Jumat, 26 Juni 2015

Jomblo atau Taken??

    Kata paling populer masa kini kayaknya bisa dibilang J O M B L O dibaca JOMBLO. Hampir tiap hari kayaknya kita bakal selalu dengar perkataan itu. Yang ngucapin kata - kata itu nggak cuman para TAKENERZ tapi kadang JOMBLONERZ juga pada saling sorak bilang JOMBLO. Apakah Jomblo sehina itu sampai harus dijadikan bahan olokan? Apa udah pasti kalau taken kita bakal bahagia? Nggak selamanya kedua kalimat di atas salah dan nggak selamanya juga keduanya benar. Coba deh simak cerita di bawah ini.
     Dua saudara kembar identik yang tentunya sama - sama cantik namun memiliki sedikit perbedaan dalam bidang akademik. Rena adalah seorang perempuan yang sangat feminim, ia termasuk siswi yang cukup berrestasi di kelasnya. Sedangkan, Reni adalah kebalikan darri Rena dalam bidang penampilan, ia adalah cewek tomboy dan sangat cuek dengan penampilannya. Namun dalam bidang akademik kemampuan Reni lebih cemerlang daripada Rena.
     Kini, kedua saudara kembar tersebut adalah siswi kelas XI di sebuah SMA negeri favorit. Walau sudah 1 tahun mengenakan seragam yang terdiri dari baju lengan panjang dan rok panjang Reni masih belum terbiasa, Seperti suatu pagi, saat itu Reni telat bangun dan kakaknya (Rena) sudah meneriakinya dari dalam mobil "Reniii!! buruan udah telat ni." "Iya kak bentar tinggal iket tali sepatu." kebiasaan Reni yang suka tak sadar kalau sedang memakai rok membuatnya lompat dari tangga teras menuju garasi, rok yang tentunya membuat geraknya lebih terbatas membuatna hampir saja terjatuh "Aduhh... sialan sumpah ni rok ngeselin banget." umpat Reni sambil menaiki mobil. "Yaelah, salah lo juga kali udah tahu make rok masih aja lompat sana sini kayak nyemot." "Yee,... bodok." setelah Reni naik mobil, pak supir langsung menjalankan mobilnya.
     Sesampai di sekolah mereka lalu berpisah arah karena Rena adalah anak IPA sedangkan Reni adalah anak IPS. Setelah 3 bulan bersekolah, Rena mulai menyadari ada gerak - gerik kakak kelas yang sepertinya menyukai dirinya. Kakak kelas itu bernama Randy. Bukan kegeeran tapi Randy sering sekali menyapa ataupun mengajak Rena untuk makan di kantin.
     Reni yang aslinya usil dan kepo langsung menodong Rena dengan bermacam pertanyaan ketika mereka sudah berada di kamar. "Cieee, Rena udah ada yang ngegebet. Udah jadian berapa ama? PJ gue mana?" "Ya ampun dek ribut amat, siapa yang jadian? sembarangan aja." "Oh ya udah berarti lagi PDKT sekarang?" "Nggak cuman temen biasa aja."  "Ummmm... Macak??" "Iya adek bawel. Ntar kalo jadian juga bakal gue kasitau kali."
      Yah beginilah kalau sudah membicarakan tentang pacar. Kehidupan percintaan antara dua saudara kembar ini bisa dibilang sangat jomplang, dimana Rena sudah berpacaran beberapa kali sejak SMP sedangkan Reni nihil. Dari paras keduanya tentu sama - sama cantik, jadi yang mungkin menjadi pertimbangan cowok - cowok adalah tingkah laku Rena yang lebih feminim akan membuat cowok merasa lebih berguna ketimbang dengan Reni yang sepertinya bisa melakukan segala sesuatunya sendiri dengan sifat tomboynya. Selain itu, mungkin bisa dibilang para cowok agak takut mendekati Reni, karena seperti diketahui Reni memiliki presasi yang sangat cemerlang dalam bidang akademik yang bisa saja membuat cowok yang akan mendekatinya merasa "bodoh" atau kalah saing. Bagi Reni itu tak masalah karena dengan kesendiriannya dia tetap bahagia. Berbeda dengan Rena yang merasa lebih nyaman bila memiliki gandengan.
      Beberapa bulan kemudian Rena dan Randy pun jadian. Suatu malam, Randy mengajak Rena untuk dinner namun kondisi badan Rena kurang fit. Namun, ia tak ingin membuat Randy kecewa akhirnya muncul sebuah ide. "Dek, lo nggak pernah pacaran kan?" "Iyalah kak, terus kenapa? masuloh?" "Ih apaan sih. Kakak mau minta tolong bisa?" "Minta tolong apaan?" "Gini, entar malem Randy ngajakin kakak dinner tapi kakak lagi nggak enak badan. Kakak nggak mau ngecewain dia jadi..." "Jadi tolong ya dek gantiin kakak. Enak aja. Ya udah bilang aja lagi sakit gitu aja ribet _-_" "Yaelah dek sekali kali gitu bantuin." "Males gilak berurusan dengan cowok." "Plissss... sekali aja" "Nggak ah males." "Ayolah dekk... Entar kakak beliin apa yang kamu mau deh." "Tetep Nggak." "Ayolah dek, tolongg!!" "Iye deh iye bawel. Satu kali ini aja." "Ok. Makasi. Emang baik deh adik yang satu ini." Rena langsung memeluk Reni
      "Kalau gitu sekarang kamu buka lemari kakak pilih dress mana buat kamu pakai entar malem." "Maless ah make celana jins sama kemeja aja nggak bisa?" "Serius dikitt dek, masak cewek dinner makai celana jins sama kemeja." "Biarin aja." "Jadi cewek lah kamu. Kan sekarang posisinya itu lu lagi jadi gue. Oh iya sekalian ini hp gue lo bawa dulu." "Hmmm.... Ya Tuhan semoga cobaan ini cepat berakhir."
       Setelah selesai bersiap - siap, tepat pukul 7 Randy sudah tiba di rumah Rena. Randy langsung terkesima melihat penampilan Reni. "Wah Ren kamu cantik banget." Reni hanya membalas dengan tersenyum "Ya udah kita jalan sekarang yuk." Randy menggandeng tangan Reni yang hampir saja denan refleks ditepis oleh Reni. Untungnya dia cepat sadar kalau dia sedang menjadi Rena.
      Selama perjalanan Reni hanya menjawab bila diajak berbicara oleh Randy. Randy mulai merasa ada yang aneh karena tidak biasanya Rena begini. Biasa Rena yag sering mencari topik - topik pembicaraan, dan sikap Rena lebih manja. "Ren kamu lagi sakit? Kalau emang lagi sakit mending kita batali aja dinnernya, daripada dipaksain ntar kamu sakit lagi."'Iya, eh, maksudnya nggak papa kok Ran" eh busseett deh biasa aja kali kalau sakit. Heboh bener. Ini mah perhatian overload "Serius nih nggak papa?" "Iya, nggak masalah."
     Setelah selesai dinner, Randy langsung mengantar Reni pulang. "Ren istirahat yang cukup biar cepet sembuh. Byeee." "Okeh. Byee." Sebenarnya Reni ingin langsung mengembalikan hp Rena, tapi ternyata Rena sudah tidur. Setelah selesai membersihkan diri ia mengecek hpnya kemudian hp Rena pun bergetar. Ternyata itu adalah bbm dari Randy

Randy
Good night beb. Nice Dream yah..
Istirahat yang cukup biar cepet sembuh
love youu :*:*

      "Eh buset dah ya ni orang - orang kalau pada pacaran. Kayak pelayan supermarket ngucapin selamat pagi siang malam." Reni sudah berniat mengabaikan bbm itu tapi iya teringat pesan Rena tadi "Pokoknya ada bbm, line atau aapun lah dari Randy lo harus bales. Awas aja kalo nggak. Nggak bakal gue belin apa - apa elo." "Sumpah nyebelin punya kembaran kayak begini. Nying nying banget." Reni bingung harus membalas seperti apa, ia pun men-scroll up. Reni pun bergidik geli ketika membaca chat bertabur emot hug, kiss, tulisan say, beb, dan sebagainya. Akhirnya dia hanya meng-copy balasan kemaren malam daan ditambahi beerapa kata.

Randy
Good night juga beib:3
Nice dream too:*
Iya aku istirahat kok
Thankyouu love:*:*

    "Ya Tuhan, itu chat paling alay yang pernah gue kirim." Setelah itu Reni segera pergi tidur. Keesokan harinya Reni bergegas peri ke kamar Rena mengeluarkan segala unek - uneknya dan tentunya juga mengembalkan hp Rena. "Kakakku yang paling cantik seantero jagat. Cukup satu kali ini gue bantuin elo yah kembaran gue -_- Sumpah pacaran itu sangat ribet dan annoying." "Ih kata siapa? enak kali pacaran jadi ada yang merhatiin." "Gue yang bilang. Sumpah nyebelin. Enakan sendiri bebas mau ngapa-ngapain ngak perlu harus ngabarin, kalo ngabarin ntar ngambek. Euhhh." "Ah, kamu sih nggak pernah ngerasain. Seru kali ada yang khawatirin kita jadi dia ngambek atau marah kalau nggak dikabarin." "Bodok intinya gue nggak mau. Ngerasain satu hari aja gue udah nggak betah." "Ya terserah. Anyway, thanks a lot Ren."

   Seperti itulah orang - orang di muka bumi ini, mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang pacaran. so, jomblo atau taken itu adalah pilihan. Nggak ada yang lebih baik atau yang lebih hina itu semua kembai pada masing - masing individu. Terkadang jomblo juga karena overqualified kayak Reni gitu. Bisa jadi emang pacaran karena punya pandangan kayak Rena. Apapun pilihan kita boleh - boleh aja. Asal jangan pacaran cuman karena ngejer status.

Senin, 08 Juni 2015

Berawal Dari Adiknya

    Sebagian besar orang di dunia ini mungkin sangat menyukai anak kecil. Mulai dari mukanya yang lucu hingga tingkahnya yang menggemaskan. Namun, tidak sepertiku, aku Elisa anak kelas 11 SMA merasa mereka terlalu bawel, apalagi beberapa anak kecil yang memiliki sifat cengeng. Itu sungguh sangat menyebalkan.
    Setahun yang lalu sahabatku Gladys mengajakku untuk membantu mengajar di sebuah sekolah minggu. Tentu saja aku langsung menolak, dengan dasar yang tidak menyukai anak kecil bisa - bisa anak orang habis aku marahin. Tetapi, Gladys terus saja membujukku dan akhirnya aku pun ikut dan mencoba mengajar anak - anak kecil itu.
    Hari pertama mengajar, aku langsung meminta agar diberi untuk mengajar anak kelas 5 atau kelas 6. Karena aku mennganggap anak kelas 5 atau 6 sudah sedikit lebih besar dan mungkin lebih mudah untuk diajak berkomunikasi dibandingkan anak kelas 1 SD apalagi anak TK. Namun apa yang kubayangkan sangatlah  berbeda dengan kenyataan yang ada. Iya mungkin untuk diajak berkomunikasi mereka lebih mudah namun untuk diatur??? sangat - sangat membutuhkan tingkat kesabaran extraaaa.
    Aku hampir saja menyerah untuk menghandle anak - anak itu. Namun aku pikir terlalu awal untuk menyerah dan mungkin ini akan menjadi salah satu pengalaman yang berguna untuk hidupku ke depan. Setelah sekitar 2 atau 3 kali pertemuan akhirnya aku mulai bisa mengatur mereka. Sebenarnya tidak semua anak susah diatur tapi ada beberapa anak. Oh iya, aku akhirnya diberi jatah untuk langsung menghandle  dua kelas. Walaupun aku termasuk pengajar baru tapi aku sangat bangga diberi tanggung awab yang cukup besar ini. Karena hal ini menandakan kakak - kakak pengajar yang lain percaya padaku.
    Mengenai anak nakal yang tadi dari 2 angkatan yang jumlahnya sekitar 30 anak, hanya ada 3 anak yang masuk dalam kategori nakal. Orangnya memang hanya ada 3 tapi bila mereka sudah beraksi mereka bisa jadi seperti 10 orang atau malah lebih. Nama ketiga anak itu adalah Rido, Soni, dan Vino. Awal mengajarkan sebenarnya aku sangat sebal dengan ketiga anak itu. Tapi lama kelamaan ternyata mereka orangnya asyik, kadang mereka bercerita mengenai kegiatan mereka di sekolah, guru - guru mereka, mereka juga kadang bertanya mengenai hal yang diujian praktekan saat aku SD dulu yah kebetulan SD tempatku bersekolah sama dengan SD tempat mereka bersekolah sekarang.
    Lama - kelamaan aku mulai menyukai anak kecil bukan hanya anak kelas 5 atau 6 namun juga anak - anak kelas 1 dan anak - anak TK yang mukanya sangat menggemaskan. Aku mulai sering berinteraksi dengan mereka dan syukurnya mereka juga menerimaku dengan baik.
    Suatu hari, kami akan menyelenggarakan acara perayaan hari ibu, dimana anak- anak sekolah minggu diminta untuk mengisi acara. Setelah memilih anak - anak untuk mengisi acara. Kami pun memberi tahu mereka untuk datang melakukan gladi bersih pada hari Sabtu pukul 4 sore.
    Gladi bersih mulai tepat pukul 4 sore dan selesai sekitar jam 6 sore. Hampir seluruh anak telah dijemput oleh orang tua mereka masing - masing, hanya tersisa 2 bersaudara Erick dan Fiona. Sebenarnya aku sangat ingin langsung pulang namun aku kasihan melihat mereka hanya tinggal berdua, jadi kuputuskan untuk menemani mereka. "Erick belum dijemput? udah telfon papanya?" "Belum." "Ada nomer hpnya? Sini kakak telfonin." Fiona membuka buku catatan dan menunjukka nomer hp papanya. Aku pun menghubungi nomer tersebut, namun sayang tak ada yang mengangkat. "Ada nomer yang lain? Kakak telfon nggak diangkat." "Nggak ada,Kak" "Yaudah, tunggu bentar ya." Aku mencoba menghubugi lagi dan untungnya diangkat. "Udah kakak telfonin, lagi ntar dijemput. Tunggu ya." "Iya, Makasi Kak."
    Sekitar 30 menit, akhirnya datang juga seseorang aku harap sih itu yang menjemput mereka. Karena aku suddah terlalu lelah menunggu sekitar setengah jam. Mukanya tidak terlihat jelas hanya siluet badan tingginya saja yang terlihat. Ketika semakin dekat terlihat lah sosok pria putih, mancung dengan alis tebalnya. Kira - kira usianya hampir mencapai 20 tahun "KAKAK!!" Fiona dan Erick langsung berdiri dan berlari ke arah kakak mereka. Syukurlah itu benar jemputan mereka. "Hey, maaf ya kakak telat jemput kalian. Makasi ya udah nemenin adik - adik saya" "Heheh... iya nggak papa kok." "Ngomog - ngomong namanya siapa?" "Nama saya Elisa, kalo kamu?" "Kenalin saya Robby." "Oh iya salam kenal." "Kamu pulang sama siapa Lis?" "Ntar naik taksi gampang. Heheh" tiba - tiba Erick dan Fiona menyahut berbarengan "Bareng kita aja, Kak Elis. Boleh kan Kak?" "Iya boleh kok. Gimana Lis? Udah malem nih, daripada ntar kenapa - napa." "Nggak ngerepotin nih?" "Anggep aja sebagai rasa terima kasih karena kamu udah jagain adik - adikku:D." "Oke deh, makasi By."
    Di dalam perjalanan, perjalanan agak sedikit canggung karena mungkin ini masih hari pertama kami berkenalan. Robby pun memecah kehningan "Lis ngomong - ngomong rumah kamu dimana ya?" "Oh di daerah deket Mall Taman Anggrek situ By." "Oh, kalau gitu anter adik aku pulang dulu ya. Kebetulan aku juga mau ke Mall Taman Anggrek." "Ah, kakak curang kita nggak diajak jalan - jalan." "Anak kecil nggak boleh pergi malam - malam, ntar dimarahin mama." "Curang kakak maunya pergi sama kak Elis aj." "Eh kalian ini ada - ada aja."
    Sesampainya di depan rumah. "Udah turun kalian." "Nggak mau" seru Erick dan Fiona kompak "Bandel banget kalian. Turun cepet. Kakak telfonin mama nih." Beberapa menit kemudian mama mereka pun keluar dari rumah dan berjalan kearah mobil. "Erick Fiona cepet turun sini." "Ah kakak suka ngelapor." "Dadah Kak Elis." "Bye Erick bye Fiona" "Kakak nggak didadahin nih?" "Nggak mau weeekkkk." "Ma, aku mau ke Taman Anggrek bentar ya." "Ini siapa Rob? Pacar kamu?" "Nggak tante, saya Elis, pembina sekolah minggunya Erick sama Fiona." "Ohh.. Cantik ya." "Makasi tante." "Yaudah ma aku jalan dulu sekalian nganterin Elis supaya nggak kemaleman." "Iya, hati - hati Rob." "Mari tante."
    Aku kira perjalanan akan tetap canggung, namun ternyata Robby orangnya asyik. Ia mulai membuka pembicaraan mengenai hal - hal yang ringan. "Udah makan Lis?" "Udah kok By." "Apaan manggil By By emng aku baby mu? Hahahahha." "Maaf Robby." Aku langsung menunduk malu dan merutukki betapa bodohnya aku. "Lis? maaf jangan marah aku cuman becanda." "Nggak papa Robby." "Nggak usah kaku gitu panggil aja By nggak papa kok. Rumahmu di sebelah mana?" "Masuk ke gang yang itu Robby." "Okeh. Udah sampai." "Makasi banyak Robby maaf ngerepotin." "Nggak papa Lis. Makasi juga ya. See you again. Bye Lis." "Byee."
    Yah malam ini bissa dibilang antara malam yang menyenangkan dan memalukan. Setelah sampai rumah ternyata sudah pukul 21:17 malam aku pun membersihkan diri lalu pergi tidur. Badanku rasanya lelah sekali. Untungnya besok hari minggu, yah walaupun aku tetap harus mengajar di sekolah minggu setidaknya bisa bangun sedikit lebih siang.
    Alarmku berbunyi yang berarti sudah pukul 06:30, aku mematikan alarm dan berniat tidur 5 menit lagi. Namun, tiba - tiba aku terbangun dan terkejut ketika melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 07:00. Aku langsung berlari ke kamar mandi,berusaha membersihkan diri secepat mungkin. Astaga!! Bodohnya aku lupa bahwa motorku masi diservis yang berarti tidak ada kendaraan yang bisa aku gunakan ke sekolah minggu. Aku berniat menelpon taksi, tapi ada pesan masuk di inbox dari nomor yag tak dikenal.

From : 087865217xxx
Siap ya...
Ntar aku jemput jam 8 kurang 15
See you El

Aku bingung sms itu dari siapa. Tetapi, menurut analisaku itu sih dari Robby, Daripada kepedean aku pun membalas sms itu

To : 087865217xxx
Siapa ya?

Belum sempat aku menaruh handphone, sudah lebh dulu datang balasan dari sms itu

From ; 087865217xxx
Ini Robby. Your By
wkwkwkwk

To : 087865217xxx
Hahahah..
Nggak usah deh Robby
Ntar ngerepotin

From : 087865217xxx
Nggak kok sekalian mau nganterin
Erick sma Fiona jga

Syukurlah pagi pagi udah dapet penolong dari kesusahan. Lumayan bisa irit uang jajan, nggak perlu bayar taxi.

    Tepat ketika waktu menunjukkan pukul 07:45, Robby sudah tiba di depan rumahku dengan mobil sedannya dan tentunya bersama Erick dan Fiona juga. "Kak Elis!!" "Hi, iy Fio,Erick." "Kakakny nggak disapa juga?" Emang dah Robby anaknya rada jail "Hi, Kak Robby." "Hi juga kakak Elis."
Kami pun berbincang dan tertawa riang di dalam mobil. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 1 jam itu terasa sangat cepat berlalu.Kami berempat pun turun dari mobil. "Kakak biasanya abis nganterin langsung pulang. Kok sekarang ikut turun?" "Ya pingin aja."
     Aku langsung menghampiri kakak - kakak sekolah minggu sementara Robby menemani adik - adiknya untuk berdoa dulu di dalam. Baru saja aku duduk, Gladys langsung menghujaniku dengan berbagai seruan dan pertanyaan "Cieeeee Elis pacar baru. Cieeeeee Udah berapa lama? Curang ni nggak cerita - cerita!! PJ buat kita mana?" "Cerewet amat dys dia bukan pacar aku dia cuman teman aja kok." setelah itu yang lainnya pun ikut meledekiku.
     Rutinitas mingguan itu berjalan seperti itu terus. Tak terasa sudah hampir 3 bulan, membuat hubunganku dengan Fiona Erick dan Robby semakin dekat sudah seperti saudara sendiri. Tidak hanya dengan mereka tapi juga dengan mama mereka. Aku sering diajak main ke rumah mereka dan di sana aku belajar masak dari mama mereka.
     Minggu depan Robby mengundangku untuk menghadiri acara ulang tahunnya yang ke 21 di sebuah hotel mewah di daerah Bandung. Yah kata Robby mumpung waktunya pas weekend ya sekalian jalan - jalan saja. Aku nggak PD banget buat dateng ke pesta itu sendiri akhirnya aku pun mengajak Gladys. Untuk urusan transport dan menginap aku tak perlu pusing karena semua sudah disediakan oleh Robby. Pokoknya baik banget deh Robby.
     Jumat sore supir Robby menjemputku dan Gladys di rumahku. Sebelumnya Robby sudah menelfonku dan memintaku untuk menghubunginya ketika sudah sampai di Bandung. Syukurnya jalanan tidak terlalu macet sehingga kami bisa lebih cepat sampai di Bandung. Aku langsung menelfon Robby ketika sampai di lobby hotel.
     Tak sampai 5 menit Robby sudah menghampiri kami di lobby "Hi, Lis" "Hi,By. Kenalin ini sahabatku yang aku bilang kemarin namanya Gladys." Mereka pun saling berkenalan dan berjabat tangan. "Ya udah Lis, Dys aku antar kalian ke kamar dulu buat istirahat." "Ok"
     Sabtu pagi kami hanya sarapan, dan berenang di hotel. Pukul 11:00 kami sudah kembali ke kamar untuk mandi  dan bersiap - siap untuk acara nanti malam. Tiba - tiba, bunyi ketukan di depan pintu ternyata itu adalah seorang pelayan yang mengantarkan sebuah kotak untuk aku. Gladys langsung kepo begitu melihat kotak yang kubawa "Lis apaan itu? sini - sini buka cepet gue penasaran." "Yeeee ini kiriman buat siapa yang lebih semangat malah siapa." "Ah bodok, udah cepet." Ketika kami membuka kotak itu isinya adalah sebuah gaun berwarna biru muda. Gaunnya sederhana panjangnya hanya selutut namun terkesan sangat indah, di bawahnya juga ada sepasang high heels berwarna silver yang bertabur kristal menambah kemewahan high heels itu "Gilaaa Lis ini bagus banget. Aaaaaa." "Tapi ini dari siapa?" "Itu ada kartu Lis coba lo baca." "Oh iya Dipakai ya gaunnya entar malem. From your By." "Cieeee Elissssss aaaaaa baik banget si Robby dia suka kali sama elo." "Apaan sih Dys. Lo mah aneh - aneh aja."
     Mulai dai pukul 5 kami sudah mulai berdandan untuk acara ulang tahun Robby. Tepat pukul 18:45 kami sudah selesai berdandan dan mengenakan gaun masing - masing. "Elis you look so BEAUTIFUL." "Ummmm makasih GLADYS YANG LEBIH BEAUTIFUL." "Ih, apaan sih gue serius lo emang cantik banget." "Udah ah kita buruan ke ballroom sebelum telat."
     Acara di dalam ballroom sangat mewah. Dekorasi sederhana dengan kombinasi warna merah dan hitam menambah elegannya pesta ini. Mendekati jam 19:30 hampir semua tamu telah berkumpul yang jumlahnya sekitar 500 orang. Acara diawali dengan ungkapan terima kasih singkat dari Robby. Kemudian dilanjutkan acara tiup lilin dan potong kue. Mc mulai menambah riuh suasana ketika bertanya kepada Robby "Potongan pertamanya udah buat orang tua. Sekarang potongan kedua buat orang spesialnya donk? Siapa nih?" Robby mengambiil mic dari mc dan berkata "Potongan kedua ini akan aku kasih buat seseorang spesial yang sudah membuat hariku lebih berwarna beberapa bulan terakhir ini. Please naik ke panggung my blue princess, Elisa." Aku sontak terkejut dengan pernyataan Robby itu. Tepuk tangan semakin riuh di dalam ruangan ketika lampu menyorot padaku. "Waaawww , Eliss buruan naik sana." seru Gladys. Perlahan akhirnya aku pun berjalan ke panggung dengan perasaan yang campur aduk.
     Sambil diiringi lagu Tulus - Jatuh Cinta, Robby pun menyuapi potongan kue itu kepadaku. Kemudian Robby meraih tanganku "Lis kita mungkin belum terlalu lama kenal, tapi aku udah ngerasa nyaman sama kamu. I promise you will be the last in my life. So, Will you be mine?" Sorak sorai di dalam ballroom semakin menjadi - jadi TERIMA!! TERIMAA!!! TERIMAAA!!! Aku semakin bingung harus menjawab apa, jujur sebenarnya aku juga memiliki keterterikan terhadap Robby "Hmmmm, Yess I promise to be yours forever By." "Thank you, El." Robby langsung memelukku. Hari itu pun menjadi hari yang sangat membahagiakan dalam hidupku. Para tamu undangan yang lain pun tak kalah heboh bertepuk tangan menyambut kebahagiaan kami berdua.
   

Kamis, 05 Maret 2015

Katanya Sih. . . Sahabat

     Tettt.. Tett... Bel istirahat berbunyi yang langsung disambut sorakkan anak - anak diseluruh penjuru SMA Griya Bangsa, tak terkecuali keempat sekawan Ervina, Chelsea, Rena, dan Leona. Mereka terkenal sebagai sahabat yang sangat akrab, karena hampir dimana saja mereka selalu terlihat bersama. Keempat cewek ini terkenal sebagai cewek yang cantik. Selain cantik, mereka juga merupakan siswi - siswi pandai di SMA Griya Bangsa ini.Mereka memang baru bertemu sekitar 6 bulan dimulai dari Masa Orientasi Siswa (MOS) namun mereka sudah sangat dekat. Kebetulan mereka sekelas pada masa MOS dan kembali sekelas setelah kelas tetap dibentuk.
      Ervina merupakan cewek yang paling tomboy diantara mereka berempat, hal - hal yang tidak dilakukan cewek pada umumnya ia lakukan. Mulai dari doyan manjat pagar, naik meja untuk mengganti baterai jam, sering nongkrong di luar kelas ketika jam pelajaran kosong di saat siswi lain jauh lebih memilih untuk diam di dalam kelas, dan hal - hal tak lazim lainnya. Satu lagi Ervina terkenal sebagai cewek yang sangat cuek dan judes. Namun hal itu hanya berlaku untuk orang - orang yang belum dikenalnya. Bagi orang yang sudah mengenalnya, dia adalah anak yang humoris, dan sering menjadi sumber keributan.
      Chelsea sama dengan siswi pada umumnya, namun terkadang perubahan moodnya sangat ekstrim, dan ketika dia sedang badmood jangan coba - coba mengganggunya, atau habislah kau. Chelsea memiliki suara yang khas, suaranya masih seperti anak kecil dan mukanya juga baby face.
      Rena, dari dulu sampai sekarang hampir tak terjadi perubahan signifikan pada tubuhnya. Tubuhnya bisa dikategorikan dalam kategori SK (Sangat Kurus). Bila Rena badmood langsung saja berikan dia coklat jenis apapun maka moodnya akan kembali ASAP. Cewek satu ini juga merupakan anak yang suka heboh - heboh sendiri.
      Lena sebenarnya merupakan anak yang biasa saja, malah bisa dikategorikan awalnya dia anak yang lugu dan polos. Namun kata orang tak selamanya sifat orang tetap, bisa saja itu berubah. Seperti setelah 6 Bulan ini ia mulai menunjukkan pribadi aslinya yang agak centil. Dia pernah bercerita selama SMA ini sudah sekitar 10 lelaki yang mengajaknya kencan namun ia tolak dan hanya 1 yang pernah ia terima dan sempat menjadi pacarnya itupun hanya 1 atau 2 bulan dan dia putuskan karena merasa tidak cocok.
      Saat jam pulang sekolah tiba - tiba saja Lena menghampiri Ervina dengan senyum yang bisa dibilang aneh. "Kamu kenapa Na senyum - senyum aneh gitu? Lagi sakit?" tanya Vina dengan tatapan bingung. "Nggak Vin... Gue cuman mau bilang kalau . . ." Belum sempat Lena menyampaikan kalimatnya, datang Chelsea dan Rena yang langsung ikut nimbrung. "HAYOOO!! bisnis apaan ini??" teriak Rena. "Pliiissss Ren nggak usah pakai teriak juga kalik bikin telinga budek tau." Semprot Chelsea. "Heheh.. iya sorry. Lagi ngomongin apaan sih Vin,Na?" "Nggak tau nih si Leona, dari tadi senyam senyum nggak jelas." "Ahh, gara - gara kalian berdua nih gue kepotong ngomongnya. Udah kita lanjutin sambil nongki di cafe aja." "SETUJU!!!"
      Mereka berempat pun pergi ke cafe dengan mengendarai mobil Ervina. Sampai di sebuah cafe, mereka bergegas mencari tempat yang masih kosong di bagian outdoor karena dari tadi pagi mereka sudah bosan berada di dalam ruangan. Setelah memesan, Leona melanjutkan ceritanya. "Jadi gini guys, tadi si Emerald nyamperin gue, terus Rald bilang . . ." "Terus Rald bilang dia ngajakin gue kencan, gue bingung mau nerima apa nggak, menurut kalian gimana? gitu kan yang lo mau bilang." potong Vina dengan jutek. "Hahahah... Lo kayaknya udah hafal banget apa yang bakal dibilang sama Ona, Vin" sambung Chelsea. "Udah hafal gue hafal mati dah." "Iiihh.. Vina nggak seru deh. Gue bukan mau ngomong gitu, tapi si Rald itu bilang kalau dia mau minta tolong gue untuk bantu dia ngedeketin lo." Ervina yang sedang menyesap minumannya sampai tersedak mendengar kalimat yang diucapkan Leona. "APA???!!" Rena sontak langsung mengeluarkan suara dahsyatnya yang membuat seluruh pengunjung cafe menoleh kearahnya. Ia pun hanya bisa nyengir pasrah kemudian meminta maaf kepada para pengunjung.
      "Cieeee Vina Cieeee..." goda ketiga sahabatnya. "Apaan sih kalian? nggak lucu tahu." "Gimana Vin? Mau nggak? Keren tu anak basket woii, cakep, putih, tinggi, pintar lagi." deskripsi Leona panjang lebar. "Bodok, mau anak basket, anak bola, anak kasti nggak peduli. Kalau elo suka lo aja sono yang ngembat. Ikhlas kok gue kasi buat elo." "Yaelah Vin, dia kan sukanya sama elo bukan gue. Oh, iy Vin sorry . . ." Belum sempat Leona menyelesaikan pembicaraannya pesanan pun tiba. "Udah Ona cukup sekarang kita makan dulu, gue udah laper." potong Chelsea. Mereka pun menyantap pesanan masing - masing dengan lahap.
      Setelah selesai makan tiba - tiba hp Vina berbunyi yang menandakan ada sebuah pesan masuk. Vina malas untuk membuka sms itu sehingga ia tidak mengambil handphonenya dari dalam tas. Pembicaraan mengenai Rald tadi membuat mood Vina menjadi rusak. Sehingga tanpa basa - basi ia langsung mengajak sahabat - sahabatnya pulang. Di depan sahabatnya Vina tetap menunjukkan muka bahagia serta celotehan - celotehan lucunya. Ia beralasan ingin cepat pulang karena akan mengantar mamanya belanja bulanan.
      Sesampainya di rumah, Vina langsung membersihkan diri kemudian mengistirahatkan badan di kasur empuknya. Ia pun teringat dengan sms yang tadi masuk dan belum sempat dibaca, siapa tau itu dari teman sekelasnya atau mungkin mamanya. Segera Vina mengabil handphone dari dalam ranselnya. Ia pun membuka sms yang ternyata berasal dari nomor yang tidak dikenal

From : +6281223737***
Hi Vin...
Lgi ngapain?

      Ini apaan lagi coba, pliss dah emang elu mak gue harus tau gue lagi ngapa-ngapain, gerutu Vina. Vina yang dasarnya memang super cuek berniat mengabaikan sms itu. Ia juga sempat terpikir siapa tau itu sms dari Rald yang menambah kemalasannya untuk membalas sms tersebut. Tapi ia tidak ingin kepedean. Akhirnya dengan sangat berat hati ia pun membalas sms itu.

To : +6281223737***
Ini siapa?
Dpt nmer gue drmna?

Baru saja 1 menit setelah sms itu terkirim sudah ada balasannya lagi

From : +6281223737***
Aku Rald, Vin :)
Aku tdi mnta nmer kmu di Leona

      "Oh God... Bener banget ternyata ini Rald. Dan dia bilang kalau dia dapet nomer gue dari Leona. Kambing kampret banget tu anak." Setelah tahu bahwa itu adalah Rald ia tidak lagi membalas sms itu. Dengan semangat 45 Vina lalu beralih ke BBM dan mencari contact Leona.

To : Leona :3
Weee apaan maksud lo seenak jidat main ngasi nomer gue ke Rald????
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!
PING!!!

      Vina mengatur handphonenya menjadi "mute" karena males mendengar bunyi notifications dari group wa kelasnya yang sedang ribut entah membicarakan apa.

5 Menit...
10 Menit...
15 Menit...

      Handphone Vina bergetar. Dengan sigap Vina mengambil handphonenya karena ia mengira tu balasan dari Leona. Namun pupus harapannya ketika melihat pesan masuk itu berasal dari Rald.

From : +6281223737***
Vin? Kok nggak dibales?
Udah tdur y?
Good Night and Nice Dream ya :D

      Ervina yang jarang mendapat sms jenis seperti itu tentu saja merasa kaget dan geli. Ia pun kembali mengabaikan sms Rald dan memilih untuk mematikan handphonenya dan tidur. Ia hanya berharap ia tidak bertemu Rald besok di sekolah. Syukurnya mereka tidak berada di kelas yang sama.

      Keesokan paginya tanpa babibu lagi Vina langsung mencari biang keladi yang menyebabkan Rald bisa mengetahui nomer handphonenya. "ONA!! Cantik!! lo ngapain ngasi nomer handphone gue ke Rald? dan kenapa tadi malem lo nggak bales bbm gue?" "Eh.. Vin, kemarin ken gue berusaha jelasin ke elo tapi pesanan kita keburu dateng terus Chelsea langsung ngajakin makan jadi gue lupa. Terus soal bbm, kmrin gue capek banget handphone lowbat dan nggak sempet gue charge." "Ya udah, kalo gitu sekarang jelasin ke gue." "Jadi kemarin pas istirahat ke dua gue ketemu sama Rald di kantin. Terus dia nanya gue temen lo apa bukan ya gue jawab iya. Terus dia minta nomer handphone lo, awalnya gue nggak mau ngasi tapi dia mohon - mohon gue nggak tega jadinya gue kasi aja." jelas Ona. "Yaelah Ona baru juga cowok mohon - mohon gitu udah nggak tega" Chelsea dan Rena masuk ke kelas bersamaan dengan bel masuk berbunyi.
       Jam pelajaran ke-3 kebetulan kosong karena Bu Winny sedang ada acara keluarga. Langsung saja anak - anak pada ngacir ke kantin. Rena mengajak kami ke kantin karena kalau pas istirahat nanti kantin pasti akan sangat ramai, jadi umpung jam kosong mending kita manfaatin. Vina awalnya tidak ingin ikut karena ia malasbila nanti di kantin ia bertemu Rald. Tapi karena paksaan sahabat - sahabatnya, ia terpaksa ikut ke kantin.
        Dan benar saja, orang yang malas ditemui oleh Vina malah muncul batang hidungnya di kantin. Karena sudah terlanjur samapai di kantin tidak mungkin Vina kembali ke kelas. Ia pun tetap melanjutkan berbelanja dan pura - pura tidak tahu bahwa ada Rald di kantin. Vina memaksa sahabat - sahabatnya untuk makan di kelas, namun apa daya Leona dan Chelsea terlanjur membeli bakso yang tentunya tidak mungkin dibawa ke kelas. Dengan terpaksa Ervina ikut juga makan di kantin, ia sengaja mengajak sahabat - sahabatnya untuk duduk di tempat yang agak pojok agar jauh dari pandangan Rald. Namun, hal itu ternyata tak berguna, tetap saja Rald melihat dimana posisi Vina duduk. Dan lebih menyebalkannya lagi, Rald sengaja berdiri dan menghampiri meja tempat Ervina dan sahabat - sahabatnya duduk. Ervina tentunya kesal setengah mati ketika melihat Rald berjalan menuju ke tempat duduk mereka.
         "Hi Vin! Kok nggak makan?" tanya Rald "Nggak laper" jawab Vina ketus. "Heheheh.. sorry ya Rald sahabat gue yang satu ini lagi not in a good mood." sahut Leona "Nggak papa,Na. Ya udah gue balik ke teman - teman gue lagi ya. Bye. Bye Vin." Vina hanya melihat Rald sekilas dan kembali membuang muka.
"Vin, jutek amat. Seremm banget lo barusan." komentar Leona "Peduli. Kalo udah kelar makannya balik ke kelas yuk." "Ayo deh Vin gue temenin lo ke kelas dulu sebelum kalian berdua berdebat panjang di sini. Chel lo ntar bareng Ona ya" kata Rena "Okay." sahut Chelsea sambil mengacungkan jempolnya.
        Biasanya mereka berempat selalu pulang bareng. Tapi tumben hari itu Leona ijin tidak ikut pulang bareng karena ada urusan penting. Ketiga temannya yang lain berniat untuk mengantarnya, tapi dia bilang sudah dijemput supirnya. Jadi, mereka langsung pulang dan meninggalkan Leona di kelas.
        Setelah merasa situasi sudah aman Leona berjalan ke tempat parkir dan masuk ke sebuah mobil jaguar merah. "Udah aman, sekarang kita bisa pergi." "Syukur dah, gue kira lo nggak baca bbm gue tadi." "Tenang aja, handphone gue on 24 jam kok. Sekarang kita mau ngomong dimana?" "Di cafe ujung jalan situ aja ya?" "Gue ikut aja Rald."
       Setelah memesan Chickhen Teriyaki dan Ice Lemon Tea. Rald menyampaikan apa tujuannya dia mengajak Leona ketemuan. "Ampun dah Le. Ervina jadi cewek gitu aman ya? Seumur - umur tumben kali ketemu cewek kayak gitu." "Hehehe.. Sabar Rald Vina kalo belum kenal sama orang emang gitu." "Terus harus pakai cara gimana buat deketin dia? Sumpah dongkol gue." "Salut daha buat lo Rald, udah dicuekin gitu masih juga tetep ngejer." "Emang sih Vina itu cuek tapi gara - gara cueknya itu juga yang buat penasaran." "Dasar cowok emang seleranya aneh - aneh."
       Sudah sekitar 3 bulan ini Leona hampir selalu ada urusan penting setiap pulang sekolah, tingkah lakunya juga berubah menjadi lebih tertutup. Hal ini tentu membuat sahabat - sahabatnya penasaran. Mereka pun mulai menyelediki dan benar saja mereka menemukan Leona dan Rald sedang asyik berbincang di sebuah cafe. "Hadeehhh, iya kali mak comblang kecantol sama pelanggannya. hahahah" celoteh Rena "Benerkan prediksi gue dari awal. hahaha." sahut Vina dengan sombong "Lo nggak cemburu Vin?" tanaya Chelsea "Iya kali cemburu. Ngapaiiinn woii. Gue kan nggak pernah suka sama Rald." "Iye deh Vin iye." "Udah yuk kita balik aja ngapain liatin orang pacaran, mending kita gangguin aja besok." usul Chelsea "Cabsss."
       Chelsea, Rena, dan Ervina sengaja datang lebih awal dari biasanya. 5 menit kemudian Leona datang dan nampak kaget melihat ketiga sahabatnya sudah ada di kelas. "Eee... Kalian kok tumben udah ada di sekolah?" tanya Leona bingung. "Kita kan mau minta PJ mak comblang yang jadian sama pasiennya. HAHAHA." celetuk Ervina. "Yeee, apaan sih. Nggak ada yang jadian, itu dia cuman minta bantuin biar bisa deket sama lo." "Udah Ona nggak usah putar puter fakta."
       Setelah acara olok - olokan itu tiba - tiba Leona menarik diri dari sahabat - sahabatnya. Dia lebih memilih untuk menyendiri dan lebih sering keluar kelas. Ternyata ia pergi ke kelas tetangga untuk mengunjungi pacar barunya si Rald. Hampir setiap hari Leona membawakan Rald bekal kemudian mereka saling menyuapi, makan bareng dan hal lainnya. Kejadian ini tentu membuat kesal ketiga sahabatnya.
       "Ini kali yang orang bilang kalau udah punya pacar sahabat tinggallah kenangan." ceplos Vina "Setuju Vin. Nyebein banget sih, kita main dilupain gitu aja." sambung Rena "Masa sih Rald yang ngelarang dia deket - deket sama kita lagi? tanya Chelsea "Nggak tau, bisa aja, cuman kita kan nggak boleh judge orang sembarangan. Udah yuk kita sisa bertiga juga tetap bisa senang - senang. Heheheh."
       Baru sekitar 6 Bulan jadian, berhembus kabar kalau Rald dan Leona udah putus. Kabar ini menggemparkan seluruh sekolah. Bagaimana tidak, sepasang kekasih yang paling romantis dan suka mempertontonkannya di depan umum tiba - tiba putus tanpa sebab yang jelas. Setelah kabar itu muncul, awalnya ketiga sahabatnya prihatin melihat kondisi Leona yang tiap hari ke sekolah dengan mata sembab. Tapi mengingat tingkah lakunya yang menyia - nyiakan mereka. Akhirnya mereka malas untuk mengurusnya.
       2 Minggu setelah kabar putus itu kembali muncul kabar yang tidak kalah heboh, yaitu Rald berencana akan menembak anak kelasnya yang bernama Diana. Ervina, Chelsea, dan Rena sangat kaget mendengar berita itu. Apa maksud Rald seenaknya mencampakkan ceweknya, kemudian berkoar akan menembak cewek lain. Mereka bertiga benar - benar pada posisi yang sangat membenci Rald dan tingkah laku bajingannya itu. Namun berita itu tinggalah berita.
       Entah kesialan darimana yang mebuat Rald dan Ervina bergabung dalam sebuah kelompok belajar untuk mengajari teman - teman mereka yang masih belum atau kurang mengerti tentang matematika. Awalnya Ervina tidak tahu mengenai hal itu namun pada malam sebelumnya Rald mengirimnya sms.

From : +6281223737***
Vin, kta jdi satu klmpok bljar untk pel matematika.
Aku mhon kta bsa kerjasama yg baik.
Aku juga mau minta maaf untk bbrpa blan blkangan ini
kalo udah buat kamu ngerasa nggak nyaman.
Vin sbagai prmntaan maaf bsok plang skolah gue
mau teraktir lo makan? Pliss Vin mau ya

      Ervina masih malas untuk membalas sms itu tetapi, karena ia rasa tak ada enaknya mempunyai musuh. Ia pun membalas sms dari Rald itu.

To : +6281223737***
Iy. Makasi infonya
Okeh

From : +6281223737***
Besok tnggu di kelas lo gue jemput

       Ervina menceritakan seputar sms dari Rald beserta isinya kepada Chelsea dan Rena. Mereka pun memberondong Vina dengan sejuta pertanyaan dan "ciaaa cieee". Tepat ketika bel pulang berbunyi, Rald sudah menunggu Ervina di depan kelas. "Ehm... ada yang CLBK!!" teriak Rena. Ervina sontak membekap mulut Rena "Apaan coba lo." "Udah kelar Vin? Sekarang kita jalan yuk" ajak Rald. "Okeh." Ervina pun pergi sambil melambaikan tangan kepada dua sahabatnya. Ternyata ada satu orang yang sejak tadi memperhatikan peristiwa itu dengan penuh sesal, dialah Leona.
       Rald ternyata mengajak Ervina ke sebuah taman yang sangat indah. Sesampai di sana Rald membukakan pintu dan mempersilahkan Ervina turun. "Sebenarnya kita mau ngomongin apaan sih Rald?" "Banyak Vin turun aja dulu." Setelah membeli batagor mereka duduk di salah satu bangku di taman itu.
"Vin, gue boleh nggak jadi temen lo?" Ervina sedikit terkejut mendengar pertanyaan Rald namu ia pun menjawab "Boleh lah. Why not?" "Kalo lebih?" "Maksud lo?" "Udahlah nggak jadi gu udah tahu jawabannya pasti nggak. Hahahah" "Sok tau." "Emangnya lo mau jadiii.... cewek gue?" "Errr.. Mau kok Rald." "Seriuss??" Rald tidak mampu menahan kekagetannya "In your dream aja tapi. Hehheh." "Yaelah -_-" "Sorry Rald sorry becanda." "Iya iya nggak papa kok. Oh iya, Vin lo tau nggak kenapa gue putus sama Leona?" "Ha? nggak taulah Rald? Emang penting juga buat gue?" "Iya deh mbak nggak penting. Nggak usah judes gitu juga kalik." "Heheheh. Sorry Rald." "Biar nggak penting tapi gue pingin cerita sama temen baru gue ini, jadi waktu hari itu kita lagi ketemuan di cafe tiba-tiba aja dia nanya ke gue "Rald, lo masih suka sama Ervina?" gue bingung mau jawab apa, ya tapi daripada gue bohong ya gue lebih milih jujur "Masih." abis itu dia marah, nangis dan ninggalin gue." Ervina sangat terkejut mendengar cerita Rald "Gila aneh lo. Luar binasa. Terus lo nggak ngejer dia?" "Nggaklah, males banget. Dia cewenya over protektif, alergi gue." "Hahahaha. Rald Rald tumben banget gue nemu cowo yang polos banget ngejawab pertanyaan kayak gitu." "Abisan gue kan emang belum bisa berenti suka sam cewek itu mau gimana lagi." "Udah ah Rald. Hahahah. Balik aja yuk udah sore." "Okeh."
        Hari itu merupakan hari yang unik bagi Ervina dimana ia bisa berdamai dengan cowok yang dibencinya. Kini pemikirannya pun berubah ternyata bukan Rald yang mengubah Leona tapi Leona yang mengubah dirinya sendiri.
        Keesokan paginya di sekolah Chelsea dan Rena sudah tidak sabar ingin menanyakan apa yang dilakukan Ervina dan Rald kemarin. "Vin lo diajak kemana aja?" "Lo ditembak sama Rald?" "Lo udah jadian?" dan pertanyaan - pertanyaan lainnya. "Udah ya bebeb - bebeb Rald nggak nembak gue dan dia sama gue nggak jadian kita cuman temenan. Udah Sekian." "Serius?? Cuma Temenan?" "Tujuhrius. Ciee penonton kecewa. HAHAHAHHA."

Recycle Cinta

AUTHOR’S POV             “….. Sudah tak bisa dipungkiri jumlah sampah yang ada di Indonesia ini. Mulai dari limbah rumah tangga, pabrik...