Rabu, 16 Agustus 2017

Antara Prinsip dan Realita


AUTHOR’S POV
Seperti anak SMA kebanyakan yang baru saja lulus dari bangku sekolah dan sedang menikmati liburan sangatttt panjang begitu juga Felyn. Setelah satu bulan penuh tidak pergi kemana – mana dia sekarang mulai merasa bosan dengan rutinitasnya. Tiba – tiba dia mendapat ide untuk menulis beberapa prinsip yang tidak boleh dia langgar dalam hidupnya di post-it dan menempelkannya di dinding dekat meja belajarnya.
1.       Harus nabung setengah dari uang saku yang dikasi bonyok
2.       IPK harus diatas 3.75
3.       Event nggak boleh mengganggu kuliah
Dan….. prinsip terakhir yang tidak kalah penting
4.       GUE NGGAK MAU PACARAN SAMA BRONDONG!!
Setelah menulis beberapa prinsip hidupnya Felyn pun memutuskan untuk membereskan kamarnya. Ya sebentar lagi ia akan melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Tanggerang yang artinya ia juga akan menjadi anak kos. Karena itu mulai dari sekarang ia sudah mulai merapikan barang – barang penting yang akan dia bawa ke kosnya –termasuk kertas prinsip tersebut-.
            Mengenai prinsip terakhir Felyn, ia tidak mau pacaran dengan brondong karena dalam anggapannya brondong itu adalah cowo yang sifatnya childish, egois, dan tidak bisa dijadikan panutan. Definisi brondong bagi Felyn adalah cowok yang usianya lebih muda daripadanya walaupun hanya satu hari.
***
FELYN’S POV
                Setelah melewati masa orientasi akhirnya hari ini aku memulai hari pertamaku di bangku kuliah. Oh iya, aku adalah seorang mahasiswi jurusan akuntansi. Berdasarkan jadwal yang diberikan hari ini akan ada kegiatan kegamaan yang diselenggarakan oleh UKM masing – masing agama. Selesai menyelesaikan kelas aku pun bergegas pergi ke sebuah ruangan di lantai 2 tempat kegiatan akan berlangsung.
            Sesampainya di sana sudah ada cukup banyak orang yang hadir. Tepat pukul 11.00 kegiatan kebaktian dimulai. Setelah kebaktian selesai, Kak Shelly, ketua dari UKM Kerohanian memberikan sedikit pidato sebagai simbolisasi menerima kami –para maba- sebagai bagian dari mereka. Suasana di dalam ruangan itu pun sangat nyaman terasa sekali ada rasa kekeluargaan di dalam UKM Kerohanian ini. Aku sempat berkenalan dengan beberapa teman baru yang berasal dari jurusan yang berbeda. Aku harap kita bisa bekerjasama dengan baik.
***
Beberapa Bulan Kemudian

            Setiap jumat siang adalah jadwal rutin kebaktian di kampus. Seperti hari ini aku bersama Celly dan Ola sudah berada di ruangan tempat kita akan melaksanakan kebaktian. Jumlah orang yang datang belum terlalu ramai. Kemarin di grup kakak – kakak sempat mengatakan bahwa hari ini akan ada sesuatu penting yang diumumkan maka kami diwajibkan untuk datang. Lima belas menit kemudian mulai banyak orang – orang berdatangan.
            Selesai kebaktian Kak Shelly maju ke depan untuk memberikan pengumuman “Selamat siang adek – adek.” “Siang Kak.” Balas yang lain “Baiklah jadi hari ini kakak akan mengumumkan bahwa kami akan membuka pendaftaran bagi kalian yang berminat untuk mendaftar menjadi kabinet untuk masa bakti 2014/2015. Bagi kalian yang ingin mendaftar bisa menghubungi kakak atau Kak Silvy. Ditunggu pendaftarannya ya adek – adek. Terima kasih.”
            Sekembalinya dari kampus kami para maba memutuskan untuk makan siang bersama terlebih dulu sebelum kembali ke kos masing – masing. “Eh gimana kalian pada mau daftar nggak?” Tanya Ola. Oh iya, perlu aku jelaskan bahwa kedua teman akrabku si Celly dan Ola adalah anak yang masuk dalam kategori cerewet dan mereka adalah bigos -biang gossip- sehingga kami bisa cepat nyambung. Ada beberapa yang mengangguk yakin untuk mendaftar dan ada beberapa yang masih mempertimbangkannya.
            Aku, Celly, dan Ola memutuskan untuk mendaftar hitung – hitung iseng untuk menambah kegiatan agar tidak menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang). Satu minggu setelah mendaftar kami pun dihubungin untuk mengikuti tahapan wawancara. Awalnya aku mengira tes wawancara akan dilakukan oleh dua atau tiga orang saja namun kenyataan ketika aku memasuki ruangan wawancara membuatku kaget. Terpampang kurang lebih ada sepuluh atau sebelas wajah di sana. Ternyata bukan hanya ketua dan wakil ketuanya saja yang akan mewawancarai kami tapi seluruh koordinator juga. Aku yang awalnya santai akhirnya merasa cukup deg – degan juga. Setelah melewati sepuluh menit yang terasa seperti tiga puluh menit akhirnya aku pun keluar dari ruang wawancara. Fyuh…. Aku hanya berharap hasil yang terbaik saja.
***
            Dua minggu setelah tes wawancara Kak Silvy menghubungiku lewat line dan mengajakku untuk bertemu malam ini jam 7 di cafe dekat kampus. Aku tidak tahu apa yang akan dibicarakan karena Kak Silvy menolak untuk memberi tahuku. Pukul tujuh kurang lima belas menit aku berangkat dari kos menuju ke cafe yang dimaksud. Setelah membuka pintu aku menemukan Kak Silvy bersama dua orang, seorang laki – laki dan seorang perempuan. Untuk si perempuan aku ingat aku sering melihatnya dan dia sering berlagak sok mengatur sehingga aku mengiranya kakak tingkat dan ternyata dia adalah teman seangkatan. Hmmmm,.. sebut saja dia sedikit menyebalkan. Namun, untuk yang laki – laki aku rasa aku tidak pernah bertemu dengannya.
Aku masuk dan mengambil duduk di hadapan laki – laki itu. Kami pun saling berkenalan. Ternyata nama laki – laki itu Stevan dan yang wanita bernama Merry. Kak Silvy kemudian membuka suara “Okay. Jadi officially aku mau kasih tau kalian kalau kalian diterima di divisi SOCIAL. Yeayyy” Kami pun membalasnya dengan tertawa kecil “Jadi tugas kita adalah untuk mengadakan kegiatan social, menggalang dana bila ada bencana alam, dan mengurusi bila ada kegiatan yang membutuhkan relawan.” Setelah penjelasan singkat dari Kak Silvi suasana jadi hening kembali. Ya seperti ini kondisi ketika awal pertemuan semuannya akan diam dan kriikkk… kriiikkkk. Tapi tak berapa lama Stevan buka suara dan menceritakan tentang masa SMAnya. Aku tak menyangka dengan mukanya yang pendiam dan sedikit memancarkan kesombongan ternyata dia bisa bercerita dengan serunya dan membuat kami tertawa. Dan aku menilai sepertinya Stevan bisa menjadi teman gossip yang seru.
***
Februari 2015
            Kak Silvy tiba – tiba mengundang aku dan Merry ke sebuah multichat aku tak mengerti untuk apa sebenarnya multichat ini. Setelah Kak Silvy menjelaskan aku baru paham ternyata kami akan menyiapkan surpeise kecil – kecilan untuk Stevan. Malam itu kami merencanakan rapat yang sebenarnya untuk menyiapkan surprise untuk Stevan. Ya sebenarnya surprise yang kami buat seperti biasa saja hanya memberikan kue dan sesi tiup lilin -make a wish-. Kami bertiga kemudian membuat snapgram ucapan happy birthday untuk Stevan. Tiba – tiba ada seorang temanku yang membalas snapgramku
“Doi lo Lyn????????”

“Kagak wah parah lu. Wkwkwkwkw”

“Loh siapa tau aja kan lynnnn”

“Bkan tmen satu divisi itu mah wkwkwk”

“Wkwk begituuuu kirain ada terselubung2nya wkwkwk”

“Kgak adee wkwk”

            Sontaklah aku terkejut tiba – tiba temanku mengira aku sudah punya pacar. Maunya sih emang gitu cuman sayangnya belum dapat :”) eh jadi curhat gini. Oh iya, Stevan adalah teman seangkatanku namun usia kita beda setahun dia adalah kelahiran tahun 1999 yeah which means he is brondong. Hmmmfttt… Awalnya aku tak menganggap bahwa Stevan adalah sosok yang tampan namun ntah mengapa saat ini aku mulai melihat wajahnya begitu tampan ditambah lagi lesung pipitnya. Apalagi saat dia tersenyum waaaa bisa jadi diabetes.
            Merry tiba – tiba ijin karena ada janji katanya. Kemudian tersisalah kami bertiga. Kak Silvi pun buka suara “Mau ketemu doinya kali ya?” “Bisa jadi” sahutku. Akhir – akhir ini memang sedang kencang berhembus kabar bahwa Merry sudah jadian dengan salah satu kating. “Cepet banget udah dapet aja.” Kata Kak Silvy “Iya, kalau aku sih paling nggak butuh setahun dulu gitu kurang lebih baru bisa.” Sahut Stevan “Iya bener.” Sahut Kak Silvy setuju. Kemudian gossip kami pun berlanjut kemana – mana. Divisi yang sangat social memang untuk berbagi cerita dan gossip. HAHAHAHA
***
            Awalnya aku belum terlalu menangkap gelagat kecentilan Merry namun tingkah lakunya mulai sering aneh – aneh seperti mengagumi ketampanan teman – teman kabinet. Sebenarnya itu hal yang wajar namun hal ini menjadi tidak wajar karena dia terng – terangan mengatakannya di depan cowok tersebut. Tak terhindar pula Stevan teman sedivisi kita. Seperti pada suatu hari saat kita akan foto kabinet, kebetulan saat itu aku ada kegiatan lain terlebih dahulu sehingga datang telat dan aku pun belum mendapatkan almamater pengurus. Kebetulan saat itu ketua kami sudah menginstruksikan untuk pergi ke tempat foto sehingga aku buru – buru meminta almamaterku kepada bendahara cabinet dan ternyata dia lupa membawanya. Mati lah aku. Tapi tiba – tiba Stevan menyodorkan almamaternya “Nih pake aja aku tadi sempat minjam sama Kak Rendy.” Tawarnya. Oh ya Kak Rendy adalah pengurus cabinet tahun sebelumnya. “Serius nih Van. Nggak papa?” tanyaku “Nggak papa pakai aja.” Balasnya. Sambil berjalan ke spot foto aku mengenakan almamaternya namun aku agak kerepotan karena sambil menggendong tas ranselku. Stevan tiba – tiba memegang tasku sambil berkata “Sini gue bawain.” Aku pun sontak terkejut “Eh nggak papa nih?” tanyaku “Nggak papa sini gue bawain.” Ia pun mengambil tasku dan menyampirkannya dibahunya. “Thank you.” Ucapku. Baru beberapa langkah tiba – tiba Merry buka suara “Ihhh Stevan berat bawain dong.” Ucapnnya sambil menyodorkan tasnya pada Stevan. Aku lalu melihat Merry dengan tatapan bingung ini anak ngapain coba? Toh dia nggak ngapa – ngapain masak nyuruh orang bawain tasnya. Stevan tetap mengambil tas itu namun nampak jelas ada guratan kesal di wajahnya.
***
Kampusku memang sangat sering menyelenggarakan kegiatan – kegiatan. Hal ini benar – benar melatih kemampuan manajemen waktu dari mahasiswanya dimana kita harus tetap berkuliah dengan benar tapi dibayangi oleh jadwal rapat yang bisa saja hampir setiap hari ada bergantung pada jumlah event yang kalian ikuti. Hal ini juga yang menyebabkan aku bertemu dengan Stevan dalam beberapa event.
Event pertamaku bersama Stevan adalah ketika UKM Kerohanian mengadakan perayaan tahun baru 2015 saat itu aku tergabung menjadi satu divisi seksi acara bersama Stevan. Aku merasa tak bisa klop dengan Stevan karena entah kenapa sikapnya agak dingin dan cuek. Jujur saja aku kesal dengan orang yang cuek tapi saat itu dia juga memang menjadi panitia di acara lain jadi aku pikir mungkin karena sibuk jadi dia sedikit berubah.
Kami juga sempat menjadi panitia pemilihan putra dan putri kampus. Saat itu Stevan menjadi bagian humas dan aku bagian dekorasi. Karena tidak sedivisi kami jadi jarang saling kontak. Namun saat itu rapat kabinet UKM Kerohanian bertepatan dengan rapat evaluasi pemilihan Putra dan Putri Kampus hanya berbeda 30 menit. Dan kebetulan sekali hari itu Kak Silvy ijin telat karena masih ada kelas dan Merry tidak datang. Aku duduk di sebelah Stevan saat rapat seperti biasa rapat dibuka kemudian laporan masing – masing divisi. Aku bertanya kepada Stevan “Van, lo ikut eval nggak?” “Ikut, Jam setengah 7 ntar kan?” tanyanya “Yoi.” “Okela. Lo juga eval?” tanyanya lagi “Iya. Tunggu giliran divisi kita laporan terus cao dah.” Jawabku “Oke.” 15 menit kemudian kami masih belum mendapat giliran laporan. Tiba – tiba Kak Sylvi datang. Aku dan Stevan tertawa kecil kemudian secara bersamaan berbisik pada Kak Silvy “Kak maaf kita ada eval jadi mau ijin duluan. Hehehehe” “Dasar anak - anak kurang ajar.” Balas Kak Sylvi. Kami berdua pun tertawa dan ijin kepada ketua rapat untuk pergi ke rapat evaluasi selanjutnya. Sejak saat itu kami juga semakin sering berkumpul sedivisi dan gue merasa Stevan emang orang yang asyik.
            Kemudian acara selanjutnya adalah acara perayaan Paskah, dalam kegiatan kali ini aku mendapatkan jabatan sebagai bendahara dan 3 teman sedivisiku –Kak Silvy, Merry, dan Stevan- menjadi bagian humas. Aku seperti anak terbuang dari divisiku XD. Awalnya semua berjalan baik – baik saja namun di pertengahan event mulai muncul masalah – masalah. Suatu hari ketika kegiatan kebaktian, aku datang tergopoh – gopoh karena baru menyelesaikan satu urusan, alhasil keringatku pun bercucuran. “Eh, keringat banget lo. Sono ke AC sono.” Tegur Stevan “Iya nih sumpah panas banget.” Sahutku. Setelah berhasil menetralkan nafasku dan mendinginkan badan di depan AC aku pun kembali bergabung dengan Stevan dan yang lain. Setelah ku perhatikan ternyata itu adalah divisi humas. “Mana anakku yang satu?” Tanya Kak Silvi. Dengan polosnya ya aku jawab saja tadi aku bertemu dengannya dan dia bilang dia tidak datang karena sakit. Kemudian tiba – tiba Kak Silvi dan Ola koor humas langsung ricuh membicarakan tentang Merry. Aku pun hanya menjadi pendengar yang baik saja. Ternyata ada beberapa masalah yang dibuat oleh Merry. Stevan pun ternyata tak luput dari kekesalan hanya saja dia seorang cowok sehingga lebih cuek. Semenjak kejadian ini aku menjadi lebih dekat dengan Stevan walaupun bisa dibilang dengan jalan yang salah –membicarakan orang a.k.a bergosip-.
            Seperti suatu malam sekitar pukul 22.00 aku rencananya akan memberikan uang transportasi untuk divisi humas. Kebetulan kosku dan kos Stevan letaknya paling dekat dibanding dengan anggota humas yang lain sehingga aku memutuskan untuk menitipnya kepada Stevan. Kebetulan teman kamar Stevan, Gerry adalah Ketua Panitia acara Paskah dan ternyata dia sedang rapat. Kebetulan wakil ketua panitia adalah Cella sehinga niat awal yang hanya ingin memberikan uang akhirnya berujung menjadi membicarakan Merry lagi hingga larut malam. Rasanya baru 30 menit namun ketika aku melihat jam aku terkejut ternyata sudah pukul 23.57 sudah hampir tengah malam. “Anjirr…. Udah ampir jam 12. Gue balik dulu deh.” Pamitku. “Astaga.. Udah malem banget.” Kata Cella panik “Eh, gue anterin deh baliknya, udah malam nih. Biar ntr si Gerry juga nganterin Cella balik.” Kata Stevan. Aku bingung harus menjawab iya atau tidak kemudian dia sudah mengambil jaketnya dan mengajakku keluar. Aku pun pamit pada Gerry dan Cella. Selama di perjalanan balik aku tak tahu harus berbicara apa rasanya hanya ingin cepat – cepat sampai saja. “Sudah sampai.” Kata Stevan kepadaku. “Eh iya, makasi banyak Van udah repot – repot nganterin balik.” Balasku “Santai aja. Gue balik dulu ya. Have a nice dream. Bye.” Pamitnya “Iya hati – hati. You too.. Daaa” Balasku sambil melambaikan tangan. Stop Lyn. Lo nggak boleh kegeeran. Kataku dalam hati.
***
            Semakin hari semakin menjadi pula masalah yang diciptakan Merry. Tidak cukup sampai di dalam lingkupnya kini masalahnya merembet ke divisiku –bendahara-. Waktu itu adalah rapat terakhir sebelum hari H acara perayaan Paskah. Divisiu memang berhubungan hampir dengan semua divisi karena mengurus mengenai pendapatan dan pengeluaran. Hari itu kebetulan aku memang sudah sangat sibuk sejak pagi sebenarnya memang hanya ada satu kelas namun rapat berjumlah 3 akhirnya mampu merubah moodku. Rapat Pskha adalah rapat terakhir sekitar pukul 7 malam. Sejak pagi aku belum sama sekali kembali ke kos untuk beristirahat. Dengan kondisi badan yang sudah letih Merry malah menambah rusak moodku lagi. Sebenarnya hal ini bukannlah masalah yang terlalu besar. Hanya mengenai selisih uang pendaftaran perlombaan menyanyi untuk acara Paskah yang jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Aku bertanya dengan baik pada Merry “Datanya gimana? Yang mana yang belum lo laporin?” tanyaku “Nggak tahu. Terus gimana ya? Hmmm gimana ya?” rengeknya dengan nada sok innocent. Karena aku juga sudah lelah dan sebelum emosiku semakin terpancing aku berniat menyelesaikan masalah itu sendiri. “Udah lo kirimin screenshoot datanya ntar gue kerjain sendiri.” Jawabku. Setelah itu ia pun langsung pergi meninggalkanku. Kebetulan masih tersisa Gerry, Cella, Ola, dan Stevan di tempat rapat daripada aku sakit hati dan dongkol sendiri lebih baik aku cerita dengan mereka pikirku. Aku pun mencurahkan semua kekesalanku. Mereka pun berusaha menenangkanku. “Sudah sabar. Dia emang gitu nyari masalah sama semua orang. Sudahh.” Kata Stevan. Setelah itu kami pun bersama – sama kembali ke kosan.
***
            Hari ini adalah hari perayaan Waisak yang kami selenggarakan di sebuah ballroom hotel. Intruksi dari seksi acara meminta kami untuk berkumpul pada pukul 05.00 di kampus untuk bersama – sama berangkat ke hotel. Kebetulan pagi itu ketika aku keluar kamar sudah ada Stevan di depan kamarku. Reflek aku terkejut dan menutup mulutku dengan tanganku. “Eh… Elo ngapain pagi – pagi di sini? Ngagetin aja.” Kataku “Hehehhe.. Baru juga gue mau ngetuk pintu. Emmm itu mau ngajak bareng ke kampus.” Balasnya “Oh.. Oke bentar ya gue kunci pintu dulu. Setelah itu aku bersama Stevan bersama – sama berangkat ke kampus.”
***
STEVAN’s POV
            Fyuh… masih pagi gue udah kaget aja sama si Felyn. Gue baru juga mau ngetok pintu kamarnya eh dia udah muncul tiba – tiba jadi salting kan gue. Setelah 10 menit berjalan kaki kami pun sampai di kampus. Panitia yang lain sudah berkumpul dan mempersiapkan barang – barang untuk dibawa ke hotel. Sesampainya di hotel, kebetulan divisi bendahara adalah divisi gabut di hari H sehingga diperbantukan untuk menjadi penyambut tamu dengan divisi humas di depan. Yesss bisa dekat – dekat sam Felyn eh.
            Sekitar pukul setengah 2 siang acara perayaan Paskah pun selesai dan seluruh panitia mulai membereskan tempat acara. Tiba – tiba terdengar suara dari HT “STEVAN!! STEVAN!! Yang lagi sama Stevan tolong suruh ke Photo Booth!” Sialan berisik banget umpat gue dalam hati. Jujur gue kesal banget sama Merry karena tingkah lakunya yang terlalu berlebihan sebagai seorang cewek. Saat itu gue sedang ada di ballroom membantu beres – beres bersama Felyn “Van dipanggil tuh diajakin foto.” Celetuk Felyn. Felyn memang sangat suka mengejekku dengan Merry entah dia nampak bahagia sekali kalau sedang mengejekku padahal aku udah gondok banget sama Merry. “Idiihhh.. Males banget gue. Ini mau ditaruh mana?” tanyaku sambil membawa piring berisi sisa kue acara tadi, ya sebenernya ini untuk mengalihkan pembicaraan “Yee mana gue tahu kan gue bukan seksi konsumi.” sahutnya “Udah sini deh bawa ke ruang panitia aja.” Tambahnya lagi. Gue pun langsung mengikutinya ke ruang panitia. Baru saja sampai di pintu ruang panitia Cella juga membullyku “Van dicari tuh sama si Merry dari tadi heboh di HT.” Sekilas Felyn menoleh ke arahku sambil menahan tawa “Apaan lu ketawa lagi.” Kataku kesal. Tak berapa lama Merry datang ke ruang panitia dan berbicara pada gue “Iihhh Stevan ganteng susah banget dah diajak foto aja.” Dengan amat dan sangat terpaksa aku pun mengikutinya ke photo booth.
***
            Dua hari setelah acara dilakukanlah rapat evaluasi sekitar pukul 8 malam. Ketika aku datang aku melihat Felyn sedang sibuk mengetik di laptopnya aku pun menghampirinya dari belakang “Eh ini tombol apa ya?” tanyaku iseng sambil menaruh tanga di atas tombol backspace “Eh awas lu jangan macem – macem lagi buat lpj ni.” Sahutnya judes. Aku pun membalasnya dengan tertaawa ringan. Rapat malam itu berlangsung cukup lama sampai sekitar pukul 11 malam. Selesai rapat saru aku mendengar Felyn berkata “Eh ada yang belum makan? Makan yuk.” Namun sampai cukup lama sepertinya semua sudah makan malam. Kebetulan gue belum makan dan gue pun menghampiri Felyn di saat yang lain udah pada balik “Ehm… kayaknya ada yang belum makan malam nih?” godaku “Eh… Heheheh iya belum makan nih gue. Lo udah Van?” tanyanya “Belum juga nih.” Jawabku “Hmmm… Mau temenin gue makan nggak?” tanyanya “Mau nggak yaaaa?” godaku “Ah.. lu mah nyebelin. Udah ah gue mau balik kos aje.” Katanya kesal “Eh.. eh… becanda weh. Sini sini gue temenin makan gitu aja ngambek.” Kataku “Serius?? Baik banget dah emang sodara gue.” Tanyanya antusias “Iya iya mau makan dimana?” tanyaku lagi “Nggak tahu udah malam gini apaan ya yang masih buka?” tanyanya balik “Mau Mcd?” tawarku “Hmm.. Boleh deh gue juga lagi pingin es krimnya.” Jawabnya “Ya udah tunggu bentar gue ambil mobil dulu.” Setelah itu kami berdua pergi ke Mcd bersama.
***
            “Lo mau pesan apa?” tanyaku “Mau paket fish fillet burger sama ice cone vanilla.” Jawabnya “Oh oke. Mas 2 paket fish fillet burger sma ice cone vanilla satu sma ice cone yang choco top satu.” Pesanku “Ntar dibagi ya bayarnya.” Kata Felyn padaku “Santaiiii.” Jawabku. Setelah pesanan siap Felyn pun membawa nampan yang berisi 2 paket fish fillet burger dan gue membawa dua ice cream cone di tangan gue. Sesampainya di meja yang dipilih Felyn kami pun duduk. Terlintas di ide iseng di otakku aku pun memberikan es krim tersebut pada Felyn dan sengaja mengenai hidungnya. “Eh sorry sorry nggak sengaja” ucapku seolah tak sengaja “Ah parah! lu pasti sengaja. Sumpah iseng banget sih van.” Omelnya. Wajahnya sungguh lucu ketika sedang mengomel. “Hehhehehe.” Aku pun tertawa sambil reflek mengelap sisa es krim di hidungnya dengan tisu. “Eh sorry.” Ucapku salting sambil memberikan tissue itu pada Felyn. Felyn pun kaget dan reflek menunduk “Eh iya nggak papa kok.” Balasnya. Setelah itu obrolan kami pun berlanjut. “Btw.. Tadi berapa ya?” tanyanya “Udah santai gue yang traktir.” Jawabku “Eh.. nggak enak gue udah minta temenin makan masak ditraktir juga.” Hingga tanpa disadari jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. “Ya ampun udah pagi.” Kata Felyn “Ya udah balik yuk.” Ajakku. Setelah itu kami pun kembali ke kos.
***
            Tak lama setelah acara Paskah kami kembali bekerja sama dalam sebuah event. Namun kali ini posisi bendahara di isi oleh aku dan Felyn sebagai seksi acara. Acara kali ini adalah acara perpisahan untuk kakak – kakak angkatan 2012. Acara perpisahan akan diadakan di sebuah restaurant tidak jauh dari kampus. Instruksi dari seksi acara kami harus berkumpul pukul 8 pagi di tempat acara. Beberapa games dan sesi sharing dari senior mengisi acara hari ini dan sekitar pukul 3 sore acara sudah selesai. Panitia yang lain tidak menunjukkan gelagat akan kembali ke kos dimana jujur aku sudah sangat lelah dan ingin kembali.
FELYN’s POV
            Walaupun bukan acara besar namun acara ini juga cukup melelahkan. Aku sudah sangat lelah dan ingin sesegera mungkin kembali ke kos. Mungkin karena efek semalem jam setengah 4 baru tidur sehingga kini aku merasa sangat lelah. “Wee balik yok?” ajakku pada siapapun sambil menyampirkan tas ranselku. Semua bergeming sibuk dengan aktivitas masing – masing kecuali Stevan “Yuk balik.” Sahutnya sambil berdiri dan berjalan ke arahku. Aku pun mengajak yang lain untuk balik namun belum ada yang mau kembali ke kos. Akhirnya situasi ini memaksa aku harus kembali hanya berdua dengan Stevan. Entah aku mulai merasa ada yang berbeda diantara kita berdua.
Selama perjalanan menuju kos tidak ada yang membuka suara. Sampai ketika aku kurang focus dan tersandung. Aku tak bisa menjaga keseimbangan dan hampir terjatuh bila tidak ada sesuatu yang berhasil aku jadikan pegangan. Yak dan ternyata benda yang kujadikan pegangan adalah tangan Stevan. “Eh.. Maaf.” Ucapku kikuk pada Stevan dan dengan cepat melepaskan tangannya. “Santai aja nggak papa. Hati – hati jalannya.” Balasnya padaku. Aku membalasnya dengan senyum tipis. Setelah itu suasana menjadi lebih cair. Kebetulan bila dari arah kampus kosan Stevan jaraknya lebih dekat dari kampus daripada kosanku. Namun tampaknya ia tak berhenti di kosannya dan masih ikut berjalan denganku “Eh, lu nggak balik ke kosan lo?” tanyaku “Balik kok abis anterin sodara gue pulang.” Balasnya “Tumben baik. Kesambet apa lu?” Candaku “Idihhh orang gue emang selalu baik ko.” Ujarnya “Kepedean banget dah lo emang. Ckckck.” Balasku sambil memutar bola mataku. Akhirnya kami sampai juga di kosanku “Makasi banyak sodara gue. Tiati ya elo.” Kataku “Yo sama – sama. Bye.” Balasnya “Bye.” Balasku sambil melambaikan tangan.
Saat aku masuk ke dalam kamar kosku aku melihat secarik kertas yang tertempel di dinding dekat meja belajarku. Oh iya aku ingat ini adalah kertas yang kutulis dulu di awal masa perkuliahan tentang beberapa prinsip yang harus aku jalani. Aku membaca ulang prinsip – prinsip yang pernah kutulis itu
1.      Harus nabung setengah dari uang saku yang dikasi bonyok
2.      IPK harus diatas 3.75
3.      Event nggak boleh mengganggu kuliah
4.      GUE NGGAK MAU PACARAN SAMA BRONDONG!!
Hmmmm… Nomer 1 terlaksana dengan cukup baik. Nomer 2 sampai saat ini syukurnya iya dan semoga seterusnya. Nomer 3 event nggak ganggu kuliah sih cuman mengurangi jam tidur aja karena begadang ngerjain tugas :”) dan yang terakhir yang kutulis dengan capslock. Entahlah sampai saat ini masih berlaku karena pacar juga gue belum punya :”). Tapi kalau memikirkan tentang tingkah laku Stevan dan perasaan “aneh” ini aku mulai ragu dengan prinsip nomer 4.
***
            Akhir – akhir ini Stevan sering menghubungiku untuk meminta bantuan mengerjakan laporan pertanggungjawaban. Sebenarnya ada Lina bendahara cabinet yang tentunya lebih akurat tapi entah kenapa dia lebih memilih bertanya kepadaku mungkin kebetulan di event sebelumnya aku menjabat sebagai bendahara juga. Ya aku hanya berpikir mungkin karena dia teman sedivisiku dan merasa lebih dekat denganku.
            Suatu malam Stevan mengajakku keluar katanya minta dibantuin untuk mengerjakan laporan pertanggungjawaban. Awalnya aku ingin menolak namun kasihan juga bila laporannya tidak kunjung selesai. Jadi ku iyakan saja ajakannya itu. Kami bertemu di sebuah cafe dekat kosan yang memang sering dijadikan tempat tongkrongan mahasiswa. Sesampainya di café tersebut aku menemukan Stevan sudah menunggu di salah satu meja di café tersebut. “Udah lama Van?” tanyaku “Nggak juga kok. Duduk Lyn. Pesan aja dulu.” Balasnya. Aku memutuskan untuk memesan segelas ice lemon tea saja. “Jadi apa yang bisa gue bantu?” tanyaku “Ini gue nggak ngerti formatnya harusnya gimana?” posisi kami yang berhadap – hadapan menyulitkan aku untuk menjelaskan pada Stevan. “Lyn lu pindah duduk sini aja biar gampang jelasinnya.” Ucapnya sambil menepuk tempat duduk di sampingnya. Aku pun berpindah duduk ke sebelahnya.
            Ketika kami sedang fokus tiba – tiba terdengar suara yang sepertinya aku kenal “Cieeee… Berdua aja.” Stevan dan aku mengangkat kepala dan menemukan sumber suara itu sudah berdiri di depan kami dan ternyata itu adalah beberapa kakak tingkat yang juga tergabung dalam cabinet. “Eh nggak kak ini cuman bantuin Stevan buat lpj aja.” Jawabku sekenanya. “Iya ini Felyn cuman bantuin lpj aja kak.” Tambah Stevan. “Ohh..” ujar kakak yang lain sambil memasang senyuman yang sulit diartikan. “Ya udah kita duluan ya. Bye.” Pamit mereka “Bye” balas kami berdua. Hmmmm semoga tidak ada yang berasumsi aneh – aneh.
***
            Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu dan kini aku sudah menyelesaikan tahun pertama masa perkuliahanku. Hari ini akan diadakan kegiatan dimana setiap UKM akan membuka booth kemudian para mahasiswa baru akan mengunjungi booth – booth yang ada. Kebetulan Stevan adalah koordinator yang ditunjuk untuk mempersiapkan booth Mahasiswa Kerohanian.
            Dua minggu yang lalu Stevan bertanya di grup cabinet siapa yang memiliki waktu luang diharapkan untuk membantu menjaga booth karena cukup banyak teman – teman cabinet yang berasal dari luar kota sehingga sudah banyak yang terlanjur kembali ke kampung halaman. Karena alasan itulah sebagai anak jabodetabek aku tergerak untuk membantu. Aku berinisiatif untuk memberitahu dia melalui line
“Pan, gw ikut jaga booth ya”
“Serius?? BAGOSSS wkwkwkw”
“B aja kali”
“Wkwkwkwkwk… Btw lo udah balik Jakarta?”
“Udah nih.. UAS gue udah kelar.”
“Enak banget dah. Ntar pas jaga booth mau bareng nggak dari Jakarta?”
“Lo emang kapan balik Jakarta?”
“Akhir minggu ini balik.”
“Oh ya udah deh boleh. Maaciww”
“Oke sip.”
Lumayan ada yang nawarin tumpangan gratis ngapain ditolak. Heheheh.
Yak dan di sinilah sekarang kami berdua menyiapkan booth untuk menyambut dedek emesh calon penerus UKM Kerohanian. Teman – teman yang lain belum ada yang datang sehingga aku hanya berdua dengan Stevan mendekor booth itu. Beberapa menit kemudian barulah beberapa teman yang lain datang. Menurut arahan panitia tadi acara ini akan berlangsung sampai jam 5 sore nanti.
            Siang harinya sekitar pukul 1, Kak Dion mempersilahkan bagi yang ingin makan siang untuk makan siang terlebih dahulu supaya nanti bisa bergilir dengan yang lainnya. “Makan yuk Lyn.” Ajak Stevan. Aku mengangguk dan mengambil dompet di tasku. Akhirnya kami berlima pergi makan terlebih dahulu, aku, Stevan, Kak Yessy, Kak Edric dan Kak Silvy. “Eh kalian pacaran ya?” Tanya Kak Yessy. Aku shock dengan pertanyaan itu “Nggak kok Kak. Ya kan Van?” jawabku memohon agar Stevan juga menegaskan bahwa kami tidak ada hubungan apa – apa. “Tapi kayaknya sering banget pergi berdua deh.” Tambah Kak Silvy “Heheheh… Nggak kok Kak.” Jawab Stevan. “Kalo emang belum pacaran yaudah jadian aja. Wkwkwkwk.” Goda Kak Edric. “Apaan dah Kak. Heheheh.” Jawabku. Kesambet apa coba siang – siang gini dapat pertanyaan kayak gitu.
***
            Sore harinya setelah selesai beres – beres booth aku berniat untuk langsung kembali ke Jakarta karena besok aku memiliki janji di Jakarta. “Lo mau balik kos apa rumah Lyn?” Tanya Stevan “Gue balik Jakarta langsung.” Jawabku “Lo naik apa? Bareng aja yuk.” Tawarnya “Rencana naik krl paling. Lo serius mau langsung balik Jakarta? Nggak ngerepotin nih?” tanyaku memastikan “Serius. Nggak kok. Tapi sebelum balik kita makan malam dulu ya?” ajaknya “Boleh. Boleh. Pengertian banget sih lo jadi sodara gue, emang udah laper nih gue. Heheheh” jawabku jujur. Setelah itu kami pun makan malam bersama di sebuah café tak jauh dari kampus. Kami berdua sama – sama memesan chicken katsu dan ice cappuccino. Lima belas menit kemudian pesanan kami pun datang. Selesai makan tiba – tiba Stevan berkata “Lyn, aku mau ngomong sesuatu.” Aku sedikit kepedean namun aku merasa apa yang akan dia ucapkan ini berkaitan dengan prinsipku. “Apa Van?” balasku sesantai mungkin. “Hmmm… Nggak jadi deh. Heheheh” jawabnya “Elah apaan coba ngomong kok setengah – setengah. Heheheheh.” Kataku “Aku cuman mau bilang makasi kamu udah banyak bantu aku akhir – akhir ini. Senang aja bisa sering – sering bareng sama kamu. Kamu orangnya asik seru juga buat diajak cerita.” Wait apa? Dia mengganti gue elo menjadi aku kamu. Hmmm mungkin hanya halusinasiku “Oh ituuu.. Santai aja lagi gue juga senang kalau gue bisa berguna buat orang lain.” Balasku sambil tersenyum. Kemudian kami pun keluar dari restaurant untuk kembali ke Jakarta.
***
STEVAN’S POV
            Ternyata nggak semudah yang gue bayangin buat nyatain apa yang gue rasain ke Felyn. Sebenarnya bukan sekedar keberanian untuk mengutarakan perasaan tetapi yang menjadi beban tersendiri bagiku adalah aku takut bila nanti sikap Felyn akan berubah jika dia mengetahui perasaan gue ini. Di dalam mobil aku sibuk memikirkan tentang perasaan yang belum tersampaikan ini sehingga hanya ada alunan musik saja yang mengisi keheningan di dalam mobil. Karena jalanan yang cukup lenggang 30 menit kemudian kami sudah di depan rumah Felyn. Felyn sudah bersiap turun sebelum aku menahan tangannya “Lyn, sekarang aku beneran mau ngomong serius sama kamu.” Kataku setelah sejak tadi menimbang – nimbang apa yang harus aku lakukan. “Apa?” Tanyanya kepadaku “Beberapa bulan terakhir ini sejak kita sering tergabung dalam beberapa event, intensitas pertemuan kita semakin sering dan aku mulai merasa nyaman sama kamu. Aku juga nggak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh yang aku tahu aku suka sama kamu. So, will you be my girlfriend?” Jujur sekarang aku lega sudah menyampaikan isi hatiku namun di satu sisi aku juga deg – degan menunggu jawaban Felyn “Maaf Van tapi aku nggak bisa.” Jawabnya. BUGH seperti ada meteor yang menghantam hatiku setelah ditolak oleh Felyn “Tapi kenapa?” Aku butuh alasan kenapa aku ditolak olehnya “Pokoknya nggak bisa Van. Kita temenan aja.” Jawabnya kemudian belari keluar dari mobil masuk ke dalam rumahnya. “Felyn! Felyn!” Panggilku namun tak dihiraukan olehnya.
            Sesampainya di rumah aku mencoba menghubunginya melalui WA, Line, SMS, maupun telefon namun tak ada satupun yang dibalas. Inilah yang aku takutkan bila aku menyatakan perasaanku padanya. ARGHHH. Aku frustasi.
***
FELYN’s POV
            Aku duduk di ranjang sambil mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Yang benar saja Stevan baru saja menembakku tak bisa dipungkiri ada sebagian diriku yang merasa senang, munafik bila kau tak bahagia ditembak cowok secakep itu. Namun di sisi lain aku juga tidak bisa mengingkari prinsipku yang tidak mau pacaran dengan brondong. Belum selesai aku memikirkan jalan keluar dari masalah ini hpku berdering, ketika melihat id callernya aku tak berniat untung mengangkat telfon tersebut. Aku pikir jalan terbaik saat ini adalah menghindari Stevan. Aku sudah sangat lelah dengan semua ini dan memutuskan untuk tidur.
***
            Hari masih sangat pagi tapi hpku tak berhenti bordering. Aku pun bangun dengan malas dan menggapai hpku ternyata telfon dari Kak Dion –Ketua UKM Kerohanian-
“Halo Lyn.”
“Iya kak. Kenapa?”
“Besok kosong nggak?”
“Kosong Kak. Kenapa ya?”
“Tolong ke kampus dong besok ada kegiatan kebaktian buat anak baru biar rame.”
“Eh.. iya deh kak.”
“Oke makasi ya Lyn.”
“Sama – sama Kak.”
Padahal kan aku mau menghindar dari Stevan tapi malah baru 2 hari udah harus ketemu lagi. Aku iseng mengecek notifikasi line dan wa yang sudah beratus – ratus dan ternyata hampir setengahnya itu berasal dari Stevan. Line terakhir darinya dia mengajak bareng untuk ke kampus besok. Sepertinya belum waktunya untuk bertemu dengan dia.
***
            Aku memutuskan untuk diantar supir saja ke kampus karena aku malas untuk membawa kendaraan sendiri. Kesialan sudah menghampiriku di pagi hari tepat ketika aku turun di lobby Stevan juga sedang berjalan ke arah lobby. Dia sempat memanggilku namun aku hiraukan dan memilih berjalan lebih cepat ke tempat kebaktian. Sampai di ruangan tersebut ternyata baru ada Kak Yessy “Tumben sendiri Lyn? Nggak bareng Stevan?” tanyanya. Jujur sebenarnya aku malas menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan Stevan “Heheheh.. Nggak kak.” Jawabku singkat. Tepat selesai aku menjawab yang dibicarakan muncul “Eh baru juga diomongin.” Cerocos Kak Yessy. Stevan hanya membalas dengan senyum tipis. “Lyn.” Panggilnya “Hmmm” gumamku tak jelas sambil melangkah menjauh. Tanpa aku sadari ternyata ada beberapa pasang mata yang memperhatikan kami ada Kak Yessy, Kak Silvy dan Kak Dion. Baru saja mereka akan memanggilku tiba – tiba segerombol maba datang ke ruangan tersebut kemudian kebaktian pun dimulai.
Selama acara ini aku berusaha seprofesional mungkin dengan mengesampingkan perasaanku saat ini. Selesai acara mulailah kakak itu bercuap – cuap “Hmmmm kayaknya ada yang lagi berantem nih.” Goda Kak Dion. Aku hanya diam dan tidak berniat menanggapi. “Aku pamit dulu ya semua ada urusan lain.” Ucapku sambil meninggalkan ruangan. Baru beberapa langkah aku menuruni tangga ada tangan yang menarikku dan ternyata pemilik dari tangan itu adalah Stevan. “Lyn tunggu. Semuanya harus jelas nggak bisa kayak gini terus. Aku butuh alasan jelas jangan tiba – tiba kamu menghindar kayak gini.” Okay aku menyadari bahwa sifatku agak kekanak – kanakkan karena dengan seenaknya langsung menghindar dari masalah. “Hmm okay kita omongin di kantin aja.” Ujarku. Kami pun berjalan bersama menuju ke kantin.
***
            Tanpa menunggu sampai di kantin Stevan langsung buka suara “Jadi sebenarnya apa alasan kamu Lyn? Tolong jelasin ke aku.” Aku pun menceritakan panjang lebar kepada Stevan mengenai prinsipku dan sebagainya. Kemudian ia menggenggam tanganku “Lyn nggak semua cowok yang usianya lebih muda itu pemikirannya childish. Usia itu cuman angka yang nggak bisa dijadikan tolak ukur kedewasaan seseorang dan nggak ada salahnya juga kalau seorang cewek jadian dengan cowok yang lebih muda selama kamu ngerasa nyaman sama dia nggak ada masalah.” Dari kalimat yang dia sampaikan aku juga merasa setuju dan sepertinya sekarang dia malah jauh lebih dewasa daripada aku. “Jadi soal kemarin gimana? Kamu mau nerima aku?” tanyanya. Aku tak bisa memungkiri bahwa aku sebenarnya punya perasaan yang sama juga pada Stevan. Aku mengangguk malu. “Jadi diterima nih?” tanyanya antusias. Aku tersenyum dan ia pun mengecup puncak kepalaku “Thank you Lyn.” Kami pun bergandeng tangan berjalan menuju ke parkiran. Saat di lobby ternyata kami bertemu dengan Kak Dion dan Kak Yessy. “Widih udah baikan nih ceritanya?” kata Kak Dion “Cieee udah gandengan tangan ajak nih. Udah jadian ya?” kata Kak Yessy. “Hmmm siapa juga yang berantem. Sok tau deh kakak.” Kataku. “Idihhh iya deh gue sok tahu.” Kami pun tertawa bersama. Setelah itu Aku dan Stevan pamit.
***
            Ya seperti inilah kehidupan sulit ditebak terkadang kamu tidak bisa terlalu terpaku dengan prinsip yang ada. Jadilah orang yang fleksibel dimana kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Antara prinsip dengan realita ternyata realitalah yang menang karena pada dasarnya realita adalah kehidupan nyata yang kita jalani.

Minggu, 02 April 2017

Pentingkah Aku?

             Kenalkan aku Devin, anak kelas 12 IPA 1. Menurut teman – temanku aku termasuk salah satu anak popular di sekolahku yah mungkin saja itu karena aku adalah kapten tim basket SMA Valindo ini. Cukup banyak adek kelas yang sering mencoba menarik perhatianku dengan menyukai, comment ataupun mengirim pesan langsung kepadaku melalui berbagai media social. Aku selalu mengusahakan untuk membalas pesan mereka namun sebatasnya saja. Bukannya aku sombong tetapi aku tidak mau dicap sebagai Pemberi Harapan Palsu (PHP).
 Selain itu ada perasaan seseorang yang harus aku jaga, yap, sebulan belakangan ini aku tengah menjalin hubungan dengan salah satu adik kelasku bernama Liana. Berbeda dengan adik kelas yang lain, bila yang lain berusaha menarik perhatianku dengan segala cara cewek yang satu ini tanpa melakukan apa – apa tapi berhasil menarik seluruh perhatianku untukknya. Kebetulan aku dan Liana sama – sama tergabung dalam club . Tentunya intensitas pertemuan kami sering paling tidak setiap minggu kami pasti bertemu. Tapi, ia tidak pernah menunjukkan gelagat ingin menarik perhatianku. Hal itu lah yang justru menarik perhatianku untuk mendekatinya.
Tingkah laku Liana memang bisa dibilang sangat jauh berbeda dari cewek pada umumnya. Umumnya cewek – cewek yang sudah menginjak masa SMA akan mulai menggambar wajah mereka khususnya bagian ALIS ketika akan berangkat ke sekolah. Tidak lupa juga menata rambut mereka yang terkadang tampak seperti akan menghadiri acara kawinan. Sangat kontras dengan cewek yang lain, penampilan Liana bisa dikategorikan sangat cuek. Dia hanya mengikat rambutnya menjadi satu dan tidak ada sama sekali polesan di wajahnya.
                Hal yang menarik perhatianku juga adalah banyak senior cowok yang mengejar dia namun belum ada satu pun yang berhasil menaklukan hati cewek super cuek satu ini. Sebagai seorang cowok sejati tentunya aku menyukai tantangan, jadi kucobalah untuk mendekatinya dan ternyata itu memang sangat sulit.
Setelah pendekatan yang cukup susah akhirnya Liana menerimaku sebagai pacarnya. Namun, aku merasakan hal yang berbeda ketika menjalin hubungan dengan Liana. Ini tentunya bukan pengalaman pertamaku menjalin hubungan tapi aku merasa seperti seseorang yang baru pertama kali merajut kasih. Ntahlah aku bingung sendiri.
***
Sekilas flashback bagaimana perjuanganku untuk mendekatinya
8 bulan yang lalu aku mencoba untuk men-follownya di Instagram dan mengiriminya pesan melalui direct message
“Hi Dek.” Tanyaku
Sekitar 15 menit kemudian aku mendapat balasan
“knp Kak?” disapa hi bukannya dibalas hi juga malah ditanya kenapa. Hmmmm
“boleh minta id linenya Dek?”
“untk ap Kak?” and this the point kalau junior ataupun teman seangkatankku yang perempuan akan langsung dengan senang hati memberikan id line mereka padaku tapi berbeda dengan Liana
“buat nambah jadi temen Dek?”
“Liana_ itu Kak.”
“Makasih ya Dek:D”
“(y)”
BOOM!! Bukan dibalas dengan sama – sama atau bertabur emoticon dan sticker sangat simple balasannya, hanya “(y)”.
Bukan hanya balasan yang cuek saja. Setelah mendapat id linenya aku langsung menambahkan Liana menjadi salah satu temanku di line. Beberapa hari setelah menjadikannya teman di line aku mencoba untuk memulai pembicaraan. Yah basa basi yang emang udah kelewat basi aku bertanya padanya
“Lagi ngapain Li?”
“Lgi ngerjain tugas kak.”
“Tgas apaan?”
“Tgas Bhasa Indo.”
Ya beginilah posisiku sudah seperti orang yang sedang melakukan wawancara aku sebagai reporter dan Liana sebagai nara sumber. Tidak sekali pun ada timbal balik pertanyaan dari dia untukku. Dan salah satu chat yang cukup membuatku harus bersabar.
“Lagi sibuk LI?”
“Iya Kak. Sorry Kak hp ku low bat mau aku charge dulu.”
Baru saja aku menghubunginya sudah langsung ditinggal. Ya Tuhan, Kau memberiku tantangan yang sangat baru dalam hal mendekati cewek yang satu ini. Tantangan yang lain pun datang ketika aku mencoba untuk mengajaknya ngedate beribu alasan dia buat untuk menghindariku.Ntah alasan lagi banyak tugas, harus temenin mama belanja, ada janji sama teman dan yang paling menohok dia pernah bilang secara gamblang nggak mau Kak lagi males. Luar biasa, memang jujur itu kadang menyakitkan. Tapi, aku nggak akan semudah itu untuk menyerah mendekati dia.
                Akhirnya, aku putuskan untuk menjadi lebih nekat dari cowok kebanyakan. Bila kebanyakan cowko hanya berani mencoba melalui chat saja aku putuskan untuk mencoba berkunjung ke rumahnya. Aku memperoleh alamat rumahnya setelah mengstalk media sosialnya dan menemukan siapa teman dekatnya. Setelah itu aku pun bertanya kepada teman dekatnya tersebut.
                Hari minggu siang itu, aku pun memberanikan diri untuk pergi ke rumahnya. Bila ditanya apakah ada rasa takut? Ya, tentu saja. Aku takut apabila kedua orang tuanya juga memiliki sifat cuek yang sama dan matilah aku. Tetapi, kita tidak akan pernah tahu hasilnya bila kita belum mencoba. Sesampainya di rumah Liana, aku memberanikan diri untuk menekan bel di pintu gerbangnya. Tak lama kemudian pembantunya keluar membukakan pintu dengan ramah pembantunya bertanya “Mau cari siapa Den?” “Lianannya ada mbok?” tanyaku “Oh, Non Liana ada di belakang lagi sama papa mamamnya.” Jawab pembantunya. DEG… sedang bersama papa dan mamanya, tidak mungkin aku berjalan mundur ketika sudah berjalan sejauh ini. Belum sempat aku mengambil keputusan tiba -  tiba  dari dalam rumah terdengar teriakan “Bi, siapa yang datang?” dari suaranya aku rasa itu bukan suara Liana “Ini Nyonya, temannya Non Liana.” Jawab Bibi “Suruh masuk aja Bi.” Perintah Mama Liana. “Den, masuk aja. Disuruh masuk itu sama nyonya.” Karena tidak ada pilihan lagi akhirnya kuputuskan untuk masuk.
                Namun, ternyata kenyataan yang terjadi tidak semenyeramkan ekspetasiku. Mamanya Liana sangat ramah. “Mari masuk.” Ajak Mama Liana “Iya Tante.” Jawabku agak canggung. Sesampainya di bagian belakang rumah Liana, aku menangkap wajah Liana yang sangat kaeget melihat sosokku yang tiba – tiba muncul di rumahnya. “Li, ini ada temanmu datang.” Kata Mamanya “Eh, iya ma.” Sahut Liana “Siang Om” sapaku kepada Ayah Liana “Oh iya, siang. Namanya siapa?” tanya Ayahnya. “Nama saya Devin, Om” jawabku sambil menjabat tangannya “Om Tony dan ini Mamanya Liana Tante Rina.” Jawab Ayahnya sambil menjabat tanganku. Sejauh ini aku masih belum menemukan darimana darah cuek Liana mengalir. Kedua orang tuanya sangat ramah. Liana bangkit dari tempat duduknya “Pa,Ma, aku ngobrol sama Kak Devin di ruang tamu aja ya.” Katanya sambil mengajakku pergi dari tempat itu. Aku pun mohon pamit kepada kedua orang tuanya.
                “Kakak ngapain ke sini?” tanyanya dengan nada dingin “Pingin ketemu kamu lah.” Jawabku santai “Kan bisa tanya dulu gitu lewat chat nggak harus tiba – tiba muncul di sini.” Balasnya lagi. Ntahlah aku tak mengerti apa isi kepala gadis yang satu ini. Bila gadis lain akan merasa tersanjung bila tiba – tiba seorang pria datang ke rumahnya tanpa memberitahu dahulu namun lain halnya dengan Liana. Dia memang benar – benar berbeda.
***
Seperti pagi ini, aku mencoba menghubungi Liana melalui pesan di line
“Li, berangkat bareng ya? Aku jemput.” Tawarku
“Nggak usah Kak. Ketemu di sekolah aja langsung.” Balasnya
Aku tentu bingung sendiri. Dimana – mana kebanyakan cewek itu malah meminta ataupun menuntut untuk harus diantar jemput sama cowoknya. Lah ini, aku udah nawarin malah ditolak. Kalian bayangkan saja semenjak 1 bulan jadian aku belum pernah sama sekali berangkat bareng dengan Liana ke sekolah. Teman – temanku pun sampai menanyakan kebenaran status hubungan kami. Sampai ada juga kabar yang berhembus bahwa ini sekedar settingan agar tidak ada yang menggangguku lagi.
                Ya karena suasana masih pagi dan kadar emosiku masih cukup stabil, akupun memutuskan untuk menerima saja apa mau Liana. Daripada aku terlamabat masuk sekolah, aku bergegas mengambil kunci mobil dan berangkat ke sekolah.
                Sesampainya di sekolah aku langsung menuju ke kelasku. Biasanya, aku mampir ke kelas Liana dulu namun karena bel sudah berbunyi ketika aku sampai di parkiran sekolah maka kuputuskan untuk tidak melakukan rutinitas itu hari ini.
                Ada sedikit harapan di dalam hatiku bahwa Liana akan mengubungiku melalui line karena hari ini aku tak mampir ke kelasnya terlebih dahulu. Namun, ketika istirahat aku mengecek ponselku hasilnya nihil. Dari puluhan notifikasi yang ada tidak ada satupun yang berasal dari Liana. Ya, aku tahu aku memang mencoba suatu tantangan yang sangat luar biasa untuk hubunganku kali ini. Cewek yang kini menjadi pacarku memang terkenal sebagai cewek yang sangat cuek sehingga tak ada lelaki yang berhasil mendekatinya. Mungkin bisa dikatakan aku luar biasa beruntung bisa mendekatinya, namun kini setelah jadian aku mendapat tantangan yang jauh lebih kompleks untuk mempertahankan hubungan kami. Aku tentunya tidak mau dicap sebagai cowok playboy karena memiliki koleksi mantan yang tak cukup dihitung hanya dengan jari tangan.
                Kali ini, aku putuskan untuk mengalah lagi. Aku pergi ke kelasnya untuk menemui dia tetapi hasilnya nihil. Dia tidak ada di kelasnya, ada pikiran negative yang muncul mungkin dia sedang istirahat makan dengan cowok lain. Namun cepat – cepat kuusir pikiran burukku itu. Aku putuskan untuk kembali ke kelas tapi tiba – tiba seorang teman Liana menghampiriku “Kak, Kakak cari Liana ya?” tanya cewek itu “Iya Dek. Kamu ada lihat Liana?” tanyaku “Liana tadi ke UKS sama Fina Tadi di tengah – tengah pelajaran dia tiba – tiba pingsan.” Jelas cewek itu. Aku sontak kaget. Segera aku berlari menuju UKS setelah mengucapkan terima kasih kepada cewek itu.
***
                Sesampainya di UKS aku baru saja akan menyibak gorden namun terdengar sayup suara kedua teman itu sedang berbicara. “Gue hubungin Kak Devin ya Li?” tanya Fina “Nggak usah,Fin.” Jawab Liana “Kenapa? Dia kan cowok kamu jadi dia berhak dong tahu keadaan kamu.” Balas Fina “Nggak Fin. Aku nggak mau ngerepotin Kak Devin. Toh aku juga cuman nggak enak badan aja bukan sakit parah.” Jawab Liana “Ya udah kalau itu mau kamu.” Tepat setelah Fina menyelesaikan kalimatnya aku pun membuka gorden UKS. Tampak waja Liana yang pucat dan terkejut melihat kehadiranku di sana. Fina langsung undur diri ketika aku melangkah mendekati Liana.
                Aku duduk di sebelah Liana. Ku pegang tangannya sembari tanganku yang satunya lagi mengusap lembut kepalanya. “Li, kamu kenapa nggak kabarin aku kalau kamu lagi sakit?” tanyaku “Nggak papa Kak. Aku cuman nggak mau buat kakak khawatir toh cuman nggak enak badan biasa aja.” Jawabnya “Walau cuman nggak enak badan tapi setidaknya kamu harus kabarin aku, Li. Kamu sekarang mau balik atau lanjut ke kelas? ” tanyaku “Lanjut kelas paling Kak. Trust me, aku nggak papa Kak. Jangan terlalu khawatir gitu.” Pintanya. “Nanti siang aku antar kamu pulang ya. Tolong, untuk kali ini aku nggak mau dengar penolakan.” Pintaku “Kamu mau balik ke kelas sekarang?” tanyaku “Iya, Kak.” Jawabnya “Yuk, bareng aja aku antar.” Kataku. Liana mengangguk yang berarti setuju. Aku pun membantunya turun dari ranjang dan mengantarnya ke kelas. Ya Tuhan, akhirnya setelah satu bulan hari ini aku merasakan menjadi pacar yang setidaknya sedikit berguna bagi Liana.
***
                Siang itu, tepat ketika bel pulang sekolah berbunyi aku langsung bergegas menghampiri Liana di kelasnya. Aku tak mau sampai kecolongan karena kesempatan seperti ini sangat langka. Tepat ketika aku sampai di depan kelasnya, Liana baru saja selesai merapikan bukunya. “Udah beres Li?” tanyaku “Eh, iya Kak.” Jawabnya “Ayo, balik sekarang Li” ajakku sambil menggandeng tangan Liana erat. Aku merasakan ada penolakan dari Liana, dia seperti akan menarik tangannya kembali namun dengan sigap aku menahannya. Ya dan kau bisa pastikan seluruh mata di SMA Valindo itu kini tertuju pada gandengan tangan kami. Sepanjang koridor aku berjalan dan tak ada aku menemukan mata yang tak menatap kami. Aku merasa senang sekali hari ini karena berhasil menunjukkan kepada seluruh siswa SMA Valindo bahwa aku beneran pacaran sama Liana bukan HOAX.
                Sesampainya di mobil aku membukakan pintu untuk Liana dan mempersilahkannya masuk. Kemudian aku pun masuk ke mobil dan duduk dibalik kursi kemudi. “Kita makan siang dulu ya baru pulang?” tawarku pada Liana. Liana hanya membals dengan anggukan sepertinya dia sedang banyak pikiran atau masih kurang enak badan atau masih shock atas tindakanku. Hahaha. “Kamu masih nggak enak badan ya? Kalau nggak mau ya kita pulang aja Li.” “Nggak kok Kak. Kita makan aja dulu.” Jawabnya. Sebenarnya aku cukup terkejut dengan jawaban Liana. Aku kira di akan langsung minta di antar pulang.
***
Kami memutuskan untuk memesan 2 porsi nasi goreng seafood dan 2 gelas ice lemon tea. Untuk pertama kalinya aku deg – deg an ngedate sama cewek. Sebenarnya ini lucu banget tapi ya gimana ya cewek yang biasa susah banget diajak jalan sekarang lagi duduk di hadapan gue. “Maaf.” Tiba – tiba saja kata itu terlontar dari mulut Liana. Aku belum yakin atas apa yang aku dengar aku pun bertanya untuk memastikan “Apa? Tadi kamu bilang apa Li?” Sesaat suasana berubah menjadi hening sebelum akhirnya Liana buka suara lagi. “Maaf Kak, selama ini aku nggak bisa jadi pacar yang baik untuk kakak.” Seketika Liana mulai menitikan air mata. Aku pun panik cewek cuek yang tahan banting banget tiba – tiba nangis. Aku pun berpindah duduk di sebelahnya. Aku tidak mau banyak bertanya dulu tentang apa yang ingin dia katakan. Aku hanya memberikan bahuku sebagai tempat sandarannya untuk menangis dan tanganku mengelus lembut kepalanya.
Setelah tangisannya mulai reda aku pun mulai berbicara “Nggak Li. Kamu nggak sepenuhnya salah. Cuman kamu kadang terlalu mandiri sampai aku ngerasa aku jadi cowok yang nggak berguna. Please Li, aku ini cowok kamu kalau kamu lagi sakit atau butuh bantuan apa jangan pernah sungkan ngomong sama aku. Aku nggak akan pernah merasa direpotkan sama kamu. ” Aku lega setelah mengeluarkan semua keluh kesahku. “Iya Kak maaf. Sebenarnya maksudku bukan mau menghidar cuman aku nggak biasa jadi cewek manja yang harus ini itu diurusin dan ya aku juga nggak mau jadi beban untuk orang lain.” Kata Liana.
Tak berapa lama setelah itu pesanan kami pun datang. Aku pun tak kembali ke posisi awalku jujur saja aku merasa sangat nyaman dan bahagia saat ini. Setelah menghapus sisa air matanya Liana memperbaiki posisi duduknya. Kalau boleh jujur aku lebih suka posisinya ketika bersandar di bahuku. “Gimana udah enakan?” tanyaku “Udah Kak.” Jawabnya “Ya udah sekarang makan dulu gih. Udah lapar kan?” Liana hanya membalasku dengan senyum.
Sebenarnya tanganku sudah gatal ingin menyuapinya tapi apa daya daripada mendapat penolakan lebih baik ku tahan saja keinginanku untuk saat ini. Kami pun sibuk dengan makanan masing – masing. Selama menikmati makanan aku tak henti – hentinya memperhatikan Liana. Setiap gerakan yang ia lakukan benar – benar aku perhatikan karena memang momen ini bisa dibilang baru pertama kalinya selama kami resmi berpacaran. Bodoh. Iya benar saja aku memang merasa menjadi orang bodoh ketika berada di depan wanita yang aku suka. Selesai menyantap makanan aku melihat ada sedikit saus di sudut bibirnya. Reflek aku mengambil tisu dan mengusapnya. Dan ya dasarnya cewek gue yang terlalu mandiri adegan romantis itu hanya berlangsung sepersekian detik. Liana langsung mengambil tisu itu dan mengelap sendiri sisa saus di mulutnya. “Thank you Kak.” Ucapnya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Semoga semenjak hari ini aku bisa menjalani pacaran seperti manusia pada umumnya.
“Li, mau balik sekarang?” tanyaku. Aku berharap dia menjawab tidak tapi aku sadar itu mustahil. Hahahaha. Liana melirik jam tangannya kemudian menjawab “Hmmm… Terserah kakak. Hehehe.” Sumpah?? Benarkah ini Ya Tuhan dia tidak menolak? “Kamu lagi pengen kemana gitu?” tanyaku lagi “Kalau kita pergi nonton gimana Kak?” Apa? Dia ngajak nonton. Oh Tuhan panjangkanlah hari ini :’) “Boleh aja. Kamu mau nonton apa? Beauty and the Beast? Dear Nathan?” Aku rasa tebakanku hamper pasti benar karena semua cewek sangat mengidam – ngidamkan untuk menonton film itu. “Bukan Kak. Aku mau nonton Power Rangers. Heheheh.” Skak. Aku hamper tak bisa berkata lagi. Cewek yang satu ini memang special “Serius Li?” tanyaku meyakinkan “Iya Kak. Kenapa? Aneh ya?” “Nggak kok. Kakak juga lagi mau nonton film itu tapi belum ada jadwal yang cocok sama teman eh kebetulan banget hari ini dapat temen nonton pacar pula. Heheheh. Yuk jalan sekarang aja yuk.” Ajakku
***
                Kami memutuskan untuk menonton di salah satu mall terbesar di kawasan Jakarta Utara. Sesampainya di sana kami langsung pergi ke bioskop untuk membeli tiket. Kebetulan masih tersisa tiket untuk pertunjukkan yang akan mulai 15 menit lagi sehingga kami tidak perlu menunggu lama. Walau aku lebih berharap untuk menunggu agar menghabiskan waktu lebih lama. “Li, suka popcorn salt atau caramel?” tawarku “Hmmm.. Nggak usah deh kak.” “Udah nggak usah malu – malu kalik.” “Yang caramel deh. Heheheh.” Jawabnya malu – malu “Okeh kamu tunggu di sana aja ya biar aku yang beli. Setelah membeli popcorn kami pun masuk ke studio.
                Di tengah – tengah film aku tak sengaja memegang tangan Liana dan aku merasa tangannya sangat dingin. Tanpa bertanya lebih panjang aku melepas jaketk dan menaruhnya di atas badan Liana. Awalnya dia menolak namun aku berbisik padanya “Udah kakak tahu kam kedinginan. Jangan berisik lanjutin nonton aja.”
***
                Film yang berdurasi 2 jam 3 menit it hanya terasa sebentar sekali ketika aku menontonnya dengan Liana. Aku melihat jam tangan sudah pukul 9 malam. Besok masih harus bersekolah jadi kuputuskan untuk langsung mengantar Liana pulang. Aku takut bila nanti ia kelelahan. Di dalam mobil kami mengobrol santai suasana sekarang sudah sangat jauh berbeda dari hari kemarin Semoga akan terus seperti ini.
                Sesampai di depan rumahnya, aku membukakan pintu mobil dan mempersilahkannya turun. Sebagai cowok yang bertanggung jawab aku akan mengantarnya hingga ke dalam rumah. Karena ini semua karena ajakanku, aku tak mau nanti Liana dimarahi. “Aku antar ke dalam ya? Nanti aku yang jelasin ke papa mamamu kenapa kamu sampai jam segini baru pulang.” Kataku “Kalau itu mau kakak boleh aja.” Balasnya
                Seorang wanita paruh baya membukakan pintu gerbang “Non, udah ditunggu sama Tuan dan Nyonya di ruang keluarga.” “Baik. Terima kasih Bi.” Jawab Liana lembut.
***
                “Malam Pa Ma.” sapa Liana “Malam Om Tante” sambungku. Awalnya wajah kedua orang tua Liana sepertinya sudah siap untuk mengintrogasi anaknya tapi tiba – tiba raut wajah garang itu menghilang. “Malam Nak Devin silahkan duduk.” Tante Rina mempersilahkan. “Iya makasi Tante.” Jawabku sopan “Jadi Liana jam segini baru pulang karena aku yang ajakin jalan Om Tante.” Jelasku “Oh ia Nak Devin nggak papa. Kalau perginya sama Nak Devin Om percaya.” Jawab Om Tony. “Sudah malam om tante besok masih masuk sekolah, saya pamit dulu.” Kataku “Oh iya Nak Devin. Kapan kapan main kesini lagi” pesan Tante Rina.
                Liana pun mengantarkan aku sampai ke pintu gerbang. Aku pun masuk ke dalam mobil kemudian membuka kaca “Istirahat ya Li. Thank you untuk hari ini.” Kataku “Iya Kakak juga istirahat. Thank you too sayang. Byee.” balasnya. Otakku masih loading apakah aku tak salah dengar “Tadi bilang apa Li?” tanyaku “Apa ya? Live kak nggak bisa diulang.” Candanya “Ih gitu ya Li.” Jawabku dengan wajah seolah – olah cemberut. “Ah gitu aja ngambek.  Udah pulang sana. Hati – hati di jalan kakak SAYANG!!” teriaknya. Hahahaha. Ternyata aku memang tidak salah dengar “Iya bye dedek saying. See you tomorrow.” Setelah saling berbalas melambai tangan. Aku mulai menjalankan mobilku.

Dalam hati aku berkata. Aku sangat bahagia hari ini. Terima kasih Tuhan semoga hubungan kami akan tetap hangat seperti ini. Jaga dia selalu untukku Tuhan. Terima kasih untuk lindungan-Mu selama ini. Ternyata perjuanganku tidaklah sia – sia, aku berhasil mendapatkan ciptaan-Mu yang “unik” ini. Bahagialah aku ketika bisa menjadi orang yang berguna dan penting untuk Liana. . .

Recycle Cinta

AUTHOR’S POV             “….. Sudah tak bisa dipungkiri jumlah sampah yang ada di Indonesia ini. Mulai dari limbah rumah tangga, pabrik...