Tiara
adalah seorang anak tunggal. Ia anak yang cerdas, namun kepintarannya itu tidak
diimbangi dengan kelakuannya. Ia selalu merasa bahwa dirinyalah yang paling
cerdas dan benar. Semua keinginannya harus dituruti ia merasa bak seorang putri
kerajaan. Kelakuannya ini adalah akibat dari ibunya yang selalu mebelanya
dikala dia salah, dan memanjakannya terlalu berlebihan. Ayahnya, Bimo adalah
CEO dari sebuah perusahaan tekstil ternama dan ibunya, Rina adalah seorang wanita
socialita.
Satu bulan lagi Tiara genap berusia 17 tahun. Ia ingin ulang tahun ke-17nya dirayakan secara besar-besaran. "Ayah, Bunda, Tiara mau sweet seventeen Tiara dirayain di Hotel bintang lima terserah yang mana aja, terus makanannya itu harus masakan western jangan masakan Indonesia ntar jdi kmpungan, terus ...." Tiara terus saja nyerecos mengenai pesta impiannya itu. Ayah pun menasehati Tiara "Nak, apakah itu tidak berlebihan? Jangan membuang - buang uang untuk hal - hal yang kurang bermanfaat." Tiara pun langsung manyun mendengar nasehat ayahnya itu "Dasar ayah katrok, ketinggalan jaman banget. Nggak tau trend anak muda sekarang." "Sudahlah Yah, toh Tiara anak kita satu-satunya tak apalah ia merayakan ulang tahun ke 17nya secara besar-besaran, toh hanya sekali seumur hidup." Bunda pun membela Tiara. Ayah hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan istri dan anaknya itu.
Senin
Pagi itu, Tiara pergi ke sekolah di antar supir dengan menggunakan jaguar
hitamnya. Ia langsung berlari ke dalam sekolah dan menceritakan kabar gembira
tersebut kepada dua sahabatnya Vina dan Fitri. Kedua sahabatnya pun ikut senang
mendengar kabar tersebut. Mereka pun terus berbincang mengenai apa saja yang
akan dipersiapkan untuk acara tersebut. Tiba - tiba datang Pak Rendi, Dion,
bersama seorang cewek yang sepertinya murid baru di kelas itu. Dion adalah
ketua kelas XI IPA 3 dan merupakan salah satu cowok popular di SMA Tunas
Bangsa. Suasana kelas yang tadinya gaduh pun menjadi sunyi, semua obrolan
terhenti dan mata mereka semua tertuju ke depan. Pak Rendi pun segera
menjelaskan bahwa cewek tersebut ternyata bernama Rani dan merupakan murid
pindahan dari daerah Madiun. Tiara merasa agak terganggu dengan penampilan
cewek tersebut namun ia memilih untuk tidak mempedulikannya. Kegiatan belajar
mengajar pun kembali berlanjut seperti biasa.
Saat jam istirahat, tiba - tiba Dion
menghampiri Tiara. Awalnya Tiara berpikir ada hal penting yang akan dibicarakan
oleh Dion, sehingga ia berhenti melangkah dan menunggu Dion untuk berbicara.
Namun ternyata apa yang dipikirkan Tiara jauh meleset, karena Dion
menghampirinya hanya untuk berkata "Ciee yang lagi satu bulan sweet
seventeen". Tiara pun memandang Dion dengan tatapan aneh dan melanjutkan
perjalanannya ke kantin bersama Vina dan Fitri. "Tuh cowok aneh banget ya,
tiba-tiba nyamperin cuman ngomong gitu, nggak jelas banget." kata Tiara.
"Mau PDKT kalik dia Ra. Hahahah." Tiara hanya menatap Vina dan Fitri
dengan acuh. "Nggak peduli gue."
Undangan
ulang tahun Tiara pun sudah disebar sejak H-14 atau sekitar 2 minggu sebelum
acara. Semua warga SMA Tunas Bangsa diundang untuk hadir di pestanya itu,
termasuk Rani si murid baru itu.
Namun
setelah 3 minggu Rani bersekolah di SMA Tunas Bangsa, Tiara mulai merasa
kelakuan Rani mulai agak mengganggunya. Rani yang cukup handal dalam bidang akademik, dianggap
sebagai ancaman bagi Tiara. Suatu hari saat pelajaran Kimia, Pak Rendi memilih
Rani untuk bergabung dengan kelompok Tiara. Tiara pun tersenyum sinis ia lalu
berpikir, inilah saatnya aku menjatuhkannya. "Sorry Pak, aku nggak level
kelompokan sma anak cupu kayak gitu, euhhh banget." "Tiara, jaga
omongan kamu atau keluar kamu dari kelas ini" Pak Rendi pun kehilangan
kesabaran. "Ra, sadar donk lo kalau lagi ngomong." "Lo juga
belain si cupu itu. Sana aj lo temenan sama dia, gue mah ogah. Nggak butuh gue
punya temen yang kampungan gitu. Jijik tau." Tiara berkata sambil keluar
meninggalkan kelas. Ia merasa hal yang dilakukannya tadi adalah benar, hanya
teman – teman dan gurunya lah yang aneh sehingga membela Rani. Vina dan Fitri
yang biasanya bisa mentolerir kelakuan Tiara, kini juga benar – benar tidak
habis pikir dengan kelakuan teman mereka itu.
