Rabu, 08 Juni 2016

Cakep Mah Kalah Sama Nyaman

       Horeeeee!!! Hari ini tentunya adalah hari yang paling ditunggu oleh anak kuliahan di seluruh Indonesia. Yaps!! Hari ini adalah hari pertama liburan semester. Akhirnya semester yang berat telah berhasil dilewati. Liburan kali ini tentunya sangat spesial bagi Revy, karena liburan kali ini ia diberi hadiah oleh orang tuanya untuk berlibur ke Eropa. Hadiah ini diperoleh Revy karena ia berhasil mendapatkan nilai IPK yang fantastis.


     Tiga hari sebelum keberangkatannya Revy telah mengemas seluruh barang yang dia butuhkan untuk berlibur selama dua minggu di Eropa. Hari yang ditunggu pun tiba, Revy diantar keluarganya berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta pada Senin malam. Di bandara, Revy bertemu dengan beberapa teman turnya. Hanya beberapa, karena masih ada yang belum datang. Sekitar pukul 19:00, Tour guide mempersilahkan rombongan yang sudah selesai mengurus bagasi untuk masuk ke ruang tunggu. Sebelumnya, tour guide itu memperkenalkan diri namanya Gladys usianya sekitar 25 tahun.


     Perjalanan menuju Eropa akan ditempuh dalam waktu 14 jam dengan perjalanan selama 12 jam dari Indonesia menuju Istanbul dan 2 jam lagi dari Istanbul menuju Brussel. Ketika boarding, Revy menyerahkan boarding pass kepada petugas bandara. Karena waktu sudah malam, Revy memutuskan untuk tidur. Namun, dipertengahan malam ia terbangun karena tidur di pesawat rasanya tentu kurang nyaman.


     Badannya terasa pegal sehingga ia sedikit melakukan peregangan. Tanpa sengaja, ketika dia menoleh ke belakang, ia menemukan seorang cowok cakep yang sedang tertidur. Hatinya tentu senang bisa melihat pemandangan indah yang tak terduga itu. Dengan lampu pesawat yang remang - remang sepintas wajahnya terlihat seperti orang Asia (Indonesia). Sebelum tertangkap basah sedang memperhatikan cowok itu, Revy memutuskan untuk kembali tidur lagi.


     Perjalanan 12 jam itu pun usai, tepat sekitar pukul 2 pagi waktu Instanbul Revy mendarat di Bandara Internasional Ataturk. Setelah turun dari pesawat kami masih harus menunggu sekitar 4 jam untuk penerbangan selanjutnya menuju Brussel. Tak sempat terpikirkan mengenai cowok yang tadi Revy lihat di pesawat, mungkin karena Revy masih jet lag. Rombongan pun kembali terbang menuju Brussel sekitar pukul 6.


      Yayyy... Akhirnya setelah perjalanan panjang selama 14 jam Revy pun menginjakkan kaki di Eropa. Setelah melewati imigrasi, tour guide menuntun rombongan untuk masuk ke dalam bus. Revy memilih duduk di kursi bagian tengah. Betapa terkejutnya Revy ketika seorang cowok naik ke dalam bus dan ternyata cowok itu adalah cowok yang Revy lihat di pesawat. Waaaaa.... Revy sangat senang karena ternyata cowok itu satu rombongan dengan dia.


        Pemandangan di Eropa sungguh indah namun, suhunya kurang bersahabat karena sedang musim panas. Di Brussels, rombongan mengunjungi Manekkin Pis. Revy berpisah dari rombongan untuk membeli Belgian Waffles. Tanpa sengaja topping waffle meleleh dan kamera yang dibawa terkena lelehannya. Revy terkejut dan langsung membersihkan kameranya dengan tisu basah. Tak berapa lama tour guide mengarahkan kami untuk kembali ke bus.


        Saat di bus, Revy menyalakan kameranya dan yang terjadi layar lcd kamera tersebut gelap dan terlihat apa - apa. Revy terus mencoba namun tak ada perubahan. Dalam keadaan panik tiba - tiba seorang lelaki mendekat dan duduk di sampingnya. "Haii, itu kameranya kenapa?" tanya cowok tersebut.  "Eeeeh, nggak tahu nih layarnya tiba - tiba blank gitu." jawab Revy. "Boleh aku liat? siapa tahu aku bisa bantu." Revy pun memberikan kameranya kepada cowok tersebut. "Oh iya, nama kamu siapa?" tanya cowok tersebut. "Namaku Revy, kalau kamu?" "Aku Raymond. Salam kenal". Kami terus mengobrol selama perjalanan menuju Paris.


        Kemudian Raymond memberi penjelasan tentang kamera Revy. "Vy, tadi kamu ada ngelakuin sesuatu nggak sama kameramu?" tanya Raymond. "Tadi sih aku ada ngebersihin pake tisu basah" jawab Revy sambil nyengir. "Yaelah pantesan aja. Tisu bsah itu ada kandungan alkoholnya jadi kayaknya ada yang masuk ke lcd kameranya jadi gini. Kayaknya harus kamu benerin nih waktu pulang ke Indo baru bisa." jelas Raymond. "Hmmm... oke deh Ray, thank you."


        Selama perjalanan menuju Paris, Revy hanya bisa menatap cowok itu dari kejauhan. Sampai saat ini iya masih belum sempat berkenalan dengan cowok itu. Masih menjadi misteri siapa nama dan identitas cowok itu.


        Rombongan sampai di Paris sekitar pukul 8 malam dan langsung check in ke sebuah hotel. Semua duduk di lobby menunggu tour guide memberikan kunci kamar. "Kosong??" tanya Raymond "Eh iya, duduk aja Ray." Belum sempat mereka berbincang tour guide sudah mulai membagikan kunci kamar.


        Raymond hendak berjalan ke kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar ada peserta tour yang mengeluh "Mba, aku nggak mau kamar di lantai itu aku mau kamar lantai 2!" ternyata itu adalah suara Vista (seorang mahasiswi yang rempong banget). "Nggak bisa Vis udah dibagi kamarnya." "Ihh mba ini kan kamarnya Revy lantai 2 aku tukar sama dy." Vista langsung menukar kunci kamarnya dengan kunci kamar Revy dan pergi meninggalkan tempat itu.


        Setelah itu Revy melihat nomor di kunci kamarnya 721 matanya membelalak "Lantai 7? hmmm. . ." "Vy sorry ya jadi kamu yang harus di lantai 7" kata Mba Gladys merasa bersalah. "Nggak papa kok mba sama aja." "Ya udah mba ke kamar duluan ya." Sebenarnya tidak ada maslah bagi Revy kamar di lantai 7 atau 10 sekalipun tapiiiiii kali ini lain urusannya karena LIFT HOTEL SEDANG DALAM PERBAIKAN. Setelah Mba Gladys kembali ke kamar Raymond datang menghampiri Revy, "Vy, tukar aja sama aku biar aku yang di lantai 7!" "Nggak usah Ray sama aja kok." "Sama aja gimana kamu cewek masa harus naik bawa koper sampai lantai 7 kalau aku cowok nggak masalah." tanpa menunggu jawaban Revy, Raymond langsung menukar kunci kamar mereka dan mengajak Revy untuk menaikki tangga.


       "Rev udah sampai." "Oh iya, makasi Ray." Revy berjalan menuju kamarnya sambil menggeret kopernya. "Istirahat yang cukup Rev. Have a nice dream!" Raymond menyelesaikan kalimatnya sambil menaikki tangga menuju lantai selanjutnya. Revy yang semula mengantuk tiba - tiba terkejut dengan ucapan Raymond. Ia tidak yakin apa yang dengan apa yang didengarnya. Mungkin itu hanya halusinasiku saja gumam Revy di dalam hati.


       Tepat pukul 7 pagi bel kamar Revy berbunyi, Revy bergegas membuka pintu setelah selesai mengenakan sepatunya. Ternyata orang yang pagi - pagi sudah nangkring di depan pintu kamar Revy adaalah Raymond. "Pagi Rev!" "Eh.. Pagi Ray." "Breakfast bareng yuk." "Okeh bentar aku mau ambil tas dulu." Mereka kemudian berjalan bersama menuju restaurant. Sesampainya di sana mereka berpisah untuk mencari makanan apa yang cocok untuk mereka nikmati pagi ini.


       Setelah berkeliling akhirnya Revy memutuskan untuk makan semangkuk sereal saja. Revy kemudian berjalan menuju tempat cereal. Setelah mengisi mangkuk serealnya Revy mengantri untuk mengambil susu, tiba - tiba pria yang beradanya berbalik dan menyenggolnya hingga susu dari mangkuk sereal pria tumpah ke tangan Revy "Oh miss I'm sorry" Revy sempat terbelalak karena pria yang menyenggolnya itu ternyata pria misterius yang ikut dalam grup tournya. "Iya nggak papa." "Oh, kamu orang Indonesia. Maaf ya nggak sengaja." Pria itu kemudian berlalu pergi. Perasaan Revy bercampur aduk antara senang bisa berkomunikasi langsung dengan pria itu atau merasa kesal karena pria itu tidak menyadari kehadirannya dalam grup tour itu.


       Ketika Revy sedang mencari tempat yang kosong untuk duduk, dari kejauhan Raymond melambaikan tangan seakan memberikan isyarat bahwa tempat duduk di sebelahnya kosong. Revy berjalan menuju tempat Raymond. "Lama banget Rev cuman ngambil sereal aja." "Iya tadi sempet ada insiden kecil." "Ya udah buruan makan lagi 15 menit kita udah harus ngumpul di lobby.


       Semua anggota tour mulai naik ke bis. Revy sangat antusias dengan jadwal perjalan hari ini karena rombongan akan mengunjungi landmark kota Paris, Menara Eiffel. Tapi ada hal yang menganjal karena kamera kesayangannya rusak. Sebelum menuju Menara Eiffel, rombongan mengunjungi Montparnasse. Dari atas Montparnasse kita bisa melihat keindahan Kota Paris. Akhirnya, rombongan sampai di Menara Eiffel, rombongan mulai turun satu persatu dari bis. "YAY!! Menara Eiffel!!!" teriak Raymond "Seneng amat Ray." "Iyalah Rev, ini impian gue dari kecil ngambil foto Menara Eiffel secara langsung. Oh ya Rev, kamera kamu kan rusak aku juga butuh model buat di foto jadiiii...." "Jadi apaan??" "Jadi, mau kan kamu jadi model foto aku itung - itung simbiosis mutualisme." "Hahahahahahah... bisa aja. Emang kalau aku yang jadi modelnya bukan ngerusak keindahan foto yang kamu ambil?" "Nggak dong, malah mempercantik" kata Raymond sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Revy salah tingkah.


       Gladys mengumumkan bahwa siang ini akan diberi waktu bebas di mall Lafayette hingga sore hari. Kalangan ibu - ibu dan sosialita tentunya sangat menyukai bagian ini. Revy bukanlah seperti tipe remaja putri pada umumnya. Ia tidak tergila - gila untuk shopping. "Nggak langsung pergi melalang buana ngabisin duit Rev?" "Mau beli apaan di sini? Duit aku cukup buat label harganya aja.. Hahahahah.” “Kesian amat yah nasib kita sama. Hahahahah... Kita cari – cari souvenir di toko dekat mall ini aja yuk, tadi kata Gladys di sana murah – murah.” “Boleh deh Ray”        

       Mereka berdua pun membeli beberapa souvenir (gantungan kunci, glass ball dan lainnya). “Minum es krim kayaknya enak nih panas baangettt.” “Coba kita cari di dalam mall aja Rey.” Setelah mencari ke sana ke mari akhirnya mereka menemukan kedai es krim “Hufff... akhirnya ketemu juga kedai es krimnya” “Mau pesen es krim apa Rev?” “Aku cookies and cream aja 1 scoop.” “Excuse me, Sir. I want to order two cups. One scoop cookies and cream in one cup and two scoops cookies and cream in the other cup.”         

       Raymond dan Revy berjalan mengelilingi mall sambil menikmati es krim mereka. “Oh ya, berapa Ray harga es krimnya.” Kata Revy smbil mengangsurkan uang 10 euro. “Gratis Rev, yah hitung – hitung ucapan terima kasih kamu jadi  teman yang buat liburan aku jadi seru.” “Harusnya aku yang berterima kasih Ray karena kamu banyak bantuin aku selama liburan ini.” “Eh udah mau jam 5 nih kita harus balik ke meeting point.”


         Sesampainya di meeting point mereka tidak menemukan ada satu orang pun yang sudah berkumpul. “Kayaknya kalian berdua adalah orang paling on time selama perjalanan ini.” ujar Gladys yang tiba – tiba sudah berada di belakang kami. “Hahahahah... bisa aja kak.” sahut Raymond. “Masih sibuk tante – tantenya pada ngabisin euro kak.” “Iya banget kalau udah jam belanja gini pasti ngumpulnya ngaret.” ujar Gladys agak kesal.          

         Sambil menunggu yang lain Gladys daan Revy mengobrol santai, sementara Raymond melihat hasil jepretan di kameranya. “Oh ya sorry nih kalo lancang ya Vy. Kalian berdua pacaraan ya?” Revy terkejut mendengar pertanyaan Gladys “Nggak kok ka cuman teman. Kita juga baru kenal karena sama – sama ikut tour ini.” Jawab Revy sambil nyengir. “Wow, kalian baru kenal tapi dekat banget makanya aku kira kalian pacaran.” kemudian obrolan mengalir ke topik – topik yang lain.          

        Setelah ngaret selma 30 menit, akhirnya semua sudah berkumpul di meeting point. Dahsyat.... belanjaan ibu – ibu itu banyaknya luar biasa ada yang menenteng tas bertulis Louis Vuitton, Channel, Prada dan lain sebagainya. Satu per satu naik ke bis dengan menenteng belanjaan masing – masing.            

            “Liat Ray berapa banyak uang yang dihabisin tu ckckck.” Bisikku pada Reo. “Yah namanya socialita emang gitu kalau nggak ntar ketinggalan jaman. Semoga istriku besok bukan yang shoppaholic Ya Tuhan.” Revy reflek tertawa mendengar doa yang diucapkan Raymond “Awas ntar malah kebalik doanya. Hahahahahh” “Amit – amit dah Rev.” Yak sejak kejadian kamera itu sekarang Raymond resmi jadi teman duduk Revy selama di bis. Setiap hari ada saja cerita dan lelucon yang diceritakan Raymond kepada Revy. Namun, tetap saja kadang mata Revy masih melirik ke seseorang yang duduk dua baris di depannya, ialah cowok misterius itu.            

           Berakhir sudah perjalanan tour ini di kota teromantis, Paris. Hari ini dari pagi hingga sore akan dihabiskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Italia. “Bakal bosen nih seharian di bis.” Runtuk Revy “Yah mau gimana lagi namanya perjalanan darat dari satu negara ke negara lain ya pasti makan waku lama.” “Iya aja deh kakak bijak” Tiba – tiba tanpa disangka cowok misterius itu menghampiri kami “Hi, boleh gabung?” Revy terkejut dan bingung harus merespon apa. Lain halnya dengan Raymond ia langsung mempersilahkan cowok misterius itu untuk duduk. “Nggak ganggu kalian berdua kan? Aku bosan dari kemaarin di depan nggak ada teman ngobrol.” “Iya nggak masalah kok.” “Kenalin aku Randy.” ucapnya sambil mengulurkan tangan. “Aku Revy.” “Jodoh gitu ceritanya nama kita bertiga semua huruf depannya R. Hahahahha. Aku Raymond.”


            Akhirnya Revy mengetahui juga nama cowok misterius yang tampan itu. “Kayaknya sebelum ini aku pernah ketemu kamu tapi kapan ya?” sejenak Randy berpikir “Oh iya, kamu bukannya yang aku senggol waktu ngambil sarapan dua hari yang lalu?” “Eee, iya Ran.” “Asal mana ndy?” tanya Raymond “Aku dari Jakarta. kamu?” “Oh, berarti sama kayak Revy. Aku dari Surabaya.” Obrolan, canda dan tawa terus  berlanjut hingga Gladys berbicara di microphone “Bersiap – siap sebentar lagi kita akan sampai di toilet stop (a.k.a rest area) hari ini kita akan makan siang di sini setelah itu baru melanjutkan perjalanan menuju Italia.” “Nggak terasa udah 4 jam di bis, ngobrol sama kalian seru banget sampai nggak inget waktu.” seru Randy “Ya udah gabung aja sama kita lagi nanti biar nggak garing di depan sendiri.” tawar Raymond. Semua peserta tour dipersilahkan untuk turun dari bis.            

           “Aku ke toilet dulu Rev.” ujar Raymond “Okeh Ray.” Revy berdiri bersama Randy sambil menunggu Raymond. Semua sibuk dengan pikirannya masing – masing. Tak ada yang memulai pembicaraan. Randy kenapa lo nggak coba ngajak ngomong gue gitu kan umpung berdua. Pingin kalik chit-chat singkat sama lo tapi gengsi gue mulai duluan. Bingung topik apa yang harus gue bahas juga runtuk Revy dalam hati. Akhirnya suasana pun kembali mencair ketika Raymond keluar dari toilet “Mau makan apa siang ini?” “Terserah Ray apa aja.” jawab Revy “Kalo kamu Ran?” “Hmmm.. aku kayaknya pingin makan burger aja.” “Ya udah kalau gitu kita makan burger aja yah” Mereka bertiga pun berjalan menuju restaurant yang menyediakan burger.            

            Revy memesan chicken burger dan mocha float, Raymond dan Randy memesan beef burger dan Chocolate milkshake. Setelah 20 menit pesanan mereka datang. Mereka menikmati santapan masing – masing dalam diam. Tanpa sengaja pisau Revy terjatuh dan pisau itu terjatuh dekat dengan kaki Randy. Reflek Randy lalu menunduk untuk mengambil pisau itu bersamaan dengan itu Revy juga menunduk untuk mengambil pisau tersebut. Tatapan mereka bertemu sesaat kemudian mereka berbalik lagi ke atas meja untuk melanjutkan makan siang. Tak bisa dipungkiri, kejadian tersebut membuat hati Revy berdesir bahagia. “Thank you Ran.” “You’re welcome Rev.” balas Randy sambil tersenyum manis. Sebelum mukanya lebih memerah lagi Revy ijin untuk keluar dari restaurant dengan alasan kekenyangan dan butuh jalan – jalan.
        

           Revy berjalan menjauh dari restaurant itu kemudian Revy menemukan sebuah bangku taman ia pun mengeluarkan uneg – uneg yang sudah memenuhi hatinya “Aaaaaaa.. seneng banget dibantuin sama Randy. Ternyata cowok itu baik juga. Tatapan matanya itu...... Aaaaaa pokoknya dia emang cakep secakep cakepnya” setelah berhasil mengontrol kegembiraannya Revy kembali ke tempat meeting point.


     Waktu makan siang sudah selesai semua anggota tour dipersilahkan untuk naik ke bis. Masih ada beberapa orang yang pergi ke toilet (termasuk Randy) sehingga bis belum berangkat. Di sela – sela waktu menunggu Raymond bertanya pada Revy “Kamu kenapa?” “Nggak papa kok. Udah ya aku mau istirahat.” “Lagi nggak enak badan Rev?” Revy hanya tersenyum kecil lalu berusaha untuk tidur. Revy masih belum berani melihat Randy sejak kejadian tadi, dia takut menjadi salah tingkah apabila bertatapan dengan Randy jadi dia lebih memilih untuk tidur atau pura – pura tertidur.            

        “Kenapa tuh cewek lo? Sakit?” tanya Randy “Cewek? Cewek siapa? Dia temen gue. Kayaknya sih lagi nggak enak badan gitu.” Jawab Raymond “Kasian ya pas liburan malah sakit gitu. Oh kalian bukan pacaran yah??” “Bukanlah. Ketemu juga baru di tour ini.” Sayup – sayup percakapan antara Raymond dan Randy didengar oleh Revy. Hatinya berdesir kembali ketika Randy menunjukkan perhatian padanya.            

          Setelah cukup lama tertidur, Revy terbangun. Ia mengerjap – ngerjapkan matanya karena sinar matahari yang sangat menyilaukan “Hi, sleeping beauty? Udah cukup tidurnya?” Revy mengangguk sambil menggerakkan tubuhnya yang pegal ke kanan dan ke kiri. Revy tak melihat ada seorang pun di bis itu selain mereka berdua. “Loh Ray yang lain pada kemana?” “Ini lagi di toilet stop.” “Terus kamu? Ngapain di sini nggak turun?” “Males aja cuman 15 menit” Ya aku jagain kamu lah Vy bisik Raymond dalam hati. “Oh gitu.. masih lama ya sampai Italia?” “Kayaknya nggak sih Vy, soalnya tadi kata Gladys ini toilet stop terakhir.” “Baguslah. Aku sudah bosan berada di dalam bis terus. Hehehe


            Tak lama kemudian peserta tour yang lain naik kembali ke bis. 2 jam lagi rombongan akan sampai di Italia. Mereka akan diajak untuk santap malam makanan khas Italia terlebih dahulu sebelum menuju ke hotel untuk beristirahat. Entah kenapa malam ini kebetulan banget pembagian mejanya Revy Raymond dan Randy menjadi satu meja. Sial! Kenapa harus bareng sama dia lagi runtuk Revy.

       Sambil menunggu hidangan datang semua peserta saling mengobrol kecuali Revy dan Randy. Mereka berdua lebih memilih diam dan asyik dengan gadget masing – masing. Selesai makan malam, rombongan diantar ke hotel untuk beristirahat.

           Hari ini cuaca di Italia sangat panas hampir 38 derajat celcius. Maklum saja sekarang Eropa sedang memasuki musim panas. Tujuan pertama hari ini adalah Basilica St. Peter di Vatikan. Antrian untuk masuk ke dalam Gereja ini sangat panjang dan mengular karena bertepatan dengan musim liburan. Antrian panjang di bawah terik sinar matahari membuat semua wisatawan mulai berkeringat dan kepanasan. Untung saja Revy membawa paying lipat di tasnya. Revy mengeluarkan paying lipat dari tasnya. Yah setidaknya kepalanya tidak terpapar panas matahari secara langsung.            

        Tiba – tiba ada seorang lelaki yang menghampiri Revy, ternyata itu adalah Randy. “Rev, nebeng dong panas.” Kata Randy sambil cengengesan. Revy terkejut dan hanya mengangguk saja. “Sini biar aku aja yang megang payungnya.” Campur aduk perasaan Revy ketika Randy si cowok tampan itu berdiri tepat di sampingnya sambil memayunginya. “Oh ya, ngomong – ngomong Raymond mana?” tanya Randy “Nggak tahu, tadi turun dari bis dia bilang mau ke toilet terus nyuruh aku jalan sama rombongan aja dulu.” jawab Revy “Biasanya kalian kayaknya selalu bareng nggak pernah pisah.” “Emang kita diiket pake tali apa sampai nggak pernah pisah.” Jawab Revy sambil memukul bahu Randy “Aduh… biasa aja kali neng, jangan galak – galak.” Tepat 3 baris di belakang mereka, Raymond berdiri melihat keceriaan yang ditampilkan dua temannya itu. Entah kenapa ada rasa berbeda yang dirasakan hatinya… sakit.            

          Setelah berhasil masuk ke dalam gereja, Gladys meminta kami berkumpul dulu untuk memberitahu jam berapa dan dimana meeting point. Kami diberikan waktu selama 1,5 jam untuk berkeliling ataupun berdoa di dalam gereja tersebut. Basilica St. Peter merupakan Gereja yang paling penting bagi Umat Katolik karena di sini merupakan tempat tinggal Paus. Raymond dan Randy bergegas untuk pergi berdoa sedangkan Revy berjalan – jalan sendiri mengelilingi Gereja tersebut.Tepat pukul 11 semua sudah berkumpul di meeting point. Setelah ini mereka akan menuju ke tempat makan siang dan waktu bebas lagi untuk belanja.

          Hari kedua di Italia, rombongan mengunjungi landmark negara Italia Menara Pisa di Roma. Raymond dan Revy silih berganti berpose dan menjepret foto – foto dengan pose – pose lucu. Sebelum kembali ke bis Revy menyempatkan membeli gantungan kunci dan pernak – pernik lainnya. “Capek juga ternyata liburan.” celetuk Revy “Ya kamu mau ngapa-ngapain tetep aja capek Vy. Tidur juga kalo terus – terusan bakal capek.” “Hehehe.. Ia Ray. Nggak terasa besok udah balik ke Indonesia lagi. Kangen banget sama masakan Indonesia.” “Iya Vy.” jauh di dalam hatinya banyak rasa yang berkecamuk di hati Raymond. Rasanya ia tidak ingin liburan ini segera berakhir karena dengan berakhirnya liburan sama dengan berakhir waktunya untuk bersama Revy.            

           TERAKHIR. Yak hari ini adalah hari terakhir rombongan tour di Eropa. Di hari terakhir ini mereka akan diajak untuk mengunjungi kota Venice. Sesampainya di kota Venice, semua rombongan mencoba untuk naik gondola. 1 gondola diisi oleh 6 orang. Gladys menyarankan untuk makan siang kami mencoba Seafood Spaghetti atau Black Spaghetti yang paling terkenal di kota Venice ini.            

            Rombongan tour menyempatkan untuk saling berfoto sebagai kenang – kenangan dalam perjalanan ini. Moment ini tentunya sangat mengharukan karena setelah ini kami akan berpisah dan kembali ke aktivitas semula. Selesai berfoto kami diantar menuju ke bandara Venice. Kami akan terbang menuju Indonesia dengan penerbangan pukul 20:00. Di dalam pesawat tempat dudukku dengan Randy dan Raymond terpisah karena pesawat penuh dan tadi kami agak telat sampai di bandara.            

           Waktu 2 jam kami tempuh menuju Bandara Istanbul, Turki untuk transit menuju ke Bandara Soekarno Hatta. Pukul 7 malam kami mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Setelah mengambil bagasi dan koper semua saling mengucapkan salam perpisahan. “Thank you Vy. You make my holiday much better than I think.” “Bisa aja. Anyway, Thank you juga udah banyak bantuin selama liburan.” “Foto – fotonya ntar aku kasih waktu aku ke Jakarta yah.” “Emang ada rencana dalam waktu dekat mau ke Jakarta, Ray?” “Ada lagi 2 minggu sepupuku nikah.” “Kalau gitu ini flash aku copy-in ya.” “Okeh Vy. Kamu pulang bareng siapa?” “Ntar dijemput supir.” Nah itu dia supir aku “Duluan ya Ray.” “Nice to meet you Vy. Hati – hati.” “Nice to meet you too Ray.” Mobil yang ditumpangi Revy melaju kencang meninggalkan Bandara Soekarno Hatta.            

           Raymond menginap di hotel dekat Bandara. Pesawat yang dia tumpangi menuju Surabaya akan berangkat besok pukul 12:30. Entah apa rasa yang ada di hatinya kini.            

           Walau sudah tak bertemu lagi mereka masih sering kontak – kontakan melalui media social. Soal perasaan sebenarnya Raymond sempat menyampaikannya secara langsung saat mengembalikan flashdisk Revy. Namun, Revy menolak karena menurutnya mereka “berbeda” hal yang sudah pasti berbeda sebaiknya tidak usah dipaksakan untuk disatukan daripada akhirnya saling menyakiti. Walau tak bias menjadi pasangan setidaknya mereka bisa menjadi sahabat yang baik.            

           Don’t judge a book by it’s cover – Mungkin kata orang itu cuman sekedar kata bijak karena pada awalnya seseorang akan menilai melalui fisik seperti Revy tetapi setelah menyadari, akhirnya dia tahu bahwa rasa nyaman jauh lebih penting daripada tampang saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recycle Cinta

AUTHOR’S POV             “….. Sudah tak bisa dipungkiri jumlah sampah yang ada di Indonesia ini. Mulai dari limbah rumah tangga, pabrik...