Minggu, 02 April 2017

Pentingkah Aku?

             Kenalkan aku Devin, anak kelas 12 IPA 1. Menurut teman – temanku aku termasuk salah satu anak popular di sekolahku yah mungkin saja itu karena aku adalah kapten tim basket SMA Valindo ini. Cukup banyak adek kelas yang sering mencoba menarik perhatianku dengan menyukai, comment ataupun mengirim pesan langsung kepadaku melalui berbagai media social. Aku selalu mengusahakan untuk membalas pesan mereka namun sebatasnya saja. Bukannya aku sombong tetapi aku tidak mau dicap sebagai Pemberi Harapan Palsu (PHP).
 Selain itu ada perasaan seseorang yang harus aku jaga, yap, sebulan belakangan ini aku tengah menjalin hubungan dengan salah satu adik kelasku bernama Liana. Berbeda dengan adik kelas yang lain, bila yang lain berusaha menarik perhatianku dengan segala cara cewek yang satu ini tanpa melakukan apa – apa tapi berhasil menarik seluruh perhatianku untukknya. Kebetulan aku dan Liana sama – sama tergabung dalam club . Tentunya intensitas pertemuan kami sering paling tidak setiap minggu kami pasti bertemu. Tapi, ia tidak pernah menunjukkan gelagat ingin menarik perhatianku. Hal itu lah yang justru menarik perhatianku untuk mendekatinya.
Tingkah laku Liana memang bisa dibilang sangat jauh berbeda dari cewek pada umumnya. Umumnya cewek – cewek yang sudah menginjak masa SMA akan mulai menggambar wajah mereka khususnya bagian ALIS ketika akan berangkat ke sekolah. Tidak lupa juga menata rambut mereka yang terkadang tampak seperti akan menghadiri acara kawinan. Sangat kontras dengan cewek yang lain, penampilan Liana bisa dikategorikan sangat cuek. Dia hanya mengikat rambutnya menjadi satu dan tidak ada sama sekali polesan di wajahnya.
                Hal yang menarik perhatianku juga adalah banyak senior cowok yang mengejar dia namun belum ada satu pun yang berhasil menaklukan hati cewek super cuek satu ini. Sebagai seorang cowok sejati tentunya aku menyukai tantangan, jadi kucobalah untuk mendekatinya dan ternyata itu memang sangat sulit.
Setelah pendekatan yang cukup susah akhirnya Liana menerimaku sebagai pacarnya. Namun, aku merasakan hal yang berbeda ketika menjalin hubungan dengan Liana. Ini tentunya bukan pengalaman pertamaku menjalin hubungan tapi aku merasa seperti seseorang yang baru pertama kali merajut kasih. Ntahlah aku bingung sendiri.
***
Sekilas flashback bagaimana perjuanganku untuk mendekatinya
8 bulan yang lalu aku mencoba untuk men-follownya di Instagram dan mengiriminya pesan melalui direct message
“Hi Dek.” Tanyaku
Sekitar 15 menit kemudian aku mendapat balasan
“knp Kak?” disapa hi bukannya dibalas hi juga malah ditanya kenapa. Hmmmm
“boleh minta id linenya Dek?”
“untk ap Kak?” and this the point kalau junior ataupun teman seangkatankku yang perempuan akan langsung dengan senang hati memberikan id line mereka padaku tapi berbeda dengan Liana
“buat nambah jadi temen Dek?”
“Liana_ itu Kak.”
“Makasih ya Dek:D”
“(y)”
BOOM!! Bukan dibalas dengan sama – sama atau bertabur emoticon dan sticker sangat simple balasannya, hanya “(y)”.
Bukan hanya balasan yang cuek saja. Setelah mendapat id linenya aku langsung menambahkan Liana menjadi salah satu temanku di line. Beberapa hari setelah menjadikannya teman di line aku mencoba untuk memulai pembicaraan. Yah basa basi yang emang udah kelewat basi aku bertanya padanya
“Lagi ngapain Li?”
“Lgi ngerjain tugas kak.”
“Tgas apaan?”
“Tgas Bhasa Indo.”
Ya beginilah posisiku sudah seperti orang yang sedang melakukan wawancara aku sebagai reporter dan Liana sebagai nara sumber. Tidak sekali pun ada timbal balik pertanyaan dari dia untukku. Dan salah satu chat yang cukup membuatku harus bersabar.
“Lagi sibuk LI?”
“Iya Kak. Sorry Kak hp ku low bat mau aku charge dulu.”
Baru saja aku menghubunginya sudah langsung ditinggal. Ya Tuhan, Kau memberiku tantangan yang sangat baru dalam hal mendekati cewek yang satu ini. Tantangan yang lain pun datang ketika aku mencoba untuk mengajaknya ngedate beribu alasan dia buat untuk menghindariku.Ntah alasan lagi banyak tugas, harus temenin mama belanja, ada janji sama teman dan yang paling menohok dia pernah bilang secara gamblang nggak mau Kak lagi males. Luar biasa, memang jujur itu kadang menyakitkan. Tapi, aku nggak akan semudah itu untuk menyerah mendekati dia.
                Akhirnya, aku putuskan untuk menjadi lebih nekat dari cowok kebanyakan. Bila kebanyakan cowko hanya berani mencoba melalui chat saja aku putuskan untuk mencoba berkunjung ke rumahnya. Aku memperoleh alamat rumahnya setelah mengstalk media sosialnya dan menemukan siapa teman dekatnya. Setelah itu aku pun bertanya kepada teman dekatnya tersebut.
                Hari minggu siang itu, aku pun memberanikan diri untuk pergi ke rumahnya. Bila ditanya apakah ada rasa takut? Ya, tentu saja. Aku takut apabila kedua orang tuanya juga memiliki sifat cuek yang sama dan matilah aku. Tetapi, kita tidak akan pernah tahu hasilnya bila kita belum mencoba. Sesampainya di rumah Liana, aku memberanikan diri untuk menekan bel di pintu gerbangnya. Tak lama kemudian pembantunya keluar membukakan pintu dengan ramah pembantunya bertanya “Mau cari siapa Den?” “Lianannya ada mbok?” tanyaku “Oh, Non Liana ada di belakang lagi sama papa mamamnya.” Jawab pembantunya. DEG… sedang bersama papa dan mamanya, tidak mungkin aku berjalan mundur ketika sudah berjalan sejauh ini. Belum sempat aku mengambil keputusan tiba -  tiba  dari dalam rumah terdengar teriakan “Bi, siapa yang datang?” dari suaranya aku rasa itu bukan suara Liana “Ini Nyonya, temannya Non Liana.” Jawab Bibi “Suruh masuk aja Bi.” Perintah Mama Liana. “Den, masuk aja. Disuruh masuk itu sama nyonya.” Karena tidak ada pilihan lagi akhirnya kuputuskan untuk masuk.
                Namun, ternyata kenyataan yang terjadi tidak semenyeramkan ekspetasiku. Mamanya Liana sangat ramah. “Mari masuk.” Ajak Mama Liana “Iya Tante.” Jawabku agak canggung. Sesampainya di bagian belakang rumah Liana, aku menangkap wajah Liana yang sangat kaeget melihat sosokku yang tiba – tiba muncul di rumahnya. “Li, ini ada temanmu datang.” Kata Mamanya “Eh, iya ma.” Sahut Liana “Siang Om” sapaku kepada Ayah Liana “Oh iya, siang. Namanya siapa?” tanya Ayahnya. “Nama saya Devin, Om” jawabku sambil menjabat tangannya “Om Tony dan ini Mamanya Liana Tante Rina.” Jawab Ayahnya sambil menjabat tanganku. Sejauh ini aku masih belum menemukan darimana darah cuek Liana mengalir. Kedua orang tuanya sangat ramah. Liana bangkit dari tempat duduknya “Pa,Ma, aku ngobrol sama Kak Devin di ruang tamu aja ya.” Katanya sambil mengajakku pergi dari tempat itu. Aku pun mohon pamit kepada kedua orang tuanya.
                “Kakak ngapain ke sini?” tanyanya dengan nada dingin “Pingin ketemu kamu lah.” Jawabku santai “Kan bisa tanya dulu gitu lewat chat nggak harus tiba – tiba muncul di sini.” Balasnya lagi. Ntahlah aku tak mengerti apa isi kepala gadis yang satu ini. Bila gadis lain akan merasa tersanjung bila tiba – tiba seorang pria datang ke rumahnya tanpa memberitahu dahulu namun lain halnya dengan Liana. Dia memang benar – benar berbeda.
***
Seperti pagi ini, aku mencoba menghubungi Liana melalui pesan di line
“Li, berangkat bareng ya? Aku jemput.” Tawarku
“Nggak usah Kak. Ketemu di sekolah aja langsung.” Balasnya
Aku tentu bingung sendiri. Dimana – mana kebanyakan cewek itu malah meminta ataupun menuntut untuk harus diantar jemput sama cowoknya. Lah ini, aku udah nawarin malah ditolak. Kalian bayangkan saja semenjak 1 bulan jadian aku belum pernah sama sekali berangkat bareng dengan Liana ke sekolah. Teman – temanku pun sampai menanyakan kebenaran status hubungan kami. Sampai ada juga kabar yang berhembus bahwa ini sekedar settingan agar tidak ada yang menggangguku lagi.
                Ya karena suasana masih pagi dan kadar emosiku masih cukup stabil, akupun memutuskan untuk menerima saja apa mau Liana. Daripada aku terlamabat masuk sekolah, aku bergegas mengambil kunci mobil dan berangkat ke sekolah.
                Sesampainya di sekolah aku langsung menuju ke kelasku. Biasanya, aku mampir ke kelas Liana dulu namun karena bel sudah berbunyi ketika aku sampai di parkiran sekolah maka kuputuskan untuk tidak melakukan rutinitas itu hari ini.
                Ada sedikit harapan di dalam hatiku bahwa Liana akan mengubungiku melalui line karena hari ini aku tak mampir ke kelasnya terlebih dahulu. Namun, ketika istirahat aku mengecek ponselku hasilnya nihil. Dari puluhan notifikasi yang ada tidak ada satupun yang berasal dari Liana. Ya, aku tahu aku memang mencoba suatu tantangan yang sangat luar biasa untuk hubunganku kali ini. Cewek yang kini menjadi pacarku memang terkenal sebagai cewek yang sangat cuek sehingga tak ada lelaki yang berhasil mendekatinya. Mungkin bisa dikatakan aku luar biasa beruntung bisa mendekatinya, namun kini setelah jadian aku mendapat tantangan yang jauh lebih kompleks untuk mempertahankan hubungan kami. Aku tentunya tidak mau dicap sebagai cowok playboy karena memiliki koleksi mantan yang tak cukup dihitung hanya dengan jari tangan.
                Kali ini, aku putuskan untuk mengalah lagi. Aku pergi ke kelasnya untuk menemui dia tetapi hasilnya nihil. Dia tidak ada di kelasnya, ada pikiran negative yang muncul mungkin dia sedang istirahat makan dengan cowok lain. Namun cepat – cepat kuusir pikiran burukku itu. Aku putuskan untuk kembali ke kelas tapi tiba – tiba seorang teman Liana menghampiriku “Kak, Kakak cari Liana ya?” tanya cewek itu “Iya Dek. Kamu ada lihat Liana?” tanyaku “Liana tadi ke UKS sama Fina Tadi di tengah – tengah pelajaran dia tiba – tiba pingsan.” Jelas cewek itu. Aku sontak kaget. Segera aku berlari menuju UKS setelah mengucapkan terima kasih kepada cewek itu.
***
                Sesampainya di UKS aku baru saja akan menyibak gorden namun terdengar sayup suara kedua teman itu sedang berbicara. “Gue hubungin Kak Devin ya Li?” tanya Fina “Nggak usah,Fin.” Jawab Liana “Kenapa? Dia kan cowok kamu jadi dia berhak dong tahu keadaan kamu.” Balas Fina “Nggak Fin. Aku nggak mau ngerepotin Kak Devin. Toh aku juga cuman nggak enak badan aja bukan sakit parah.” Jawab Liana “Ya udah kalau itu mau kamu.” Tepat setelah Fina menyelesaikan kalimatnya aku pun membuka gorden UKS. Tampak waja Liana yang pucat dan terkejut melihat kehadiranku di sana. Fina langsung undur diri ketika aku melangkah mendekati Liana.
                Aku duduk di sebelah Liana. Ku pegang tangannya sembari tanganku yang satunya lagi mengusap lembut kepalanya. “Li, kamu kenapa nggak kabarin aku kalau kamu lagi sakit?” tanyaku “Nggak papa Kak. Aku cuman nggak mau buat kakak khawatir toh cuman nggak enak badan biasa aja.” Jawabnya “Walau cuman nggak enak badan tapi setidaknya kamu harus kabarin aku, Li. Kamu sekarang mau balik atau lanjut ke kelas? ” tanyaku “Lanjut kelas paling Kak. Trust me, aku nggak papa Kak. Jangan terlalu khawatir gitu.” Pintanya. “Nanti siang aku antar kamu pulang ya. Tolong, untuk kali ini aku nggak mau dengar penolakan.” Pintaku “Kamu mau balik ke kelas sekarang?” tanyaku “Iya, Kak.” Jawabnya “Yuk, bareng aja aku antar.” Kataku. Liana mengangguk yang berarti setuju. Aku pun membantunya turun dari ranjang dan mengantarnya ke kelas. Ya Tuhan, akhirnya setelah satu bulan hari ini aku merasakan menjadi pacar yang setidaknya sedikit berguna bagi Liana.
***
                Siang itu, tepat ketika bel pulang sekolah berbunyi aku langsung bergegas menghampiri Liana di kelasnya. Aku tak mau sampai kecolongan karena kesempatan seperti ini sangat langka. Tepat ketika aku sampai di depan kelasnya, Liana baru saja selesai merapikan bukunya. “Udah beres Li?” tanyaku “Eh, iya Kak.” Jawabnya “Ayo, balik sekarang Li” ajakku sambil menggandeng tangan Liana erat. Aku merasakan ada penolakan dari Liana, dia seperti akan menarik tangannya kembali namun dengan sigap aku menahannya. Ya dan kau bisa pastikan seluruh mata di SMA Valindo itu kini tertuju pada gandengan tangan kami. Sepanjang koridor aku berjalan dan tak ada aku menemukan mata yang tak menatap kami. Aku merasa senang sekali hari ini karena berhasil menunjukkan kepada seluruh siswa SMA Valindo bahwa aku beneran pacaran sama Liana bukan HOAX.
                Sesampainya di mobil aku membukakan pintu untuk Liana dan mempersilahkannya masuk. Kemudian aku pun masuk ke mobil dan duduk dibalik kursi kemudi. “Kita makan siang dulu ya baru pulang?” tawarku pada Liana. Liana hanya membals dengan anggukan sepertinya dia sedang banyak pikiran atau masih kurang enak badan atau masih shock atas tindakanku. Hahaha. “Kamu masih nggak enak badan ya? Kalau nggak mau ya kita pulang aja Li.” “Nggak kok Kak. Kita makan aja dulu.” Jawabnya. Sebenarnya aku cukup terkejut dengan jawaban Liana. Aku kira di akan langsung minta di antar pulang.
***
Kami memutuskan untuk memesan 2 porsi nasi goreng seafood dan 2 gelas ice lemon tea. Untuk pertama kalinya aku deg – deg an ngedate sama cewek. Sebenarnya ini lucu banget tapi ya gimana ya cewek yang biasa susah banget diajak jalan sekarang lagi duduk di hadapan gue. “Maaf.” Tiba – tiba saja kata itu terlontar dari mulut Liana. Aku belum yakin atas apa yang aku dengar aku pun bertanya untuk memastikan “Apa? Tadi kamu bilang apa Li?” Sesaat suasana berubah menjadi hening sebelum akhirnya Liana buka suara lagi. “Maaf Kak, selama ini aku nggak bisa jadi pacar yang baik untuk kakak.” Seketika Liana mulai menitikan air mata. Aku pun panik cewek cuek yang tahan banting banget tiba – tiba nangis. Aku pun berpindah duduk di sebelahnya. Aku tidak mau banyak bertanya dulu tentang apa yang ingin dia katakan. Aku hanya memberikan bahuku sebagai tempat sandarannya untuk menangis dan tanganku mengelus lembut kepalanya.
Setelah tangisannya mulai reda aku pun mulai berbicara “Nggak Li. Kamu nggak sepenuhnya salah. Cuman kamu kadang terlalu mandiri sampai aku ngerasa aku jadi cowok yang nggak berguna. Please Li, aku ini cowok kamu kalau kamu lagi sakit atau butuh bantuan apa jangan pernah sungkan ngomong sama aku. Aku nggak akan pernah merasa direpotkan sama kamu. ” Aku lega setelah mengeluarkan semua keluh kesahku. “Iya Kak maaf. Sebenarnya maksudku bukan mau menghidar cuman aku nggak biasa jadi cewek manja yang harus ini itu diurusin dan ya aku juga nggak mau jadi beban untuk orang lain.” Kata Liana.
Tak berapa lama setelah itu pesanan kami pun datang. Aku pun tak kembali ke posisi awalku jujur saja aku merasa sangat nyaman dan bahagia saat ini. Setelah menghapus sisa air matanya Liana memperbaiki posisi duduknya. Kalau boleh jujur aku lebih suka posisinya ketika bersandar di bahuku. “Gimana udah enakan?” tanyaku “Udah Kak.” Jawabnya “Ya udah sekarang makan dulu gih. Udah lapar kan?” Liana hanya membalasku dengan senyum.
Sebenarnya tanganku sudah gatal ingin menyuapinya tapi apa daya daripada mendapat penolakan lebih baik ku tahan saja keinginanku untuk saat ini. Kami pun sibuk dengan makanan masing – masing. Selama menikmati makanan aku tak henti – hentinya memperhatikan Liana. Setiap gerakan yang ia lakukan benar – benar aku perhatikan karena memang momen ini bisa dibilang baru pertama kalinya selama kami resmi berpacaran. Bodoh. Iya benar saja aku memang merasa menjadi orang bodoh ketika berada di depan wanita yang aku suka. Selesai menyantap makanan aku melihat ada sedikit saus di sudut bibirnya. Reflek aku mengambil tisu dan mengusapnya. Dan ya dasarnya cewek gue yang terlalu mandiri adegan romantis itu hanya berlangsung sepersekian detik. Liana langsung mengambil tisu itu dan mengelap sendiri sisa saus di mulutnya. “Thank you Kak.” Ucapnya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Semoga semenjak hari ini aku bisa menjalani pacaran seperti manusia pada umumnya.
“Li, mau balik sekarang?” tanyaku. Aku berharap dia menjawab tidak tapi aku sadar itu mustahil. Hahahaha. Liana melirik jam tangannya kemudian menjawab “Hmmm… Terserah kakak. Hehehe.” Sumpah?? Benarkah ini Ya Tuhan dia tidak menolak? “Kamu lagi pengen kemana gitu?” tanyaku lagi “Kalau kita pergi nonton gimana Kak?” Apa? Dia ngajak nonton. Oh Tuhan panjangkanlah hari ini :’) “Boleh aja. Kamu mau nonton apa? Beauty and the Beast? Dear Nathan?” Aku rasa tebakanku hamper pasti benar karena semua cewek sangat mengidam – ngidamkan untuk menonton film itu. “Bukan Kak. Aku mau nonton Power Rangers. Heheheh.” Skak. Aku hamper tak bisa berkata lagi. Cewek yang satu ini memang special “Serius Li?” tanyaku meyakinkan “Iya Kak. Kenapa? Aneh ya?” “Nggak kok. Kakak juga lagi mau nonton film itu tapi belum ada jadwal yang cocok sama teman eh kebetulan banget hari ini dapat temen nonton pacar pula. Heheheh. Yuk jalan sekarang aja yuk.” Ajakku
***
                Kami memutuskan untuk menonton di salah satu mall terbesar di kawasan Jakarta Utara. Sesampainya di sana kami langsung pergi ke bioskop untuk membeli tiket. Kebetulan masih tersisa tiket untuk pertunjukkan yang akan mulai 15 menit lagi sehingga kami tidak perlu menunggu lama. Walau aku lebih berharap untuk menunggu agar menghabiskan waktu lebih lama. “Li, suka popcorn salt atau caramel?” tawarku “Hmmm.. Nggak usah deh kak.” “Udah nggak usah malu – malu kalik.” “Yang caramel deh. Heheheh.” Jawabnya malu – malu “Okeh kamu tunggu di sana aja ya biar aku yang beli. Setelah membeli popcorn kami pun masuk ke studio.
                Di tengah – tengah film aku tak sengaja memegang tangan Liana dan aku merasa tangannya sangat dingin. Tanpa bertanya lebih panjang aku melepas jaketk dan menaruhnya di atas badan Liana. Awalnya dia menolak namun aku berbisik padanya “Udah kakak tahu kam kedinginan. Jangan berisik lanjutin nonton aja.”
***
                Film yang berdurasi 2 jam 3 menit it hanya terasa sebentar sekali ketika aku menontonnya dengan Liana. Aku melihat jam tangan sudah pukul 9 malam. Besok masih harus bersekolah jadi kuputuskan untuk langsung mengantar Liana pulang. Aku takut bila nanti ia kelelahan. Di dalam mobil kami mengobrol santai suasana sekarang sudah sangat jauh berbeda dari hari kemarin Semoga akan terus seperti ini.
                Sesampai di depan rumahnya, aku membukakan pintu mobil dan mempersilahkannya turun. Sebagai cowok yang bertanggung jawab aku akan mengantarnya hingga ke dalam rumah. Karena ini semua karena ajakanku, aku tak mau nanti Liana dimarahi. “Aku antar ke dalam ya? Nanti aku yang jelasin ke papa mamamu kenapa kamu sampai jam segini baru pulang.” Kataku “Kalau itu mau kakak boleh aja.” Balasnya
                Seorang wanita paruh baya membukakan pintu gerbang “Non, udah ditunggu sama Tuan dan Nyonya di ruang keluarga.” “Baik. Terima kasih Bi.” Jawab Liana lembut.
***
                “Malam Pa Ma.” sapa Liana “Malam Om Tante” sambungku. Awalnya wajah kedua orang tua Liana sepertinya sudah siap untuk mengintrogasi anaknya tapi tiba – tiba raut wajah garang itu menghilang. “Malam Nak Devin silahkan duduk.” Tante Rina mempersilahkan. “Iya makasi Tante.” Jawabku sopan “Jadi Liana jam segini baru pulang karena aku yang ajakin jalan Om Tante.” Jelasku “Oh ia Nak Devin nggak papa. Kalau perginya sama Nak Devin Om percaya.” Jawab Om Tony. “Sudah malam om tante besok masih masuk sekolah, saya pamit dulu.” Kataku “Oh iya Nak Devin. Kapan kapan main kesini lagi” pesan Tante Rina.
                Liana pun mengantarkan aku sampai ke pintu gerbang. Aku pun masuk ke dalam mobil kemudian membuka kaca “Istirahat ya Li. Thank you untuk hari ini.” Kataku “Iya Kakak juga istirahat. Thank you too sayang. Byee.” balasnya. Otakku masih loading apakah aku tak salah dengar “Tadi bilang apa Li?” tanyaku “Apa ya? Live kak nggak bisa diulang.” Candanya “Ih gitu ya Li.” Jawabku dengan wajah seolah – olah cemberut. “Ah gitu aja ngambek.  Udah pulang sana. Hati – hati di jalan kakak SAYANG!!” teriaknya. Hahahaha. Ternyata aku memang tidak salah dengar “Iya bye dedek saying. See you tomorrow.” Setelah saling berbalas melambai tangan. Aku mulai menjalankan mobilku.

Dalam hati aku berkata. Aku sangat bahagia hari ini. Terima kasih Tuhan semoga hubungan kami akan tetap hangat seperti ini. Jaga dia selalu untukku Tuhan. Terima kasih untuk lindungan-Mu selama ini. Ternyata perjuanganku tidaklah sia – sia, aku berhasil mendapatkan ciptaan-Mu yang “unik” ini. Bahagialah aku ketika bisa menjadi orang yang berguna dan penting untuk Liana. . .

Recycle Cinta

AUTHOR’S POV             “….. Sudah tak bisa dipungkiri jumlah sampah yang ada di Indonesia ini. Mulai dari limbah rumah tangga, pabrik...