"Nggak punya gadget nggak gaul!" "Nggak ada gadget serasa dunia tebalik" kurang lebih itulah celoteh - celotehan yang sering kita dengar sekarang. Mirisnya lagi kini kita bisa melihat anak yang usia masih sangat kecil sudah memiliki gadget sendiri. Namun, apakah anak - anak jaman sekarang tahu dampak negatif atau apa saja yang telah mereka lewatkan bahkan lupakan hanya karena barang yang bernama GADGET itu? Simak cerita di bawah ini.
"Bimo! Bimo! Bimo!", teriak ibu. Namun, tak ada sautan apa - apa dari Bimo. Ibu kembali memanggil Bimo tapi tetap saja hasilnya nihil. Akhirnya, ibu mencari - cari Bimo dan menemukannya sedang asyik bermain gadget sambil tidur - tiduran di kamarnya. "Astaga, Bimo kamu ini ibu panggil dari tadi kok nggak nyaut sih?" "Ah, ibu orang lagi asyik main kok dipanggil - panggil. Emangnya ada apa, Bu?", tanya Bimo. "Kamu itu loh kalo main jangan sambil tiduran nanti matamu rusak! Tugas sekolahmu sudah selesai?", tanya ibu. "Belum, sudahlah Bu itu masalah gampang nanti Bimo kerjain deh Tugasnya." "Bim, kerjain tugas dulu baru main lagi.", nasehat ibu "Iya Bu iya". Ibu pun keluar dari kamar Bimo. Hanya di mulut saja Bimo berkata iya namun ia tak melaksanakan nasehat ibunya.
Belakangan ini sifat Bimo sangat berubah, ia menjadi anak yang tertutup, bandel, suka berbohong, dan cuek. Penyebab dari perubahan tingkah laku Bimo itu adalah GADGET. Sejak diberi hadiah gadget oleh ibu di hari ulang tahunnya, hari - hari Bimo hanya dihabiskan untuk bermain gadget. Mulai dari pulang sekolah Bimo akan mengurung dirinya di kamar hingga malam hari. Bila ibu tidak memanggilnya untuk makan, Bimo mungkin tak akan ingat kalau ia belum makan. Belum lagi tugas - tugas Bimo yang keteteran karena lupa ia kerjakan, karena sibuk mengurus gadgetnya.
Dulu, Bimo adalah anak yang ramah, rajin, dan juga terkenal pandai. Ia juga sering bercerita mengenai kejadian - kejadian di sekolah. Tapi, kini tak sedikit pun senyum hangat yang akan dilontarkan Bimo untuk tetangga bahkan ibunya. Tak ada lagi cerita - cerita tentang kejadian di sekolah. Senyumnya kini hanya diberi untuk gadget dan permainan - permainan onlinenya.
Satu minggu lagi akan diadakan ulangan semester, karena itu Ibu dan Ayah Bimo berencana akan menyita gadget Bimo agar ia bisa fokus belajar semesteran. Pada malam harinya, Ayah memberitahu Bimo bahwa gadgetnya akan disita untuk sementara "Bim, selama semesteran gadgetmu akan ayah sita." ujar Ayah, "Kenapa Yah?" "Ya, supaya kamu bisa fokus belajar, supaya rankingmu nggak turun Bim." nasehat Ibu "Ayah, Ibu BImo udah gede Bimo bisa kok ngatur waktu kapan harus belajar dan kapan harus main. Pliss Yah Bu gadgetnya jangan di sita. Bimo janji bakal rajin belajar". Setelah berdiskusi akhirnya ayah dan ibu akan memberikan kepercayaan kepada Bimo, yang berarti gadget itu tak akan disita.
Namun, janji tinggallah janji. Apa yang Bimo katakan tak ia laksanakan. Setiap malam di depan ayah ibunya, Bimo hanya berpura - pura belajar, dan ia beralasan begadang untuk belajar. Ayah dan Ibu Bimo tentu senang melihat semangat belajar anak semata wayangnya itu. Tapi, sebenarnya hanya di luarnya saja Bimo memegang buku, di dalam buku itu Bimo menyelipkan gadgetnya.
Dua minggu kemudian, waktu pembagian rapor pun tiba. Ibu Tyas (ibunda Bimo), yang pergi ke sekolah Bimo untuk mengambil rapor Bimo. "Orang tua dari Bimo Winata" , kata Ibu Sinta. Ibu Tyas pun maju ke meja wali kelas. Setelah ibu Sinta wali kelas Bimo menyerahkan rapor Bimo, Ibu Tyas langsung membuka rapornya dan terkejut melihat nilai anaknya yang rata - rata di bawah standar kelulusan. Bagaimana Ibu Tyas tidak merasa sangat terkejut, anaknya yang biasa juara kelas kini nilainya hancur berantakan.
Ibu Tyas pulang ke rumah diliputi perasaan yang sangat kecewa. Ia mengendarai mobil dengan tidak konsentrasi hingga mobil yang dikendarai Ibu Tyas menabrak pembatas jalan. Orang - orang sekitar langsung membawa Ibu Tyas ke rumah sakit. Pihak rumah sakit kemudian menghubungi Bapak Vian (Ayah Bimo) "Selamat siang, dengan Bapak Vian?" "Selamat siang,Iya saya sendiri." "Kami dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa Ibu Tyas sedang berada di UGD akibat kecelakaan." "Apa??!!! Saya segera ke sana." Dengan sigap Ayah menjemput Bimo dan pergi ke rumah sakit. Bimo pun ikut shock ketika mendengar berita tersebut.
Sesampai di UGD, tepat sekali dokter baru selesai menangani Ibu Tyas. "Apakah anda keluarga Ibu Tyas?" "Iya Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" "Keadaan Ibu Tyas tidak terlalu parah. Tapi, sekarang dia masih pingsan mungkin sebentar lagi siuman." "Oh, baiklah. Bolehkah kami masuk menjenguknya?" "Silahkan Pak."