Keesokan harinya, Tiara datang ke sekolah dengan gaya bossynya. Semua mata melihatnya dengan pandangan kesal, sebal, dan semacamnya. Ternyata kabar mengenai kelakuan Tiara kemarin telah tersebar ke seluruh sekolah. Namun, Tiara cuek saja karena dia menganggap hal yang kemarin terjadi itu bukanlah sebuah masalah, itu hanyalah angin lalu. Sesampainya di kelas, ia langsung membaur dengan Vina dan Fitri yang kebetulan sudah datang. Tapi, tanpa disangka - sangka ketika Tiara datang, Vina dan Fitri malah pergi dari kelas. Tiara sempat kaget dengan sikap temannya itu, tapi ia tidak terlalu peduli. Ia pun duduk di bangkunya sambil memainkan ponselnya.
Sebuah
tangan menepuk bahunya, Tiara pikir itu adalah Vina atau Fitri. Jadi dengan
senyum yang sangat bersemangat ia menoleh, namun raut wajahnya pun berubah
karena itu bukanlah Vina maupun Fitri melainkan Dion. Tiara pun berkata dengan
sinisnya, "Apaan lo?" "Galak amat sih non. Tumben banget
sendirian? Boleh gue temenin?" Tiara tetap saja fokus pada ponselnya, ia
tidak menghiraukan perkataan Dion. "Dijawab donk ra, kok gue dikacangin
sih?" Bel pun berbunyi dan Dion kembali ke tempat duduknya tanpa menunggu
jawaban dari Tiara.
Sampai
di rumah, Tiara masuk ke kamarnya lalu memikirkan kejadian hari ini. Ia merasa
bahwa teman-temannya itulah yang aneh mengapa marah padanya padahal ia tak
memiliki salah. Bunda mengetuk pintu membuat Tiara kaget dan berpura - pura
sedang membereskan kamar. "Aduh anak Bunda rajin banget sih."
"Iya,Bunda." "Kamu kenapa nak kok mukanya sedih gitu? Ada
masalah?" "Nggak ad kok Bun." "Ya udah kalo gitu, bunda
keluar dulu ya." Tiara hanya menjawab dengan senyuman. Tiara memilih tidak
menceritakan mengenai kelakuan aneh teman-temannya. Beberapa saat kemudian
terlintas dipikirannya, jangan - jangan kelakuan teman-temannya itu hanyalah
cara untuk mengerjainya karena dia akan berulang tahun. Tiara pun memilih untuk
tidak memikirkannya lebih lanjut, dan ia memilih untuk tidur.
Sabtu,
27 Mei 2017 tepat pukul 00:00 Ayah dan Bunda masuk ke kamar Tiara dengan
membawakan sebuah tiramisu dan sebuah kotak kecil sebagai hadiah ulang
tahun, sambil menyanyikan lagu Happy
Birthday. Tiara pun merasa sangat senang atas surprise yang diberikan itu. Ia
pun mengucapkan terima kasih dan memeluk serta mencium ayah bundanya secara
bergantian. “Nak, ini hadiah dari ayah dan bunda untuk kamu. Semoga kamu suka.”
Ayah berkata sambil memberikan kotak kecil itu pada Tiara. Tiara membuka kotak
itu dan bersorak senang. Ternyata isi kotak itu adalah sebuah kalung dengan
bandul huruf “T” serta sebuah kunci mobil. “Ya ampun, Ayah Bunda Tiara senang
banget sama kadonya. Makasi banyak Ayah Bunda.” “Sama-sama Nak, sekarang kamu
istirahat lagi ya. Besok kan mau siap – siap untuk acara ulang tahunmu.” Kata
Bunda. Tiara pun segera kembali ke tidurnya setelah ayah dan bunda keluar dari
kamarnya.
Pagi
harinya, Tiara bangun dan langsung mengecek ponselnya, namun tak ada satu pun
sms, bbm, maupun mention yang masuk. Ia pikir bahwa teman – temannya memang
benar sedang mengerjainya atau mungkin belum bangun, karena hari sabtu adalah
hari libur bagi murid – murid SMA Tunas Bangsa. Tiara pun segera mandi dan
sarapan, karena dia harus segera ke salon untuk membuat dirinya terlihat sangat
cantik nanti malam. Tiara pergi ke salon diantar oleh supir dan mamanya. Di
perjalanan, Tiara kembali mengecek ponselnya, ada beberapa pesan yang masuk
tapi semua itu hanya dari keluarganya saja tak ada satu pun pesan dari teman –
teman sekolahnya. Namun ada sebuah nomer yang tidak dikenal Tiar, mengiriminya sebuah sms.
From
: +6287865123xxx
Happy
sweet seventeen birthday, Ra.
Makin
cantik, makin disayang sama ortu.
Semua
doa terbaik untukmu, Ra :D
Love
:3
Tiara
merasa sedikit aneh dengan sms tersebut sehingga ia memilih untuk tidak
membalas sms itu. Tetapi, Sepanjang hari di salon Tiara tetap saja memikirkan
siapa kira – kira pengirim pesan misterius itu. Lama ia berpikir, tak ada satu
pun nama terlintas di otaknya.
Waktu yang ditunggu – tunggu pun
tiba, tepat pukul 19:00 Tiara sampai di hotel tempat pesta ulang tahunnya
diadakan. Tiara terlihat sangat cantik dalam balutan gaun berwarna hijau tosca
dengan heels setinggi 7 cm yang berwarna senada dengan gaunnya. “Baiklah
hadirin sekalian, mari kita sambut putri kita Tiara Ardelia Wijaya.” Tiara pun
memasuki ballroom bersama kedua orang tuanya diiringi tepuk tangan riuh para
tamu undangan. Semua mata tamu undangan tertuju pada Tiara yang tampil begitu
cantik malam itu.
Setelah acara tiup lilin dan potong
kue, para hadirin dipersilahkan untuk naik ke panggung memberikan ucapan
selamat ulang tahun kepada Tiara. Banyak rekan bisnis ayah dan teman – teman
ibu Tiara yang memuji penampilan Tiara malam itu. Tiara hanya menjawab dengan
memberikan senyuman termanisnya. Sudah banyak tamu undangan yang silih berganti
menyalaminya, tapi Tiara tidak menjumpai satupun teman – temannya dalam barisan
itu. Tiara memutuskan untuk terus menunggu. Sampai akhirnya ada seorang
temannya datang, Tiara tidak begitu mengenali wajah itu dari jauh, tapi ia
harap bahwa itu adalah salah satu dari temannya. Ketika wajah itu mendekat,
memang benar itu adalah salah satu dari teman Tiara, namun Tiara tidak merasa
begitu senang, karena yang datang adalah Dion. Dion naik ke panggung dan
memberikan ucapan selamat kepada Tiara.
Sampai acara berakhir tak ada lagi teman Tiara yang
datang. Tiara tak dapat lagi menahan kesedihan di hatinya. Tiara berlari keluar
ballroom dan pergi ke taman. Diam – diam Dion mengikuti Tiara. Di taman, air
mata Tiara pun tumpah. Dion menghampiri Tiara, sebenarnya ia sempat terkejut
karena tak pernah disangkanya cewek seangkuh Tiara bisa juga menangis seperti
itu. “Ngapain lo ke sini? Kenapa lo masih mau temenan sama gue sedangkan anak –
anak yang lain nggak? Sebenarnya gue salah apa?” Tiara terus bertanya sambil
menangis sesegukan. Dion lalu meraih tangan Tiara pelan dan menghapus air mata
Tiara “Ra, kamu harus sadar kalau kelakuan kamu yang suka menghina orang dan
bersikap angkuh itu nggak baik. Kamu harus rubah sikap kamu supaya anak – anak
yang lain mau berteman sama kamu lagi.” “Terus kamu, kamu kenapa masih mau
berteman sama aku?” Tiara pun melontarkan pertanyaan yang mengganjal di
pikirannya itu. “Eeeee.. itu karena aku… aku pingin ngebantu kamu berubah jadi
orang yang lebih baik lagi.” Jawab Dion sambil menunjukkan senyum yang dibuat –
buatnya. “Aku saranin besok kamu minta maaf sama anak – anak sekelas.” “Emang
mereka mau maafin aku?” “Nggak ada salahnya mencoba, Ra.” nasehat Dion. “Oke,
mkasi banyak ya, Yon buat saranmu. Masuk yuk dingin nih di luar.” Mereka pun
kembali masuk ke ballroom.
Dengan penuh semangat, Tiara bangun pagi – pagi
sekali dan langsung pergi ke sekolah. Ayah dan bundanya kaget melihat kelakuan
putri mereka yang biasanya bangun kesiangan, kini sudah siap untuk berangkat ke
sekolah. “Nak, kamu kenapa kok pagi – pagi sekali sudah mau ke sekolah?” tanya
bunda khawatir. “Nggak papa kok, Bun lagi ada tugas soalnya. Ayah Bunda, Tiara
pamit dulu ya.” Tiara pun mencium tangan ayah dan bundanya bergantian. Hari ini
Tiara ke sekolah dengan mengendarai mobil barunya.
Sekolah masih sangat sepi tentunya, hanya ada
beberapa murid di sekolah dan para petugas kebersihan. Tiara berjalan kea rah
ruang guru, kebetulan ada Pak Rendi di sana. “Permisi pak.” Pak Rendi hanya
menganggukkan kepala memberi isyarat Tiara untuk masuk. “Pak maksud kedatangan
saya ke sini, saya ingin meminta maaf kepada bapak atas kelakuan saya kemarin.”
Pak Rendi menatap Tiara dan berkata “Syukurlah Tiara, kalau kamu sudah
menyadari bahwa tindakanmu salah. Tak seharusnya kamu bertingkah angkuh dan
menghina orang lain.” “Iya Pak, saya benar – benar minta maaf. Pak?” “Iya ada
yang bisa bapak bantu?” “Pak saya mau meminta tolong agar murid – murid nanti
di kumpulkan di lapangan, karena saya ingin meminta maaf kepada mereka semua
khususnya kepada Rani.” pinta Tiara. “Baiklah nak, akan bapak bantu.” “Terima
kasih Pak.” Tiara pun salim kepada Pak Rendi dan meninggalkan ruang guru.
Tepat pukul 07:15 bel berbunyi, da nada pengumuman
bahwa seluruh murid diharap berkumpul di lapangan. Berbagai ekspresi muncul,
ada yang males – malesan ada yang penasaran ada apaan dan lain – lain. Vina dan
Fitri termasuk dalam kelompok yang ogah – ogahan banget ngumpul ke lapangan,
factor kelas yang ada di lantai tiga lah yang menjadi alasan mereka malas untuk
ke lapangan. Setelah, semua murid berkumpul, Tiara naik ke mimbar dan berkata
“Selamat pagi, yang terhormat kepala sekolah, bapak/ibu guru, serta teman –
teman semua. Saya berdiri di sini untuk menyampaikan permintaan maaf saya
kepada seluruh warga sekolah, khususnya Rani atas perilaku saya beberapa hari
yang lalu. Saya benar – benar merasa menyesal dan saya berjanji akan mencoba
untuk merubah tingkah laku saya agar tidak menyinggung perasaan orang lain.”
Tanpa disadari sebulir air mata Tiara jatuh. Permohonan maaf Tiara tersebut
disambut riuh warga sekolah, semuanya berteouk tangan. Mereka menghargai usaha
Tiara untuk meminta maaf itu. Vina dan Fitri pun berlari ke tengah lapangan dan
memeluk Tiara. “Vina Fitri aku minta maaf ya sama kalian.” “Udah deh Ra yang
penting sekarang kamu udah sadar.” Suasana pun berubah menjadi haru.
Sepulang sekolah Tiara mengajak Dion untuk bertemu
di taman sekolah. “Yon thanks a lot ya buat saran lo, sekarang teman – temanku
udah mau berteman sama aku lagi.” “Sama
– sama Ra, aku juga seneng liatnya kalau kamu udah balik ceria lagi.” kata
Dion. “Ra sebenernya ada yang pingin aku omongin.” “Apaan Yon? Ngomong aja.” “Ra, sebenernya aku… aku..”
Tiara merasa apa yang akan dikatakan Dion adalah hal yang sangat penting,
mungkin saja berhubungan dengan perasaan tapi ia tidak terlalu yakin mengenai
hal itu. “Ra, sebenernya aku suka sama kamu dari awal kelas XI tapi aku belum
berani deketin kamu. Sekarang aku udah cukup berani buat deketin kamu walaupun
sikapmu ke aku agak sinis tapi aku tetep coba untuk bertahan. Jadi, Ra mau
nggak kamu jadiii pacar aku?” Dion berhasil mengucapkan semua kalimatnya dengan
jelas, walaupun sebenarnya badannya sudah panas dingin. Tiara agak sedikit
kaget dengan pernyataan cinta Dion, namun ia berhasil mengontrol dirinya. “Maaf
Yon, aku…” Perasaan Dion serasa diaduk – aduk menunggu jawaban Tiara, dengan
segenap kekuatan yang dimilikinya Dion berkata “Nggak papa kok Ra kalau emang
kamu belum bisa nerima aku.” “Maaf Yon, aku nggak bisa nerima kamu besok atau
lusa. Aku bakal nerima kamu sekarang juga.” “Jadi kamu mau jadi pacar aku Ra”
Dion tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Reflek Dion memeluk Tiara.
“Eh, jangan pegang – pegang belum muhrim. Hahaha” Mereka pun tertawa bersama. Hari itu menjadi salah satu
hari paling bahagia dalam hidup Dion dan Tiara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar