Jumat, 26 September 2014

Tiara



Tiara adalah seorang anak tunggal. Ia anak yang cerdas, namun kepintarannya itu tidak diimbangi dengan kelakuannya. Ia selalu merasa bahwa dirinyalah yang paling cerdas dan benar. Semua keinginannya harus dituruti ia merasa bak seorang putri kerajaan. Kelakuannya ini adalah akibat dari ibunya yang selalu mebelanya dikala dia salah, dan memanjakannya terlalu berlebihan. Ayahnya, Bimo adalah CEO dari sebuah perusahaan tekstil ternama dan ibunya, Rina adalah seorang wanita socialita.

                 Satu bulan lagi Tiara genap berusia 17 tahun. Ia ingin ulang tahun ke-17nya dirayakan secara besar-besaran. "Ayah, Bunda, Tiara mau sweet seventeen Tiara dirayain di Hotel bintang lima terserah yang mana aja, terus makanannya itu harus masakan western jangan masakan Indonesia ntar jdi kmpungan, terus ...." Tiara terus saja nyerecos mengenai pesta impiannya itu. Ayah pun menasehati Tiara "Nak, apakah itu tidak berlebihan? Jangan membuang - buang uang untuk hal - hal yang kurang bermanfaat." Tiara pun langsung manyun mendengar nasehat ayahnya itu "Dasar ayah katrok, ketinggalan jaman banget. Nggak tau trend anak muda sekarang." "Sudahlah Yah, toh Tiara anak kita satu-satunya tak apalah ia merayakan ulang tahun ke 17nya secara besar-besaran, toh hanya sekali seumur hidup." Bunda pun membela Tiara. Ayah hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan istri dan anaknya itu.
Senin Pagi itu, Tiara pergi ke sekolah di antar supir dengan menggunakan jaguar hitamnya. Ia langsung berlari ke dalam sekolah dan menceritakan kabar gembira tersebut kepada dua sahabatnya Vina dan Fitri. Kedua sahabatnya pun ikut senang mendengar kabar tersebut. Mereka pun terus berbincang mengenai apa saja yang akan dipersiapkan untuk acara tersebut. Tiba - tiba datang Pak Rendi, Dion, bersama seorang cewek yang sepertinya murid baru di kelas itu. Dion adalah ketua kelas XI IPA 3 dan merupakan salah satu cowok popular di SMA Tunas Bangsa. Suasana kelas yang tadinya gaduh pun menjadi sunyi, semua obrolan terhenti dan mata mereka semua tertuju ke depan. Pak Rendi pun segera menjelaskan bahwa cewek tersebut ternyata bernama Rani dan merupakan murid pindahan dari daerah Madiun. Tiara merasa agak terganggu dengan penampilan cewek tersebut namun ia memilih untuk tidak mempedulikannya. Kegiatan belajar mengajar pun kembali berlanjut seperti biasa.
  Saat jam istirahat, tiba - tiba Dion menghampiri Tiara. Awalnya Tiara berpikir ada hal penting yang akan dibicarakan oleh Dion, sehingga ia berhenti melangkah dan menunggu Dion untuk berbicara. Namun ternyata apa yang dipikirkan Tiara jauh meleset, karena Dion menghampirinya hanya untuk berkata "Ciee yang lagi satu bulan sweet seventeen". Tiara pun memandang Dion dengan tatapan aneh dan melanjutkan perjalanannya ke kantin bersama Vina dan Fitri. "Tuh cowok aneh banget ya, tiba-tiba nyamperin cuman ngomong gitu, nggak jelas banget." kata Tiara. "Mau PDKT kalik dia Ra. Hahahah." Tiara hanya menatap Vina dan Fitri dengan acuh. "Nggak peduli gue."
Undangan ulang tahun Tiara pun sudah disebar sejak H-14 atau sekitar 2 minggu sebelum acara. Semua warga SMA Tunas Bangsa diundang untuk hadir di pestanya itu, termasuk Rani si murid baru itu.
Namun setelah 3 minggu Rani bersekolah di SMA Tunas Bangsa, Tiara mulai merasa kelakuan Rani mulai agak mengganggunya. Rani yang cukup  handal dalam bidang akademik, dianggap sebagai ancaman bagi Tiara. Suatu hari saat pelajaran Kimia, Pak Rendi memilih Rani untuk bergabung dengan kelompok Tiara. Tiara pun tersenyum sinis ia lalu berpikir, inilah saatnya aku menjatuhkannya. "Sorry Pak, aku nggak level kelompokan sma anak cupu kayak gitu, euhhh banget." "Tiara, jaga omongan kamu atau keluar kamu dari kelas ini" Pak Rendi pun kehilangan kesabaran. "Ra, sadar donk lo kalau lagi ngomong." "Lo juga belain si cupu itu. Sana aj lo temenan sama dia, gue mah ogah. Nggak butuh gue punya temen yang kampungan gitu. Jijik tau." Tiara berkata sambil keluar meninggalkan kelas. Ia merasa hal yang dilakukannya tadi adalah benar, hanya teman – teman dan gurunya lah yang aneh sehingga membela Rani. Vina dan Fitri yang biasanya bisa mentolerir kelakuan Tiara, kini juga benar – benar tidak habis pikir dengan kelakuan teman mereka itu.

