Setahun yang lalu sahabatku Gladys mengajakku untuk membantu mengajar di sebuah sekolah minggu. Tentu saja aku langsung menolak, dengan dasar yang tidak menyukai anak kecil bisa - bisa anak orang habis aku marahin. Tetapi, Gladys terus saja membujukku dan akhirnya aku pun ikut dan mencoba mengajar anak - anak kecil itu.
Hari pertama mengajar, aku langsung meminta agar diberi untuk mengajar anak kelas 5 atau kelas 6. Karena aku mennganggap anak kelas 5 atau 6 sudah sedikit lebih besar dan mungkin lebih mudah untuk diajak berkomunikasi dibandingkan anak kelas 1 SD apalagi anak TK. Namun apa yang kubayangkan sangatlah berbeda dengan kenyataan yang ada. Iya mungkin untuk diajak berkomunikasi mereka lebih mudah namun untuk diatur??? sangat - sangat membutuhkan tingkat kesabaran extraaaa.
Aku hampir saja menyerah untuk menghandle anak - anak itu. Namun aku pikir terlalu awal untuk menyerah dan mungkin ini akan menjadi salah satu pengalaman yang berguna untuk hidupku ke depan. Setelah sekitar 2 atau 3 kali pertemuan akhirnya aku mulai bisa mengatur mereka. Sebenarnya tidak semua anak susah diatur tapi ada beberapa anak. Oh iya, aku akhirnya diberi jatah untuk langsung menghandle dua kelas. Walaupun aku termasuk pengajar baru tapi aku sangat bangga diberi tanggung awab yang cukup besar ini. Karena hal ini menandakan kakak - kakak pengajar yang lain percaya padaku.
Mengenai anak nakal yang tadi dari 2 angkatan yang jumlahnya sekitar 30 anak, hanya ada 3 anak yang masuk dalam kategori nakal. Orangnya memang hanya ada 3 tapi bila mereka sudah beraksi mereka bisa jadi seperti 10 orang atau malah lebih. Nama ketiga anak itu adalah Rido, Soni, dan Vino. Awal mengajarkan sebenarnya aku sangat sebal dengan ketiga anak itu. Tapi lama kelamaan ternyata mereka orangnya asyik, kadang mereka bercerita mengenai kegiatan mereka di sekolah, guru - guru mereka, mereka juga kadang bertanya mengenai hal yang diujian praktekan saat aku SD dulu yah kebetulan SD tempatku bersekolah sama dengan SD tempat mereka bersekolah sekarang.
Hari pertama mengajar, aku langsung meminta agar diberi untuk mengajar anak kelas 5 atau kelas 6. Karena aku mennganggap anak kelas 5 atau 6 sudah sedikit lebih besar dan mungkin lebih mudah untuk diajak berkomunikasi dibandingkan anak kelas 1 SD apalagi anak TK. Namun apa yang kubayangkan sangatlah berbeda dengan kenyataan yang ada. Iya mungkin untuk diajak berkomunikasi mereka lebih mudah namun untuk diatur??? sangat - sangat membutuhkan tingkat kesabaran extraaaa.
Aku hampir saja menyerah untuk menghandle anak - anak itu. Namun aku pikir terlalu awal untuk menyerah dan mungkin ini akan menjadi salah satu pengalaman yang berguna untuk hidupku ke depan. Setelah sekitar 2 atau 3 kali pertemuan akhirnya aku mulai bisa mengatur mereka. Sebenarnya tidak semua anak susah diatur tapi ada beberapa anak. Oh iya, aku akhirnya diberi jatah untuk langsung menghandle dua kelas. Walaupun aku termasuk pengajar baru tapi aku sangat bangga diberi tanggung awab yang cukup besar ini. Karena hal ini menandakan kakak - kakak pengajar yang lain percaya padaku.
Mengenai anak nakal yang tadi dari 2 angkatan yang jumlahnya sekitar 30 anak, hanya ada 3 anak yang masuk dalam kategori nakal. Orangnya memang hanya ada 3 tapi bila mereka sudah beraksi mereka bisa jadi seperti 10 orang atau malah lebih. Nama ketiga anak itu adalah Rido, Soni, dan Vino. Awal mengajarkan sebenarnya aku sangat sebal dengan ketiga anak itu. Tapi lama kelamaan ternyata mereka orangnya asyik, kadang mereka bercerita mengenai kegiatan mereka di sekolah, guru - guru mereka, mereka juga kadang bertanya mengenai hal yang diujian praktekan saat aku SD dulu yah kebetulan SD tempatku bersekolah sama dengan SD tempat mereka bersekolah sekarang.
Lama - kelamaan aku mulai menyukai anak kecil bukan hanya anak kelas 5 atau 6 namun juga anak - anak kelas 1 dan anak - anak TK yang mukanya sangat menggemaskan. Aku mulai sering berinteraksi dengan mereka dan syukurnya mereka juga menerimaku dengan baik.
Suatu hari, kami akan menyelenggarakan acara perayaan hari ibu, dimana anak- anak sekolah minggu diminta untuk mengisi acara. Setelah memilih anak - anak untuk mengisi acara. Kami pun memberi tahu mereka untuk datang melakukan gladi bersih pada hari Sabtu pukul 4 sore.
Gladi bersih mulai tepat pukul 4 sore dan selesai sekitar jam 6 sore. Hampir seluruh anak telah dijemput oleh orang tua mereka masing - masing, hanya tersisa 2 bersaudara Erick dan Fiona. Sebenarnya aku sangat ingin langsung pulang namun aku kasihan melihat mereka hanya tinggal berdua, jadi kuputuskan untuk menemani mereka. "Erick belum dijemput? udah telfon papanya?" "Belum." "Ada nomer hpnya? Sini kakak telfonin." Fiona membuka buku catatan dan menunjukka nomer hp papanya. Aku pun menghubungi nomer tersebut, namun sayang tak ada yang mengangkat. "Ada nomer yang lain? Kakak telfon nggak diangkat." "Nggak ada,Kak" "Yaudah, tunggu bentar ya." Aku mencoba menghubugi lagi dan untungnya diangkat. "Udah kakak telfonin, lagi ntar dijemput. Tunggu ya." "Iya, Makasi Kak."
Sekitar 30 menit, akhirnya datang juga seseorang aku harap sih itu yang menjemput mereka. Karena aku suddah terlalu lelah menunggu sekitar setengah jam. Mukanya tidak terlihat jelas hanya siluet badan tingginya saja yang terlihat. Ketika semakin dekat terlihat lah sosok pria putih, mancung dengan alis tebalnya. Kira - kira usianya hampir mencapai 20 tahun "KAKAK!!" Fiona dan Erick langsung berdiri dan berlari ke arah kakak mereka. Syukurlah itu benar jemputan mereka. "Hey, maaf ya kakak telat jemput kalian. Makasi ya udah nemenin adik - adik saya" "Heheh... iya nggak papa kok." "Ngomog - ngomong namanya siapa?" "Nama saya Elisa, kalo kamu?" "Kenalin saya Robby." "Oh iya salam kenal." "Kamu pulang sama siapa Lis?" "Ntar naik taksi gampang. Heheh" tiba - tiba Erick dan Fiona menyahut berbarengan "Bareng kita aja, Kak Elis. Boleh kan Kak?" "Iya boleh kok. Gimana Lis? Udah malem nih, daripada ntar kenapa - napa." "Nggak ngerepotin nih?" "Anggep aja sebagai rasa terima kasih karena kamu udah jagain adik - adikku:D." "Oke deh, makasi By."
