang orang yang aku tabrak waktu itu kakak?” tanya Gera
“Yap tebakanmu jitu sekali. Dan?”
“Dan apa lagi.”
“Dan yang ngembaliin gantungan kunci itu ke rumah kamu adalah aku.”
Gera sontak terkejut
“Ya ampun jadi selama iniiii orang yang aku cari itu kakak? Makasi banget ya kak kalua kakak nggak balikin gantungan ini ke aku bisa habis aku dari hari pertama ospek.”
“Iya sama-sama.So?”
“So apaan lagi kak?”
“Coba kamu buka postingan kamu di insta tentang gantungan kunci dan baca captionnya.”
Gera membuka hpnya dan membaca caption absurd yang dia buat itu
Ternyata di dunia ini ada yang namanya keajaiban XD… Anyway thank you buat yang udah jadi malaikat penyelamat gue. Kalau lo cewek gue bakal jadiin lo teman gue, dan kalau lo cowok gue bakal jadiin lo pacar gue –Udah kayak sayembara negeri dongeng- Hahahahahahah” Gera hanya bisa tertawa renyah selesai membaca caption anehnya itu. Ia jadi salah tingkah.
“Gimana??” tanya Rio
“Gimana ya Kak? Aku jadi bingung sendiri. Efek kelebihan hormon endorphin jadi nggak mikir langsung nulis caption aja.” Sahut Gera asal
“CIEEE YANG IN PROGRESS!!!” beberapa panitia yang berjalan keluar gedung meneriaki Rio
“Gini aja ya Ger, aku mau jujur terlepas dari apapun aku emang punya perasaan buat kamu. Ntah kenapa aku juga nggak tahu padahal waktu perkenalan sangat singkat dan accidentally. Mungkin kamu merasa aneh saaat orientasi, merasa ada yang ngkutin atau bahkan merasa kebetulan sekali aku selalu ada ketika kamu susah. Sebenarnya, itu semua bukan kebetulan tapi itu planning aku supaya aku bisa jagain kamu. Aku tahu untuk perempuan mungkin waktu 5 hari terlalu singkat buat mereka memberikan rasa sayang untuk orang lain mungkin mereka butuh waktu yang lebih lama. Dan aku siap nunggu sampai kapan kamu merasa cocok. Nggak perlu kamu jawab sekarang. Satu hal yang kamu harus janji sama aku apapun yang terjadi kita akan tetap jadi teman.” Rio berhasil menumpahkan seluruh perasaannya
“Kak, aku adalah orang yang nggak mudah untuk percaya sama orang lain apalagi dalam waktu yang sesingkat ini. Aku juga nggak tahu kenapa aku ngerasa nyaman ketika chat sama kakak. Biasanya aku pasti akan menghindari orang tersebut. Tapi aku juga belum yakin dengan perasaanku. Jadi, daripada nantinya kita saling menyakiti lebih baik kita saling mengenal lebih jauh dulu ya Kak.” Balas Gera
“Okeh aku setuju sama kamu. Udah malam ni aku antar pulang ya?” tawar Rio
“Boleh Kak. Terima kasih untuk segalanya yang udah kakak lakuin untuk aku.” Ucap Gera sambil tersenyum.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recycle Cinta

AUTHOR’S POV             “….. Sudah tak bisa dipungkiri jumlah sampah yang ada di Indonesia ini. Mulai dari limbah rumah tangga, pabrik...