Sabtu, 27 September 2014

Dia Mampu Merubahku



Matematika catat baik – baik M A T E M A T I K A !! Manusia macam apasih yang udah menciptkan mata pelajaran dengan beraneka rumus dan angka itu. Dari jaman SD, SMP, sampai SMA sekarang ini aku tetap benci pelajaran itu. Nilai matematikaku di rapor tak akan melambung jauh – jauh dari yang namanya kkm. Aku bersyukur banget deh kalo nilai matematikaku bisa lulus dari kkm.
Sangking keselnya aku lupa ngenalin diri nih, hehehe. Kenalkan aku Frisca, aku sekarang duduk di bangku SMA, tepatnya di kelas XI Sosial 1. Aku memiliki dua orang teman dekat, mereka adalah Putri dan Fiara
Sewaktu dulu kelas X kelasku menjadi tempat percobaan guru baru untuk mengajar. Dasarnya saja aku sudah benci dengan pelajaran mat ditambah lagi dengan factor guru baru yang tidak bisa mengajar, dan kurikulum yang membuat jam pelajaran bertambah menjadi 4 jam pelajaran menambah deretan betapa menyebalkannya pelajaran mat itu.
Namun semua itu berubah ketika aku menginjak kelas XI. Awalnya di jadwal pelajaran tertulis bahwa yang akan mengajar adalah “Mr.X”, dan tentu saja aku bisa menebak bahwa yang akan mengejar kelasku adalah guru baru (lagi). Dalam bayanganku wujud guru baru itu adalah seorang pria tua, cerewet dan galak pokoknya menyeramkan. Tapiiiii, kenyataan yang ada dan bayanganku berbanding terbalik 180 derajat. Wujud Mr.X itu ternyata seorang pria muda, putih, dan menurut teman – temanku Mr.X itu good looking, hahahah.
“Frisca, cepet ke kelas itu si Mr.X udah masuk ke kelas.” teriak Fiara.
“Iya, iya.” dengan langkah gontai aku dan Putri pun berjalan menuju ke ruang kelas.
Sesampainya di kelas, Mr.X sedang mengenalkan dirinya. Akhirnya kami tahu siapa nama Mr.X itu, namanya adalah Pak Trisna. Tidak ada hal yang terlalu berkesan di hari awal mengajarnya, ia mengajar selayaknya guru – guru pada umumnya. Aku pun tetap saja masih menaruh matematika dalam daftar nomor 1 pelajaran yang paling kubenci.
Hari – hari selanjutnya, kami sekelas mengambil kesimpulan bahwa Pak Trisna merupakan guru yang rajin mengajar. Hal ini karena, baru saja bel berbunyi tiba – tiba dia sudah ada di depan kelas. Selain kelewat disiplin, Pak Trisna juga rajin memberikan kami oleh – oleh setiap ia habis mengajar. Awalnya, kami merasa sedikit kesal dengan sikapnya yang kelewat disiplin itu dan oleh – oleh beruntun yang selalu ia berikan. Namun, lama kelamaan kami mulai terbiasa.
Ada beberapa hal lucu yang terjadi di sekolah saat Pak Trisna mulai mengajar. Ketika ia lewat, ada saja suara cewek yang sengaja memanggil, menyapanya, atau bertingkah laku aneh hanya sekedar untuk mencuri perhatiannya. Antusiasme siswa ketika menceritakan kepada temannya bahwa yang mengajar matematika di kelasnya adalah “pak guru ganteng”.
Setelah sebulan Pak Trisna mengajar, mulai terjadi sedikit perubahan dalam diriku. Aku mulai SEDIKIT menyukai pelajaran matematika. Aku pun tak tahu apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi. Aku rasa ini disebabkan karena cara mengajar Pak Trisna yang santai namun pasti.
Oh ya, bisa dibilang namaku termasuk salah satu nama yang most wanted banget di kelas saat pelajaran matematika. Bila ada soal, namaku sering di panggil Pak Trisna untuk maju. Aku sedikit bingung dengan sikap Pak Trisna, padahal aku kan bukan termasuk dalam kalangan anak yang pintar.
Sampai suatu hari, Friska dan Putri tiba – tiba mengajakku ke taman belakang sekolah. Sepertinya ada hal penting yang ingin mereka bicarakan. “Ada apaan tumben banget kalian ngajak aku ke sini?” tanyaku bingung “Cieeee Frisca… sering banget di panggil sama Pak Trisna, jangan – jangan pak guru suka ya sama kamu?” celoteh Fiara “Apaan sih lo Ra, aneh – aneh aja.” “Enak banget jadi kamu Ca, bisa sering deket – deket sama Pak Trisna.” kata Putri “Yaelah Put Put, sadar weee masak aku suka sama bapak – bapak gitu.” “Bapak – bapak dari mall, umurnya Pak Trisna tu baru 21 tahun. Keren banget kan dia umur segitu udah bisa jadi guru, gimana coba caranya? Oh ya terus katanya dia tuh juga dulu anak OSN loh. Keren kan” kata Putri anusias. “Udah lo tanya aja sendiri sono sama dia. Hahahaha” TEEETTT….. TEEETTTT…. “Udah yuk balik ke kelas udah bel nih, ntar kita telat masuk kelas diomelin lagi sama Pak Trisna.” Kami pun kembali ke kelas bersama – sama.
Kebetulan hari ini adalah pelajaran matematika, sehingga aku bisa langsung bertanya kepada Pak Trisna mengenai hal yang mengganjal di pikiranku. Saat jam pulang sekolah, hanya tersisa aku dan Pak Trisna di kelas, anak – anak yang lain sudah berhamburan ke luar kelas begitu bel berbunyi. Termasuk Fiara dan Putri, mereka cepat – cepat keluar kelas karena ada kumpul klub fotografi.
Dengan keberanian yang aku miliki, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Pak Trisna, “Pak, kenapa bapak sering menyuruhku maju untuk mengerjakan soal – soal padahal aku tidak termasuk dalam daftar anak yang pintar?” sambil tersenyum Pak Trisna menjawab, “Bapak melakukan hal itu karena bapak ingin kamu menyenangi pelajaran matematika. Selain itu bapak juga melihat kamu memiliki potensi dalam bidang matematika.” Aku sempat kaget darimana Pak Trisna tahu aku tidak menyukai pelajarannya, aku juga merasa sedikit tidak enak dengan Pak Trisna. “Mungkin kamu bingung darimana bapak mengetahui kamu tidak menyukai matematika. Semua itu terlihat dari tingkah lakumu selama pelajaran matematika yang agak ogah – ogahan.” Lanjut Pak Trisna. “Hmmm, maaf Pak, saya tidak bermaksud untuk menyakiti perasaan bapak, tapii.” “Sudahlah Frisca, tidak usah terlalu formal panggil saja aku Kak Trisna, aku tidak memaksamu untuk menyukai pelajaran mat ini, tapi cobalah untuk bersikap lebih baik pada saat pelajaranku.” “Baik Pak, eh maksudku Kak.”
2 Minggu kemudian, aku melihat di internet, bahwa akan diadakan olimpiade matematika oleh salah satu Universitas di Jakarta. Entah ilham darimana, aku pun pergi menemui Pak Trisna di ruang guru sepulang sekolah. Tentunya tanpa ditemani Vina dan Putri, karena aku belum begitu yakin dengan niatku ini. “Pak permisi, saya mau berbicara dengan bapak.” “Ya sudah, kita berbicara di luar saja.” Pak Trisna mengawali pembicaraan “Ada apa Friska?” “Gini Kak, eee… tadi aku liat di internet lagi satu bulan bakal diadain olimpiade matematika. Aku pingin coba ikut lomba itu.” Wajah Kak Trisna terlihat agak kaget mendengar pernyataan Friska itu “Kamu serius Fris?” “Serius Kak. Kenapa? Mission impossible ya Kak? hehehe” jawabku sekenanya. “Nggak juga sih Fris, toh kamu punya potensi.” “Nah, kalau gitu kakak mau nggak jadi tutor aku? Pliss kak pliss. Soalnya aku denger katanya kakak dulu juga anak OSN” “Gimana ya? Cieee kamu stalker aku ya sampai tau aku anak OSN.” “Apaan sih Kak kepedean banget.” jawabku sambil cemberut “Udah donk, nggak usah sebel gitu. Kalau masih sebel aku nggak mau jadi tutor kamu deh, senyum donk.” “Serius kakak mau? Thanks a lot kak.” Kak Trisna hanya menjawab dengan senyuman. Sambil menyerahkan ponselnya, Kak Trisna memintaku untuk menuliskan nomer hp ku, agar mudah dihubungi.
Malam harinya, sebuah nomer yang tak ku kenal mengirimiku sebuah pesan singkat,
From : +6281805212***
Malam Fris,
Kapan nih mau mulai belajarnya?
Terus tempatnya juga dimana?
Kak Trisna
Oh, ternyata pesan singkat itu dari Kak Trisna. Aku pun segera membalas pesan tersebut
To : +6281805212***
Malam juga, Kak
Terserah kakak aja, kapan kakak bisanya
Tempatnya di rumahku aja kak biar nggak di tahu sama yang lain.
Hanya butuh menunggu sekitar 5 menit Kak Trisna sudah membalas pesanku lagi
From : +6281805212***
Okeh deh, Fris
Kita mulai belajarnya besok aja ya
Pas pulang sekolah
Kamu pulangnya bareng aku aja, sekalian ke rumahmu
To : +6281805212***
Siap Kak
            Keesokan harinya, aku menceritakan rencanaku kepada Fiara dan Putri. Respon mereka awalnya cukup terkejut, namun mereka tetap mendukungku. “Ca, kamu kesambet apaan bisa mau ikut olimpiade matematika?” tanya Putri “Iya Ca, shock banget aku denger keinginan kamu yang ini. Frisca sang HATERS MATHEMATIC malah pingin ikut olimpiade matematika” Lanjut Fiara “Jangankan kalian, aku aja masih rada bingung kok bisa aku pingin ikut olimpiade mat.” “Eh, ngomong – ngomong siapa yang jadi tutor kamu?” tanya Putri. Tanpa ragu Frisca menjawab “Kak Trisna, eh maksudku Pak Trisna.” “Waaaa Ca, enak banget. Kalau gitu aku juga mau donk ikut olimpiade mat.” Kata Putri asal. “Hati – hati Ca, ntar kamu cinlok lagi sama Pak Trisna. Hahaha” “Apaan sih Ra, ini kan cuman hubungan antara guru dan murid nggak lebih.” “Iya aku kan cuman ingetin Ca.”
            Pukul 15:17 akhirnya aku dan Kak Trisna sampai di rumahku, setelah mengendarai sepeda motor selama kurang lebih 30 menit. Lalu, Mbok Asih membukakan gerbang ketika mendengar bunyi bel sepeda motor di depan rumah. Aku pun mempersilahkan Kak Trisna masuk ke ruang tamu, sementara aku mengganti baju dan meminta tolong Mbok Asih membuatkan Kak Trisna minum.
            Setelah selesai mengganti baju, aku pun bergegas ke ruang tamu. Ku lihat Kak Trisna sedang sibuk membolak – balik buku. “Kak?” Kak Trisna pun mengangkat mukanya dan berkata “Rumahmu kok sepi banget Fris? Papa Mamamu mana?” “Papa Mama tinggal di Surabaya, jadi aku tinggal sendiri di Jakarta.” Kak Trisna manggut – manggut tanda mengerti. “Ya udah, kita mulai belajarnya ya.” Kak Trisna mengajariku soal – soal yang mudah dulu untuk pertemuan pertama ini. Sekitar Pukul 18:00 Kak Trisna pamit.
            Rutinitas bimbingan olimpiade sudah berjalan sekitar kurang lebih 3 minggu, yang berarti 1 minggu lagi menuju ke medan perang yang sesungguhnya. Hubunganku dengan Kak Trisna pun semakin akrab. Hampir setiap malam ia mengirimiku pesan sekedar bertanya, “Lagi ngapain?” “Udah makan belum, Dek?”. Aku juga merasa nyaman dengan perlakuan Kak Trisna. Kini aku semakin mengenal Kak Trisna, ternyata Kak Trisna itu orangnya perhatian dan jail banget.
            Hari pelaksanaan olimpiade pun tiba, aku berdoa semoga aku dilancarkan ketika mengerjakan soal – soal itu. Beberapa saat sebelum lomba dimulai, ada 3 pesan di inbox ku.
From : Fiara
Bebiii cemungudh eapass :*
God Bless
From : Putri
Semangat Cak, kamu pasti bisa
Jangan sia – siain pengorbanan aku,
Yang udah relain Kak Trisna buat kamu :3
Aku hanya tertawa dan membalas pesan dari Fiara dan Putri. Pesan terakhir ternyata dikirim oleh Kak Trisna
From : Kak Trisna
Good Luck Fris :D
Kamu pasti bisa ngerjain soal – soal itu
Pesan dari Kak Trisna itu benar – benar menyuntikkan semangat bagiku. Aku pun membalas pesannya. Setelah itu para peserta dipersilahkan masuk ke ruangan masing – masing.
            Seminggu kemudian, ditemani Kak Trisna aku menghadiri acara pengumuman lomba itu. Ketika mc membacakan juara – juara olimpiade, hatiku berdegup kencang. “Juara ketiga atas nama Julian Harvian.” Nyali ku sudah ciut, aku sangat pesimis karena jika juara 3 saja aku tak dapat mana mungkin aku bisa mendapatkan juara 2 apalagi 1, aku kan hanya pemula. “Selanjutnya, juara ke 2 Hervina Melani.” Aku sudah tak sanggup lagi menunggu siapa yang menjadi juara 1 yang pastinya itu bukan aku, tapi Kak Trisna tetap menguatkan ku dengan menggenggam tanganku. “Dan inilah yang paling ditunggu – tunggu. Juara 1 olimpiade matematika Universitas Merdeka adalah….. Frisca Geraldine” Aku hanya terkejut dan tidak bisa berbuat apa – apa. Aku tak menyangka aku bisa mendapatkan juara 1. Air mataku pun jatuh karena terharu. Setelah menerima hadiah, aku pun pulang bersama Kak Trisna. Tapi, sebelum pulang Kak Trisna mengajakku ke sebuah kedai ice cream. Katanya ia akan mentraktirku karena aku berhasil menjadi juara 1 dalam ajang olimpiade ini.
            “Fris, kamu mau pesan apa?” “Apa aja deh kak terserah kakak. Kan kakak yang teraktir. Hehehe” “Ya udah, kita pesen waffle toppingnya ice cream cookies and cream ya” “Apa aja aku ikut kak” Kemudian Kak Trisna mengangkat tangannya memanggil pelayan. Setelah pelayan itu berlalu dari meja kami, Kak Trisna pun membuka pembicaraan “Congratulation Fris. Kamu hebat banget, baru ikut sekali langsung bisa jadi juara.” Kata Kak Trisna menyatakan kekagumannya “Kakak bisa aja, semua ini kan juga karena bimbingan dari kakak. Kalau nggak ada kakak, aku nggak mungkin bisa jadi juara.” Kataku merendah. “Kak aku juga mau ngucapin terima kasih karena kakak aku bisa berubah jadi manusia yang lebih baik.” “Kamu bisa aja Fris.” Tak berapa lama kemudian, pesanan kami pun datang. Waffle dengan topping cookies and cream itu sangat menggugah selera. Setelah habis menyatapnya, aku kira kita akan langsung pulang.
            Namun ternyata Kak Trisna menyuruhkun untuk duduk dulu sebentar, katanya ada yang ia ingin katakana. “Fris, belakangan ini hubungan kita makin dekat ya?” “Eeee.. iya kak.” Aku merasa sedikit gugup dengan pertanyaan Kak Trisna itu. “Kakak kira cuman kakak yang ngerasa kayak gitu. Fris, kakak ngerasa ada banyak kecocokkan diantara kita. Jadi kakak pingin hubungan kita bisa lebih serius lagi. Fris, do you want to be my girlfriend?” Kak Trisna mengatakan semua kalimatnya dengan tegas dan berwibawa. Aku bingung harus menjawab apa, lalu kuputuskan untuk “Kak, aku ngerasa ini bisa jadi masalah kalau di sekolah ada guru dan murid yang berpacaran, dan aku nggak mau ngerusak hubungan kita yang udah baik ini. Jadi menurutku lebih baik kita berteman aja kak. Maaf Kak.” Karena Kak Trisna sudah dewasa, dia pun bisa menerima jawaban Frisca itu. Setelah itu Kak Trisna mengantar Frisca pulang.
            Sesampai di rumah Frisca segera menghubungi kedua sahabatnya, Frisca mengundang kedua sahabatnya ke rumah. Tak berapa lama, Fiara dan Putri sudah tiba di rumah Frisca. Frisca pun menceritakan semua kejadian hari ini, dari dirinya menjadi juara 1 olimpiade sampai ia ditembak oleh Pak Trisna. “Ya ampun, Frisca kenapa kamu tolak.” Kata Fiara “Udah Ra, Frisca itu baik dia itu nolak Pak Trisna karena tau aku suka sama Kak Trisna.” Ucap Putri bahagia. “Ada – ada aja kamu Put. Terus hubungan kamu sama Pak Trisna gimana Ca?” “Ya nggak tau Ra, semoga tetep baik – baik aja sih.” “Amin Ca.”
            Senin Pagi, Frisca dipanggil maju ketengah lapangan karena prestasinya dalam olimpiade matematika. Setelah selesai upacara, Pak Trisna pun menemui Frisca dan mengatakan “Fris, Kakak harap kejadian kemarin nggak merubah hubungan pertemanan kita yang udah terjalin ya.” “Iya kak, nggak akan berubah kok.” kataku meyakinkan Kak Trisna.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recycle Cinta

AUTHOR’S POV             “….. Sudah tak bisa dipungkiri jumlah sampah yang ada di Indonesia ini. Mulai dari limbah rumah tangga, pabrik...