Di dalam perjalanan, perjalanan agak sedikit canggung karena mungkin ini masih hari pertama kami berkenalan. Robby pun memecah kehningan "Lis ngomong - ngomong rumah kamu dimana ya?" "Oh di daerah deket Mall Taman Anggrek situ By." "Oh, kalau gitu anter adik aku pulang dulu ya. Kebetulan aku juga mau ke Mall Taman Anggrek." "Ah, kakak curang kita nggak diajak jalan - jalan." "Anak kecil nggak boleh pergi malam - malam, ntar dimarahin mama." "Curang kakak maunya pergi sama kak Elis aj." "Eh kalian ini ada - ada aja."
Sesampainya di depan rumah. "Udah turun kalian." "Nggak mau" seru Erick dan Fiona kompak "Bandel banget kalian. Turun cepet. Kakak telfonin mama nih." Beberapa menit kemudian mama mereka pun keluar dari rumah dan berjalan kearah mobil. "Erick Fiona cepet turun sini." "Ah kakak suka ngelapor." "Dadah Kak Elis." "Bye Erick bye Fiona" "Kakak nggak didadahin nih?" "Nggak mau weeekkkk." "Ma, aku mau ke Taman Anggrek bentar ya." "Ini siapa Rob? Pacar kamu?" "Nggak tante, saya Elis, pembina sekolah minggunya Erick sama Fiona." "Ohh.. Cantik ya." "Makasi tante." "Yaudah ma aku jalan dulu sekalian nganterin Elis supaya nggak kemaleman." "Iya, hati - hati Rob." "Mari tante."
Aku kira perjalanan akan tetap canggung, namun ternyata Robby orangnya asyik. Ia mulai membuka pembicaraan mengenai hal - hal yang ringan. "Udah makan Lis?" "Udah kok By." "Apaan manggil By By emng aku baby mu? Hahahahha." "Maaf Robby." Aku langsung menunduk malu dan merutukki betapa bodohnya aku. "Lis? maaf jangan marah aku cuman becanda." "Nggak papa Robby." "Nggak usah kaku gitu panggil aja By nggak papa kok. Rumahmu di sebelah mana?" "Masuk ke gang yang itu Robby." "Okeh. Udah sampai." "Makasi banyak Robby maaf ngerepotin." "Nggak papa Lis. Makasi juga ya. See you again. Bye Lis." "Byee."
Yah malam ini bissa dibilang antara malam yang menyenangkan dan memalukan. Setelah sampai rumah ternyata sudah pukul 21:17 malam aku pun membersihkan diri lalu pergi tidur. Badanku rasanya lelah sekali. Untungnya besok hari minggu, yah walaupun aku tetap harus mengajar di sekolah minggu setidaknya bisa bangun sedikit lebih siang.
Alarmku berbunyi yang berarti sudah pukul 06:30, aku mematikan alarm dan berniat tidur 5 menit lagi. Namun, tiba - tiba aku terbangun dan terkejut ketika melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 07:00. Aku langsung berlari ke kamar mandi,berusaha membersihkan diri secepat mungkin. Astaga!! Bodohnya aku lupa bahwa motorku masi diservis yang berarti tidak ada kendaraan yang bisa aku gunakan ke sekolah minggu. Aku berniat menelpon taksi, tapi ada pesan masuk di inbox dari nomor yag tak dikenal.
From : 087865217xxx
Siap ya...
Ntar aku jemput jam 8 kurang 15
See you El
Aku bingung sms itu dari siapa. Tetapi, menurut analisaku itu sih dari Robby, Daripada kepedean aku pun membalas sms itu
To : 087865217xxx
Siapa ya?
Belum sempat aku menaruh handphone, sudah lebh dulu datang balasan dari sms itu
From ; 087865217xxx
Ini Robby. Your By
wkwkwkwk
To : 087865217xxx
Hahahah..
Nggak usah deh Robby
Ntar ngerepotin
From : 087865217xxx
Nggak kok sekalian mau nganterin
Erick sma Fiona jga
Syukurlah pagi pagi udah dapet penolong dari kesusahan. Lumayan bisa irit uang jajan, nggak perlu bayar taxi.