                 Keesokan harinya, Tiara datang ke sekolah dengan gaya bossynya. Semua mata melihatnya dengan pandangan kesal, sebal, dan semacamnya. Ternyata kabar mengenai kelakuan Tiara kemarin telah tersebar ke seluruh sekolah. Namun, Tiara cuek saja karena dia menganggap hal yang kemarin terjadi itu bukanlah sebuah masalah, itu hanyalah angin lalu. Sesampainya di kelas, ia langsung membaur dengan Vina dan Fitri yang kebetulan sudah datang. Tapi, tanpa disangka - sangka ketika Tiara datang, Vina dan Fitri malah pergi dari kelas. Tiara sempat kaget dengan sikap temannya itu, tapi ia tidak terlalu peduli. Ia pun duduk di bangkunya sambil memainkan ponselnya.
Sebuah tangan menepuk bahunya, Tiara pikir itu adalah Vina atau Fitri. Jadi dengan senyum yang sangat bersemangat ia menoleh, namun raut wajahnya pun berubah karena itu bukanlah Vina maupun Fitri melainkan Dion. Tiara pun berkata dengan sinisnya, "Apaan lo?" "Galak amat sih non. Tumben banget sendirian? Boleh gue temenin?" Tiara tetap saja fokus pada ponselnya, ia tidak menghiraukan perkataan Dion. "Dijawab donk ra, kok gue dikacangin sih?" Bel pun berbunyi dan Dion kembali ke tempat duduknya tanpa menunggu jawaban dari Tiara.
Sampai di rumah, Tiara masuk ke kamarnya lalu memikirkan kejadian hari ini. Ia merasa bahwa teman-temannya itulah yang aneh mengapa marah padanya padahal ia tak memiliki salah. Bunda mengetuk pintu membuat Tiara kaget dan berpura - pura sedang membereskan kamar. "Aduh anak Bunda rajin banget sih." "Iya,Bunda." "Kamu kenapa nak kok mukanya sedih gitu? Ada masalah?" "Nggak ad kok Bun." "Ya udah kalo gitu, bunda keluar dulu ya." Tiara hanya menjawab dengan senyuman. Tiara memilih tidak menceritakan mengenai kelakuan aneh teman-temannya. Beberapa saat kemudian terlintas dipikirannya, jangan - jangan kelakuan teman-temannya itu hanyalah cara untuk mengerjainya karena dia akan berulang tahun. Tiara pun memilih untuk tidak memikirkannya lebih lanjut, dan ia memilih untuk tidur.
Sabtu, 27 Mei 2017 tepat pukul 00:00 Ayah dan Bunda masuk ke kamar Tiara dengan membawakan sebuah tiramisu dan sebuah kotak kecil sebagai hadiah ulang tahun,  sambil menyanyikan lagu Happy Birthday. Tiara pun merasa sangat senang atas surprise yang diberikan itu. Ia pun mengucapkan terima kasih dan memeluk serta mencium ayah bundanya secara bergantian. “Nak, ini hadiah dari ayah dan bunda untuk kamu. Semoga kamu suka.” Ayah berkata sambil memberikan kotak kecil itu pada Tiara. Tiara membuka kotak itu dan bersorak senang. Ternyata isi kotak itu adalah sebuah kalung dengan bandul huruf “T” serta sebuah kunci mobil. “Ya ampun, Ayah Bunda Tiara senang banget sama kadonya. Makasi banyak Ayah Bunda.” “Sama-sama Nak, sekarang kamu istirahat lagi ya. Besok kan mau siap – siap untuk acara ulang tahunmu.” Kata Bunda. Tiara pun segera kembali ke tidurnya setelah ayah dan bunda keluar dari kamarnya.
Pagi harinya, Tiara bangun dan langsung mengecek ponselnya, namun tak ada satu pun sms, bbm, maupun mention yang masuk. Ia pikir bahwa teman – temannya memang benar sedang mengerjainya atau mungkin belum bangun, karena hari sabtu adalah hari libur bagi murid – murid SMA Tunas Bangsa. Tiara pun segera mandi dan sarapan, karena dia harus segera ke salon untuk membuat dirinya terlihat sangat cantik nanti malam. Tiara pergi ke salon diantar oleh supir dan mamanya. Di perjalanan, Tiara kembali mengecek ponselnya, ada beberapa pesan yang masuk tapi semua itu hanya dari keluarganya saja tak ada satu pun pesan dari teman – teman sekolahnya. Namun ada sebuah nomer yang tidak dikenal Tiar,  mengiriminya sebuah sms.

From : +6287865123xxx

Happy sweet seventeen birthday, Ra.
Makin cantik, makin disayang sama ortu.
Semua doa terbaik untukmu, Ra :D
Love :3

Tiara merasa sedikit aneh dengan sms tersebut sehingga ia memilih untuk tidak membalas sms itu. Tetapi, Sepanjang hari di salon Tiara tetap saja memikirkan siapa kira – kira pengirim pesan misterius itu. Lama ia berpikir, tak ada satu pun nama terlintas di otaknya.
            Waktu yang ditunggu – tunggu pun tiba, tepat pukul 19:00 Tiara sampai di hotel tempat pesta ulang tahunnya diadakan. Tiara terlihat sangat cantik dalam balutan gaun berwarna hijau tosca dengan heels setinggi 7 cm yang berwarna senada dengan gaunnya. “Baiklah hadirin sekalian, mari kita sambut putri kita Tiara Ardelia Wijaya.” Tiara pun memasuki ballroom bersama kedua orang tuanya diiringi tepuk tangan riuh para tamu undangan. Semua mata tamu undangan tertuju pada Tiara yang tampil begitu cantik malam itu.
            Setelah acara tiup lilin dan potong kue, para hadirin dipersilahkan untuk naik ke panggung memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Tiara. Banyak rekan bisnis ayah dan teman – teman ibu Tiara yang memuji penampilan Tiara malam itu. Tiara hanya menjawab dengan memberikan senyuman termanisnya. Sudah banyak tamu undangan yang silih berganti menyalaminya, tapi Tiara tidak menjumpai satupun teman – temannya dalam barisan itu. Tiara memutuskan untuk terus menunggu. Sampai akhirnya ada seorang temannya datang, Tiara tidak begitu mengenali wajah itu dari jauh, tapi ia harap bahwa itu adalah salah satu dari temannya. Ketika wajah itu mendekat, memang benar itu adalah salah satu dari teman Tiara, namun Tiara tidak merasa begitu senang, karena yang datang adalah Dion. Dion naik ke panggung dan memberikan ucapan selamat kepada Tiara.
Sampai acara berakhir tak ada lagi teman Tiara yang datang. Tiara tak dapat lagi menahan kesedihan di hatinya. Tiara berlari keluar ballroom dan pergi ke taman. Diam – diam Dion mengikuti Tiara. Di taman, air mata Tiara pun tumpah. Dion menghampiri Tiara, sebenarnya ia sempat terkejut karena tak pernah disangkanya cewek seangkuh Tiara bisa juga menangis seperti itu. “Ngapain lo ke sini? Kenapa lo masih mau temenan sama gue sedangkan anak – anak yang lain nggak? Sebenarnya gue salah apa?” Tiara terus bertanya sambil menangis sesegukan. Dion lalu meraih tangan Tiara pelan dan menghapus air mata Tiara “Ra, kamu harus sadar kalau kelakuan kamu yang suka menghina orang dan bersikap angkuh itu nggak baik. Kamu harus rubah sikap kamu supaya anak – anak yang lain mau berteman sama kamu lagi.” “Terus kamu, kamu kenapa masih mau berteman sama aku?” Tiara pun melontarkan pertanyaan yang mengganjal di pikirannya itu. “Eeeee.. itu karena aku… aku pingin ngebantu kamu berubah jadi orang yang lebih baik lagi.” Jawab Dion sambil menunjukkan senyum yang dibuat – buatnya. “Aku saranin besok kamu minta maaf sama anak – anak sekelas.” “Emang mereka mau maafin aku?” “Nggak ada salahnya mencoba, Ra.” nasehat Dion. “Oke, mkasi banyak ya, Yon buat saranmu. Masuk yuk dingin nih di luar.” Mereka pun kembali masuk ke ballroom.
Dengan penuh semangat, Tiara bangun pagi – pagi sekali dan langsung pergi ke sekolah. Ayah dan bundanya kaget melihat kelakuan putri mereka yang biasanya bangun kesiangan, kini sudah siap untuk berangkat ke sekolah. “Nak, kamu kenapa kok pagi – pagi sekali sudah mau ke sekolah?” tanya bunda khawatir. “Nggak papa kok, Bun lagi ada tugas soalnya. Ayah Bunda, Tiara pamit dulu ya.” Tiara pun mencium tangan ayah dan bundanya bergantian. Hari ini Tiara ke sekolah dengan mengendarai mobil barunya.

Sekolah masih sangat sepi tentunya, hanya ada beberapa murid di sekolah dan para petugas kebersihan. Tiara berjalan kea rah ruang guru, kebetulan ada Pak Rendi di sana. “Permisi pak.” Pak Rendi hanya menganggukkan kepala memberi isyarat Tiara untuk masuk. “Pak maksud kedatangan saya ke sini, saya ingin meminta maaf kepada bapak atas kelakuan saya kemarin.” Pak Rendi menatap Tiara dan berkata “Syukurlah Tiara, kalau kamu sudah menyadari bahwa tindakanmu salah. Tak seharusnya kamu bertingkah angkuh dan menghina orang lain.” “Iya Pak, saya benar – benar minta maaf. Pak?” “Iya ada yang bisa bapak bantu?” “Pak saya mau meminta tolong agar murid – murid nanti di kumpulkan di lapangan, karena saya ingin meminta maaf kepada mereka semua khususnya kepada Rani.” pinta Tiara. “Baiklah nak, akan bapak bantu.” “Terima kasih Pak.” Tiara pun salim kepada Pak Rendi dan meninggalkan ruang guru.
Tepat pukul 07:15 bel berbunyi, da nada pengumuman bahwa seluruh murid diharap berkumpul di lapangan. Berbagai ekspresi muncul, ada yang males – malesan ada yang penasaran ada apaan dan lain – lain. Vina dan Fitri termasuk dalam kelompok yang ogah – ogahan banget ngumpul ke lapangan, factor kelas yang ada di lantai tiga lah yang menjadi alasan mereka malas untuk ke lapangan. Setelah, semua murid berkumpul, Tiara naik ke mimbar dan berkata “Selamat pagi, yang terhormat kepala sekolah, bapak/ibu guru, serta teman – teman semua. Saya berdiri di sini untuk menyampaikan permintaan maaf saya kepada seluruh warga sekolah, khususnya Rani atas perilaku saya beberapa hari yang lalu. Saya benar – benar merasa menyesal dan saya berjanji akan mencoba untuk merubah tingkah laku saya agar tidak menyinggung perasaan orang lain.” Tanpa disadari sebulir air mata Tiara jatuh. Permohonan maaf Tiara tersebut disambut riuh warga sekolah, semuanya berteouk tangan. Mereka menghargai usaha Tiara untuk meminta maaf itu. Vina dan Fitri pun berlari ke tengah lapangan dan memeluk Tiara. “Vina Fitri aku minta maaf ya sama kalian.” “Udah deh Ra yang penting sekarang kamu udah sadar.” Suasana pun berubah menjadi haru.
Sepulang sekolah Tiara mengajak Dion untuk bertemu di taman sekolah. “Yon thanks a lot ya buat saran lo, sekarang teman – temanku udah mau  berteman sama aku lagi.” “Sama – sama Ra, aku juga seneng liatnya kalau kamu udah balik ceria lagi.” kata Dion. “Ra sebenernya ada yang pingin aku omongin.” “Apaan Yon?  Ngomong aja.” “Ra, sebenernya aku… aku..” Tiara merasa apa yang akan dikatakan Dion adalah hal yang sangat penting, mungkin saja berhubungan dengan perasaan tapi ia tidak terlalu yakin mengenai hal itu. “Ra, sebenernya aku suka sama kamu dari awal kelas XI tapi aku belum berani deketin kamu. Sekarang aku udah cukup berani buat deketin kamu walaupun sikapmu ke aku agak sinis tapi aku tetep coba untuk bertahan. Jadi, Ra mau nggak kamu jadiii pacar aku?” Dion berhasil mengucapkan semua kalimatnya dengan jelas, walaupun sebenarnya badannya sudah panas dingin. Tiara agak sedikit kaget dengan pernyataan cinta Dion, namun ia berhasil mengontrol dirinya. “Maaf Yon, aku…” Perasaan Dion serasa diaduk – aduk menunggu jawaban Tiara, dengan segenap kekuatan yang dimilikinya Dion berkata “Nggak papa kok Ra kalau emang kamu belum bisa nerima aku.” “Maaf Yon, aku nggak bisa nerima kamu besok atau lusa. Aku bakal nerima kamu sekarang juga.” “Jadi kamu mau jadi pacar aku Ra” Dion tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Reflek Dion memeluk Tiara. “Eh, jangan pegang – pegang belum muhrim. Hahaha” Mereka pun  tertawa bersama. Hari itu menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidup Dion dan Tiara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recycle Cinta

AUTHOR’S POV             “….. Sudah tak bisa dipungkiri jumlah sampah yang ada di Indonesia ini. Mulai dari limbah rumah tangga, pabrik...