Akhirnya Bimo dan Ayahnya masuk untuk menemui ibunya. Bimo lngsung duduk di samping ibunya "IBU! IBU! IBU!" tak kuasa enahan tangisnya, air mata Bimo pun menetes. "Yang sabar Nak." "Ibu, Ibu kenapa bisa begini? Ibu bangun, Bimo mau cerita - cerita lagi sama Ibu. Bimo mau kita bertiga kumpul - kumpul lagi. Ibu bangun Ibu."
Tiba - tiba tangan Ibu Tyas perlahan bergerak. "Ayah, lihat tangan Ibu. Ibu? Ibu sudah sadar?" Perlahan mata ibu Tyas mulai terbuka. "Yah.Bim." "IBU!!" seru Bimo sambil memeluk ibunya. "Ibu kenapa bisa kecelakaan begini." tanya Bimo "Bim, nilai kamu kenapa bisa kayak gitu?" Bimo pun terkejut dengan perntanyaan ibunya. Bimo hanya bisa mengigit - gigit bibir bawahnya. "Ayo Bim jawab yang jujur. Ibu nggak akan marah kalau kamu jujur." "Bu, sebenarnya kemarin selama semesteran Bimo nggak pernah belajar karena keasyikan main gadget. Bimo sadar sekarang Bu kalau gadget itu sudah membuat Bimo bertingkah laku negatif. Bimo jarang belajar, nilai Bimo jadi jelek semua. Bimo juga sekarang jadi jarang ngobrol dan cerita - cerita dengan ayah dan ibu." kata Bimo jujur. "Jadiii, sekarang Bimo ikhlas dah gadgetnya dijual."
"Syukurlah Nak sekarang kamu sudah menyadari kesalahanmu" ucap ibu. "Sebenarnya gadget itu tidak perlu disita, tapi kamu harus bisa belajar membagi waktu. Kapan waktu bermain dan kapan waktu untuk belajar." nasehat ayah. "Ayah sama ibu serius nih? gadgetnya nggak bakal disita ataupun dijual?" "Duarius Bim" jawab ayah dan ibu bebarengan. "Yesss. Love you to the moon and never back deh Ayah Ibu!!!" Mereka pun berpelukan dan tertawa bersama. Keluarga itu pun kembali hangat seperti dahulu.
Sabtu, 29 November 2014
Sabtu, 27 September 2014
Dia Mampu Merubahku
Matematika
catat baik – baik M A T E M A T I K A !! Manusia macam apasih yang udah
menciptkan mata pelajaran dengan beraneka rumus dan angka itu. Dari jaman SD,
SMP, sampai SMA sekarang ini aku tetap benci pelajaran itu. Nilai matematikaku
di rapor tak akan melambung jauh – jauh dari yang namanya kkm. Aku bersyukur
banget deh kalo nilai matematikaku bisa lulus dari kkm.
Sangking
keselnya aku lupa ngenalin diri nih, hehehe. Kenalkan aku Frisca, aku sekarang
duduk di bangku SMA, tepatnya di kelas XI Sosial 1. Aku memiliki dua orang
teman dekat, mereka adalah Putri dan Fiara
Sewaktu
dulu kelas X kelasku menjadi tempat percobaan guru baru untuk mengajar.
Dasarnya saja aku sudah benci dengan pelajaran mat ditambah lagi dengan factor guru
baru yang tidak bisa mengajar, dan kurikulum yang membuat jam pelajaran
bertambah menjadi 4 jam pelajaran menambah deretan betapa menyebalkannya
pelajaran mat itu.
Namun
semua itu berubah ketika aku menginjak kelas XI. Awalnya di jadwal pelajaran tertulis
bahwa yang akan mengajar adalah “Mr.X”, dan tentu saja aku bisa menebak bahwa
yang akan mengejar kelasku adalah guru baru (lagi). Dalam bayanganku wujud guru
baru itu adalah seorang pria tua, cerewet dan galak pokoknya menyeramkan.
Tapiiiii, kenyataan yang ada dan bayanganku berbanding terbalik 180 derajat.
Wujud Mr.X itu ternyata seorang pria muda, putih, dan menurut teman – temanku Mr.X
itu good looking, hahahah.
“Frisca,
cepet ke kelas itu si Mr.X udah masuk ke kelas.” teriak Fiara.
“Iya,
iya.” dengan langkah gontai aku dan Putri pun berjalan menuju ke ruang kelas.
Sesampainya
di kelas, Mr.X sedang mengenalkan dirinya. Akhirnya kami tahu siapa nama Mr.X
itu, namanya adalah Pak Trisna. Tidak ada hal yang terlalu berkesan di hari
awal mengajarnya, ia mengajar selayaknya guru – guru pada umumnya. Aku pun
tetap saja masih menaruh matematika dalam daftar nomor 1 pelajaran yang paling
kubenci.
Hari
– hari selanjutnya, kami sekelas mengambil kesimpulan bahwa Pak Trisna
merupakan guru yang rajin mengajar. Hal ini karena, baru saja bel berbunyi tiba
– tiba dia sudah ada di depan kelas. Selain kelewat disiplin, Pak Trisna juga
rajin memberikan kami oleh – oleh setiap ia habis mengajar. Awalnya, kami
merasa sedikit kesal dengan sikapnya yang kelewat disiplin itu dan oleh – oleh beruntun
yang selalu ia berikan. Namun, lama kelamaan kami mulai terbiasa.
Ada
beberapa hal lucu yang terjadi di sekolah saat Pak Trisna mulai mengajar.
Ketika ia lewat, ada saja suara cewek yang sengaja memanggil, menyapanya, atau bertingkah
laku aneh hanya sekedar untuk mencuri perhatiannya. Antusiasme siswa ketika
menceritakan kepada temannya bahwa yang mengajar matematika di kelasnya adalah “pak
guru ganteng”.
Setelah
sebulan Pak Trisna mengajar, mulai terjadi sedikit perubahan dalam diriku. Aku
mulai SEDIKIT menyukai pelajaran matematika. Aku pun tak tahu apa yang
menyebabkan hal itu bisa terjadi. Aku rasa ini disebabkan karena cara mengajar
Pak Trisna yang santai namun pasti.
Oh
ya, bisa dibilang namaku termasuk salah satu nama yang most wanted banget di
kelas saat pelajaran matematika. Bila ada soal, namaku sering di panggil Pak Trisna
untuk maju. Aku sedikit bingung dengan sikap Pak Trisna, padahal aku kan bukan
termasuk dalam kalangan anak yang pintar.
Sampai
suatu hari, Friska dan Putri tiba – tiba mengajakku ke taman belakang sekolah.
Sepertinya ada hal penting yang ingin mereka bicarakan. “Ada apaan tumben
banget kalian ngajak aku ke sini?” tanyaku bingung “Cieeee Frisca… sering
banget di panggil sama Pak Trisna, jangan – jangan pak guru suka ya sama kamu?”
celoteh Fiara “Apaan sih lo Ra, aneh – aneh aja.” “Enak banget jadi kamu Ca,
bisa sering deket – deket sama Pak Trisna.” kata Putri “Yaelah Put Put, sadar
weee masak aku suka sama bapak – bapak gitu.” “Bapak – bapak dari mall, umurnya
Pak Trisna tu baru 21 tahun. Keren banget kan dia umur segitu udah bisa jadi
guru, gimana coba caranya? Oh ya terus katanya dia tuh juga dulu anak OSN loh.
Keren kan” kata Putri anusias. “Udah lo tanya aja sendiri sono sama dia.
Hahahaha” TEEETTT….. TEEETTTT…. “Udah yuk balik ke kelas udah bel nih, ntar
kita telat masuk kelas diomelin lagi sama Pak Trisna.” Kami pun kembali ke
kelas bersama – sama.
Kebetulan
hari ini adalah pelajaran matematika, sehingga aku bisa langsung bertanya
kepada Pak Trisna mengenai hal yang mengganjal di pikiranku. Saat jam pulang
sekolah, hanya tersisa aku dan Pak Trisna di kelas, anak – anak yang lain sudah
berhamburan ke luar kelas begitu bel berbunyi. Termasuk Fiara dan Putri, mereka
cepat – cepat keluar kelas karena ada kumpul klub fotografi.
Dengan
keberanian yang aku miliki, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Pak
Trisna, “Pak, kenapa bapak sering menyuruhku maju untuk mengerjakan soal – soal
padahal aku tidak termasuk dalam daftar anak yang pintar?” sambil tersenyum Pak
Trisna menjawab, “Bapak melakukan hal itu karena bapak ingin kamu menyenangi
pelajaran matematika. Selain itu bapak juga melihat kamu memiliki potensi dalam
bidang matematika.” Aku sempat kaget darimana Pak Trisna tahu aku tidak
menyukai pelajarannya, aku juga merasa sedikit tidak enak dengan Pak Trisna. “Mungkin
kamu bingung darimana bapak mengetahui kamu tidak menyukai matematika. Semua
itu terlihat dari tingkah lakumu selama pelajaran matematika yang agak ogah –
ogahan.” Lanjut Pak Trisna. “Hmmm, maaf Pak, saya tidak bermaksud untuk
menyakiti perasaan bapak, tapii.” “Sudahlah Frisca, tidak usah terlalu formal
panggil saja aku Kak Trisna, aku tidak memaksamu untuk menyukai pelajaran mat
ini, tapi cobalah untuk bersikap lebih baik pada saat pelajaranku.” “Baik Pak,
eh maksudku Kak.”
2
Minggu kemudian, aku melihat di internet, bahwa akan diadakan olimpiade
matematika oleh salah satu Universitas di Jakarta. Entah ilham darimana, aku
pun pergi menemui Pak Trisna di ruang guru sepulang sekolah. Tentunya tanpa
ditemani Vina dan Putri, karena aku belum begitu yakin dengan niatku ini. “Pak
permisi, saya mau berbicara dengan bapak.” “Ya sudah, kita berbicara di luar
saja.” Pak Trisna mengawali pembicaraan “Ada apa Friska?” “Gini Kak, eee… tadi
aku liat di internet lagi satu bulan bakal diadain olimpiade matematika. Aku
pingin coba ikut lomba itu.” Wajah Kak Trisna terlihat agak kaget mendengar
pernyataan Friska itu “Kamu serius Fris?” “Serius Kak. Kenapa? Mission
impossible ya Kak? hehehe” jawabku sekenanya. “Nggak juga sih Fris, toh kamu
punya potensi.” “Nah, kalau gitu kakak mau nggak jadi tutor aku? Pliss kak
pliss. Soalnya aku denger katanya kakak dulu juga anak OSN” “Gimana ya? Cieee
kamu stalker aku ya sampai tau aku anak OSN.” “Apaan sih Kak kepedean banget.” jawabku
sambil cemberut “Udah donk, nggak usah sebel gitu. Kalau masih sebel aku nggak
mau jadi tutor kamu deh, senyum donk.” “Serius kakak mau? Thanks a lot kak.”
Kak Trisna hanya menjawab dengan senyuman. Sambil menyerahkan ponselnya, Kak
Trisna memintaku untuk menuliskan nomer hp ku, agar mudah dihubungi.
Malam
harinya, sebuah nomer yang tak ku kenal mengirimiku sebuah pesan singkat,
From
: +6281805212***
Malam
Fris,
Kapan
nih mau mulai belajarnya?
Terus
tempatnya juga dimana?
Kak
Trisna
Oh,
ternyata pesan singkat itu dari Kak Trisna. Aku pun segera membalas pesan
tersebut
To
: +6281805212***
Malam
juga, Kak
Terserah
kakak aja, kapan kakak bisanya
Tempatnya
di rumahku aja kak biar nggak di tahu sama yang lain.
Hanya
butuh menunggu sekitar 5 menit Kak Trisna sudah membalas pesanku lagi
From
: +6281805212***
Okeh
deh, Fris
Kita
mulai belajarnya besok aja ya
Pas
pulang sekolah
Kamu
pulangnya bareng aku aja, sekalian ke rumahmu
To
: +6281805212***
Siap
Kak
Keesokan harinya, aku menceritakan
rencanaku kepada Fiara dan Putri. Respon mereka awalnya cukup terkejut, namun
mereka tetap mendukungku. “Ca, kamu kesambet apaan bisa mau ikut olimpiade
matematika?” tanya Putri “Iya Ca, shock banget aku denger keinginan kamu yang
ini. Frisca sang HATERS MATHEMATIC malah pingin ikut olimpiade matematika” Lanjut
Fiara “Jangankan kalian, aku aja masih rada bingung kok bisa aku pingin ikut
olimpiade mat.” “Eh, ngomong – ngomong siapa yang jadi tutor kamu?” tanya
Putri. Tanpa ragu Frisca menjawab “Kak Trisna, eh maksudku Pak Trisna.” “Waaaa
Ca, enak banget. Kalau gitu aku juga mau donk ikut olimpiade mat.” Kata Putri
asal. “Hati – hati Ca, ntar kamu cinlok lagi sama Pak Trisna. Hahaha” “Apaan
sih Ra, ini kan cuman hubungan antara guru dan murid nggak lebih.” “Iya aku kan
cuman ingetin Ca.”
Pukul 15:17 akhirnya aku dan Kak
Trisna sampai di rumahku, setelah mengendarai sepeda motor selama kurang lebih
30 menit. Lalu, Mbok Asih membukakan gerbang ketika mendengar bunyi bel sepeda
motor di depan rumah. Aku pun mempersilahkan Kak Trisna masuk ke ruang tamu,
sementara aku mengganti baju dan meminta tolong Mbok Asih membuatkan Kak Trisna
minum.
Setelah selesai mengganti baju, aku
pun bergegas ke ruang tamu. Ku lihat Kak Trisna sedang sibuk membolak – balik buku.
“Kak?” Kak Trisna pun mengangkat mukanya dan berkata “Rumahmu kok sepi banget
Fris? Papa Mamamu mana?” “Papa Mama tinggal di Surabaya, jadi aku tinggal
sendiri di Jakarta.” Kak Trisna manggut – manggut tanda mengerti. “Ya udah,
kita mulai belajarnya ya.” Kak Trisna mengajariku soal – soal yang mudah dulu
untuk pertemuan pertama ini. Sekitar Pukul 18:00 Kak Trisna pamit.
Rutinitas bimbingan olimpiade sudah
berjalan sekitar kurang lebih 3 minggu, yang berarti 1 minggu lagi menuju ke
medan perang yang sesungguhnya. Hubunganku dengan Kak Trisna pun semakin akrab.
Hampir setiap malam ia mengirimiku pesan sekedar bertanya, “Lagi ngapain?” “Udah
makan belum, Dek?”. Aku juga merasa nyaman dengan perlakuan Kak Trisna. Kini
aku semakin mengenal Kak Trisna, ternyata Kak Trisna itu orangnya perhatian dan
jail banget.
Hari pelaksanaan olimpiade pun tiba,
aku berdoa semoga aku dilancarkan ketika mengerjakan soal – soal itu. Beberapa
saat sebelum lomba dimulai, ada 3 pesan di inbox ku.
From
: Fiara
Bebiii
cemungudh eapass :*
God
Bless
From
: Putri
Semangat
Cak, kamu pasti bisa
Jangan
sia – siain pengorbanan aku,
Yang
udah relain Kak Trisna buat kamu :3
Aku
hanya tertawa dan membalas pesan dari Fiara dan Putri. Pesan terakhir ternyata
dikirim oleh Kak Trisna
From
: Kak Trisna
Good
Luck Fris :D
Kamu
pasti bisa ngerjain soal – soal itu
Pesan
dari Kak Trisna itu benar – benar menyuntikkan semangat bagiku. Aku pun membalas
pesannya. Setelah itu para peserta dipersilahkan masuk ke ruangan masing –
masing.
Seminggu kemudian, ditemani Kak
Trisna aku menghadiri acara pengumuman lomba itu. Ketika mc membacakan juara –
juara olimpiade, hatiku berdegup kencang. “Juara ketiga atas nama Julian
Harvian.” Nyali ku sudah ciut, aku sangat pesimis karena jika juara 3 saja aku
tak dapat mana mungkin aku bisa mendapatkan juara 2 apalagi 1, aku kan hanya
pemula. “Selanjutnya, juara ke 2 Hervina Melani.” Aku sudah tak sanggup lagi
menunggu siapa yang menjadi juara 1 yang pastinya itu bukan aku, tapi Kak
Trisna tetap menguatkan ku dengan menggenggam tanganku. “Dan inilah yang paling
ditunggu – tunggu. Juara 1 olimpiade matematika Universitas Merdeka adalah…..
Frisca Geraldine” Aku hanya terkejut dan tidak bisa berbuat apa – apa. Aku tak
menyangka aku bisa mendapatkan juara 1. Air mataku pun jatuh karena terharu.
Setelah menerima hadiah, aku pun pulang bersama Kak Trisna. Tapi, sebelum
pulang Kak Trisna mengajakku ke sebuah kedai ice cream. Katanya ia akan
mentraktirku karena aku berhasil menjadi juara 1 dalam ajang olimpiade ini.
“Fris, kamu mau pesan apa?” “Apa aja
deh kak terserah kakak. Kan kakak yang teraktir. Hehehe” “Ya udah, kita pesen
waffle toppingnya ice cream cookies and cream ya” “Apa aja aku ikut kak” Kemudian
Kak Trisna mengangkat tangannya memanggil pelayan. Setelah pelayan itu berlalu
dari meja kami, Kak Trisna pun membuka pembicaraan “Congratulation Fris. Kamu
hebat banget, baru ikut sekali langsung bisa jadi juara.” Kata Kak Trisna
menyatakan kekagumannya “Kakak bisa aja, semua ini kan juga karena bimbingan
dari kakak. Kalau nggak ada kakak, aku nggak mungkin bisa jadi juara.” Kataku merendah.
“Kak aku juga mau ngucapin terima kasih karena kakak aku bisa berubah jadi
manusia yang lebih baik.” “Kamu bisa aja Fris.” Tak berapa lama kemudian,
pesanan kami pun datang. Waffle dengan topping cookies and cream itu sangat
menggugah selera. Setelah habis menyatapnya, aku kira kita akan langsung
pulang.
Namun ternyata Kak Trisna
menyuruhkun untuk duduk dulu sebentar, katanya ada yang ia ingin katakana. “Fris,
belakangan ini hubungan kita makin dekat ya?” “Eeee.. iya kak.” Aku merasa
sedikit gugup dengan pertanyaan Kak Trisna itu. “Kakak kira cuman kakak yang
ngerasa kayak gitu. Fris, kakak ngerasa ada banyak kecocokkan diantara kita.
Jadi kakak pingin hubungan kita bisa lebih serius lagi. Fris, do you want to be
my girlfriend?” Kak Trisna mengatakan semua kalimatnya dengan tegas dan
berwibawa. Aku bingung harus menjawab apa, lalu kuputuskan untuk “Kak, aku
ngerasa ini bisa jadi masalah kalau di sekolah ada guru dan murid yang
berpacaran, dan aku nggak mau ngerusak hubungan kita yang udah baik ini. Jadi
menurutku lebih baik kita berteman aja kak. Maaf Kak.” Karena Kak Trisna sudah
dewasa, dia pun bisa menerima jawaban Frisca itu. Setelah itu Kak Trisna
mengantar Frisca pulang.
Sesampai di rumah Frisca segera
menghubungi kedua sahabatnya, Frisca mengundang kedua sahabatnya ke rumah. Tak
berapa lama, Fiara dan Putri sudah tiba di rumah Frisca. Frisca pun menceritakan
semua kejadian hari ini, dari dirinya menjadi juara 1 olimpiade sampai ia
ditembak oleh Pak Trisna. “Ya ampun, Frisca kenapa kamu tolak.” Kata Fiara “Udah
Ra, Frisca itu baik dia itu nolak Pak Trisna karena tau aku suka sama Kak
Trisna.” Ucap Putri bahagia. “Ada – ada aja kamu Put. Terus hubungan kamu sama
Pak Trisna gimana Ca?” “Ya nggak tau Ra, semoga tetep baik – baik aja sih.” “Amin
Ca.”
Senin Pagi, Frisca dipanggil maju
ketengah lapangan karena prestasinya dalam olimpiade matematika. Setelah
selesai upacara, Pak Trisna pun menemui Frisca dan mengatakan “Fris, Kakak
harap kejadian kemarin nggak merubah hubungan pertemanan kita yang udah
terjalin ya.” “Iya kak, nggak akan berubah kok.” kataku meyakinkan Kak Trisna.
Jumat, 26 September 2014
Tiara
Tiara
adalah seorang anak tunggal. Ia anak yang cerdas, namun kepintarannya itu tidak
diimbangi dengan kelakuannya. Ia selalu merasa bahwa dirinyalah yang paling
cerdas dan benar. Semua keinginannya harus dituruti ia merasa bak seorang putri
kerajaan. Kelakuannya ini adalah akibat dari ibunya yang selalu mebelanya
dikala dia salah, dan memanjakannya terlalu berlebihan. Ayahnya, Bimo adalah
CEO dari sebuah perusahaan tekstil ternama dan ibunya, Rina adalah seorang wanita
socialita.
Satu bulan lagi Tiara genap berusia 17 tahun. Ia ingin ulang tahun ke-17nya dirayakan secara besar-besaran. "Ayah, Bunda, Tiara mau sweet seventeen Tiara dirayain di Hotel bintang lima terserah yang mana aja, terus makanannya itu harus masakan western jangan masakan Indonesia ntar jdi kmpungan, terus ...." Tiara terus saja nyerecos mengenai pesta impiannya itu. Ayah pun menasehati Tiara "Nak, apakah itu tidak berlebihan? Jangan membuang - buang uang untuk hal - hal yang kurang bermanfaat." Tiara pun langsung manyun mendengar nasehat ayahnya itu "Dasar ayah katrok, ketinggalan jaman banget. Nggak tau trend anak muda sekarang." "Sudahlah Yah, toh Tiara anak kita satu-satunya tak apalah ia merayakan ulang tahun ke 17nya secara besar-besaran, toh hanya sekali seumur hidup." Bunda pun membela Tiara. Ayah hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan istri dan anaknya itu.
Senin
Pagi itu, Tiara pergi ke sekolah di antar supir dengan menggunakan jaguar
hitamnya. Ia langsung berlari ke dalam sekolah dan menceritakan kabar gembira
tersebut kepada dua sahabatnya Vina dan Fitri. Kedua sahabatnya pun ikut senang
mendengar kabar tersebut. Mereka pun terus berbincang mengenai apa saja yang
akan dipersiapkan untuk acara tersebut. Tiba - tiba datang Pak Rendi, Dion,
bersama seorang cewek yang sepertinya murid baru di kelas itu. Dion adalah
ketua kelas XI IPA 3 dan merupakan salah satu cowok popular di SMA Tunas
Bangsa. Suasana kelas yang tadinya gaduh pun menjadi sunyi, semua obrolan
terhenti dan mata mereka semua tertuju ke depan. Pak Rendi pun segera
menjelaskan bahwa cewek tersebut ternyata bernama Rani dan merupakan murid
pindahan dari daerah Madiun. Tiara merasa agak terganggu dengan penampilan
cewek tersebut namun ia memilih untuk tidak mempedulikannya. Kegiatan belajar
mengajar pun kembali berlanjut seperti biasa.
Saat jam istirahat, tiba - tiba Dion
menghampiri Tiara. Awalnya Tiara berpikir ada hal penting yang akan dibicarakan
oleh Dion, sehingga ia berhenti melangkah dan menunggu Dion untuk berbicara.
Namun ternyata apa yang dipikirkan Tiara jauh meleset, karena Dion
menghampirinya hanya untuk berkata "Ciee yang lagi satu bulan sweet
seventeen". Tiara pun memandang Dion dengan tatapan aneh dan melanjutkan
perjalanannya ke kantin bersama Vina dan Fitri. "Tuh cowok aneh banget ya,
tiba-tiba nyamperin cuman ngomong gitu, nggak jelas banget." kata Tiara.
"Mau PDKT kalik dia Ra. Hahahah." Tiara hanya menatap Vina dan Fitri
dengan acuh. "Nggak peduli gue."
Undangan
ulang tahun Tiara pun sudah disebar sejak H-14 atau sekitar 2 minggu sebelum
acara. Semua warga SMA Tunas Bangsa diundang untuk hadir di pestanya itu,
termasuk Rani si murid baru itu.
Namun
setelah 3 minggu Rani bersekolah di SMA Tunas Bangsa, Tiara mulai merasa
kelakuan Rani mulai agak mengganggunya. Rani yang cukup handal dalam bidang akademik, dianggap
sebagai ancaman bagi Tiara. Suatu hari saat pelajaran Kimia, Pak Rendi memilih
Rani untuk bergabung dengan kelompok Tiara. Tiara pun tersenyum sinis ia lalu
berpikir, inilah saatnya aku menjatuhkannya. "Sorry Pak, aku nggak level
kelompokan sma anak cupu kayak gitu, euhhh banget." "Tiara, jaga
omongan kamu atau keluar kamu dari kelas ini" Pak Rendi pun kehilangan
kesabaran. "Ra, sadar donk lo kalau lagi ngomong." "Lo juga
belain si cupu itu. Sana aj lo temenan sama dia, gue mah ogah. Nggak butuh gue
punya temen yang kampungan gitu. Jijik tau." Tiara berkata sambil keluar
meninggalkan kelas. Ia merasa hal yang dilakukannya tadi adalah benar, hanya
teman – teman dan gurunya lah yang aneh sehingga membela Rani. Vina dan Fitri
yang biasanya bisa mentolerir kelakuan Tiara, kini juga benar – benar tidak
habis pikir dengan kelakuan teman mereka itu.
Keesokan harinya, Tiara datang ke sekolah dengan gaya bossynya. Semua mata melihatnya dengan pandangan kesal, sebal, dan semacamnya. Ternyata kabar mengenai kelakuan Tiara kemarin telah tersebar ke seluruh sekolah. Namun, Tiara cuek saja karena dia menganggap hal yang kemarin terjadi itu bukanlah sebuah masalah, itu hanyalah angin lalu. Sesampainya di kelas, ia langsung membaur dengan Vina dan Fitri yang kebetulan sudah datang. Tapi, tanpa disangka - sangka ketika Tiara datang, Vina dan Fitri malah pergi dari kelas. Tiara sempat kaget dengan sikap temannya itu, tapi ia tidak terlalu peduli. Ia pun duduk di bangkunya sambil memainkan ponselnya.
Sebuah
tangan menepuk bahunya, Tiara pikir itu adalah Vina atau Fitri. Jadi dengan
senyum yang sangat bersemangat ia menoleh, namun raut wajahnya pun berubah
karena itu bukanlah Vina maupun Fitri melainkan Dion. Tiara pun berkata dengan
sinisnya, "Apaan lo?" "Galak amat sih non. Tumben banget
sendirian? Boleh gue temenin?" Tiara tetap saja fokus pada ponselnya, ia
tidak menghiraukan perkataan Dion. "Dijawab donk ra, kok gue dikacangin
sih?" Bel pun berbunyi dan Dion kembali ke tempat duduknya tanpa menunggu
jawaban dari Tiara.
Sampai
di rumah, Tiara masuk ke kamarnya lalu memikirkan kejadian hari ini. Ia merasa
bahwa teman-temannya itulah yang aneh mengapa marah padanya padahal ia tak
memiliki salah. Bunda mengetuk pintu membuat Tiara kaget dan berpura - pura
sedang membereskan kamar. "Aduh anak Bunda rajin banget sih."
"Iya,Bunda." "Kamu kenapa nak kok mukanya sedih gitu? Ada
masalah?" "Nggak ad kok Bun." "Ya udah kalo gitu, bunda
keluar dulu ya." Tiara hanya menjawab dengan senyuman. Tiara memilih tidak
menceritakan mengenai kelakuan aneh teman-temannya. Beberapa saat kemudian
terlintas dipikirannya, jangan - jangan kelakuan teman-temannya itu hanyalah
cara untuk mengerjainya karena dia akan berulang tahun. Tiara pun memilih untuk
tidak memikirkannya lebih lanjut, dan ia memilih untuk tidur.
Sabtu,
27 Mei 2017 tepat pukul 00:00 Ayah dan Bunda masuk ke kamar Tiara dengan
membawakan sebuah tiramisu dan sebuah kotak kecil sebagai hadiah ulang
tahun, sambil menyanyikan lagu Happy
Birthday. Tiara pun merasa sangat senang atas surprise yang diberikan itu. Ia
pun mengucapkan terima kasih dan memeluk serta mencium ayah bundanya secara
bergantian. “Nak, ini hadiah dari ayah dan bunda untuk kamu. Semoga kamu suka.”
Ayah berkata sambil memberikan kotak kecil itu pada Tiara. Tiara membuka kotak
itu dan bersorak senang. Ternyata isi kotak itu adalah sebuah kalung dengan
bandul huruf “T” serta sebuah kunci mobil. “Ya ampun, Ayah Bunda Tiara senang
banget sama kadonya. Makasi banyak Ayah Bunda.” “Sama-sama Nak, sekarang kamu
istirahat lagi ya. Besok kan mau siap – siap untuk acara ulang tahunmu.” Kata
Bunda. Tiara pun segera kembali ke tidurnya setelah ayah dan bunda keluar dari
kamarnya.
Pagi
harinya, Tiara bangun dan langsung mengecek ponselnya, namun tak ada satu pun
sms, bbm, maupun mention yang masuk. Ia pikir bahwa teman – temannya memang
benar sedang mengerjainya atau mungkin belum bangun, karena hari sabtu adalah
hari libur bagi murid – murid SMA Tunas Bangsa. Tiara pun segera mandi dan
sarapan, karena dia harus segera ke salon untuk membuat dirinya terlihat sangat
cantik nanti malam. Tiara pergi ke salon diantar oleh supir dan mamanya. Di
perjalanan, Tiara kembali mengecek ponselnya, ada beberapa pesan yang masuk
tapi semua itu hanya dari keluarganya saja tak ada satu pun pesan dari teman –
teman sekolahnya. Namun ada sebuah nomer yang tidak dikenal Tiar, mengiriminya sebuah sms.
From
: +6287865123xxx
Happy
sweet seventeen birthday, Ra.
Makin
cantik, makin disayang sama ortu.
Semua
doa terbaik untukmu, Ra :D
Love
:3
Tiara
merasa sedikit aneh dengan sms tersebut sehingga ia memilih untuk tidak
membalas sms itu. Tetapi, Sepanjang hari di salon Tiara tetap saja memikirkan
siapa kira – kira pengirim pesan misterius itu. Lama ia berpikir, tak ada satu
pun nama terlintas di otaknya.
Waktu yang ditunggu – tunggu pun
tiba, tepat pukul 19:00 Tiara sampai di hotel tempat pesta ulang tahunnya
diadakan. Tiara terlihat sangat cantik dalam balutan gaun berwarna hijau tosca
dengan heels setinggi 7 cm yang berwarna senada dengan gaunnya. “Baiklah
hadirin sekalian, mari kita sambut putri kita Tiara Ardelia Wijaya.” Tiara pun
memasuki ballroom bersama kedua orang tuanya diiringi tepuk tangan riuh para
tamu undangan. Semua mata tamu undangan tertuju pada Tiara yang tampil begitu
cantik malam itu.
Setelah acara tiup lilin dan potong
kue, para hadirin dipersilahkan untuk naik ke panggung memberikan ucapan
selamat ulang tahun kepada Tiara. Banyak rekan bisnis ayah dan teman – teman
ibu Tiara yang memuji penampilan Tiara malam itu. Tiara hanya menjawab dengan
memberikan senyuman termanisnya. Sudah banyak tamu undangan yang silih berganti
menyalaminya, tapi Tiara tidak menjumpai satupun teman – temannya dalam barisan
itu. Tiara memutuskan untuk terus menunggu. Sampai akhirnya ada seorang
temannya datang, Tiara tidak begitu mengenali wajah itu dari jauh, tapi ia
harap bahwa itu adalah salah satu dari temannya. Ketika wajah itu mendekat,
memang benar itu adalah salah satu dari teman Tiara, namun Tiara tidak merasa
begitu senang, karena yang datang adalah Dion. Dion naik ke panggung dan
memberikan ucapan selamat kepada Tiara.
Sampai acara berakhir tak ada lagi teman Tiara yang
datang. Tiara tak dapat lagi menahan kesedihan di hatinya. Tiara berlari keluar
ballroom dan pergi ke taman. Diam – diam Dion mengikuti Tiara. Di taman, air
mata Tiara pun tumpah. Dion menghampiri Tiara, sebenarnya ia sempat terkejut
karena tak pernah disangkanya cewek seangkuh Tiara bisa juga menangis seperti
itu. “Ngapain lo ke sini? Kenapa lo masih mau temenan sama gue sedangkan anak –
anak yang lain nggak? Sebenarnya gue salah apa?” Tiara terus bertanya sambil
menangis sesegukan. Dion lalu meraih tangan Tiara pelan dan menghapus air mata
Tiara “Ra, kamu harus sadar kalau kelakuan kamu yang suka menghina orang dan
bersikap angkuh itu nggak baik. Kamu harus rubah sikap kamu supaya anak – anak
yang lain mau berteman sama kamu lagi.” “Terus kamu, kamu kenapa masih mau
berteman sama aku?” Tiara pun melontarkan pertanyaan yang mengganjal di
pikirannya itu. “Eeeee.. itu karena aku… aku pingin ngebantu kamu berubah jadi
orang yang lebih baik lagi.” Jawab Dion sambil menunjukkan senyum yang dibuat –
buatnya. “Aku saranin besok kamu minta maaf sama anak – anak sekelas.” “Emang
mereka mau maafin aku?” “Nggak ada salahnya mencoba, Ra.” nasehat Dion. “Oke,
mkasi banyak ya, Yon buat saranmu. Masuk yuk dingin nih di luar.” Mereka pun
kembali masuk ke ballroom.
Dengan penuh semangat, Tiara bangun pagi – pagi
sekali dan langsung pergi ke sekolah. Ayah dan bundanya kaget melihat kelakuan
putri mereka yang biasanya bangun kesiangan, kini sudah siap untuk berangkat ke
sekolah. “Nak, kamu kenapa kok pagi – pagi sekali sudah mau ke sekolah?” tanya
bunda khawatir. “Nggak papa kok, Bun lagi ada tugas soalnya. Ayah Bunda, Tiara
pamit dulu ya.” Tiara pun mencium tangan ayah dan bundanya bergantian. Hari ini
Tiara ke sekolah dengan mengendarai mobil barunya.
Sekolah masih sangat sepi tentunya, hanya ada
beberapa murid di sekolah dan para petugas kebersihan. Tiara berjalan kea rah
ruang guru, kebetulan ada Pak Rendi di sana. “Permisi pak.” Pak Rendi hanya
menganggukkan kepala memberi isyarat Tiara untuk masuk. “Pak maksud kedatangan
saya ke sini, saya ingin meminta maaf kepada bapak atas kelakuan saya kemarin.”
Pak Rendi menatap Tiara dan berkata “Syukurlah Tiara, kalau kamu sudah
menyadari bahwa tindakanmu salah. Tak seharusnya kamu bertingkah angkuh dan
menghina orang lain.” “Iya Pak, saya benar – benar minta maaf. Pak?” “Iya ada
yang bisa bapak bantu?” “Pak saya mau meminta tolong agar murid – murid nanti
di kumpulkan di lapangan, karena saya ingin meminta maaf kepada mereka semua
khususnya kepada Rani.” pinta Tiara. “Baiklah nak, akan bapak bantu.” “Terima
kasih Pak.” Tiara pun salim kepada Pak Rendi dan meninggalkan ruang guru.
Tepat pukul 07:15 bel berbunyi, da nada pengumuman
bahwa seluruh murid diharap berkumpul di lapangan. Berbagai ekspresi muncul,
ada yang males – malesan ada yang penasaran ada apaan dan lain – lain. Vina dan
Fitri termasuk dalam kelompok yang ogah – ogahan banget ngumpul ke lapangan,
factor kelas yang ada di lantai tiga lah yang menjadi alasan mereka malas untuk
ke lapangan. Setelah, semua murid berkumpul, Tiara naik ke mimbar dan berkata
“Selamat pagi, yang terhormat kepala sekolah, bapak/ibu guru, serta teman –
teman semua. Saya berdiri di sini untuk menyampaikan permintaan maaf saya
kepada seluruh warga sekolah, khususnya Rani atas perilaku saya beberapa hari
yang lalu. Saya benar – benar merasa menyesal dan saya berjanji akan mencoba
untuk merubah tingkah laku saya agar tidak menyinggung perasaan orang lain.”
Tanpa disadari sebulir air mata Tiara jatuh. Permohonan maaf Tiara tersebut
disambut riuh warga sekolah, semuanya berteouk tangan. Mereka menghargai usaha
Tiara untuk meminta maaf itu. Vina dan Fitri pun berlari ke tengah lapangan dan
memeluk Tiara. “Vina Fitri aku minta maaf ya sama kalian.” “Udah deh Ra yang
penting sekarang kamu udah sadar.” Suasana pun berubah menjadi haru.
Sepulang sekolah Tiara mengajak Dion untuk bertemu
di taman sekolah. “Yon thanks a lot ya buat saran lo, sekarang teman – temanku
udah mau berteman sama aku lagi.” “Sama
– sama Ra, aku juga seneng liatnya kalau kamu udah balik ceria lagi.” kata
Dion. “Ra sebenernya ada yang pingin aku omongin.” “Apaan Yon? Ngomong aja.” “Ra, sebenernya aku… aku..”
Tiara merasa apa yang akan dikatakan Dion adalah hal yang sangat penting,
mungkin saja berhubungan dengan perasaan tapi ia tidak terlalu yakin mengenai
hal itu. “Ra, sebenernya aku suka sama kamu dari awal kelas XI tapi aku belum
berani deketin kamu. Sekarang aku udah cukup berani buat deketin kamu walaupun
sikapmu ke aku agak sinis tapi aku tetep coba untuk bertahan. Jadi, Ra mau
nggak kamu jadiii pacar aku?” Dion berhasil mengucapkan semua kalimatnya dengan
jelas, walaupun sebenarnya badannya sudah panas dingin. Tiara agak sedikit
kaget dengan pernyataan cinta Dion, namun ia berhasil mengontrol dirinya. “Maaf
Yon, aku…” Perasaan Dion serasa diaduk – aduk menunggu jawaban Tiara, dengan
segenap kekuatan yang dimilikinya Dion berkata “Nggak papa kok Ra kalau emang
kamu belum bisa nerima aku.” “Maaf Yon, aku nggak bisa nerima kamu besok atau
lusa. Aku bakal nerima kamu sekarang juga.” “Jadi kamu mau jadi pacar aku Ra”
Dion tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Reflek Dion memeluk Tiara.
“Eh, jangan pegang – pegang belum muhrim. Hahaha” Mereka pun tertawa bersama. Hari itu menjadi salah satu
hari paling bahagia dalam hidup Dion dan Tiara.
Langganan:
Postingan (Atom)
Recycle Cinta
AUTHOR’S POV “….. Sudah tak bisa dipungkiri jumlah sampah yang ada di Indonesia ini. Mulai dari limbah rumah tangga, pabrik...
-
Tettt.. Tett... Bel istirahat berbunyi yang langsung disambut sorakkan anak - anak diseluruh penjuru SMA Griya Bangsa, tak terkecuali k...
-
Sebagian besar orang di dunia ini mungkin sangat menyukai anak kecil. Mulai dari mukanya yang lucu hingga tingkahnya yang menggemaskan. ...
-
Setiap siswa atau mahasiswa memasuki suatu tingkatan yang baru dalam bidang pendidikan maka mereka wajib melewati tahap yang d...