Tepat ketika waktu menunjukkan pukul 07:45, Robby sudah tiba di depan rumahku dengan mobil sedannya dan tentunya bersama Erick dan Fiona juga. "Kak Elis!!" "Hi, iy Fio,Erick." "Kakakny nggak disapa juga?" Emang dah Robby anaknya rada jail "Hi, Kak Robby." "Hi juga kakak Elis."
Kami pun berbincang dan tertawa riang di dalam mobil. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 1 jam itu terasa sangat cepat berlalu.Kami berempat pun turun dari mobil. "Kakak biasanya abis nganterin langsung pulang. Kok sekarang ikut turun?" "Ya pingin aja."
Aku langsung menghampiri kakak - kakak sekolah minggu sementara Robby menemani adik - adiknya untuk berdoa dulu di dalam. Baru saja aku duduk, Gladys langsung menghujaniku dengan berbagai seruan dan pertanyaan "Cieeeee Elis pacar baru. Cieeeeee Udah berapa lama? Curang ni nggak cerita - cerita!! PJ buat kita mana?" "Cerewet amat dys dia bukan pacar aku dia cuman teman aja kok." setelah itu yang lainnya pun ikut meledekiku.
Rutinitas mingguan itu berjalan seperti itu terus. Tak terasa sudah hampir 3 bulan, membuat hubunganku dengan Fiona Erick dan Robby semakin dekat sudah seperti saudara sendiri. Tidak hanya dengan mereka tapi juga dengan mama mereka. Aku sering diajak main ke rumah mereka dan di sana aku belajar masak dari mama mereka.
Minggu depan Robby mengundangku untuk menghadiri acara ulang tahunnya yang ke 21 di sebuah hotel mewah di daerah Bandung. Yah kata Robby mumpung waktunya pas weekend ya sekalian jalan - jalan saja. Aku nggak PD banget buat dateng ke pesta itu sendiri akhirnya aku pun mengajak Gladys. Untuk urusan transport dan menginap aku tak perlu pusing karena semua sudah disediakan oleh Robby. Pokoknya baik banget deh Robby.
Jumat sore supir Robby menjemputku dan Gladys di rumahku. Sebelumnya Robby sudah menelfonku dan memintaku untuk menghubunginya ketika sudah sampai di Bandung. Syukurnya jalanan tidak terlalu macet sehingga kami bisa lebih cepat sampai di Bandung. Aku langsung menelfon Robby ketika sampai di lobby hotel.
Tak sampai 5 menit Robby sudah menghampiri kami di lobby "Hi, Lis" "Hi,By. Kenalin ini sahabatku yang aku bilang kemarin namanya Gladys." Mereka pun saling berkenalan dan berjabat tangan. "Ya udah Lis, Dys aku antar kalian ke kamar dulu buat istirahat." "Ok"
Sabtu pagi kami hanya sarapan, dan berenang di hotel. Pukul 11:00 kami sudah kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap - siap untuk acara nanti malam. Tiba - tiba, bunyi ketukan di depan pintu ternyata itu adalah seorang pelayan yang mengantarkan sebuah kotak untuk aku. Gladys langsung kepo begitu melihat kotak yang kubawa "Lis apaan itu? sini - sini buka cepet gue penasaran." "Yeeee ini kiriman buat siapa yang lebih semangat malah siapa." "Ah bodok, udah cepet." Ketika kami membuka kotak itu isinya adalah sebuah gaun berwarna biru muda. Gaunnya sederhana panjangnya hanya selutut namun terkesan sangat indah, di bawahnya juga ada sepasang high heels berwarna silver yang bertabur kristal menambah kemewahan high heels itu "Gilaaa Lis ini bagus banget. Aaaaaa." "Tapi ini dari siapa?" "Itu ada kartu Lis coba lo baca." "Oh iya Dipakai ya gaunnya entar malem. From your By." "Cieeee Elissssss aaaaaa baik banget si Robby dia suka kali sama elo." "Apaan sih Dys. Lo mah aneh - aneh aja."
Mulai dai pukul 5 kami sudah mulai berdandan untuk acara ulang tahun Robby. Tepat pukul 18:45 kami sudah selesai berdandan dan mengenakan gaun masing - masing. "Elis you look so BEAUTIFUL." "Ummmm makasih GLADYS YANG LEBIH BEAUTIFUL." "Ih, apaan sih gue serius lo emang cantik banget." "Udah ah kita buruan ke ballroom sebelum telat."
Acara di dalam ballroom sangat mewah. Dekorasi sederhana dengan kombinasi warna merah dan hitam menambah elegannya pesta ini. Mendekati jam 19:30 hampir semua tamu telah berkumpul yang jumlahnya sekitar 500 orang. Acara diawali dengan ungkapan terima kasih singkat dari Robby. Kemudian dilanjutkan acara tiup lilin dan potong kue. Mc mulai menambah riuh suasana ketika bertanya kepada Robby "Potongan pertamanya udah buat orang tua. Sekarang potongan kedua buat orang spesialnya donk? Siapa nih?" Robby mengambiil mic dari mc dan berkata "Potongan kedua ini akan aku kasih buat seseorang spesial yang sudah membuat hariku lebih berwarna beberapa bulan terakhir ini. Please naik ke panggung my blue princess, Elisa." Aku sontak terkejut dengan pernyataan Robby itu. Tepuk tangan semakin riuh di dalam ruangan ketika lampu menyorot padaku. "Waaawww , Eliss buruan naik sana." seru Gladys. Perlahan akhirnya aku pun berjalan ke panggung dengan perasaan yang campur aduk.
Sambil diiringi lagu Tulus - Jatuh Cinta, Robby pun menyuapi potongan kue itu kepadaku. Kemudian Robby meraih tanganku "Lis kita mungkin belum terlalu lama kenal, tapi aku udah ngerasa nyaman sama kamu. I promise you will be the last in my life. So, Will you be mine?" Sorak sorai di dalam ballroom semakin menjadi - jadi TERIMA!! TERIMAA!!! TERIMAAA!!! Aku semakin bingung harus menjawab apa, jujur sebenarnya aku juga memiliki keterterikan terhadap Robby "Hmmmm, Yess I promise to be yours forever By." "Thank you, El." Robby langsung memelukku. Hari itu pun menjadi hari yang sangat membahagiakan dalam hidupku. Para tamu undangan yang lain pun tak kalah heboh bertepuk tangan menyambut kebahagiaan kami berdua.
Suatu hari, kami akan menyelenggarakan acara perayaan hari ibu, dimana anak- anak sekolah minggu diminta untuk mengisi acara. Setelah memilih anak - anak untuk mengisi acara. Kami pun memberi tahu mereka untuk datang melakukan gladi bersih pada hari Sabtu pukul 4 sore.
Gladi bersih mulai tepat pukul 4 sore dan selesai sekitar jam 6 sore. Hampir seluruh anak telah dijemput oleh orang tua mereka masing - masing, hanya tersisa 2 bersaudara Erick dan Fiona. Sebenarnya aku sangat ingin langsung pulang namun aku kasihan melihat mereka hanya tinggal berdua, jadi kuputuskan untuk menemani mereka. "Erick belum dijemput? udah telfon papanya?" "Belum." "Ada nomer hpnya? Sini kakak telfonin." Fiona membuka buku catatan dan menunjukka nomer hp papanya. Aku pun menghubungi nomer tersebut, namun sayang tak ada yang mengangkat. "Ada nomer yang lain? Kakak telfon nggak diangkat." "Nggak ada,Kak" "Yaudah, tunggu bentar ya." Aku mencoba menghubugi lagi dan untungnya diangkat. "Udah kakak telfonin, lagi ntar dijemput. Tunggu ya." "Iya, Makasi Kak."
Sekitar 30 menit, akhirnya datang juga seseorang aku harap sih itu yang menjemput mereka. Karena aku suddah terlalu lelah menunggu sekitar setengah jam. Mukanya tidak terlihat jelas hanya siluet badan tingginya saja yang terlihat. Ketika semakin dekat terlihat lah sosok pria putih, mancung dengan alis tebalnya. Kira - kira usianya hampir mencapai 20 tahun "KAKAK!!" Fiona dan Erick langsung berdiri dan berlari ke arah kakak mereka. Syukurlah itu benar jemputan mereka. "Hey, maaf ya kakak telat jemput kalian. Makasi ya udah nemenin adik - adik saya" "Heheh... iya nggak papa kok." "Ngomog - ngomong namanya siapa?" "Nama saya Elisa, kalo kamu?" "Kenalin saya Robby." "Oh iya salam kenal." "Kamu pulang sama siapa Lis?" "Ntar naik taksi gampang. Heheh" tiba - tiba Erick dan Fiona menyahut berbarengan "Bareng kita aja, Kak Elis. Boleh kan Kak?" "Iya boleh kok. Gimana Lis? Udah malem nih, daripada ntar kenapa - napa." "Nggak ngerepotin nih?" "Anggep aja sebagai rasa terima kasih karena kamu udah jagain adik - adikku:D." "Oke deh, makasi By."
Di dalam perjalanan, perjalanan agak sedikit canggung karena mungkin ini masih hari pertama kami berkenalan. Robby pun memecah kehningan "Lis ngomong - ngomong rumah kamu dimana ya?" "Oh di daerah deket Mall Taman Anggrek situ By." "Oh, kalau gitu anter adik aku pulang dulu ya. Kebetulan aku juga mau ke Mall Taman Anggrek." "Ah, kakak curang kita nggak diajak jalan - jalan." "Anak kecil nggak boleh pergi malam - malam, ntar dimarahin mama." "Curang kakak maunya pergi sama kak Elis aj." "Eh kalian ini ada - ada aja."
Sesampainya di depan rumah. "Udah turun kalian." "Nggak mau" seru Erick dan Fiona kompak "Bandel banget kalian. Turun cepet. Kakak telfonin mama nih." Beberapa menit kemudian mama mereka pun keluar dari rumah dan berjalan kearah mobil. "Erick Fiona cepet turun sini." "Ah kakak suka ngelapor." "Dadah Kak Elis." "Bye Erick bye Fiona" "Kakak nggak didadahin nih?" "Nggak mau weeekkkk." "Ma, aku mau ke Taman Anggrek bentar ya." "Ini siapa Rob? Pacar kamu?" "Nggak tante, saya Elis, pembina sekolah minggunya Erick sama Fiona." "Ohh.. Cantik ya." "Makasi tante." "Yaudah ma aku jalan dulu sekalian nganterin Elis supaya nggak kemaleman." "Iya, hati - hati Rob." "Mari tante."
Aku kira perjalanan akan tetap canggung, namun ternyata Robby orangnya asyik. Ia mulai membuka pembicaraan mengenai hal - hal yang ringan. "Udah makan Lis?" "Udah kok By." "Apaan manggil By By emng aku baby mu? Hahahahha." "Maaf Robby." Aku langsung menunduk malu dan merutukki betapa bodohnya aku. "Lis? maaf jangan marah aku cuman becanda." "Nggak papa Robby." "Nggak usah kaku gitu panggil aja By nggak papa kok. Rumahmu di sebelah mana?" "Masuk ke gang yang itu Robby." "Okeh. Udah sampai." "Makasi banyak Robby maaf ngerepotin." "Nggak papa Lis. Makasi juga ya. See you again. Bye Lis." "Byee."
Yah malam ini bissa dibilang antara malam yang menyenangkan dan memalukan. Setelah sampai rumah ternyata sudah pukul 21:17 malam aku pun membersihkan diri lalu pergi tidur. Badanku rasanya lelah sekali. Untungnya besok hari minggu, yah walaupun aku tetap harus mengajar di sekolah minggu setidaknya bisa bangun sedikit lebih siang.
Alarmku berbunyi yang berarti sudah pukul 06:30, aku mematikan alarm dan berniat tidur 5 menit lagi. Namun, tiba - tiba aku terbangun dan terkejut ketika melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 07:00. Aku langsung berlari ke kamar mandi,berusaha membersihkan diri secepat mungkin. Astaga!! Bodohnya aku lupa bahwa motorku masi diservis yang berarti tidak ada kendaraan yang bisa aku gunakan ke sekolah minggu. Aku berniat menelpon taksi, tapi ada pesan masuk di inbox dari nomor yag tak dikenal.
From : 087865217xxx
Siap ya...
Ntar aku jemput jam 8 kurang 15
See you El
Aku bingung sms itu dari siapa. Tetapi, menurut analisaku itu sih dari Robby, Daripada kepedean aku pun membalas sms itu
To : 087865217xxx
Siapa ya?
Belum sempat aku menaruh handphone, sudah lebh dulu datang balasan dari sms itu
From ; 087865217xxx
Ini Robby. Your By
wkwkwkwk
To : 087865217xxx
Hahahah..
Nggak usah deh Robby
Ntar ngerepotin
From : 087865217xxx
Nggak kok sekalian mau nganterin
Erick sma Fiona jga
Syukurlah pagi pagi udah dapet penolong dari kesusahan. Lumayan bisa irit uang jajan, nggak perlu bayar taxi.
Tepat ketika waktu menunjukkan pukul 07:45, Robby sudah tiba di depan rumahku dengan mobil sedannya dan tentunya bersama Erick dan Fiona juga. "Kak Elis!!" "Hi, iy Fio,Erick." "Kakakny nggak disapa juga?" Emang dah Robby anaknya rada jail "Hi, Kak Robby." "Hi juga kakak Elis."
Kami pun berbincang dan tertawa riang di dalam mobil. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 1 jam itu terasa sangat cepat berlalu.Kami berempat pun turun dari mobil. "Kakak biasanya abis nganterin langsung pulang. Kok sekarang ikut turun?" "Ya pingin aja."
Aku langsung menghampiri kakak - kakak sekolah minggu sementara Robby menemani adik - adiknya untuk berdoa dulu di dalam. Baru saja aku duduk, Gladys langsung menghujaniku dengan berbagai seruan dan pertanyaan "Cieeeee Elis pacar baru. Cieeeeee Udah berapa lama? Curang ni nggak cerita - cerita!! PJ buat kita mana?" "Cerewet amat dys dia bukan pacar aku dia cuman teman aja kok." setelah itu yang lainnya pun ikut meledekiku.
Rutinitas mingguan itu berjalan seperti itu terus. Tak terasa sudah hampir 3 bulan, membuat hubunganku dengan Fiona Erick dan Robby semakin dekat sudah seperti saudara sendiri. Tidak hanya dengan mereka tapi juga dengan mama mereka. Aku sering diajak main ke rumah mereka dan di sana aku belajar masak dari mama mereka.
Minggu depan Robby mengundangku untuk menghadiri acara ulang tahunnya yang ke 21 di sebuah hotel mewah di daerah Bandung. Yah kata Robby mumpung waktunya pas weekend ya sekalian jalan - jalan saja. Aku nggak PD banget buat dateng ke pesta itu sendiri akhirnya aku pun mengajak Gladys. Untuk urusan transport dan menginap aku tak perlu pusing karena semua sudah disediakan oleh Robby. Pokoknya baik banget deh Robby.
Jumat sore supir Robby menjemputku dan Gladys di rumahku. Sebelumnya Robby sudah menelfonku dan memintaku untuk menghubunginya ketika sudah sampai di Bandung. Syukurnya jalanan tidak terlalu macet sehingga kami bisa lebih cepat sampai di Bandung. Aku langsung menelfon Robby ketika sampai di lobby hotel.
Tak sampai 5 menit Robby sudah menghampiri kami di lobby "Hi, Lis" "Hi,By. Kenalin ini sahabatku yang aku bilang kemarin namanya Gladys." Mereka pun saling berkenalan dan berjabat tangan. "Ya udah Lis, Dys aku antar kalian ke kamar dulu buat istirahat." "Ok"
Sabtu pagi kami hanya sarapan, dan berenang di hotel. Pukul 11:00 kami sudah kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap - siap untuk acara nanti malam. Tiba - tiba, bunyi ketukan di depan pintu ternyata itu adalah seorang pelayan yang mengantarkan sebuah kotak untuk aku. Gladys langsung kepo begitu melihat kotak yang kubawa "Lis apaan itu? sini - sini buka cepet gue penasaran." "Yeeee ini kiriman buat siapa yang lebih semangat malah siapa." "Ah bodok, udah cepet." Ketika kami membuka kotak itu isinya adalah sebuah gaun berwarna biru muda. Gaunnya sederhana panjangnya hanya selutut namun terkesan sangat indah, di bawahnya juga ada sepasang high heels berwarna silver yang bertabur kristal menambah kemewahan high heels itu "Gilaaa Lis ini bagus banget. Aaaaaa." "Tapi ini dari siapa?" "Itu ada kartu Lis coba lo baca." "Oh iya Dipakai ya gaunnya entar malem. From your By." "Cieeee Elissssss aaaaaa baik banget si Robby dia suka kali sama elo." "Apaan sih Dys. Lo mah aneh - aneh aja."
Mulai dai pukul 5 kami sudah mulai berdandan untuk acara ulang tahun Robby. Tepat pukul 18:45 kami sudah selesai berdandan dan mengenakan gaun masing - masing. "Elis you look so BEAUTIFUL." "Ummmm makasih GLADYS YANG LEBIH BEAUTIFUL." "Ih, apaan sih gue serius lo emang cantik banget." "Udah ah kita buruan ke ballroom sebelum telat."
Acara di dalam ballroom sangat mewah. Dekorasi sederhana dengan kombinasi warna merah dan hitam menambah elegannya pesta ini. Mendekati jam 19:30 hampir semua tamu telah berkumpul yang jumlahnya sekitar 500 orang. Acara diawali dengan ungkapan terima kasih singkat dari Robby. Kemudian dilanjutkan acara tiup lilin dan potong kue. Mc mulai menambah riuh suasana ketika bertanya kepada Robby "Potongan pertamanya udah buat orang tua. Sekarang potongan kedua buat orang spesialnya donk? Siapa nih?" Robby mengambiil mic dari mc dan berkata "Potongan kedua ini akan aku kasih buat seseorang spesial yang sudah membuat hariku lebih berwarna beberapa bulan terakhir ini. Please naik ke panggung my blue princess, Elisa." Aku sontak terkejut dengan pernyataan Robby itu. Tepuk tangan semakin riuh di dalam ruangan ketika lampu menyorot padaku. "Waaawww , Eliss buruan naik sana." seru Gladys. Perlahan akhirnya aku pun berjalan ke panggung dengan perasaan yang campur aduk.
Sambil diiringi lagu Tulus - Jatuh Cinta, Robby pun menyuapi potongan kue itu kepadaku. Kemudian Robby meraih tanganku "Lis kita mungkin belum terlalu lama kenal, tapi aku udah ngerasa nyaman sama kamu. I promise you will be the last in my life. So, Will you be mine?" Sorak sorai di dalam ballroom semakin menjadi - jadi TERIMA!! TERIMAA!!! TERIMAAA!!! Aku semakin bingung harus menjawab apa, jujur sebenarnya aku juga memiliki keterterikan terhadap Robby "Hmmmm, Yess I promise to be yours forever By." "Thank you, El." Robby langsung memelukku. Hari itu pun menjadi hari yang sangat membahagiakan dalam hidupku. Para tamu undangan yang lain pun tak kalah heboh bertepuk tangan menyambut kebahagiaan kami berdua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar